
Di Indonesia tepatnya di kota kutai kartanegara kalimantan timur. Sebelum kemunculan cahaya itu, Zain (12thn) bersama kedua sahabatnya Rudi (12 thn) dan Alvin (13 thn) tengah asik bermain game MMORPG di kamar Rudi dengan smartphone mereka masing-masing.
Berhubung besok hari minggu, mereka sudah merencanakan di jauh-jauh hari untuk menginap di rumah Rudi. Mereka berencana menghabiskan waktu lebih panjang untuk bermain game bersama-sama. Setelah puas bermain, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol sambil rebahan sebelum tidur.
Seperti anak-anak lainnya, ketika sudah berkumpul mereka asik membicarakan khayalan-khayalan fantasi mereka.
"Rud, Zai... Seandainya kita punya kekuatan, kekuatan apa yang kalian ingin kan?" Alvin bertanya sambil melihat langit-langit kamar ruangan itu.
"Mmmm... Seandainya bisa seperti itu aku ingin kekuatan seperti Ichigo (serial anime shinigami) yang memiliki kekuatan seperti malaikat kematian," jawab Rudi penuh semangat
"Kalo aku sih ingin jadi seperti Avatar (serial anime pengendali 4 elemen) bisa mengendalikan semua elemen, kalau aku punya kemampuan seperti itu (sambil menerawang ke atas) hmmmmm... pastinya sangat OP haha (ketawa bahagia)...kalo kamu gimana Vin?" Tanya Zain.
"Aku ingin menjadi seperti Killua (serial anime Pemburu ) yang bisa menggunakan kekuatan listrik dan kecepatan," balasnya tidak kalah semangat sambil menirukan gaya sang anime.
"Whoaaaa keren juga itu Vin, kalau gitu aku juga mau punya kekuatan kayak gon aja deh haha ( tokoh utama di anime pemburu," sambung Rudi sambil bergaya-gaya seperti gon.
"Wah, kalau seperti itu kemampuanmu, berarti cuma batu kertas gunting dong haha," Zain berkomentar
"Haha iya gak papa lha, tapi hebat juga kan dan yang pasti kemampuannya juga bisa berkembang," jawab Rudi bersemangat.
"Hmmmm berkembang ya?" Sejenak Alvin memikirkan sesuatu ''Hey, Bagaimana jika seandainya kita memiliki kekuatan yang ajaib yang tanpa melakukan pertarungan?, tapi kehebatannya tidak bisa di anggap remeh?'' Ungkap Alvin dengan menggebu-gebu.
Sejenak Rudi terdiam memikirkan khayalan mereka. "Entah lah, seperti Flash mungkin?, bisa bergerak cepat, itu tidak perlu melakukan pertarungan kan?. Cukup menghindar dengan cepat, aku yakin hal itu bikin orang yang mengejar kita mikir dua kali, ya kan? haha,"
"Hmmm kekuatan ajaib yah?" Zain mengubah posisi tidurnya dan memerhatikan langit-langit kamar membayangkan sesuatu.
"Tanpa pertarungan, menghindari semua dari bahaya atau serangan aku pikir dengan lari cepat seperti Flash juga bisa," Alvin setuju dengan pendapat Rudi.
Setelah lelah mengobrol mereka memutuskan untuk tidur seraya membayangkan mereka memiliki kekuatan yang hebat. Mereka tengah terbuai dalam fantasi angan mereka masing-masing. Saat mereka bertiga tengah asik membayangkan hal-hal itu, di saat bersamaan cahaya terang kebiruan muncul memenuhi setiap inci ruangan kamar Rudi. Mereka bertiga tidak menyadari Cahaya itu. Saat mata mereka terpejam, mereka merasakan kehangatan yang sangat nyaman sampai akhirnya tertidur pulas.
****
Ke esokan harinya, Jam menunjukan pukul 06.30 pagi
"Aaaaargh....." Alvin berteriak mengejutkan Rudi dan zain.
"Apa... Ada apa vin?" Rudi terperanjat terkejut dan berusaha mengumpulkan kesadaranya.
