
Kembali ke pertarungan sengit yang terjadi di hutan Sepaku, Terlihat situasi telah berubah drastis hanya karena sesosok pemuda berambut putih mengenakan pakaian jas putih terlihat sangat cocok dan serasi untuknya, Dia berdiri di tengah-tengah pasukan pejuang suku yang telah mengelilinginya.
Dua diantara 8 pasukan itu telah berhasil di tumbangkan dengan serangan belati terbangnya. Para pejuang itu bukannya takut dan mundur melihat kedua temannya yang tewas, melainkan semangat mereka semakin terbakar untuk menumbangkan pria muda itu.
Di kejauhan 50 orang yang mengenakan jas hitam hanya bisa menyaksikan pertunjukan kehebatan seorang peringkat bintang 3, dengan lincah dan gesit pergerakannya menumbangkan satu persatu pejuang suku yang sebelumnya membuat mereka cukup kesulitan di hadapi, Menunjukan perbedaan besar dari segala hal bahwa mereka tidak ada apa-apanya di mata seorang peringkat bintang 3.
''Luar biasa tuan Ichi... Sesuai dengan kehebatanya'' Pria tua yang sebelumnya memandu ke lokasi berkomentar.
''Ya, walaupun kita setingkat di bawahnya, tetap saja perbedaan jarak kemampuan kita tidak ada apa-apanya dengan seorang bintang 3'' salah satu yang memang berperingkat bintang 2 juga ikut berkomentar.
''Apakah kita membantunya?'' Salah satu yang lainnya berkomentar.
''Aku rasa tidak perlu, menurutku jika kau turun kesana kau hanya menjadi beban, saat ini tuan Ichi sedang serius menghadapi mereka, jangan mencoba mengganggu pertarungannya'' pria tua memperingati
''Ya itu benar... saat ini kita hanya bisa menyaksikan, Dan kau hentikan ide bodohmu itu'' salah satu pria yang lain juga berkomentar.
Para pasukan bintang 1 menyaksikan pertarungan itu dengan terkagum-kagum akan kehebatan Ichi.
Strategi pasukan suku tidak berarti bagi Ichi, Setiap langkah mereka yang gagal menyudutkan Ichi berakhir tewas karna belati terbang itu.
Terlihat pasukan pejuang suku satu persatu tewas dan menyisakan satu orang, Terlihat di wajah pejuang suku itu dengan terpaksa menghadapi secara berhadapan dengan orang yang membantai teman-temannya, dalam hitungan detik tancapan tiga belati mengakhiri hidupnya.
''Luar biasa tuan... kami berterima kasih telah di izinkan menyaksikan kehebatan tuan'' pria tua membuka suara dan mendekati Ichi.
''Yah lumayan untuk menghibur suasana hatiku yang sedang kacau sebelumnya'' Kata ichi dengan santai, dia mengambil saputangan dari sakunya dan mengelap sedikit keringat yang berbulir di lehernya.
''Sesuai dengan kehebatan anda tuan, mohon beri kami perintah selanjutnya'' Ucap pria tua itu sambil menundukan badannya.
''Kalian urus desa itu, dan tangkap target kita, seharusnya sudah tidak ada lagi penghalang kalian untuk kesana''
"Siap laksanakan tuan'' ucap pria itu dan berlalu memberi tahukan ke anggota lainnya untuk beroprasi.
''Aku akan pergi dari sini, tempat ini pengap buatku, aku akan memberikan laporan ke kantor, setelah selasai urusan disini kalian juga jangan lupa memberikan laporan'' kata Ichi.
''Maaf tuan, ada baiknya tuan ikut membantu kami lagi meringkus di desa'' ucap salah satu pemburu.
''Apa? Kau mau memerintahku hah?'' Ichi emosi mendengar saran pria pemburu itu.
''Maafkan saya tuan... maaf?'' dengan ketakutan pria itu menunduk.
''Urusanku sudah selesai, itu urusan kalian di sini, suasana hatiku sudah membaik sekarang, jangan buat aku menghilangkan nyawamu huh... Aku pergi'' Ichi berlalu tidak menghiraukan permintaan maaf pria itu.
Setelah tiba di tepi hutan Ichi menerima panggilan lagi melalui alat kontak koneksi dari Holy Knight Borneo.
"Apa kau sudah selesai di sana Ichi?'' Seseorang berbicara di seberang sana.
''Ya Master, Penghalang sudah aku bereskan'' Kata ichi.
''Kalau begitu aku ada tugas khusus buatmu'' Katanya.
''Apakah tugas itu cukup rumit sehingga kau menyuruhku orang tua?'' Dengan malas Ichi bertanya.
''Jaga ucapanmu bocah, ku potong kepalamu menjadi dua nanti, ini tugas penting bodoh'' jawab master sambil marah-marah.
''Haha... Kau ini memang sudah tua ya orang tua sialan, begitu saja sudah naik tekananmu, periksa kesehatanmu sana, dasar master ilmuan gila haha'' Ichi malah mengejek pria itu.
