When Wishes Come True

When Wishes Come True
PERTEMUAN DI ISTANA ZAIN



"Hai semua, Aku datang" Zain menyapa Alvin dan yang lainnya setelah memasuki ruangan replika Aula sekolah, sekarang suasana di Aula itu berubah menjadi tempat semacam pengungsian berkat ke lima pria ber jas hitam yang sudah menjadi bawahannya Zain.


"Halo Zain, selamat datang kembali" Ucap Sakura dan di sambut yang lainnya.


"Selamat datang kembali tuan" Kelima pria ber jas hitam itu tidak kalah nyaringnya sampai menjadi perhatian.


"Ahaha... Iya... Kalian berlima bersikaplah santai, jangan terlalu formal begitu" Ujar Zain merasa malu di tuankan di hadapan teman-teman dan orang tua Rudi dan Alvin.


"Ba...Baik tuan" serempak mereka berlima berucap dan masih terlihat kaku.


"Hei Zain, Siapa gadis-gadis di belakangmu itu?" Alvin bertanya dan memperhatikan Haruka dan Elena.


Zain mempersilahkan Haruka untuk memperkenalkan diri, "Ha...halo... Nama saya Haruka dan di sebelah saya ini Elena, Salam" Ujarnya sopan, sedangkan Elena hanya bersandar di lengan Haruka, dia masih mengalami syok berat dan mengakibatkan dirinya pusing.


Setelah itu Zain ingin mengadakan pertemuan penting bersama teman-temannya, orang tua Alvin dan Rudi di minta untuk tetap menunggu dulu di aula itu, dan untuk kelima pria berjas itu Zain meminta satu perwakilan dari mereka.


"Maaf tante, om... Kami tinggal dulu sebentar, setelah selesai nanti akan di beritahukan oleh anak kalian, permisi". Zain meminta Izin kepada kedua orang tua Alvin dan mama Rudi.


_


Zain mengajak mereka meninggalkan Area replika sekolahnya itu, setelah berpegangan tangan Zain langsung menteleport semuanya ke lokasi hamparan rumput yang luas.


"Zain, Apakah kita akan mengadakan rapat di sini?'' Tanya Rudi heran.


"Iya... mmm tunggu sebentar"


Zain maju beberapa langkah dari tempatnya berdiri, kemudian menghadapkan tangannya kedepan dan memejamkan mata untuk berkonsentrasi, Bagas yang melihat hal itu berguman dalam hati, 'Astaga, apa dia mau mencoba seperti yang kemaren?, aku harap yang lainnya tidak pingsan'.


Semua orang yang berada di situ tiba-tiba terkejut merasakan ada getaran dari tanah lapang itu, Tidak berapa lama munculah sebuah istana yang sangat besar nan megah terpampang di hadapan mereka.


setelah itu sebuah kendaraan kereta klasik megah melayang di atas tanah menghampiri mereka,


"Ayo masuk" Zain berkata sambil tersenyum seperti biasanya.


"......" Semua teman-temannya terdiam beberapa detik melihat kereta dan bangunan yang sangat kaya itu.


"Hei... Ayo..." seru Zain menyadarkan semuanya.


"Haruka, Anak ini selalu membuatku tercengang huh" Kata Elena kesal menggembungkan pipinya.


"Sudahlah, tempat inikan memang dia yang punya El, Ayo..." Haruka mengajak lainnya masuk.


Semua memang terlihat kaya dan megah, di dalam kereta klasik itu terdapat berbagai ukiran yang sangat berkualitas yang terbuat dari Emas dan beberapa berlian semakin mempercantik suasana di dalam kereta. Kereta meluncur mengudara memasuki gerbang istana yang megah itu, pemandangan di dalam gerbang tidak kalah indah bagi semua yang menyaksikan, bagaikan kota-kota yang di gambarkan dalam sebuah anime isekai, teman-temannya terperangah melihat semua pemandangan.


"Astaga, Ini bagaikan negeri dongeng" mata haruka tidak berkedip di manjakan oleh pemandangan itu.


Tidak berapa lama terlihatlah sebuah bangunan yang paling besar tepat di tengah-tengah kota yang indah, itu merupakan sebuah bangunan istana yang nantinya menjadi tempat paling teraman di dalam dunia cermin. Zain berfikir kemungkinan akan ada bahaya yang mengancam dunianya, walaupun sudah di ketahui hal itu sangat mustahil terjadi, Zain tetap memikirkan itu dalam proses pembuatan istananya.


"Zain, Ini sangat-sangat luar biasa" kata Sakura memuji kemampuannya.