"Hmmmm ada apa?" Dengan malas Zain bangun dan mengucek-ngucek matanya dan mencoba menyesuaikan pandangannya yang masih terlihat buram. Zain yang melihat raut wajah syok Alvin sambil menunjuk Rudi sontak membuat Zain melihat Rudi yang ditunjuk dengan terperangah.
"A...Astaga Rudiiii....,"teriak Zain tidak kalah kencang dari Alvin .
"Ada apa sih kalian ini, bikin jantung aku mau copot tau gak," protes Rudi yang masih nyaman dengan rebahannya.
Mereka berdua terkejut melihat kearah Rudi yang ternyata sedang rebahan di pangkuan sesosok wanita yang mereka kenal di sebuah serial anime.
"Sa...Sakura?" serempak Zain dan Alvin menyebut nama wanita itu.
"Selamat Pagi," ucapnya sambil tersenyum.
Rudi terperanjat dari bantalan paha Sakura, sosok wanita yang mereka ketahui di serial Anime Ninja yang lagi populer hadir diantara mereka. Tanpa mereka sadari ternyata Sakura telah berada di situ dari semalam dan membiarkan Rudi tidur di atas pahanya.
"T..tunggu sebentar, sepertinya aku tahu kenapa kakak Sakura tiba-tiba berada disini,'' Rudi mengingat sesuatu tadi malam dengan keadaan yang masih syok.
"Hah? Apa maksudmu Rud,'' Alvin bertanya keheranan.
"Mmm... begini kawan, sepertinya aku tau kenapa kak sakura ada di sini," Rudi dengan girang mengingat sesuatu.
Zain hanya memperhatikan Sakura dengan teliti ''Astaga... apakah kakak dari komunitas cosplayer di kota ini? Tampilan kakak benar-benar mirip dengan karakter aslinya,"
"Hmm? Apa itu cosplayer?'' Sakura balik bertanya.
Mereka bertiga saling pandang mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa kakak tiba-tiba berada di kamar Rudi?'' Tanya Alvin.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku disini. Hanya saja, sebelum aku berada di sini ada sesuatu yang membisikanku untuk menjaga dan melindungi kalian, terutama anak ini," Sakura menjelaskan seraya menunjuk Rudi.
"Hah!?'' Secara bersamaan Zain dan Alvin keheranan.
"Iiiiyeeeessssss.... Terima kasih tuhan telah mengabulkan do'aku,'' Rudi sambil melompat gembira.
"B...bagaimana bisa,'' Alvin Merasa heran dan sedikit timbul rasa iri.
Rudi menjelaskan semuanya, ternyata saat mereka hendak tidur Rudi masih membayangkan tentang obrolan mereka pada malam itu.
Flashback*
Seandainya aku memiliki kekuatan? Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi kan? Terlalu mustahil untuk jadi kenyataan.
Kalau saja ada seseorang yang bisa melindungi kami bertiga. Seseorang yang kuat, yang bisa merawat dan menyembuhkan kami saat terluka, yang pasti Sakura yang ku inginkan''. Rudi tersenyum dalam khayalannya dan setelah itu tertidur.
*
"Eeeeh... aku jadi iri,'' kata Alvin berbicara terus terang.
"haha... kakak Sakura akan menjagaku yeeeee,'' tingkah Rudi semakin menjadi membuat Alvin semakin menunjukan wajah datarnya.
Kejadian tadi malam kah? Zain memikirkan sesuatu.
''Vin... tadi malam sebelum tidur apa yang kamu pikirkan?''
"Aaaaah tadi malam ya,'' Alvin mengingat-ingat ''Ooooh aku ingat,'' tiba-tiba saja Alvin teriak bersemangat.
"Ruuudiiii jangan ribut, kalau sudah selesai beres-beres kamar ajak temanmu sarapan,'' teriak Mama rudi dari luar kamar.
Serempak mereka berempat menelusupkan jari telunjuk ke bibir mereka masing-masing dan kemudian tertawa.
" Tunggu dan perhatikan ya,'' Alvin melanjutkan dan mengambil ancang-ancang.
