
OR'DAS CAFFE
"Hmmm cake disini enak sekali"
"Apa kau akan makan terus seperti B**i,lihat lemak di panggulmu"
"Gak urus.."
Arsya terus melahap makanan didepannya,bahkan kue sahabatnya pun tak luput dari mulutnya.
"Ohhh..inilah yang dinamakan menikmati hidup,bukankah begitu bocil"
Arsya mengangkat kedua alisnya menatap Nina.
"Kau sangat menjijikkan Jones,lihat ada banyak makanan tersisa dibibirmu,bagaimana pria akan menyukaimu"
Nina mengeluarkan sapu tangan dari ransel,ia mengelap mulut Arsya.
Adegan romantis seperti ini sering sekali terjadi,Nina memang begitu menyayangi Arsya,anak ini dewasa sebelum waktunya.
"Baiklah baiklah,aku akan mencari pria tampan nanti"
"Pria tampan semuanya brengsek,kau lihat wanita tua disebelahku,berapa kali dia ditinggal pria tampan"
Dengan mata berapi api Hanin menatap anak gadisnya itu.
"Apa yang kau katakan,dasarrrrrrr mulut Harimau"
Hanindya mencubit kedua pipi Nina dengan sedikit keras,sehingga gadis kecil itu merintih kesakitan.
Kemudian mereka bertiga tertawa serentak.
Setengah jam kemudian Selena bersama managernya datang.
Seorang pengawal berpakaian serba hitam berdiri tak jauh dari Selena.
"Maaf,kami terlambat,nona Selena tadi melakukan pemotretan di area pegunungan"
Hanin dan Arsya berdiri dan berjabat tangan dengan Selena.
"Tante,apa kau membawa matahari bersamamu,mataku sangat silau melihat pakaianmu"
Mendengar perkataan anaknya yang menyinggung Selena,Hanin segera menutup rapat mulut anaknya yang terkenal pedas dan blak blakan itu.
"Anak kecil,kau tidak mengerti Fashion,ini adalah baju satu satunya didunia yang dirancang oleh Kallia De'riogh!!"
"Oh maafkan anak saya nona Selena,dia masih terlalu kecil untuk mengerti dunia orang dewasa"
Hanin tersenyum pahit oleh kelakuan anaknya tersebut.
"Silahkan duduk Nona"
Mereka semua akhirnya duduk dan mengobrol. pembicaraan ini mengenai novel yang akan diadaptasi menjadi film yang ditulis oleh Arsya.
Selena akan membintangi film itu.
"Oh dengar dengar nona Arsya ini juga seorang seniman"
"tidak,itu hanyalah sekedar hobi,saya melukis untuk mengisi waktu luang saja"
"Apakah Nona tertarik ikut bersama saya,ada pameran seni di gallery Maria minggu ini"
"Oh tante,boleh kah saya ikut,pameran itu diadakan sekali 3 tahun,dan saya ingin melihatnya"
Nina langsung merubah raut wajahnya kedalam mode yang paling manja dan menggemaskan.
"Tidak,hanya orang orang terpilihlah yang bisa masuk kesana"
"Trimakasih nona Selena,saya pasti datang memenuhi undangan nona"
...****************...
Bragghhhh
Gebrakan meja memecah keheningan dalam ruang rapat.
Edrick yang sedari tadi kesal,kini memaki maki bawahannya.
Tak ada yang berani bersuara.
"Sialan berita apa yang telah bocah ini sampaikan
pada bos"
Bathin seorang karyawan yang duduk di pojok
Edrick berdiri dengan kedua tangan menempel dimeja.
"Kalau kita kehilangan tender kali ini,kalian semua tamat"
Akhirnya Edrick meninggalkan rapat,kemudian disusul oleh sekretaris jun.
Edrick menghentikan langkahnya,ia merogoh kantong celana untuk mencari telpon genggamnya.
tuuuuuuutttt tuuuuuutttt
Belum ada balasan,pria ini semakin gelisah.
"Hallo"
"Dimana"
"Aku dirumah,ada apa"
"Temui aku segera,di caffe dekat perpustakaan kota"
"Baiklah"
ROMAN CAFFE
Edrick melambai begitu melihat Arsya masuk caffe,Arsya tersenyum dan membalas lambaian tangan pria tampan itu.
"Kenapa tidak ada orang disini"
"Aku sedang tidak ingin diganggu"
"Ada apa mencari ku,aku sangat sibuk,tapi.. karena kau sangat tampan hari ini,tidak sia sia aku datang"
Arsya memperhatikan Edrick dengan seksama,bibir pria itu sungguh membuat Arsya tergoda.
"Barang bagus"
Gumamnya
Edrick dan Arsya kemudian menyantap makanan yang telah terhidang dimeja,ada berbagai jenis masakan tersusun disana.
"Arsya.."
"Yah,kenapa"
"Apa kau bertemu Selena kemarin"
"Selena" ulang Arsya
"Ya...Jauhi dia"
Dengan tatapan bingung Arsya memandang ke arah Edrick.
Edrick menghentikan makannya,ia menghampiri Arsya yang tempak bertanya tanya.
"Sudahlah lupakan"
Edrick menyibak rambut Arsya yang menjuntai menutupi pipi gadis itu.
Pria itu menyentuh tulang pipi Arsya dengan lembut..
Arsya pun akhirnya berdiri dari tempat duduknya,bibir itu sungguh sungguh menggodanya,hingga Arsya langsung mendaratkan ciumannya pada Edrick..
Ppplaaaaaakkkk
Arsya tersungkur dan terduduk dilantai sambil memegang pipinya,gadis itu menatap kesal ke arah Edrick.