
Sakura dan Alvin membawa Ayah, Ibu dan Adik Alvin menuju tempat Bagas berada, Zain menyuruh mereka meninggalkan dirinya dengan kelima pria yang masih tergeletak tidak sadarkan diri di tempat itu untuk memintai keterangan mereka.
Sakura dan Alvin hanya menurut Perintah dari Zain. Di mata Sakura dan Alvin, Zain terlihat seperti Orang yang jauh berbeda, walaupun sosoknya masih seorang anak kecil berumur 12 tahun. saat berada di dunia cermin, Zain memiliki kharisma yang sangat luar biasa, Segala perkataannya serasa mutlak bagi siapa saja yang di perintahnya.
_
Ke lima pria berjas hitam yang telah menyerang Keluarga Alvin, kini satu persatu mulai sadar, kondisi mereka tidak lagi terlihat babak belur akibat ulah Sakura, semua telah di sembuhkan dalam sekejab oleh Zain.
''Di mana ini? Hey kalian ayo bangun semua'' Perintah salah satu menyadarkan rekannya.
''Apa yang terjadi? kenapa tubuh ku tidak merasakan sakit lagi'' ujar Pria yang di hajar Sakura sampai giginya rontok, tengah memastikan kondisinya sekarang menjadi baik-baik saja.
''Yooo... Apa kalian sudah sadar?'' Suara anak kecil menegur mereka.
Kelima pria itu sesaat mencari-cari keberadaan suara anak kecil itu, sampai akhirnya mata mereka tertuju ke atas dan mendapati Zain yang melayang di udara. Salah satu yang biasa memegang alat deteksi mulai meraba letak alat itu yang biasa dia simpan.
''Kau sedang mencari apa? Mencari alat ini?'' Zain menunjukan alat deteksi itu, bentuknya berbeda dengan alat yang di miliki Ichi dan Violet. Alat yang dia pegang lebih mirip seperti detektor suhu, yang biasa di gunakan pihak kesehatan untuk mengukur suhu badan dengan fungsi mengukur energi Sihir target yang di arahkan di jarak paling jauh 10 meter.
Kelima Pria itu terkejut dan mulai mengambil langkah kuda-kuda untuk bersiap bertempur.
''Hedeh... Tidak ada gunanya kekuatan kalian terhadapku di sini, Aku hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan ke kalian'' Zain berkata dengan santai.
''Jangan sombong kau bocah, Hanya bisa mengambang di udara saja kau sudah berlagak kuat di depan kami'' salah satu berkomentar dengan wajah terlihat kesal.
''Benar... turun kesini kalau berani'' Salah satu lagi menimpali.
''Huh... Kalian memang tidak paham situasi ya, dasar sampah'' Zain turun menapakan kakinya ketanah terdengar suaranya menggetarkan kelima pria itu.
'Apa.... tidak mungkin... Anak ini mengeluarkan Aura intimidasi yang sangat kuat'. Salah satu pria itu berkomentar dalam hati.
Langkah Zain semakin mendekat ke Arah mereka berlima, semakin mendekat semakin membuat nafas ke lima pria itu terasa sesak untuk bernafas.
''Bagamana?... masih mau bertarung melawanku?'' Zain berhenti di jarak lima meter dari mereka. kelima pria itu jatuh terduduk, keringat dingin mulai membulir di wajah mereka. Hanya dengan hawa intimidasi dari seorang anak kecil itu, nyawa mereka seperti mau tercabut.
"Ampuuun tuan... A..ampuni kami....'' Salah satu tidak kuat menahan tekanan itu dan bersujud menghadap Zain.
Ke Empat pria yang lain melihat itu segera mengikuti dan ikut bersujud ketakutan. "Tu...tuan... mohon maafkan kami'' Pria lain juga meminta ampun.
''Aku akan mengampuni kalian... Dengan Syarat kalian harus menjawab pertanyaanku dengan jujur'' Zain menghentikan tekanan Auranya.
''Apapun yang kau minta tuan'' Masih dalam keadaan bersujud tidak berani menatap Zain.
''Baiklah... Aku menerimanya, hentikan Sujud kalian itu, Aku bukan tuhan, Jadi Aku ingin mendengar jawaban kalian dengan santai''. Zain meminta mereka agar tidak tegang,
kelima pria itu Kembali berdiri dan merasa lega.