Wushhhh.... Alvin bergerak sangat cepat memutari mereka.
"Whoooaaaaaa,'' sekarang Zain dan Rudi yang terlihat terperangah.
Sakura tengah duduk santai memperhatikan tingkah mereka. Dia merasa senang melihat ketiga anak itu, ia teringat akan kedua sahabatnya di desa k*n*h*.
"Jadi seperti itu... sepertinya aku juga bakal punya kekuatan ... soalnya kan kalian punya,"Zain berusaha meyakinkan dirinya.
"Iya aku yakin itu Zai,"Rudi menyemangati Zain.
"Jadi kekuatan apa yang kamu bayangkan waktu itu Zai?'' Alvin bersangat ingin tahu.
"..'' Saat hendak menjelaskan, tiba-tiba teriakan mama Rudi menyuruh sarapan, mengurungkan Zain untuk cerita.
"Aku lapar, Sarapan dulu yuk,'' Rudi mengajak.
"Ayok... nanti aja kita lanjut,'' kata Zain merubah sikapnya.
"Eh Rud... kak Sakura gimana? Kalo mama kamu tau bahaya lo,'' tanya Alvin menghentikan langkah mereka.
"Mmmm... kakak tunggu disini ya... nanti aku bawakan makanan,'' Rudi dengan polosnya meminta Sakura untuk menunggu di kamarnya.
Sakura hanya mengangguk dan tersenyum, wajah cantiknya membuat pipi ketiga anak itu memerah.
_
Di daerah lain saat sebelum munculnya cahaya misterius, tepatnya di sebuah rumah sakit di daerah Jakarta pusat, Haruka (11 thn) keturunan Indo-Jepang, tengah duduk sendiri di kursi tunggu pasien.
Dia menunggu ayahnya yang sedang menebus obat-obatan untuk adiknya yang telah di rawat selama dua hari akibat terjatuh dari tangga dan mengalami koma. Secara tiba-tiba cahaya memenuhi seluruh ruangan yang ada, setelah cahaya itu menghilang Haruka memiliki penglihatan atau sebuah gambaran-gambaran aneh melintas di pikirannya.
Haruka menahan rasa sakit di kepalanya yang tiba-tiba menyeruak seolah ada suatu benda memaksa masuk, Kejadian demi kejadian yang aneh dia lihat di dalam pikirannya. Penglihatannya menggambarkan tentang apa yang terjadi kedepan telah ia ketahui.
"Haruka!'' Ayahnya langsung berlari dan memeluk Haruka.
"Ayah... apa yang terjadi barusan?'' Dia bertanya kepada Ayahnya.
"Ayah tidak tau nak, apa kamu baik-baik saja? Apakah yang barusan tadi membuatmu sakit?''
"Tidak Ayah, tadi hanya pusing sedikit,"
" Ayo kita periksakan kedokter sebentar," sambil meraih tangan haruka dan bergegas menuju ruang UGD.
Sebenarnya haruka telah mengetahui semua kejadian yang bakal terjadi dari dalam pikirannya, seperti film yang di putar kembali Haruka mengikuti dan memastikan apakah hal itu benar atau hanya sebatas gambaran saja.
-
Terlihat dokter itu serius memeriksa Haruka dan terakhir dari pemeriksaan itu Haruka di periksa kelopak mata bawahnya dan rongga di mulut menggunakan senter.
"Anak bapak baik-baik saja, mungkin karena cahaya tadi membuat kepanikan ke anak bapak dan menimbulkan efek sakit di kepalanya,'' dengan tenang Dokter itu menjelaskan.
"Apakah Dokter mengetahui cahaya apa barusan itu?'' Ayah haruka bertanya.
"Maaf bapak, saya tidak mengetahuinya, tetapi dari kejadian barusan mungkin di karenakan ada sebuah kejadian di suatu tempat di dekat sini, pihak kami juga belum mendapatkan informasinya, saya harap bapak tenang saja," menjelaskan seramah mungkin agar mudah di mengerti.