''Huuuh iyaaaaa masteeeeer iyaaaa'' Ichi mengiyakan perintah itu dengan malas.
''Hey bocah... jangan main-main nanti di sana, lakukan dengan serius, kubelah kepalamu kalau main-main''
''Tenang aja orang tua sialan, aku tau apa yang aku lakukan, dasar bodoh kau''
''Eee eh eh eh berani kau sama kakekmu ini hah... tunggu kau. tung...'' Dengan Sengaja Ichi mematikan koneksinya.
"Huh memang kamvret orang tua itu, selalu saja marah-marah'' ucapnya mengerutu dan kemudian masuk ke dalam mobil putih yang sedari tadi menunggunya.
Dia termenung dalam perjalanan, 'tenggarong kh? sudah lama aku tidak kesana mengunjungi kakak' Sewaktu kecil saat umur 12 tahun, Dia pernah mengunjungi Kakaknya bersama kedua orang tuanya dari Banjarmasin menuju Tenggarong, Kakaknya yang sudah berkeluarga, Memiliki satu orang Anak laki-laki berumur 6 tahun pada masa itu.
Kemudian dia mengeluarkan ponsel jadulnya dari saku dan menghubungi kakak perempuannya yang sudah 7 tahun tidak bertemu semenjak Ichi di bawa oleh kakeknya.
Kakak perempuan yang terpaut jauh jarak usia antara mereka, perbedaan usia kakaknya terpaut 11 tahun karena orang tua mereka memang awalnya ingin memiliki satu anak saja, tetapi hal tidak terduga membuat hamil kedua yang tidak sengaja.
Kedua orang tua mereka telah tewas bersama Ratusan pemburu yang telah gugur karena sebuah tragedi perburuan melawan target Peringkat SS yang mengamuk di tengah kota Banjarmasin 5 tahun yang lalu.
_
Tuuuuuut....tuuuuuut..tuuuuut... beberapa saat Ichi menunggu panggilan itu diangkat oleh kakaknya.
''Halo... Ichi?'' Terdengar suara perempuan di seberang sana dan bertanya.
''Iya kak Mel (Amelia)... Ini aku Ichi, Sudah lama ya kita tidak bertegur sapa'' Ucapnya dengan sopan.
''Iya chi... Maafkan kakak tidak memberi kabar'' Terdengar suara Amelia bergetar 'sepertinya dia menangis' batin ichi.
''Iya kak, tidak apa... Oh iya kak, aku ada pekerjaan di Tenggarong, Bisakah aku tinggal di rumah kakak?''
''Tentu... tentu saja boleh adikku... Dengan begitu Zain ada temannya di rumah'' Kata kakaknya.
''Haha Ponakanku kah?'' Ichi mencoba mengingat tentang keponakannya.
''Iya chi.. dia keponakanmu satu-satunya, Sekarang umurnya sudah 12 tahun,Aku harap kau bisa menjaganya ya, kakak dan mas bayu sudah dua tahun ini bekerja di belanda dan jarang kembali...'' Kalimatnya terhenti.
''Apa? kenapa kakak tidak membawa Zain kesana?'' Ichi terkejut mendengar hal itu.
''Anak itu sedikit keras kepala chi... Kakak sudah berusaha keras membujuknya, tetapi Zain tidak mau ikut'' Ucapnya yang masih berharap Zain ikut dengannya.
''Huh... bisa-bisanya kalian lebih mementingkan pekerjaan kalian dari pada anak sendiri, Kalo dia berubah menjadi anak badung gimana nantinya hah?'' (pesan moral guys 😅)
''.... Iya chi maafkan kakak... ini tugas penting demi masa depan umat manusia, Kelak Zain pasti mengerti''.
''Haaaaargh, memang kalian ini keluarga ilmuan gila semua, Sudah... makan tuh masa depan, sibukkan saja diri kalian disana, biar aku yang mengurus ponakanku... Kakak sama kakek sama saja gilanya'' Ichi mengomel melihat kelakuan keluarganya yang merupakan keturunan pemburu pada masa awal berdiri Holy Knight. mereka sibuk meneliti dan bereksperimen dengan tubuh target.
Ichi sangat kesal dan mematikan langsung ponsel jadulnya. Di sisi lain Ichi sudah merasa Muak dengan perburuan semua yang telah dia jalani, sebagian hidupnya di habiskan membantai target semenjak kematian Ayah dan ibunya. Rasa balas dendam akan para target yang bisa menimbulkan bencana sudah hilang sejak lama berganti Pertarungan harga diri.
#**Thanks sudah mengikuti sampai disini... sekali lagi mohon maaf kepada pembaca yang mengikuti,
*Dengan berhubungnya eps kali ini, Saya sedikit memasukan Flot cerita di episode ''Kekuatan Zain'' Agar berhubungan dengan cerita eps ini. * Tapi tetap tidak mengubah jalur cerita semestinya yang sudah aku rencanakan kedepan.
Sekali lagi mohon maaf Atas perubahan sedikit di eps sebelumnya, dan terima kasih atas dukungannya. 🙏🙏**