Wild Angel

Wild Angel
KOLAM RENANG



Edrick menekan tombol dibalik kontak lampu.


Klaakk


Ranjang yang semula tampak kosong tiba-tiba kembali seperti bentuk semula,ada Arsya yang tertidur pulas disana.


Sama sekali tak terfikirkan oleh Hanin bahwa dia akan tertipu oleh kecanggihan teknologi manipulasi mata milik Ceo muda itu,,


Edrick duduk diranjang menatap lekat wajah Arsya,ada banyak memar disana.


Lelaki itu menenggelamkan kepalanya diantara buah yang nanar itu,mencari kenyamanan yang mengantar tidurnya pada mimpi indah,tangan yang berotot itu melingkar erat di pinggang Arsya.


Sayang sekali waktu tak dapat dihentikan,Arsya terbangun,gadis itu menatap lama kepala yang ditumbuhi rambut hitam pekat itu,ia usap perlahan.


Edrick mendongak ke atas,dua pasang netra saling bertemu pandang.


Tak ada jarak antara mereka,mereka saling mengagumi.


"Ahhh"


Arsya berusaha menghindari tatapan mata Edrick yang membuatnya mulai tenggelam jauh kedasar lautan.


Dengan cepat Edrick naik menindih tubuh gadis itu.


"Apa sudah puas memandangi ku"


"Ahhh minggirlah,kau membuatku sesak" seraya tangannya mendorong tubuh Edrick


Tak mau kalah,Edrick pun mengunci kedua tangan Arsya,sehingga gadis itu tak bisa bergerak,ia membuka sedikit baju putih yang dikenakan Arsya.


Tampak bekas luka yang diberikan Marsya disana.


Edrick mengecup luka itu berlahan,lalu melepaskan tangan Arsya.


Dan tiba-tiba beranjak meninggalkan kamar.Wajahnya tampak muram.


"Ada apa dengannya" gumam Arsya sedikit bingung


Edrick duduk dikursi ruang kerjanya,mengeluarkan pematik dari kantong celana,ia membuka laci,mengambil kotak yang berisi beberapa cerutu.


Asap menggepul dalam ruangn itu.


Berapa banyak rokok yang ia habiskan disana.


Otaknya kembali membayangkan tubuh wanitanya,tak hanya luka disana,tapi juga ada beberapa tanda kemerahan yang laki-laki lain sematkan.


Membuatnya ingin menghancurkan isi dunia saat itu juga.


Ia jelas tau apa yang terjadi,kenapa Arsya bisa bertengkar dengan adiknya,dan mendapatkan luka dipundaknya.


Semua pikiran itu terus berputar menghantui setiap langkah Ceo muda NET.


*********


Dengan ketahanan fisiknya yang telah terlatih,Arsya sudah bisa beraktifitas seperti biasa.


Gadis itu menguncir rambut sambil berjalan turun dari tangga.


"Luas sekali rumah si cabul ini,dimana dapurnya"


"Halloo apa ada orang disini,saya lapaaarrr"


Gadis itu menjulurkan tangan meraih kotak persegi di pojok kulkas.


Setelah itu Arsya beranjak dari dapur dengan sekotak salat sayur ditangan kanan dan jus jeruk ditangan sebelahnya.


Arsya berjalan melewati kolam renang,tampak disana ada seorang pria gagah dengan otot kotak berjejer rapi.


Lengan kekar dan rambut basah membuat wanita itu menelan saliva.


Kemudian matanya beranjak menuju segitiga hitam ketat pembungkus benda pusaka lelaki gagah itu.


Edrick berkacak pinggang melihat Arsya yang sedari tadi menatap dirinya dengan penuh nafsu.


"Hei,kemarilah"


Edrick melambai mengisaratkan pada gadis itu untuk datang kepadanya segera.


Entah apa yang ada dalam pikirannya,Arsya menurut begitu saja,seolah-olah kaki nya itu bergerak tanpa ia sadari.


Mendekat dan semakin dekat lagi,Arsya meletakkan gelas dimeja.


Membiarkan telunjuknya menyentuh dada bidang Edrick.


"Owhhh ternyata ini nyata"


"Yang dibawah sini jauh lebih nyata"ledek lelaki yang memiliki wajah dingin itu.


" Bersihkan dulu otak kotormu itu"


Arsya mendorong Edrick kekolam,tapi sayangnya Edrick menarik lengan Arsya agar mereka jatuh kekolam bersama.


Tak ingin menjadi basah,Arsya terpaksa menahan tuan muda itu,kemudian ia menarik tangan Edrick dengan sekuat tenaga.


Kini Ceo NET itu telah berada dibelakang Arsya,mendekap gadis itu,menyilangkan kedua tangannya pada tubuh langsing Arsya.


"Jangan tinggalkan aku"sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Arsya,menghirup wangi dari rambut serta leher jenjang Arsya


"Apaaaa"


"Tetaplah disisiku"


Arsya membalik badan menghadap Edrick,menatap tajam wajah maskulin yang membuatnya terbuai sesaat.


"Aku ingin..."


Arsya menghentikan katanya,seperti ada yang tersangkut di tenggorokan gadis itu,sehingga tak mampu melanjutkan pembicaraannya.


Kemudian Arsya mencubit kedua pipi Edrick seperti seorang ibu yang gemas terhadap bayinya..


"Aku ingin,tapi juga takut tunangan mu akan datang membunuhku,atau membakar rumah megahmu ini"


Tanpa pikir panjang lagi,Arsya mendorong Edrick sekuat tenaga sehingga tubuh kekar itu terpelanting ke kolam.


"Dasarr pria brengsek,berani-beraninya dia meminta ku tinggal,sedangkan dia akan menikah"


Arsya menghentak-hentakkan kaki sambil mulutnya mengomel,mengumpat,tak lupa pula dengan berbagai sumpah serapahnya.


"Karena aku takut Selena akan menyakitimu,dan aku tak mampu melindungimu"


Lirihnya sambil memandangi punggung Arsya yang kini semakin menjauh.