When Wishes Come True

When Wishes Come True
BEBERAPA PETUNJUK



"Mmmmmh.... Dimana Aku?" Bagas sadar dan mendapati dirinya di sebuah ruangan sepertinya aku berada di ruang UKS, hah...bukankah tulisan itu terbalik? Merasa heran di ruangan itu segala tulisan-tulisannya terbalik.


Bagas mengamati sekeliling ruangan itu, dinding, Kalender, dan apapun yang dia lihat bertuliskan terbalik, tidak lama Rudi, Alvin Dan Sakura memasuki ruangan dimana mereka membaringkan bagas.


"Hey... kau sudah bangun?" Sapa Alvin.


"Mmmh iya, badanku terasa remuk semua," sambil memegang lehernya yang terasa penat.


"Itu hal yang wajar, kamu terlalu banyak mengeluarkan energi kemampuanmu," ujar Sakura dengan ramah menerangkan.


"Mengeluarkan energi? Hey apa kau benar-benar Sakura?" Bagas tersadar melihat kembali Sakura yang menyelamatkannya.


"Haha Iya, Aku Sakura dari desa K*n*ha" Sakura tersenyun canggung.


"Mmmm nanti saja kita bahas itu bagas, yang terpenting sekarang kita harus membahas semua kejadian yang terjadi barusan," Rudi Memotong pembicaraan mereka.


"Baiklah, oh iya kalian kenal aku ya?" tanya bagas.


"Siapa yang tidak kenal dengan kamu gas? Seluruh sekolahan pasti tau kamu," Jawab Alvin dengan datar. siapa yang tidak tau anak sebesar ini. Di mata Alvin dan lainnya Bagas seperti Orang dewasa yang satu-satunya paling besar dan tinggi di antara anak lainnya.


"Haha... Kita satu sekolah gas, Kami Adik kelasmu, Oh iya aku Rudi, Ini Alvin Dan ini Kak Sakura," Rudi ikut memperkenalkan.


"Ahaha... Jadi begitu ya... Maaf," Bagas tertawa canggung. "Oh iya dimana ini? kenapa Semua tulisan terbalik?" melihat sekitarannya lagi.


"Oh ini, Kita sekarang berada di Dunia cermin Gas," Jawab Rudi dan bersikap biasanya.


"Hah? Dunia cermin?" semakin tidak mengerti, Dan bagas juga heran kenapa ketiga orang itu tidak merasa aneh dengan situasi dimana semua sangat berbeda.


"Jadi gini gas, Benar kata Rudi, kita sekarang berada di Dunia cermin, Lebih tepatnya kita berada di tempat kemampuan temanku Zain,"


Alvin ikut menjelaskan.


"Aku masih tidak mengerti, maafkan aku," Bagas tersenyum paksa karena memang tidak paham.


"Haha sudahlah, tidak usah di pikirkan, yang penting ini adalah tempat teraman kita sekarang," Kata Sakura yang melihat situasi mereka.


"Haha iya kak," Rudi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Dia terlihat kesulitan untuk menjelaskan.


"Oh iya katamu tempat ini punya temanmu yang bernama Zain, Dimana dia?" Bagas bertanya ke Alvin.


"Dia tadi disini, katanya dia ingin melihat situasi di sekolah kita," jawab Alvin.


"Sebentar lagi dia akan kemari kok," Rudi menambahkan.


_


Setelah membawa teman-temannya masuk, Zain ingin melihat situasi di sekolah yang di padati oleh beberapa Wartawan dan Polisi untuk mendapatkan informasi penting.


Tidak ada satupun Siswa yang terlihat di lantai tiga, Apa yang lainnya sudah pulang ya? Atau masih berada lantai di bawah? Zain bertanya dalam hati dan memutuskan untuk menuju kebawah.


"Apa yang kamu lakukan disini sendiri Adik kecil?" Tiba-tiba Ada suara perempuan di belakangnya.


Zain sempat tersentak kaget mendengar itu dan menoleh ke arah suara itu, Seorang wanita tiba-tiba berada di sana.


****


Di sisi lain tepatnya di Rumah Aldy, Haruka dan Elena sudah berkumpul di dalam kamar Aldy pada pagi itu.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan nanti haruka?" Tanya Aldy.


"Pertama, Kita harus bertemu dengan anak yang bernama Zain," kata haruka.


