
Elena Pov
Di pagi yang cerah di kota tenggarong, hari ini adalah Hari Ke tiga kami berada di sini. Seperti biasa Aku mengikuti Haruka tanpa ada yang melihatku, kota ini cukup tenang masih terlihat anak-anak main di sekitaran perjalanan kami, dan orang-orang berjas hitam yang selalu mengincar Haruka juga terlihat sedikit dari pada saat pertama kali kami turun di bandara kota balikpapan. sepanjang perjalanan aku menyempatkan diri melihat informasi berita hari ini, mungkin ada beberapa berita penting untuk informasi kedepan.
Aku melihat beberapa kasus berita yang di sampaikan pada pagi itu, Aku terkejut dengan perubahan kebijakan dari pemerintah yang mulai menarik secara paksa anak-anak. Bukannya apa, ini terjadi karena laporan orang tua anak-anak tersebut mulai gaduh takut akan kemampuan anak-anak mereka, beberapa daerah sudah mulai memanas terutama daerah sulawesi dan jawa timur.
Aku sungguh tidak tega melihat berita liputan itu, menampilkan beberapa anak di lumpuhkan menggunakan alat pengejut listrik. 'Ya tuhan, kejam sekali perlakuan mereka' Ini karena upaya pemerintah harus menyikapi dengan cepat penanggulangan peristiwa pandemik yang terjadi.
Sebagian Masyarakat sudah mulai resah dengan kemampuan anak-anak, hal itulah yang menjadi dasar perubahan upaya pemerintah. 'Situasi seperti ini akan sangat berbahaya bagi Haruka jika di daerah lain, untung saja kota ini masih cukup terlihat aman dan tenang, anak-anak masih terlihat bermain dengan bebas di luar'.
End pov.
Haruka berjalan menyusuri pinggiran sungai di kota itu, Matanya yang sedikit bersinar merah muda, menunjukan dirinya sedang memprediksi langkah-langkahnya.
Elena masih tidak memahami cara kerja kemampuan Haruka, tapi pada kenyataannya kemampuan haruka bisa melihat lebih dulu beberapa menit sebelum langkah mereka sampai ke depan sana.
Haruka duduk sejenak di bawah jembatan gantung yang menghubungkan kota dan seberangnya di tepi sungai itu, satu tempat yang belum dia datangi, yaitu pulau kecil yang terletak di tengah-tengah sungai, dari tempat duduknya haruka pemandangan pulau itu terlihat menarik. Di ujung pulaunya terdapat patung Makhluk yang unik memiliki sayap seperti burung rajawali, berbelalai seperti gajah, berkaki empat ramping seperti kaki rusa, berekor panjang seperti singa, dan bermahkota dengan gagah berdiri di depan pulau.
''Sepertinya aku harus kesana, sesuai dengan petunjuk yang ku lihat kemaren'' Haruka segera melangkahkan kakinya lagi menuju jembatan penghubung kota dan pulau yang terlihat dari kejauhan.
'Barangkali aku menemukanmu di sana Zain' Batinnya berharap.
****
Di sisi lain, dengan wajah yang di tekuk, Zain tengah menunggu Udanya menukarkan tiket untuk masuk menuju pulau Kumala yang terletak di tengah sungai kota. Dia berfikir keras bagaimana menyikapi pamannya yang mulai bersikap tegas terhadapnya, 'Aku harus mencari alasan agar bisa melawan sikapnya itu' batinnya dengan expresi wajah yang masih terlihat suntuk.
''Ayo kita masuk'' Lagi-lagi Ichi menampilkan wajah seringainya, Dia bermaksud untuk tersenyum tetapi karena dia sulit untuk melakukan itu terlihat lah wajah yang lebih kearah seringaian.
Zain yang melihat itu hanya menatap datar ke Udanya yang sedang memegang gulali besar, ''Ini untukmu'' Katanya
''Hah... Uda... Untuk apa gulali itu? Aku bukan anak kecil yang senang kau belikan hal semacam itu, dan juga apa-apaan dengan wajahmu itu'' Protes Zain.
''Udah... ini yang di lakukan orang dewasa terhadap anak-anak bukan? Aku membacanya semalam'' Kata Ichi berusaha tenang mengakrabkan diri.
".....-.-...." Zain hanya menatap Udanya dengan datar. 'Betapa menyedihkannya Udaku ini, Selama ini apakah dia tidak pernah melakukan hal seperti ini?'
Ichi menyadari wajah ponakannya itu yang menatapnya dengan prihatin. ''Sudah, Ayo cepat menuju pulau itu'' Seraya menyodorkan gulali besar itu ke Zain.
Terlihat oleh beberapa orang yang melalui, menatap mereka berdua dengan pandangan aneh. bukanya apa, Pria berambut putih itu terlihat kaku melangkah dengan muka datar seperti robot, tengah menggandeng seorang anak laki-laki memegang gulali dengan wajah yang di tekuk.
'Sial banget hari ini' Zain menggerutu dalam hati.
Di sisi lain Ichi ingin menjadi paman yang baik untuk keponakannya, dengan berbekal tips-tips yang dia baca semalam, Dia berusaha sangat keras merubah sikapnya yang biasa angkuh dan datar.
_
Di lokasi lain beberapa menit kemudian di pulau yang sama, Violet bersama tiga orang berjas hitam baru saja melumpuhkan seorang anak peringkat D dengan mudah.
''Hari ini cukup sampai disini, Kalian bertiga bawa target kita ke perahu, aku akan mengabari kalian lagi jika menemukan target berikutnya di pulau ini'' Perintah Violet.
