
Violet Pov
Suasana hatiku benar-benar kacau hari ini, baru kali ini aku mengalami kegagalan dalam misi perburuan.
Beberapa dari mereka memang sangat merepotkan, Bahkan ada yang tidak mempan dengan senjata biasa.
Dan senjata ini (tongkat dengan ukiran unik), mampu mengambil atau menangkap jiwa mereka, dan itupun tidak mudah, kami harus melumpuhkan mereka terlebih dahulu.
Misi kali ini terlalu banyak pengganggu, ugh... mengingat wajah guru sialan itu semakin membuatku kesal, Yah aku memang meremehkan guru sialan itu, di luar dugaan ternyata dia seorang ahli bela diri, dan ke empat murid itu memiliki bakat sihir di tambah masing-masing dari mereka memiliki kemampuan beladiri yang cukup sulit di tangani. kami terpaksa mundur dan mengatur ulang strategi perburuan berikutnya, menghadapi ahli bela diri perlu persiapan yang kuat. Nanti kita akan bertemu lagi guru sialan
Aku sudah bekerja keras telah mencapai bintang dua, sudah tugasku memberantas para manusia yang memiliki bakat sihir atau semacamnya, sebagai kesatria pemburu aku telah melewati berbagai percobaan tes untuk meningkatkan kemampuanku, dan untungnya segala pasilitas di holy knight benar-benar membantu kami.
_
Sebelum mundur aku berencana menyelidiki Sekolah ini terlebih dahulu, aku sedikit menguasai kemampuan Assassin, hal itu membuatku dengan mudah melarikan diri atau bersembunyi. Sesampainya di lantai tiga aku mendapati seorang anak laki-laki yang imut berjalan sendirian, Seingatku aku sudah memeriksa seluruh ruangan di lantai tiga ini, apakah aku melewatkan sesuatu?
Sesaat aku memperhatikan anak ini, aku merasa ada sesuatu pada dirinya. dari pada penasaran mending aku periksa saja dulu uhuhu.
"Apa yang kamu lakukan di sini sendirian adik kecil?" aku langsung menyapanya. dan dia terkejut melihatku yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Si..siapa k..kamu?" dia melangkah mundur sampai ke dinding.
"Adik kecil.... Apa yang kamu lakukan di sini?" Aku mencoba ramah kepadanya dan mencoba semakin mendekatinya.
"Ma..maaf kak... A..aku.." Terlihat wajahnya sangat ketakutan.
"Jangan takut adik kecil, Kakak nggak jahat kok, Boleh aku tau siapa namamu?" Aku mencoba tersenyum dan itu membuatnya semakin ketakutan ingin menangis. oh tuhan, apakah aku memang terlihat menyeramkan?
''-.-''
Dia semakin ketakutan dan berusaha melarikan diri dariku, dengan santai aku mendapati pergelangan tangannya. "Jangan takut sama kakak hehe."
"A...aku mohon kak, lepaskan tangan ku"
Dia mencoba melepaskan tangannya yang ku pegang tetapi tidak bisa. lucunya expresi anak ini.
"Kamu tenang ya... aku akan melepaskanmu, tetapi aku ingin tau nama kamu"
Dia terdiam sejenak "Aku Zain," Katanya masih gugup.
"Nama yang bagus Zain, Perkenalkan aku Violet, panggil aku Vi ya," Ada perasaan senang di hatiku setelah dia menyebutkan namanya.
Sepertinya sudah waktunya aku pergi, aku mengeluarkan Alat pendeteksi di sakuku dan meletakan ke punggung tanganya yang aku pegang, aku melihat di wajahnya sedang heran memperhatikan apa yang aku lakukan.
"Yah syukurlah kamu bukan bagian dari mereka zain," aku berkata setelah melihat hasil dari poin itu, poin 100 Rank E. Dia anak yang jenius rupanya.
"Kalau begitu aku pergi dulu Zain... Sampai ketemu lagi," ucapku dan berlalu meninggalkannya.
Entah mengapa aku sempat ragu tadi, yah aku bersyukur anak itu bukan calon penyihir.
End Pov
Zain terdiam terpaku melihat kepergian Viola yang baru saja menjauh dan menghilang dari pandangannya. Jantungnya masih berdetak tidak beraturan akan kejadian tadi, di sisi lain dia mendapatkan informasi penting untuk di bicarakan ke teman-temannya. Segera dia berlari dan melompat ke cermin dengan mudah. blup....
