When Wishes Come True

When Wishes Come True
SERANGAN HEWAN



Kinos telah dekat dengan rumahnya, dia mendapati lima orang kestria pemburu berada di depan rumahnya, hal itu tidak lain adalah karena mereka telah mendeteksi anaknya. Dia berfikir untuk mencari cara agar tidak gegabah mengambil tindakan di situasi itu, bagaimanapun juga kinos pasti akan kesulitan menghadapi kelima pemburu peringkat bintang satu itu.


Kinos memperhatikan di depan rumahnya itu, selain kelima orang itu ada juga beberapa hewan burung gagak, tupai, kucing dan anjing berada di sekitaran halaman rumahnya.


hmmm sepertinya hewan-hewan itu teman-teman putriku, semoga mereka bisa membantuku. Kinos tersenyum lega karena merasa ada sedikit peluang.


"Bukankah ini rumah rekan angkatan kita?" salah satu pemburu itu berkata.


"Hmm? maksudmu?" Yang lainnya bertanya yang memang tidak kenal dengan kinos.


"Ya ini rumah rekan kita, aku pernah kesini bersama teman rekan yang lain, aku lupa namanya, tapi aku tau orangnya" Pria tadi berucap lagi.


"hooo begitu kah... aku tidak menyangka di rumah ini ternyata terdapat calon" pria yang memegang alat deteksi juga berkomentar.


"Mungkin salah satu di dalam sana terkena dampak cahaya itu."


"Bisa jadi.... apakah rekan kita yang kamu maksud itu telah mengetahui?" pria tadi bertanya lagi.


"Hmm kita akan tau kalau sudah memastikannya."


"Kalau begitu ayo kita pastikan." Pemburu itu berlalu dan hendak mengetuk pintu rumah kinos.


"Halo kawan... Ada apa kalian kemari? kenapa tidak bilang," tiba-tiba kinos berada di belakang mereka dengan bersikap sebiasa mungkin.


"Oh hai kawan, bagaimana kabarmu, Kami kemari secara kebetulan," Ujar pria yang mengenal kinos.


"Oh begitu... mari-mari masuk, aku juga baru saja tiba dari misi perburuan." Ucap kinos dengan santai seraya hendak membukakan pintu rumahnya.


"Haha baiklah, tapi kawan... aku ingin bertanya sesuatu untukmu," ucapan pria itu menghentikan Kinos untuk membuka pintu rumahnya.


"Apa itu?" Kinos berbalik ke arah mereka.


"Kami mendeteksi di rumahmu terdapat calon target kawan, apa kau mengetahui itu?" Wajah pria itu berubah serius, dia memicingkan matanya menyelidik menatap Kinos.


"Apa? haha tidak mungkin hal itu terjadi kawan" Kinos tertawa ringan.


Sesaat suasana hening di antara mereka, Kinos telah mempersiapkan tongkat listrik di balik badannya, tetapi hal itu telah di sadari oleh mereka.


Kinos langsung mengibaskan tongkat itu ke arah salah satu pria pemburu, tetapi kelimanya berhambur melangkah mundur menghindar dengan mudah.


"Tidak ku menyangka ternyata kamu menyembunyikan target, Penghianat... Kau akan habis hari ini" salah satu pemburu itu berkata dengan kencang.


Kinos tidak menanggapi perkataan pria itu, dia bersiap menghadapi kelimanya walaupun beresiko tumbang di hajar mereka.


"Matilah kau penghianat," pemburu lain berteriak dan langsung menerjang ke arah kinos.


Kinos menghindari terjangan itu dengan melompat ke samping dan mengambil posisi area sedikit luas di halaman depan rumahnya.


"Haha, perlawananmu tidak akan berguna kawan, satu lawan lima memang sedikit curang untukmu, tapi memang sudah sewajarnya kami menghabisi para penghianat sepertimu haha."


"Hmm?... Siapa bilang aku sendirian huh?" Kinos menyeringai.


Kelima pemburu itu heran mendengar ucapan Kinos, tiba-tiba salah satu dari mereka yang berada di belakang berteriak.


"Aaaaargh tolong, uaaargh..." mereka berempat terkejut mendapati rekannya di cabik oleh gigitan delapan anjing jalanan yang sedari tadi hanya duduk dan di abaikan oleh mereka.


"Apa-apaan ini? uaaargh agh...ugh.. haaaaargh" pemburu lainnya juga terdiam kebingungan, tiba-tiba burung-burung gagak mematuki kepalanya hingga tersungkur, pria malang itu berusaha menutupi kepalanya, tetapi apalah daya orang itu, burung-burung semakin banyak mendatanginya mematuki seluruh tubuhnya hingga tewas.


Dua orang yang lengah langsung terkapar terkena serangan tongkat listrik kinos.