"Apa kau punya petunjuk?" Tanya Aldy.


"Apa itu?" tanya Elena.


"Kita akan bertemu dengannya di sini," Sambil menunjukan selembar kertas coretan yang dia buat.


Coretan itu banyak sekali dan haruka telah memberi sebuah lingkaran yang menurut dia penting.


"Apa ini? Aku tidak mengerti haruka?" Aldy kebingungan melihat coretan-coretan di kertas itu. apakah dia yang mencoret-coret kertas ini batinnya, terlihat coretan itu hampir memenuhi kertas yang awalnya putih.


"Bisakah kamu jelaskan," Kata Elena berusaha memahami.


Haruka menjelaskan Petunjuk pertama Sebuah patung binatang besar memiliki belalai, berkaki empat, memiliki sayap, Dan patung itu berwarna Emas terletak di sebuah pulau di tengah kota.


Petunjuk kedua, Wanita berambut berwarna merah muda.


Petunjuk ketiga, Sebuah gedung berwarna biru di atas bukit.


"Hmmm begitu ya, Sepertinya aku bisa membantumu menemukan petunjuk-petunjuk ini," Kata Elena dengan santai.


"Benarkah, Bagaimana caranya?" Haruka bersemangat, Dia sangat senang mendengar Elena bisa membantu memecahkan teka-teki dari penglihatannya yang belum lengkap.


"Tunggu beberapa hari ya, paling lambat tiga hari, aku akan menyuruh anak buah Papaku untuk menemukannya," Kata Elena.


"Terima kasih Elena, Dan aku akan terus mencari jalur yang aman untuk bisa kesana," Kata haruka yang menggebu-gebu.


"Haruka! Kamu jangan terlalu memaksakan diri ya... aku tidak bisa membayangkan ternyata semalam kamu terus mencari jalan untuk bertemu anak itu" Aldy tersenyum terpaksa, dia melihat Haruka seperti sangat kelelahan dan mengingatkan agar tidak terlalu berlebihan menggunakan kemampuannya.


Bagaimanapun juga penggunaan kemampuan itu pasti membuatnya lelah.


"Iya Aldy... terima kasih telah menghawatirkanku," Haruka membalas dengan senyum yang tulus.


"Benar kata Aldy, Jangan terlalu memaksakan dirimu, Sekarang kita Harus mendukung satu sama lain, entah kenapa aku sangat senang bersama kalian, Hanya kalian teman pertamaku," Elena langsung memeluk keduanya.


Walaupun mereka baru saja kenal satu sama lain, tetapi perasaan mereka sudah terasa berteman sejak lama menurut ketiganya.


Saat Elena memeluk, Tiba-tiba saja Haruka menjadi tegang dan mengeluarkan Aura tipis berwarna merah muda menyelimuti kamar Aldy, dan terlihat mata haruka bernyala terang.


"A..apa yang terjadi?" Elena terkejut keheranan.


"Harukaaaa!" Aldy sedikit berteriak.


"Aldy Bagaimana ini?" Tanya Elena khawatir.


"Aaaaaargh aku tidak tidak tau Elena... Tanganku juga terasa panas uuuugh," tangan aldy terasa panas dan mendapati bertulisan Prediksi tetapi Tulisan itu sangat terang dan membuat Aldy juga kesakitan.


"Haruka... ku mohon sadarlaaah" Elena kembali memeluk haruka dengan erat


Begitu pula dengan Aldy, Melihat Elena memeluk Haruka dengan erat dia juga ikut memeluk mereka berdua. Tangis khawatir terlihat dari keduanya, kemudian cahaya yang di pancarkan haruka mulai meredup dan tidak berlangsung lama hilang. Hal itu membuat Haruka mulai terkulai lemah begitu pula telapak tangan Aldy yang mulai tidak sakit lagi.


Haruka tidak pingsan saat itu, dia hanya terkulai lemas berusaha mengumpulkan tenaganya untuk mengatakan sesuatu.


"Minum lah dulu haruka," Elena meminumkan air itu ke Haruka dengan perlahan.


"Kamu istirahat saja dulu di sini, kau membuatku khawatir," Ucap Aldy. syukurlah kau tidak kenapa-kenapa.


Aldy dan Elena secara bersamaan menghembuskan nafas berat dan kemudian merasa lega.


****


Sory beberapa hari ini sibuk karna kerjaan... thanks masih ada yang membaca.