_
"Zain... Apa yang terjadi? wajahmu terlihat pucat," Sakura memperhatikan wajah Zain yang baru saja tiba di ruangan itu.
"Sepertinya aku bertemu seseorang salah satu yang menyerang di sekolah kita," Ucap Zain ragu.
"Benarkah? Bagaimana bisa... maksudku seperti apa kejadiannya?"Rudi juga penasaran.
"Aku bertemu kakak Perempuan yang bernama Violet, entah kenapa saat berhadapan denganya tadi membuat aku ketakutan, Ada sesuatu yang aneh pada kakak itu."
"Apa kamu tidak salah orang Zain? dimana kamu bertemu dengannya?" Tanya Alvin
"Aku bertemu dengannya di lantai tiga Vin, Aku terkejut tiba-tiba dia di belakangku, kakak itu benar-benar menyeramkan," Zain menjelaskan sambil bergidik.
"Apakah dia menyerangmu juga?" Bagas yang sedari tadi memperhatikan juga ikut bertanya.
"Tidak.... dia tiba-tiba saja berada di belakangku dan...," Zain menjelaskan kejadian pertemuan itu ke teman-temannya.
"Hmmmm jadi... Menurutmu benda itu benda apa Zain?" Tanya Rudi.
"Ntah lah... aku kurang yakin... tapi benda itu mengeluarkan cahaya dan menunjukan angka dan tulisan 100 Rank E setelah di tempelkan ke telapak tanganku."
"Apakah benda itu semacam Alat pendeteksi?" Tanya Alvin.
"Aku juga tidak tau," kata zain.
"Menurutku itu semacam alat pendeteksi untuk anak-anak seperti kita," bagas ikut berkomentar.
"Bisa kau jelaskan lebih detil lagi?" Alvin semain penasaran.
"Ya... menurutku itu pendeteksi untuk anak-anak seperti kita, Saat itu sebelum mereka menyerang, aku melihat salah satu orang itu memegang alat semacam sensor, mereka mengarahkan itu kepadaku. Bisa jadi alat yang di pegang wanita yang bertemu Zain itu versi kecilnya," tutur bagas.
"Tapi kenapa wanita itu tidak menangkap Zain?" tanya Rudi.
"Kemungkinan ada batas nominal tertentu yang membuat mereka ingin menangkapku," Kata bagas.
"Kemungkinan bisa begitu gas... mengingat kemampuanku hanya di dalam cermin ini saja, kalau di luar dari ini aku hanyalah anak biasa," Zain setuju pendapat bagas.
"Jika seperti itu, akan bahaya bagi kalian berjalan sendiri, terutama kau Alvin, kemampuanmu bergerak cepat akan berbahaya jika kau dalam kondisi terkepung oleh mereka," Sakura mengingatkan.
"Iya itu benar kawan... Saat mereka mencoba menangkapku, mereka menembakkan semacam alat untuk melumpuhkan kita, aku melihatnya saat mereka juga menyerang Pak pur (penjaga sekolah). kita harus hati-hati."
"I..iya... kita harus berhati-hati, mereka kan ada banyak," kata Alvin cemas.
"Aku rasa cepat atau lambat kita akan mengetahui siapa orang-orang itu," Kata Zain.
"Yah kita bisa tetap aman di sini, Terlebih untukmu bagas, kemungkinan mereka juga akan mencari tau tentangmu, akan bahaya kalau kamu di serang di rumah," Kata Sakura.
"Kalian tidak perlu khawatir disini, semua ada.. hanya saja tulisannya saja yang terbalik," kata Zain.
"Benarkah? apakah makanan disini juga bisa di makan?" tanya rudi.
"Ya... kalian bisa memakan makanan yang ada di sini, jadi tidak perlu keluar."
"Kereeeeen.... Aku mau mengambil beberapa pakaian baru dan makanan di mall itu," Rudi dengan riang melangkah keuar ruangan.
Dari pembahasan itu mereka sepakat untuk sementara menyembunyikan keberadaan bagas agar tidak terjadi penyerangan oleh orang-orang yang belum mereka ketahui berasal dari mana.
****