Wild Angel

Wild Angel
FIGHT PART 2



Bughh


"Achh"


Edrick membanting tubuh mungil Arsya keranjang berukuran super big size.


Edrick melepas jas berwarna navi itu ke sofa di bawah ranjang,dengan cepat ia merangkak naik ke kasur.


Menindih gadis malang itu.


Arsya terus memberikan perlawanan,kedua tangannya memukul dada bidang Edrick,meski ia telah mengeluarkan semua tenaganya,pukulan itu sama sekali bukan apa-apa bagi sang penguasa bisnis itu.


Edrick mengunci kedua pergelangan tangan Arsya hanya dengan satu kepalan tangan,diangkatnya tangan ramping itu hingga terangkat sampai ke atas kepala.


Arsya merasa ngilu pada kedua pergelangan tangannya,akibat tekanan yang diberikan Edrick.


Edrick membuka dasi merah bergaris yang mengalung dilehernya.


Mengikat tangan wanita itu dengan kuat.


Ujung dasi digunakan untuk mengikatkan tangan Arsya ke tiang ranjang yang tak jauh di atas kepala Arsya.


Ceo kejam itu melepas piyama yang dikenakan Arsya dengan kasarnya,melemparnya ke sembarang tempat.


"Aku tidak suka,melihat noda darah pada tubuhmu"


Ia tak asing lagi dengan pemandangan di depan matanya,tubuh molek,kaki jenjang,kulit halus dan bibir ranum itu semua adalah miliknya.


Edrick menanggalkan kain pembungkus buah nanar kesukaannya.


Terlihat padat dan kencang.


Sesuatu hal yang membuatnya candu setiap hari.


Dengan rakus ia m*l*m*tnya bergantian,bagian tubuh mana yang tak luput dari lidah lelaki muda itu.


Digagahilah semua tubuh gadis malang itu dari kepala hingga ujung kaki.


Beberapa kali gadis itu memberi perlawanan,memberontak,menendang dan mencoba melepaskan ikatannya.


Tapi ia hanya melukai dirinya sendiri.semakin kuat ia memberikan perlawanan Edrick semakin gencar memompa dan menghentak tombak saktinya.


Seolah teriakan dan perlawanan itu adalah dorongan yang menggema di gendang telinganya.


Sungguh malam yang sangat panas,ruangan itu seperti bergelora membakar tubuh mereka berdua.


Hal ini bagai asupan energi untuk Edrick,tubuhnya yang telah lelah bekerja akhirnya menjadi membara kembali.


Pagi telah datang,matahari menyinari setiap inci tubuh acak-acakan Arsya.


Silaunya menusuk kornea mata gadis itu,dengan malas ia membuka mata.


Sekujur tubuhnya terasa sakit,linu dan nyeri diantara kedua pahanya.


Bagaimana tidak,ia dihajar habis-habisan oleh serigala lapar semalaman.


Edrick berdiri di depan cermin besar merapikan dasi dan setelan jasnya.


Arsya melompat ke arahnya,bergelayut ditangan pemuda itu.


Edrick mendorong kepala Arsya,menahannya dengan satu tangan.


"Kucing liarku,kau sangat manis mengenakan bajuku"


Arsya baru sadar ternyata setelah pergulatan panjangnya,ia mengenakan kemeja putih milik Edrick.


Kalau bukan karena sekretaris Jun yang mengetuk pintu kamarnya pagi-pagi buta,ia tidak akan sudi mengenakan pakaian itu..


"Aku ingin pulang"


"Tidak,ini rumah mu" jawabnya singkat tanpa ingin dibantah.


Pemuda itu tahu betul tidak akan ada seseorang yang menginginkan gadisnya kembali kerumah keluarga Larry.


"Aku ingin bekerja,aku punya teman,aku punya rumah,aku ingin kebebasan ku kembali"


Suaranya menggema diruangan besar itu.


"Tidak" tolak Edrick menyorot tajam mata Arsya.


"Kau tidak butuh semua itu,selamanya kau akan tinggal disisiku"


Ia mendekap tubuh mungil Arsya.


Ia mengalungkan satu lengan dileher Arsya dan satu lagi melilit di pinggang ramping gadis itu.


"Kau tidak bisa menahanku disini"


Arsya mencoba melepaskan diri dari cengraman Edrick.


Kemudian Edrick memegang kedua pundak Arsya,ia sedikit membungkukkan pinggang,meraih b*b*r tipis yang sedari tadi mengoceh Tanpa jeda.


Satu tangan menarik tengkuk Arsya,hingga kepala wanita itu sedikit terangkat agar ia lebih leluasa membasahi b*b*r pink natural milik Arsya.


Sementara satu lengan lagi telah menyusup masuk dibalik kemeja.


Dibalik kemeja itu tidak ada penghalang yang akan mengganggu.


Tangannya dengan bebas menjalar diseluruh tubuh wanitanya.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi,Edrick mengangkat tubuh pendek itu hingga terduduk di meja rias.


Melepas kancing baju dengan nafas yang tersenggal.


Ada rasa sesak dibawah sana,meminta segera dibukakan gerbangnya.


Sementara Arsya hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi,mengikuti setiap jalan permainan Edrick.


Ingin sekali ia menutup mulut menahan ******* laknat yang keluar dari mulutnya.


Beberapa kali ia mengutuk dirinya sendiri.


Tapi Edrick sangat mahir membuat dirinya terpancing.


Lenguhan dan ******* keluar berbarengan dengan pemuda itu.


Persis seperti yang dilakukannya semalam.


Arsya terkulai lemas tak berdaya,sedangkan Edrick masih semangat untuk mencapai puncak kenikmatan.


Edrick membaringkan Arsya diranjang,menyelimutinya dan memberikan kecupan dib*b*r manisnya.


Edrick kembali merapikan pakaian nya didepan kaca,ada beberapa luka cakaran di tangan dan lehernya.


"Kau sangat liar,aku akan memotong cakarmu nanti"


Tapi ia merasa bangga mendapatkan luka itu ditubuhnya,tentu saja ada lebih banyak luka cakar di badan Edrick.


Hanya beberapa saja yang terlihat.