When Wishes Come True

When Wishes Come True
SIKAP UDA



Secarik kertas dari Elena muncul kembali di telapak tangan Haruka, Hampir jam 10 malam pencarian mereka tidak kunjung tercapai, terlihat wajah Haruka sangat letih berjalan mengelilingi kota.


''Haruka, Ayo kita kembali ke penginapan, kita lanjutkan lagi besok ya, semoga besok ada peluang kita bertemu Zain'' Kata Elena di tulisan kertas itu.


''Baiklah El, Semoga besok kita bertemu Zain''. Dengan berat hati Haruka melangkah kembali, di sisi lain dia juga mengkhawatirkan Ayah dan Adiknya, berita yang di sampaikan oleh presiden semakin membuatnya khawatir.


Elena hanya menatap iba kepada sahabatnya itu, dia sangat paham akan situasi Haruka yang merespon berita itu. Berdasarkan penglihatan Haruka, akan ada banyak pasukan militer yang memasuki rumah sakit itu dan membawa semua anak-anak termasuk adiknya yang masih dalam keadaan koma.


''Semangatlah sahabatku, semoga ada jalan untuk besok'' Elena berkata dalam hati.


_


Di sisi lain, Ichi terlihat sangat kesal menunggu keponakannya yang belum pulang selarut ini, beberapa kali dia menghubungi nomor telepon yang di beri Bi ijah, tapi nomor itu tidak aktiv sampai sekarang. Begitu pula nomor telepon rumah kedua temannya, tidak ada satupun yang mengangkat panggilannya.


''Kemana mereka? kenapa pula tidak ada satupun yang mengangkat'' Wajah Ichi memerah menahan emosinya.


''Sabar Den Ichi, Mungkin Den Zain ikut liburan bersama keluarga Rudi dan Alvin temannya itu, mungkin saja mereka dalam perjalanan pulang Den''. Bi ijah berkata sambil menggantikan cangkir kopi yang sudah kosong dengan cangkir yang berisi penuh.


''Yah semoga saja Bi, Apa memang selalu begini kelakuan anak itu Bi? jam segini nggak pulang, nggak pake izin lagi huh'' Ichi menggerutu kesal.


''Kalo Aden Zain menginap biasanya bilang sama bibi den, mungkin sebentar lagi pulang den'' Bi ijah berkata dengan sopan.


''Ya sudah bi, makasih tambahan kopinya'' Ucapnya dan membiarkan bi ijah berlalu menuju dapur.


'kemana anak itu, inilah yang terjadi kalau orang tuanya mengabaikan anak-anaknya huh' Gerutunya dalam hati dan kemudian mencoba lagi menghubungi nomor telepon Zain.


Dering telepon tiba-tiba muncul di dalam kamar Zain, Ichi merasa heran kenapa ada suara dering itu di sana.


_


Zain Pov


Sakura dan lainnya terkejut mendengar penjelasan dari kelima kesatria bintang satu itu, sengaja aku pertemukan mereka agar aku tidak repot lagi menjelaskan ulang.


Aku lega melihat kondisi Rudi kembali seperti semula setelah mengetahui Alvin baik-baik saja, mama Rudi dan ke dua orang tua Alvin sudah mengerti situasi yang terjadi.


Aku telah memasang mantra sihir ke pada pria-pria itu, Aku memerintahkan mereka untuk membantu melayani teman-temanku dan keluarganya di dunia cermin, kalau mereka berani menyakiti teman-temanku mereka akan tau bakal menjadi debu kalau membantah perintahku.


Aku berpesan kepada Sakura untuk mengawasi mereka, 'yah kupikir akan baik-baik saja, kalau mereka berbuat macam-macam atau menyerang, gigi mereka pasti akan di rontokan lagi oleh Sakura haha'


''Baiklah, Aku harus pulang sekarang'' kataku untuk pamit.


''Iya, kamu hati-hati ya Zain, kalau ada apa-apa segera beritahu aku'' kata sakura.


Aku membalas dengan senyuman dan berlalu meninggalkan mereka. 'mungkin besok aku akan membuat sebuah istana dengan pertahanan kuat di sini untuk keamanan mereka semua'


Yah besok saja lah di pikirkan, sekarang aku harus pulang, aku takut Uda akan marah kalau lebih lama lagi, untung saja cermin di gudang sudah aku pindahkan ke kamar, jadi tidak perlu bertemu dengannya hehe.


Aku keluar dari cermin dan membaringkan tubuhlu ke kasur, 'Oh astaga, aku jadi lupa memberitahukan ke teman-temanku tentang Uda Ichi' ya sudahlah, besok saja sekalian.