''Biar Aku yang menjawab'' Salah satu pria itu menghentikan temannya yang hendak menjawab pertanyaan Zain, ''Kami adalah Agen dari pemerintahan tuan, Kami...'' Belum sempat pria itu melanjutkan, tubuhnya hancur terurai tidak berbentuk dan menghilang''
"hiiiiiih hiiiiii ampuni kami tuan'' Pria yang di sampingnya ketakutan menyaksikan temannya lenyap.
Zain menghembuskan nafas berat... ''Sudahku bilang kan barusan, Aku meminta kalian menjawab pertanyaanku dengan jujur... Aku sudah memasang mantra sihir kepada kalian agar tidak berbohong kepadaku, Jadi Siapa yang mau menjawab?'' Sambil menjentikan jarinya dan pria yang barusan lenyap lembali utuh seperti sedia kala.
Ke Empat yang menyaksikan itu terkejut lagi, dan Akhirnya salah satu dari mereka mau menjawab pertanyaan Zain dengan jujur.
_
Di sisi lain setelah mengantar Alvin dan keluarganya, Sakura kembali menjemput Rudi dan Mamanya untuk berkumpul dengan keluarga Alvin.
"Rudi... apa kau baik-baik saja?'' Tanya sakura melihat Rudi masih menatap kosong lantai di kamar Replika rumahnya .
''Siapa kamu? Apa yang kalian lakukan terhadap anakku?'' Mama Rudi marah dan menghardik Sakura.
Sakura bersikap sopan dan menjelaskan secara singkat tentang dirinya dan kenapa dia bisa berteman dengan Rudi.
''Apa?... Kekonyolan apa yang kalian buat hah? kau pikir dengan penjelasanmu itu aku dengan mudah percaya?'' Mama Rudi Semakin Emosi merasa dirinya di bohongi dengan cerita konyol dari Sakura.
''Maaf nyonya... Saya tidak punya waktu berdebat dengan anda, Sebaiknya kita segera berkumpul bersama Alvin dan keluarganya'' Sakura berusaha membujuk mama rudi unguk mengikutinya.
''Aku tidak percaya.... Kau... dasar gila kalian'' Mama Rudi Semakin histeris marah.
''Maaf nyonya... Saya akan membawa anda dan rudi secara paksa'' Tanpa menunggu jawaban mama rudi, Sakura segera menggendong Rudi dan mamanya, dengan gerakan cepat dia bergerak dan melompat keluar menuju tempat berkumpulnya keluarga Alvin. Teriakan mama rudi yang ketakutan saat merasakan di bawa melompat lebih tinggi, tidak di hiraukan oleh Sakura, dia harus secepatnya sampai.
'Biar dia lihat sendiri keadaan sebenarnya' pikir sakura.
****
Fenomena yang sudah di klaim sebagai penyakit telah berhasil mengajak kalangan masyarakat ingin segera memeriksakan buah hati mereka. Setelah Pemberitahuan oleh presiden melalui berita-berita, tempat Area yang di sebut Zona Karantina untuk anak-anak itu, kini mulai di penuhi orang-orang, dengan sabar para orang tua menunggu antrian anaknya untuk di periksa.
Tidak semua masyarakat menyetujui dan bisa mengikuti keputusan pemerintah melalui presiden di berita pengumuman itu, berbagai macam alasan yang menjadi faktor hal itu terjadi.
Yang lebih menjadi masalah adalah ketika laporan orang tua yang ketakutan terhadap kemampuan anaknya yang memiliki kekuatan yang berpotensi mengancam nyawa mereka ataupun orang lain, Hal itu menjadi laporan-laporan penting bagi pemerintah untuk bertindak membantu secara langsung menjemput anak mereka di lokasi untuk di karantina.
Beberapa kasus menampilkan perlawanan anak-anak menolak untuk di bawa oleh pasukan yang tergabung antara relawan aktivis, tentara, kepolisian dan pasukan berjas hitam. perlawanan itu terlihat cukup membahayakan, upaya untuk melumpuhkan anak-anak yang memiliki kelas bencana, pemerintah telah melarang dengan tegas menggunakan senjata militer, dan akhirnya solusi yang di berikan adalah pasilitas senjata-senjata dari holy knight.
''Dengan begini sangat memudahkan kita memanen anak-anak itu'' Subroto menyeringai melihat tampilan berita di layar laptopnya. Upaya membujuk pemerintah untuk bekerja sama berjalan dengan sukses, memberikan peluang bagi pasukan kesatria pemburu untuk tampil dengan leluasa.
****
#Vote, like and komennya please 🙏