Ketiganya mengangguk dan segera berlalu membawa anak yang mereka lumpuhkan.
''Sekarang ini perburuan berasa seperti bermain pokemon aja huh, aku bosan hal-hal seperti ini, tidak ada tantangannya'' Violet menggerutu sendiri di sana, kemudian dia menyeringai mengingat Zain, 'Oh adik mungil, aku tidak sabar bertemu denganmu' Violet kembali bersemangat dan melangkah dengan riang seperti anak kecil yang menemukan mainan baru untuknya.
''Ha..halo Adik kecilku yang mungil, kita bertemu lagi'' Kata Violet dengan wajah memerah seperti melihat sebuah kue yang enak di santap.
Zain terkejut akan hal itu, wajah Violet terlalu dekat dengan wajahnya, sontak Zain melompat dan terjatuh terduduk di jalanan depan toko pernak-pernik itu.
''Uuuuugh Ini merupakan jodoh dari tuhan untukku, kita bertemu lagi Zain'' Violet terlihat seperti orang gila dengan girangnya dia tidak memperdulikan Zain yang terjatuh dan masih mendekatkan wajahnya ke Zain.
Sebuah tangan tiba-tiba menghalangi pandangan Violet yang terlalu dekat dengan wajah Zain.
"Huh? Apa-apaan tangan kotor ini" Violet berkomentar dengan kesal, Dia hendak menyingkirkan tangan itu tetapi tidak bisa dan kemudian menoleh kearah orang yang menghalangi pandangannya.
Violet terperenjat dan terkejut melihat orang yang dia kenal, "Tu....tuan Ichi?..'' tanya Violet ragu dan memastikannya.
"Apa yang kau lakukan terhadap keponakanku huh'' Wajah Ichi terlihat marah dan mengeluarkan Aura intimidasi yang kuat ke pada Violet, Dia melihat semua kejadian itu, sesaat dia memperhatikan Zain yang terkejut ketakutan dan memperhatikan gulali yang terjatuh ketanah.
"Dasar ******* kamu, Apa yang kalu lakukan terhadap ponakanku huh? Kau membuat gulali itu terjatuh ketanah'' Ichi dengan emosi memarahi Violet.
"Ma...maafkan aku tuan Ichi.. Maafkan aku..., Aku tidak bermaksud... tunggu... keponakan anda?'' Violet tersadar dan mempertanyakan hal itu.
"Dasar sampah, dia memang keponakanku, memangnya kenapa huh?, kau harus mengganti gulali yang ku belikan untuknya"
"Apaaa....'' Violet terkejut bukan karna tuntutan mengganti gulali yang terjatuh itu, melainkan Zain adalah keponakan Seorang peringkat bintang tiga yang terkenal di kalangan Holy Knight Borneo.
'Tidak... tidak... tidak... ini bisa gawat, Apakah Tuan Ichi sudah mengetahui bahwa keponakannya memiliki bakat calon? Sepertinya tidak mungkin, Seharusnya hanya aku saja yang mengetahui, ya aku yakin itu' Violet terlihat berpikir keras menyimpulkan itu, sedangkan Ichi menjadi heran melihat wanita di depannya sedang sibuk dengan pikirannya.
"Hey perempuan, apa kau mendengarkan huh, Cepat ganti gulali sekaraaaang'' Bentak Ichi yang tidak paham situasi, masih memikirkan Zain dan gulalinya.
Zain berdiri sendiri membersihkan tanah debu yang menempel di belakang celananya dan tangannya, tiba-tiba tangannya di tarik menjauh oleh gadis kecil tanpa di ketahui Ichi dan Violet, saat sudah di kejauhan barulah Ichi dan Violet tersadar Zain tengah di bawa lari oleh gadis kecil dan belok kearah bangunan berkaca.
"Elena, tunjukan dirimu sekarang dan ikuti aku'' Haruka berteriak.
Elena muncul di sampingnya yang tengah berlari mengikuti, "Apakah Anak ini yang bernama Zain'' Tanyanya memastikan.
''Iya El, Maaf Zain... nanti ku jelaskan" Kata Haruka, sedangkan Zain masih terlihat kebingungan mengikuti Gadis-gadis kecil yang tiba-tiba saja membawanya.
Ichi dan Violet melesat mengejar mereka di belakang, "tidak ada waktu lagi ayo pegang tanganku El" Perintah Haruka, dia mendorong Zain ke kaca gedung itu dan seraya memegang tangan Zain dan Elena.
Ichi dan Violet yang hampir mendekat dan sempat melihat kejadian kedua anak gadis itu memasukan Zain kedalam kaca gedung, Mata Ichi memicing memperhatikan gadis yang terakhir memasuki kaca itu.
"Kurang ajar, rupanya dia yang mencuri Hairloomku'' Ichi marah melihat Elena mengaitkan Cambuk itu di tas selempangan kecilnya terpampang dengan jelas.
Tidak sempat Ichi melompat meraih gadis itu dan berakhir menabrakan dirinya ke kaca gedung hingga pecah. Dia keluar dan memandang Violet dengan marah, Violet hanya bengong memandang expresi Ichi.
"Kau yang masih tersisa, Keponakanku di culik mereka, berikan aku alasan yang kuat sekarang juga''
Violet hanya tersenyum canggung dan mengeluarkan identitasnya yang juga seorang kesatria pemburu.
****
#Vote, like and komennya kaka 🙏