Kereta klasik mendarat tepat di depan pintu masuk istana, Zain turun dan mempersilahkan yang lainnya untuk mengikuti.


"Selamat datang di Istana sihirku" Kata Zain dengan gembira.


"Aku mengerti betapa menakjubkannya dirimu sebagai penguasa dunia cermin, Tapi ini.... " Alvin tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena menurutnya itu terlalu berat untuk di ucapkan sampai-sampai membuat kepalanya berdenyut pusing.


"Hei... Hei... Dunia ini untuk kita semua, walaupun aku pemegang kuncinya, kita bisa menikmati hasilnya bersama-sama" Kata Zain memberi semangat.


"Ya ya ya... seandainya dunia ini ada GMnya, aku pasti melaporkanmu untuk di nerf" timpal Rudi yang juga protes dengan kemampuan gila Zain.


"Ahahah... Sudah... sudah... Maaf memotong percakapan ini, Ayo kita bergegas masuk dan membicarakan sesuatu yang sangat penting, Sekarang anak-anak di luar sana sudah banyak yang di bawa". Haruka memotong pembicaraan mereka.


"Baiklah, Ayo kita masuk" Zain melangkah masuk di ikuti yang lainnya.


_


Di dalam istana, di sebuah ruangan pertemuan yang sangat luas, mereka sudah duduk di kursi megah yang tertata memang untuk pengadaan pertemuan tertutup.


Semua yang berada di situ berjumlah delapan orang duduk mengelilingi meja panjang dalam pertemuan itu, Mereka tidak lain adalah Zain, Alvin, Rudi, Haruka, Elena, Bagas, Sakura dan Kinos (Pria 35 tahun perwakilan dari kelima bawahan Zain).


Terlihat lucu kursi-kursi megah itu sebagian di isi oleh anak-anak kecil seperti zain dan teman-temannya, tetapi dalam pembahasan itu tidaklah seperti anak kecil yang suka bercanda, melainkan sebuah pertemuan sangat penting untuk mentukan langkah-langkah mereka.


"Haruka, Aku rasa lebih baik kamu yang membuka awal pembahasan ini" Zain meminta Haruka untuk berbicara, dan memberikan mantra sihir agar semua bisa dengan lancar berbicara tanpa ada keraguan dan kebohongan.


"Baiklah,... " Haruka mulai menjelaskan :


Aku adalah seorang yang memiliki kemampuan Prediksi dan bisa melihat potongan-potongan kejadian di masa depan, Aku mampu menguasai kemampuan prediksi dalam waktu 15 menit kedepan, sedangkan melihat masa depan itu di luar kendaliku, terkadang potongan-potongan kejadian di masa depan muncul secara tiba-tiba tanpa bisa aku kendalikan.


Dalam penglihatanku, kejadian yang akan datang adalah, Ancaman yang bisa membahayakan kita semua khususnya anak-anak yang memiliki kemampuan.


Aku tau orang-orang seperti paman kinos memiliki senjata dan alat deteksi sebagai alat bantu untuk melumpuhkan anak-anak seperti kami. sekarang penglihatanku dalam bentuk potongan-potongan kejadian itu satu persatu mulai terbukti, dan yang lebih parah lagi di dunia luar sana mereka di bantu pemerintah negeri kita sendiri.


Aku tidak tau upaya kedepan dengan kemampuan kalian yang ada di sini mampu menyelamatkan nyawa anak-anak di luar sana, tetapi paling tidak aku mohon bergeraklah dengan ku untuk banyak menyelamatkan nyawa mereka.


Penglihatanku yang terakhir adalah, tidak hanya anak-anak saja yang menjadi korban, di masa depan, ini bisa menyebabkan kepunahan negeri kita dan akan banyak nyawa yang berjatuhan nantinya.


"Aku rasa hanya itu yang mampu aku sampaikan" Haruka mengakhiri perkataanya.


"terima kasih haruka, apa ada yang lain mau menyampaikan sesuatu berhubungan dengan ini?


Bagas, Rudi dan Alvin menatap dengan tatapan kosong, tidak ada yang bisa di sampaikan oleh mereka bertiga, mereka hanya mendengarkan dan menunggu keputusan tindakan apa yang akan di lakukan nantinya.


"Bolehkah aku berbicara dan memberikan informasi tambahan tuan?, saya akan membeberkan apa yang saya ketahui di Holy Knight Borneo" Kinos bertanya dan menunggu persetujuan dari Zain.


Zain menatap kinos sesaat, "Baiklah... Teruskan"


****