Wild Angel

Wild Angel
DICULIK LAGI



"Siapa disana" teriak Arsya dari balik pintu.


"Aku Exel" sembari meraih knop pintu


"Kenapa pintu nya terkunci"


"Aku Arsya,bisakah tuan membukakan pintu"


"yaaa baiklah tunggu disana sebentar,aku akan mencari pengurus rumah"


Exel pun menjauhi kamar Edrick.


Baru akan menuruni anak tangga ia bertemu dengan seorang pelayan yang membawa baki makanan untuk di antar ke kamar Edrick.


"Bibi biarkan saya yang mengantarnya kekamar,berikan kuncinya"


"Baik tuan Exel,tuan Edrick berpesan selalu kunci pintu setelah nona Arsya menghabiskan semua makan siangnya"


"Bagaimana kalau dia melawan"


"Makanannya sudah saya tambahi sedikit obat tidur"


"Apakah selalu seperti itu??"


tanyanya lebih penasaran


"Iyaa" Jawab pelayan dengan singkat,lalu pergi setelah memberikan kartu akses masuk kamar Edrick.


"Luar biasa sekali Edrick menjaga peliharaannya ini"gumam Exel tersenyum simpul.


Klaaakk


Pintu pun terbuka.


Exel membawa makan siang untuk Arsya.


"Makanlah aku akan tunggu disini"


"Aku tidak ingin makan,katakan pada Edrick,aku ingin keluar"


"Maaf nona Arsya,saya tidak punya wewenang itu,saya hanya datang untuk mengambil berkas yang tertinggal dimeja kerja Edrick"


Exel mengeluarkan ponsel dari kantong celananya.


"Ayo makan,jangan menyiksa dirimu,bukankah Edrick sangat baik terhadapmu"


kemudian ia kembali menatap layar ponsel.


Tak berapa lama Arsya telah menghabiskan makanannya,Exel menaruh piring kotor kebaki dan keluar dengan tenang.


Arsya berjalan ke kamar mandi.


Ia berdiri didepan westafel menatap dirinya.


Dengan cepat ia menjulurkan lidah dan memasukkan tangan kemulutnya.


Mengorek semua yang telah ia telan tadi.


Hueekkkk..


Uaaaaeekkk


Hugghhh..Hueekk


Kosong sudah isi perutnya,matanya memerah dan berair.


Dihidupkan air kran kemudian ia mencuci wajahnya.


Seperti biasa Arsya melakukan aktifitasnya kembali,menulis novel dengan laptop yang ditinggalkan Edrick.


Kadang ia membaca novel atau komik kesukaannya.


Waktu menunjukkan pukul 3 malam.


Arsya membuka mata,ia turun dari ranjang hangatnya.


Ia mengeluarkan kunci dibalik jubah tidur berwarna pink.


Klaakk


Ia berhasil membuka pintu dengan mulus,ada beberapa penjaga menjaga pintu utama.


Arsya menyelinap kedapur,kemudian membuka pintu kaca yang mengarah ke kolam renang.


Tampak tembok besar terpampang disana,Arsya berjalan mundur,mengukur seberapa tinggi ia harus melompat


Dengan kaki menapak didinding Arsya begitu lihai memanjat dinding tinggi tersebut.


Arsya kini telah keluar dari sangkar emasnya,ia berjalan di trotoar,hanya lampu dan serangga kecil beterbangan mengeliling cahaya lampu.


Arsya melipat tangan didada,cuaca memang sedikit dingin,apalagi ia hanya mengenakan jubah tidur yang tipis.


Cchhiiiiiittt


Terdengar suara rem mobil yang berdecit.


Pintu pun terbuka,Arsya masuk.


"Trimakasih atas bantuan anda tuan Exel"


"Tak masalah aku hanya kasian terhadap wanita peliharaan sepertimu"


Exel memberikan mantel berbulu kepada wanita **** di sampingnya itu.


Exel sendiri berkali-kali menelan salivanya,melihat pemandangan indah yang ada didepan mata.


Ingin sekali ia melompat dan menerkam tubuh mungil gadis itu.


"Kenapa anda menambah kecepatan"


"Pegangan,kenakan sabukmu,ada dua mobil mengejar dibelakang kita"


Arsya menoleh,benar saja ada 2 limousine,berjejer dibelakang mereka.


Satu mobil berhasil sejajar dengan mereka,sementara satu lagi menubruk Mercedes Benz warna silver itu dari belakang.


Criiiittt,,


Kembali suara rem menyapu jalan.


Exel terpaksa menghentikan mobilnya,karna satu mobil sudah berada tepat didepan mereka.


Segerombolan laki-laki berbadan kekar keluar dari dalam mobil.


Memaksa membuka pintu.


Dengan sangat terpaksa kedua orang itu akhirnya membuka pintu,menyerahkan diri kepada musuh.


Mereka semua membawa senjata


Arsya mengamati satu persatu wajah mereka,semuanya memiliki tato dilengan kiri bagian dalam.


Arsya sangat yakin mereka bukanlah orang sembarangan


Bughh bughh


Exel dipukuli berkali-kali karna mencoba melawan.


Setelah jatuh tergeletak diaspal yang dingin,mereka membawa Arsya menaiki mobil.


Mereka membungkus kepala Arsya dengan kain tipis berwarna hitam.


Apakah mereka orang suruhan Edrick.


Tapi ada tato kalajengking ditangan mereka.


Siapa mereka??


Setelah sampai ditempat tujuan,mereka melemparkan tubuh mungil Arsya dengan kasar kekasur.


"Lakukan"


Dengan santai wanita itu menuangkan anggur kedalam gelas ramping dihadapannya.


Ketiga Laki-laki bertubuh gembrot itu bersenang-senang dengan mainan barunya.


Melihat Adegan panas didepan matanya,ada gejolak yang membakar keluar dalam dirinya.


Sesuatu dibawah sana telah sesak hendak membebaskan diri.


"Sayang..mari kita ikut meramaikan"


Bisik lelaki yang telah menggebu-gebu itu.


"Kita jadikan malam ini semakin panas"


Ia menggigit telinga gadis disebelahnya itu,kemudian menyambar bibir yang tebal dengan gincu berwarna merah pekat.


Mereka saling bertukar jigong,saling membasahi,sementara tangannya kini telah mer*m*s melon yang tidak cukup ditampung hanya dengan satu tangan.