"Terima kasih atas semuanya Dok, saya jadi sedikit lega mendengarnya, kalo begitu kami permisi."Setelah berjabat tangan Ayah haruka permisi untuk keluar dari ruangannya.
Saat Haruka dan Ayahnya hendak beranjak, Tiba-tiba seorang perawat masuk dan memberitahukan sesuatu ke dokter.
"Permisi dok, maaf saya langsung masuk, ada hal penting ingin saya beritahukan ke dokter,'' dengan semangat gadis perawat itu mulai memberitahukannya. '' Begini dok, beberapa pasien anak kecil secara tiba-tiba mereka sembuh dok,''
"Hah? Apa maksudmu?'' Tanya dokter keheranan.
Mendengar hal itu Ayah haruka berhenti dan ikut mendengarkan apa yang di katakan gadis perawat itu.
"Iya Dok, saya tidak berbohong. Beberapa Pasien anak kecil yang masih berada di ruang UGD mengalami kesembuhan.'' gadis perawat itu masih bersemangat menjelaskannya.
''Pasien anak kecil yang mengalami patah tulang di kaki yang masuk sekitar 4 jam yang lalu itu sembuh dok. Kemudian pasien anak kecil yang menderita tumor besar di kepalanya tiba-tiba hilang seperti tidak terjadi apa-apa,"imbuhnya.
"Apa..? Jangan bercanda kamu sus!"
Dokter itu berdiri dan bergegas keluar dari ruangannya di ikuti gadis perawat itu.
"Dokter Reni bilang, pasien di ..bla...bla...bla'' Perawat itu terus berbicara sambil mengikuti Dokter itu dari belakang meninggalkan ruangan.
Ayah Haruka berniat untuk mengikuti mereka untuk memastikan apakah itu benar atau tidak, tetapi Haruka menarik tangan ayahnya untuk tidak mengikuti mereka.
"Yang di katakan perawat itu benar ayah,"jawab Haruka sambil tersenyum.
"Dari mana kamu tau nak?'' Ayahnya bertanya dengan heran.
"Aku mengetahuinya ayah, aku malihatnya di dalam kepalaku," jawabnya dengan polosnya.
Ayah Haruka masih kebingungan mencoba mencerna apa yang di katakan Haruka.
'Ah sudahlah, mungkin anakku ingin aku tidak mengikuti mereka kesana.'
Haruka mengajak Ayahnya menuju ruangan adiknya, sudah dua hari mereka di sana, tetapi adiknya tidak kunjung sadarkan diri.
"Ayah... Haruka mau keluar sebentar ya... Haruka mau beli minuman.'' Haruka beralasan untuk keluar dari ruangan itu.
"Iya... jangan lama-lama ya nak," Jawab ayahnya singkat sambil merapikan posisi selimut adiknya yang terbaring di sana.
Setelah keluar, Haruka duduk sebentar di sebuah kursi tunggu tidak jauh dari ruang inap adiknya. Sambil termenung dia memikirkan sebuah gambaran yang terjadi di saat sebelum cahaya tadi menghilang.
"Zein dan temannyakah?'' Dia berucap sendiri
"Aku harus meyakinkan ayah secepatnya, jika tidak Yuki (adiknya) akan di bawa oleh mereka," sambil memperlihatkan sebuah gambaran dimana yuki di bawa oleh pasukan tentara.
di penglihatan Haruka munculah sebuah potongan gambaran kejadian yang belum jelas, dia melihat para pasukan yang membawa seluruh anak di rumah sakit.
'Akankah anak itu bisa menolong di situasi saat itu?... Paling tidak Aku akan berusaha menghentikan hal itu agar tidak akan terjadi'
Wajah Haruka terlihat lelah, kepalanya masih sedikit terasa sakit karna penglihatan itu, dia masih memikirkan kenapa dia bisa mendapat penglihatan aneh semacam itu. Haruka hanya menunduk memegang keningnya yang masih sakit, setelah sakit di kepalanya itu sedikit mereda Haruka beranjak menuju kantin untuk membeli sebuah minuman.
****
#Terima kasih untuk para pembaca 🙏🙏 komen and vote menyemangatiku