Wild Angel

Wild Angel
SEBUAH KESEMPATAN



Mobil terparkir agak jauh dari rumah.


Arsya terpaksa harus berlari dari parkiran ke pintu utama rumah mewah itu.


"Sial,aku benci hujan"


Ting tong ting tong


Gadis itu menekan bel beberapa kali,tapi tak ada jawaban.


Ia memukul pintu dengan keras.


"Ada apa dengan semua orang,apa mereka mati"


Arsya kesal dan menendang pintu,tetapi malah membuatnya tergelincir dan jatuh kelantai.


Air yang jatuh dari pakaiannya membuat lantai basah dan licin.


Gadis itu mencoba berdiri,,


aa aaahkk


Tulang panggulnya terasa nyeri,ia masih mencoba untuk berdiri dan sesekali meringis.


Sekali lagi ia mencoba menekan bel.


Nikki mengusap kedua matanya.


ia menjangkau kacamata dinakas dan memakai sendal.


Dia menuruni tangga dengan malasnya,,


"Berisik sekali diluar,,"


cekleekkk


Nikki melihat Arsya bersandar di pintu,seluruh pakaian nya basah.


"Arsyaaa"


Nikki memapah Arsya dengan bahunya yang lumayan kekar.


"Dimana Marsya"


"Dia dan mama pergi keluar"


Mereka tiba ditangga tetapi Arsya tiba tiba jatuh.


"Bisakah kau menggendongku ke atas,kakiku mati rasa"


Nikki mengangkat Arsya sesuai permintaannya.


Arsya mengalungkan tangan keleher pria tangguh itu.


"Hangatt sekali.."


Arsya terus memandangi wajah tampan Nikki,matanya tak berkedip sedikitpun.


Deeg deg deeg


"Jantungku bahkan masih berdetak cepat setiap dekat dengan mu,kenapa aku tidak bisa merelakan kamu Nikki"


Nikki membaringkan Arsya diranjang.


"Aku akan membuatkan mu wedang,tunggulah disini"


"Kemana bibi"


"Dia kepasar,tak ada orang dirumah.


apa lagi yang kau butuhkan"


"Apa ini kesempatan yang tuhan berikan"


"Hmm Nikki,Bisakah kau ambilkan aku baju di lemari"


"Tentu"


Nikki tersenyum pada Arsya.


Lalu berjalan kearah lemari.


Nikki mengambil satu stel piama.


Dengan nada yang agak malu Nikki berkata pada Arsya


"Apa kau juga butuh pakaian dalam"


Wajah Arsya memerah,gadis itu hanya mengangguk tanpa suara.


Nikki meletakan piama itu di samping Arsya kemudian keluar dari kamar.


...****************...


"Ini semua info detail yang nona minta"


"Baiklah kau boleh pergi"


Pria itu mengangguk lalu meninggalkan Selena.


Tak butuh waktu lama untuk menemukan profil Arsya.


"Aku telah melihat banyak wanita yang dekat dengan Edrick. Tapi sepertinya wanita ini cukup menarik"


Selena tersenyum sinis.


Dia meremas kertas ditangannya,ada perubahan emosi yang besar dari senyumnya yang menawan.


"Hai wajahmu mengerut"


Kedatangan Exel dengan tiba tiba membuat Selena kaget,wanita berambut pendek itu menarik nafas dalam,kemudian menghembuskannya kembali.


"Siapa wanita yang dekat dengan Edrick dalam bulan ini"


"Begitu banyak wanita,aku bahkan tidak bisa menghitungnya"


Exel tertawa cekikikan.


"Selena berhentilah berharap pada Edrick"


Exel mulai menunjukan keseriusannya.


Ia meraih tangan Selena dan menggenggamnya dengan erat.


"Kau tau aku menyukaimu,aku bahkan siap menikahimu kapanpun"


Selena menarik tangannya,dan menyeruput kopi yang telah disediakan sekretarisnya.


"Tidak Xel,aku mencintai Edrick dari kecil,tak ada yang boleh mengambilnya dariku"


"Lalu bagaimana dengan ku,aku menyingkirkan semua wanita yang jadi penghambat cintamu,tapi apa kau pernah melihat ketulusanku Sel"


Exel berdiri dan duduk disofa sebelah Selena,Exel mendekap wanita yang ia cintai itu.


Hubungan Exel dan Selena sudah sangat dekat,mereka bahkan telah berbagi ranjang yang sama.


Tapi Selena merasa bahwa Exel hanya tempat untuk melampiaskan nafsunya saja..


Pria yang benar benar ia inginkan adalah Edrick.


"Exel bantu aku mengawasi wanita yang bernama Arsya yaaaa"


Exel mencium bibir ranum milik Selena,ia tak mampu menolak permintaan wanita itu.


Cinta telah menutup matanya.