
"Apa yang terjadi? Wajahmu pucat Zain'' Sakura bertanya penasaran melihat Zain yang baru saja tiba di kamar Rudi.
''Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan di dalam cermin'' Kata Zain dengan serius.
''Baiklah... kita tinggal menunggu Alvin''Kata Sakura melihat expresi Zain yang serius 'pasti ada sesuatu terhadapnya'.
''Huh.. Aneh biasanya anak itu tepat waktu, dan kau.... kenapa kau terlambat Zain?'' Rudi bertanya.
''Nanti saja kita bahas itu, Ini ada hubungannya kenapa aku terlambat kawan'' Zain masih terlihat serius.
''O..ok... Kalau begitu aku telepon dia, Biar anak itu segera kesini'' Kata Rudi seraya menghubungi Alvin lewat Smartphonenya.
Beberapa detik setelah Rudi menghubunginya masih belum ada jawaban untuk di angkat, ''Sepertinya Alvin sedang tidak berada di dekat Hpnya'' Kata Rudi yang masih membiarkan nada tunggu itu.
''Halo Rudi... Rumahku sedang di kepung orang-orang yang seperti di sekolah... Cepat tolong aku dan keluargaku, mereka sedang berada di luar'' Suara Alvin terlihat panik dan kemudian telepon itu terputus.
''A..apa?...'' Rudi terbelalak menatap kosong tiba-tiba dia terkaku mendengar Alvin meminta bantuan.
"Rudi.....Rudiiiii....'' Teriakan Zain menyadarkan Rudi ''Apa yang terjadi'' Tanya Zain khawatir.
Sesaat Rudi terdiam dan menoleh ke Zain Dan memandangnya kosong, "Zain... Mereka berada di rumah Alvin'' Rudi masih terlihat mematung.
''Apaaa? Siapa yang kau maksud *mereka* ?'' Zain semakin panik.
''Mereka yang menyerang Sekolah'' Rudi dengan expresi kaku kemudian terduduk ke lantai kamarnya.
Seketika suasana sesaat menjadi tegang di rasa Zain dan Sakura, " Kita harus cepat menyelamatkannya kak'' Zain membuka suara.
Sakura hanya mengangguk dan kemudian menggendong Rudi mengikuti Zain berlari ke kamar Mamanya rudi.
''Eeeeee Apa-apaan ini'' Mama Rudi terkejut tiba-tiba ada yang mendobrak kamarnya. Dia melihat Zain dan Seorang wanita kemaren yang di lihatnya tengah menggendong Rudi yang masih dengan tatapan kosong.
Zain tidak peduli dengan Rahasia mereka terhadap mamanya Rudi, yang dia pikirkan adalah secepatnya menyelamatkan Alvin dan keluarganya. ''Kak... Bawa mama Rudi juga ikut ke cermin, kita harus mengamankan orang-orang terdekat kita'' Seru Zain dan kemudian Sakura tanpa permisi menarik Mamanya Rudi.
''Eeeeeh apa-apaan ini, Tolooooong....'' teriak mama Rudi panik.
Mama Rudi terkejut saat melihat Zain memasukan Rudi ke cermin, itu merupakan kejadian yang mustahil baginya. "Hiiiiiiih apa yang terjadi, Astagaaaa Toloooooong'' Mama Rudi berteriak dan mulai menangis karena panik.
Sakura mengangguk saat Zain memegang tangannya sedangkan tangan lainnya masih memegang tangan mama Rudi, Dan mereka dalam sekejap masuk ke cermin di kamar itu.
Mama Rudi melihat heran ruangan yang sama dengan kamarnya itu, Dan tersadar melihat Rudi masih terdiam.
''Kita harus cepat Zain'' Sakura segera mengingatkan.
''Baiklah pegang tanganku kak, ...Tante maaf atas kejadian barusan, kami akan kembali menjelaskan semuanya, Tante jaga Rudi ya'' Zain Berkata, tanpa menunggu balasan Dari Mama rudi, Sakura dan Zain menghilang di depan matanya. Melihat kejadian itu Mama rudi terdiam kebingungan.
_
Di sisi lain terlihat lima orang mengenakan jas hitam tengah berada di pekarangan rumah Alvin.
''Bagaimana?'' kata salah satu pria itu.
''Ya.. Di dalam rumah itu Ada target peringkat C'' Jelas Pria yang memegang alat deteksi.
''Terus bagaimana sekarang? Apa kita tunggu Atau melapor ke tuan Jack?... Atau kita sergap saja?'' Salah satu lagi bertanya juga.
''Bodoh kau.. Untuk apa melapor ke tuan Jack hah? Target hanya peringkat C seharusnya kita bisa menangkapnya dengan mudah'' kata pria yang memegang alat deteksi.
Setelah Berdiskusi beberapa menit, kelima pria itu sepakat untuk langsung menangkap target, yang menurut mereka bisa di tangani tanpa bantuan peringkat di atas mereka.