"Kau..." Pria yang mengenal kinos menyerah dan mengangkat tangannya, dia tau apa yang akan terjadi jikalau dia melawan, hewan-hewan lain tengah menatapnya dengan buas.


Pria itu terdiam sejenak mendengar penyataan itu, dia tahu sebagai orang tua pastilah akan melindungi buah hatinya.


"Aku mengerti kawan, tetapi kita telah bersumpah sebagai kesatria pemburu, aku juga tidak membayangkan jika hal seperti ini aku alami." Pria itu menunduk menatap kosong ke arah salah satu mayat rekannya yang tewas akibat anjing-anjing itu.


"Ada hal lain yang ingin aku beritahu kepadamu kawan, ini juga demi kebaikanmu, keluargamu dan termasuk kerabat-kerabatmu, selama kau mempercayaiku, maka ikutilah aku kawan" Kinos merasa bahwa pria itu perlu di ajak untuk bergabung dengannya menuju ke dunia cermin.


Pria itu terdiam sejenak, "Jujur aku tidak yakin akan percaya atau tidak kawan. tetapi, jika kau ingin mengajakku... maka aku akan mengikutimu agar aku mengerti"


"Baiklah, Aku tidak memaksa kau percaya atau tidak, aku mengijinkanmu mengikutiku setelah ini," Kinos yakin setelah ini dia pasti percaya.


"Yah aku hanya bisa menurutkan? apalagi hewan-hewan itu masih menatapku sebagai mangsa mereka" pria itu tersenyum kecut.


"Haha santai saja kawan, maaf atas kemalangan ke empat rekanmu ini" Ucap kinos menyesal.


"Yah mau bagaimana lagi? beruntungnya aku tidak menjadi korbannya, ini merupakan kejadian di luar nalarku"


"Haha, Aku akan memperkenalkan siapa yang mampu memerintah hewan-hewan itu"


"Hmm? oh karna itu?" Sejenak pria itu heran dan kemudian paham dengan apa yang di maksud kinos.


"Keluarlah sayang, ajak putri kita juga" Kinos sedikit berteriak memanggil orang yang ada di dalam, Dia tahu bahwa istrinya sedang mendengarkan mereka di balik jendela yang sedikit terbuka.


Keluarlah Istri Kinos beserta putrinya, ketika pintu terbuka, segera hewan-hewan itu menyingkirkan ke empat mayat itu dengan menyeret menjauh masuk ke dalam semak-semak agar tidak terlihat oleh putrinya, kemudian para burung dan tupai mulai berdatangan membawa ranting atau daun kering untuk menutupi tanah yang telah bersimbah darah rekan pria itu.


Kinos dan Pria itu sempat terheran melihat hewan-hewan itu serempak bekerja sama membawa ke empat rekannya, seolah mengerti hal itu tidak pantas untuk di lihat putrinya.


"Selamat datang Mas," Istrinya menyapa.


"Iya sayang aku kembali untuk membawa kalian ke tempat aman"


"Aku akan ikut kemanapun kau pergi mas, Aku percaya Mas" Senyum indah terpapar di wajah istrinya.


"Iya sayang, Syukurlah aku datang tepat waktu"


"Papa tenang saja, kan ada teman-teman indah di sini, jadi pasti akan selalu aman pa" Putrinya menyeletuk di antara percakapan mereka.


"Haha iya iya papa percaya, teman-teman kamu memang baik mau membantu papa, terima kasih ya" Ucap kinos dan berterima kasih ke hewan-hewan itu, mereka seakan mengerti dan bersuara seolah menanggapi ucapan terima kasihnya kinos.


"Baiklah, sekarang saatnya kita pergi, aku yakin rekan lainnya menunggu kita di sana"


"Apa? berapa orang yang berkhianat?" pria itu terkejut dan bertanya dengan suara sedikit kencang.


"Ma maaf.... maafkan aku" lanjutnya tersadar mendapati hewan-hewan itu mulai terlihat marah.


"Nanti akan ku jelaskan kalau sudah berada di tempat tujuan kami" Kata kinos dan mengajaknya beserta istrinya berlalu meninggalkan rumahnya.


"Ngomong-ngomong kawan, Aku lupa siapa namamu?" Pria itu canggung dan menggaruk kepalanya.


"Haha aku juga tidak tahu namamu maafkan aku, perkenalkan aku kinos, ini istriku widya dan ini anakku indah" kinos menjulurkan tangannya.


"Aku abdi" masih tertawa canggung dan menyambut jabatan tangan kinos.


Mereka semua kemudian memasuki sebuah mobil dan menuju ke tempat titik temu yang sudah di tentukan kinos dan rekannya.


****


Halo readers, maaf telat up nih, harap maklum kerjaan mulai sibuk 🙏🙏 jangan bosan membaca cerita ini ya