Wild Angel

Wild Angel
PASRAH



"Tuan,,laporan tes darah nona sudah keluar"


Edric langsung menyambar map dari tangan sekretarisnya.


Belum sempat ia membaca,Edric mendengar Arsya berteriak sangat keras,ruangan itu seakan terpecah belah,suara gadis ini sangat nyaring.


Arsya melihat banyak tanda merah pada area area sensitifnya..


"tidak..apa ini,kenapa ini"


Wanita ini berputar bolak balik melihat sekujur tubuhnya di kaca besar lemari pakaian itu.


Ada banyak sekali tanda kepemilikan.


Edric berlari kelantai atas secepat kilat.


kemudian disusul oleh sekretaris Jun dan beberapa pembantu.


Braagghhhh


Pintu itu roboh hanya dengan sekali tendangan.


Luar biasa sekali tenaga pria ini.


Arsya pun kaget setengah mati melihat Edric sudah berdiri di depan pintu.


Pria kasar itu hanya mampu menelan saliva melihat pemandangan yang luar biasa silaunya.


Arsya melompat keranjang dan bersembunyi dibalik selimut hitam yang ia kenakan semalam,bahkan kamar itu masih berantakan.


Edric mengepakkan tangan memberi isyarat pada semua yang berkumpul di depan pintu.


Sekretaris Jun mengosongkan rumah untuk 2 hari kedepan.


Edric berjalan mendekati ranjang,berlahan naik dan membuka selimut yang membalut badan wanitanya.


Arsya bersikokoh menahan selimut itu.


Ia sangat malu.


Pikirannya masih bercampur aduk,ia bingung dengan apa yang terjadi.


"Keluar lah,sudah tak ada orang disini"


"Apa kau tidak termasuk Orang"


"Tentu saja aku berbeda dengan mereka"


"Maksudnya kau Hantu"


Edric mengerutkan dahi,sambil mencoba membuka selimut Arsya.


"Jangan terus menarik selimutku,aku tidak mengenakan apa apa"


"Baiklah" Edric pun akhirnya menyerah dan mengangkat kedua tangannya.


Kalian tau kura-kura,seperti itulah dia kini 😆.


Arsya memungut baju yang berhambur di lantai.


Edric mendekapnya dari belakang,mendorongnya hingga menempel pada kaca lemari seperti cicak.


"Achh.. apa yang kau lakukan"


Edric mengangkat kedua tangan Arsya hanya dengan satu genggaman,dan satu tangannya lagi membuka kain penutup tubuh Arsya.


"Tidak tidakkkk jangan lakukan itu"


Arsya berusaha memberontak,pergerakannya terkunci,tentu saja kekuatan laki laki ini lebih besar darinya.


Kemudian ia akhirnya pasrah melihat kain yang menutup tubuh mungilnya itu melorot begitu saja.


Edric meletakan kepalanya pada pundak Arsya,mencium wangi rambut gadis itu.


"Apa lagi yang membuatmu malu,aku sudah tidak asing lagi dengan tubuh ini"


Edric mengecup punggung Arsya,bekas yang ia tinggalkan semalam masih terlihat jelas disana.


"Jangan bergerak,kau akan membangunkan benda mati"


Dan benar saja,ada sesuatu yang mengeras dibelakang sana,manusia mana yang tahan berada diposisi ini,tentu saja akan khilaf.


Edric mengelus bagian perut Arsya dengan kepala yang terus mengendus tulang punggung wanita itu.


Detak jantung wanita ini sungguh hebat,Edric hanya tersenyum merasakan debaran debaran itu.


Kemudian tangan nya berpindah ke atas gunung kembar yang padat dan sintal itu.


Arrrhhhgg


Adik kecil milik Edric semakin memberontak mendengar erangan wanitanya.


Melihat gadis itu telah terbawa suasana,Edric melepaskan genggaman erat tangannya dari kedua tangan Arsya yang telah lama menggantung.


Tangannya terus bermain diantara buah buahan itu dan tangan satunya lagi sudah tidak sabar turun mengarungi hutan lindung.


Aaahhhhhh


"Hentikan"


Bukannya malah berhenti,Edric semakin bersemangat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut gadisnya.


Nafasnya pun terdengar memburu,membuat Edric melepaskan pakaiannya.


Ia mengangkat Arsya dan membaringkannya diranjang.


Kini pria kekar itu siap berperang.