''Hey.... Apa yang kalian lakukan di Halaman rumah ku? Mau merampok ya'' Tiba-tiba seorang pria paruh baya membentak ke lima pria ber jas hitam itu.
''Jangan sakiti Ayahkuuu...'' Teriak Anak kecil terdengar di belakang ke lima pria itu.
"Apakah dia?'' Tanya salah satu...
''Ya... Itu Target kita'' Pria yang memegang alat deteksi tersenyum menyeringai.
''Alvin... cepat masuk nak.... itu berbahaya'' Ibu alvin meneriaki Alvin dengan penuh ketakutan. di belakang ibu alvin ada adik perempuan yang juga terlihat ketakutan.
''Ibu cepat masuk dan bersembunyi di dalam... Kunci pintu kamar dan jangan biarkan mereka masuk'' Alvin menyeru kepada ibunya.
''Kalian berdua tangkap ibu dan anak perempuan itu, biar kami bertiga yang menghadapi anak ini'' Perintah salah satu pria itu.
"Alvin...'' Ibu Alvin menangis dan berteriak begitu pula adiknya yang memegang erat kain baju ibunya di belakang.
''Ibuuuu cepat masuuuuk... Jangan biarkan mereka mendapatkan Livia'' Alvin Terlihat panik dan berusaha menyuruh ibunya untuk menjauh dari sana. dan kedua orang itu berlari dan berusaha mendobrak pintu rumah Alvin.
''Haha... Tidak perlu khawatir bocah... kamu juga akan kami bawa'' salah satu pria itu melompat mendekati Alvin, dia melancarkan tongkat itu untuk menyentuh Alvin, Tetapi Alvin dengan cepat bergerak berpindah posisi menjauhi mereka. 'Sekali terkena benda itu mereka akan dengan mudah menangkapku'
Di halaman itu terlihat ketiga orang pria tengah kesulitan menangkap Alvin, Serangan tongkat, tembakan tali untuk melumpuhkan pergerakan dengan mudah Alvin hindari.
''Haha... Aku rasa kalian sudah terlalu tua untuk main kejar-kejaran denganku'' Alvin tertawa mengejek.
''Kuarang ajar kau bocah hiaaa....''
Ketiga pria itu kewalahan dengan sendirinya, Keringat tubuh sudah cukup lumayan terlihat membasahi jas mereka.
''Kyaaaaaaaa'' Terdengar teriakan ibunya dari dalam rumah, dan di susul teriakan Livia ''Ibuuuuu.... Kyaaaaaa'' Tiba-tiba suasana rumah itu tidak ada lagi kegaduhan.
''Ibuuuu'' Alvin menoleh kearah rumahnya.
'Kesempatan' salah satu pria itu langsung menembakan benda bulat seperti bola kecil setelah itu tepat mengenai Alvin dan benda itu langsung menyebar menjadi lima bagian dengan kawat tali kecil menghubungkan satu sama lainnya, membuat alvin terlempar sedikit dan jatuh dalam keadaan terikat.
''Uuuurgh lepaskaaaaan... Ibuuuu'' Alvin meronta dan masih mengkhawatir kan ibu dan adiknya.
''hahaha... Bagaimana bocah? mau main kejar-kejaran lagi hahaha'' Tawa puas salah satu pria itu berjongkok di hadapan alvin yang terkapar.
''Uuuuurgh... lepaskan aku uuuurgh...'' Alvin masih berusaha meronta.
''Hahaha... Dasar bocah merepotkan... coba dari awal kamu nurut, nggak bakal kayak gini kan jadinya'' Salah satu pria lain juga ikut berkomentar.
''Haha... Mau kejar-kejaran lagi nggak?'' ejek nya ke pada Alvin, Seraya mengeluarkan tongkat listrik itu.
Alvin terkejut melihat tongkat itu berada tepat di dekat wajahnya, tongkat itu sedikit mengeluarkan suara dan sedikit kilatan kecil saat pria itu menekan tombol aktivnya.
''Uuuugh tidaaak.... lepaskaaaan'' Alvin berguling menjauh dari pria itu.
''Hahaha... Ayo lari kalau bisa huh, bisa apa kau kalau sudah begini, hahaha''
Alvin ketakutan melihat pria itu mendekat, secara perlahan mendekatinya dengan tongkat yang meletis ka cahaya kilat kecil.
Bzzzz bzzzz bzzz.... Pria itu masih memainkan tongkatnya sambil mendekati Alvin dan tertawa puas akan kemenangannya.
Sesaat Alvin melihat sekeliling dan mendapati salah satu pria yang keluar dari dalam rumahnya, Pria itu membawa adiknya yang tengah tidak sadarkan diri, Alvin berusaha meronta berharap ikatan tali kawat itu melonggar, Air matanya mengalir dan mulai pasrah akan kondisinya yang tengah terikat.
Alvin memejamkan matanya Sebelum benda listrik itu menyentuhnya, 'Kumohon... seseorang selamatkan aku dan keluargaku' Alvin menangis berharap Zain, Rudi, Dan Sakura datang menyelamatkannya.
****