Dering smartphoneku berbunyi kencang secara tiba-tiba, 'Astagaaaaa Aku lupa atur silent' Aku sangat panik melihat nomor yang tidak di kenal tiba-tiba menghubungiku, 'Ah paling nomor iseng'


''Zain?'' Pintu kamar yang lupa ku kunci itu mulai terbuka. 'Oh tuhan.... Selamatkan aku'


Aku ketakutan setengah mati saat Uda Ichi memasuki kamarku.


End pov.


''Sejak kapan kau sudah pulang huh? lewat mana kamu'' Ichi berkata menyelidik Zain.


''ah.... Anu...'' Zain tidak bisa berkata apa-apa ''Maafkan aku'' Hanya itu yang dapat di ucapkannya.


''Ngapain kamu minta maaf? Aku hanya bertanya lewat mana kamu masuk ke rumah'' Ichi semakin menyelidik.


Zain hanya bisa terdiam tidak berani menjawab, menurutnya diam adalah senjata pemungkas anak kecil kalau sudah berada di situasi seperti ini.


Ichi menghembuskan nafas berat, ''Selama ada aku di sini, kamu harus patuh dengan peraturanku, jangan kamu ulangi lagi kelakuanmu pulang selarut ini, Paham?''


Zain hanya mengangguk tidak berani menjawab.


''Jangan lagi kamu berani-berani menyelinap masuk seperti maling, aku akan menghukummu nanti, hari ini aku lepaskan kamu'' Kata Ichi mengancam ponakannya dan beranjak keluar kamar.


''Besok kalau mau main keluar Aku harus ikut'' Ichi langsung menutup pintu kamarnya.


Kalimat terakhir dari Ichi membuat Zain tersentak bagaikan terkena sambaran petir, dia sadar pergerakannya untuk kedepan akan terbatas nantinya.


Ichi melakukan semua itu karena untuk mendisiplinkan Zain, menurutnya anak itu harus di berikan edukasi penting darinya. Sebagai pamannya di berkewajiban mendidik Zain menggantikan peran kakaknya yang menurutnya tidak peduli dengan anak sendiri.


_


Pagi harinya Zain dengan berat hati melangkah kedapur untuk sarapan, sudah pasti karena Udanya yang mulai bersikap tegas terhadapnya.


''Se..selamat pagi Uda'' Zain menyapa dengan terbata-bata.


''Hmmm Pagi, Sini sarapan'' Nada Ichi lebih ke perintah menyuruhnya untuk sarapan.


Zain hanya mengangguk dan duduk berseberangan dengan ichi.


''Jadi mau kemana hari ini Zain? Ke tempat temanmu lagi?'' Ichi bertanya seraya sibuk dengan sarapanya.


Mengingat kata-kata Udanya semalam, Zain mengelengkan kepalanya. ''Hari ini tidak kemana-mana kok Uda'' dengan cepat perkataan Zain mengelak.


Ichi yang awalnya tidak memperhatikan karena sibuk sarapan, kini dia memperhatikan ponakannya itu dengan memicingkan matanya, Dia menaruh garpu dan pisau rotinya di atas piring untuk berhenti sejenak.


''Kalau kamu mau main... ya main aja, Uda nggak melarang, Tapi untuk hari ini uda ikut ya, uda pengen kenal dengan teman-teman mu'' Ichi tersenyum yang lebih terlihat seringai, Zain melihat senyuman Udanya itu. 'Astaga senyuman macam apa itu? Mengerikan' batinnya.


''Mmm... Hari ini kita nggak janjian kumpul kok uda ehehe''. Zain beralasan.


''Oh gitu ya... Kalau begitu temani Uda keliling kota aja gimana?''


Mendengar itu Zain tersedak dan terbatuk, ''Maaf Uda... maaf... Iya bo..boleh aja kok'' Zain berusaha menenangkan kegugupannya.


''Kalau begitu habis sarapan kita berangkat ya'' Ujar Ichi.


Di sisi lain Ichi ingin mengetahui tentang Zain, mengingat keponakannya ini termasuk jenius menurut alat deteksinya. Dia meyakini pasti ada sesuatu yang di sembunyikannya. selain untuk mempererat hubungannya, dia juga berniat untuk melatih ponakannya agar menjadi kesatria pemburu.


''Tunggu sebentar ya, Uda mau bersiap dulu''


Zain hanya terduduk lemas sendiri di ruang makan, dia menunggu Udanya tengah bersiap untuk jalan-jalan keliling kota. Banyak hal yang harus dia beritahukan ke Teman-temannya di dunia cermin secepatnya, tetapi hari ini dengan berat hati terpaksa menemani Udanya.


****