
20 orang yang mengajukan diri menjadi ketua kelompok yang ada pada Aula replika itu, masing-masing dari mereka mulai memberitahukan strategi yang di sampaikan Zain dan Sakura. Dalam penyelamatan ini Zain memerlukan batuan dari beberapa orang yang mau bekerja sama, terutama untuk penyelamatan keluarga sanak dan kerabat mereka.
_
Zain, Sakura, Haruka, Elena dan beberapa orang dewasa mulai keluar dari cermin itu. mereka mulai pergi dan beberapa masih menghubungi keluarganya via telepon genggam mereka, Zain meminta agar secepatnya mereka membawa kerabat mereka untuk berkumpul di Aula rumah sakit itu, Paling tidak dalam waktu tiga jam mereka sudah kembali.
"Sekarang ayo kita ke tempat Aldy." Kata Haruka bersemangat.
"Baiklah, ayo kita pergi.... Kak Sakura tolong jaga orang-orang ini ya... Kami tidak akan lama" Ucap Zain dan meminta Sakura melindungi orang-orang di sana.
"Iya baiklah, kalian berhati-hatilah"
"Ayo...." Haruka, Elena dan Zain berlari menuju ke tempat tinggal Aldy yang tidak jauh dari rumah sakit itu.
_
Di sisi lain, Kinos dan ke empat temannya baru saja keluar dari pantulan kaca gedung tengah kota, Mereka berpencar dan akan bertemu lagi di tempat yang sudah di tentukan oleh mereka, prioritas utama mereka adalah menyelamatkan keluarga kerabat mereka juga, setelah itu mencari informasi penting di kantor cabang.
Mereka berlima sangat tahu apa yang akan terjadi kedepan, Bencana besar itu tidak hanya anak-anak saja yang menjadi korban, melainkan orang-orang tidak bersalah maupun pasukan holy knight sendiri akan banyak memakan jiwa oleh bencana yang di perlihatkan Haruka.
Kinos dengan terburu-buru berlari menuju tempat tinggalnya, di tengah perjalanan dia mendapati Pria berpakaian olahraga dan empat murid seumuran dengan Zain tengah bertarung menghadapi 8 orang pasukan pemburu yang berperingkat sama dengannya.
Melihat situasi kedua pertarungan itu tampak imbang, ke empat anak-anak itu dengan hebat melayani pertarungan orang-orang seperti kinos yang di latih khusus untuk berburu, begitu pula pria yang mengenakan pakaian olahraga itu, dengan kemampuan teknik beladirinya, ke empat pria pemburu itu kewalahan menghadapi.
Kinospun ikut bergabung dalam pertarungan itu, Para pemburu merasa lega melihat kinos ikut memasuki pertarungan mereka. mereka tidak menyangka bahwa kinos menyerang mereka dengan tongkat listrik, 3 di antaranya langsung terkapar.
"Penghianaaaat" ucap pria itu terkejut melihat rekannya diserang oleh kinos.
Melihat peluang, pria berpakaian olahraga itu langsung melumpuhkan pria itu dengan menyerang ke titik buta.
"Siapa kamu?... Terima kasih sudah membantu" kata seno penasaran.
"Nanti saja saya jelaskan, yang penting kita harus melumpuhkan sisanya jangan sampai ada yang kabur." kata kinos dan berlalu menyerang pemburu lainnnya yang tengah di hadapi murid-murid seno.
"Ya... baiklah" Seno juga ikut menyerang sisanya yang menyerang ke empat anak-anak itu.
Delapan pasukan itu telah berhasil mereka tumbangkan, Kinos hendak pergi meninggalkan pria dan ke empat murid itu, karena dia harus segera menyelamatkan putrinya sebelum di ketahui oleh pasukan pemburu lainnya.
"Maaf, Sepertinya anda harus menjelaskan semua ini, di lihat pakaian yang kau kenakan, kau adalah bagian dari mereka bukan? kenapa kau membantu kami?" tanya seno yang masih ragu.
"Ya.. Setelah urusanku selesai aku akan menjelaskannya, sekarang aku harus cepat..." Kinos yang hendak berlalu kemudian berhenti dan berbalik lagi, dia menuliskan sesuatu di secarik kertas.
"Maaf, waktuku tidak banyak, aku sarankan kau bersama ke empat anak itu segera pergi ke lokasi ini" Seraya memberikan kertas itu kepada seno dan berlalu meninggalkan mereka.
"Ya semoga alamat yang kau tulis ini tidak membawa kami ke lubang kematian" Seno tersenyum kecut.
"Siapa orang itu pak? Sepertinya dia sama seperti orang-orang yang menyerang kita ini, tapi kenapa dia malah membantu kita?" Tanya firman(salah satu ke empat murid Seno).
"Bapak juga tidak tau, dia berjanji akan menjelaskan semuanya kalau kita bertemu lagi" seraya memandang secarik kertas di tangannya.
"Selanjutnya kita akan kemana pak?" tanya muridnya yang bernama Rio.
"Kita akan memastikan alamat yang di berikan orang itu, kalian jangan sampai lengah"
"Baik pak" serempak keempat murid itu menjawab.
_
Kembali posisi Zain, Haruka dan Elena yang sudah berada di depan rumah Aldy, Haruka menggunakan kemampuannya dan segera berlari menerobos masuk ke rumah itu.
"Astaga... Kita terlambat" terlihat wajah haruka panik.
"Apa!.. Apa maksudmu? dimana Aldy" tanya Elena yang juga ikut khawatir, mereka bertiga mendapati kedua orang tua Aldy terkapar pingsan di depan kamar Aldy.
"Kita harus cepat membawa ke cermin" Kata Zain.
Mereka bertiga menemukan cermin cukup besar yang tertempel di dinding dekat pintu ruang dapur dan segera membawa keatas.
Zain memasukan kedua orang tua aldy kedalam cemin itu di ikuti Elena dan haruka, dalam sekejap Zain menyembuhkan kondisi kedua orang tua Aldy.
"Tante.... apa sudah merasa baikan?" tanya Haruka setelah melihat mama Aldy yang bangun.
"Anakku... di mana anakku" Mama aldy menangis mencari Aldy dan berharap ada di sana.
"Tenanglah tante, bisakah anda menjelaskan apa yang sedang terjadi?, kami mendapati kalian terkapar pingsan di depan kamar Aldy" Elena bertanya.
Haruka dan Elena sangat terkejut mendengar penjelasan mama Aldy, ternyata mamanya yang memanggil kedua orang itu agar memeriksa kondisi anaknya.
"Aku tidak tau ini akan terjadi, pemerintah sudah... " mama aldy menangis tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Sudahlah tante, untuk sekarang tante dan paman akan baik-baik saja di sini, kami akan mencari cara untuk menyelamatkan Aldy yang sudah berada di lokasi karantina" Zain menenangkan kedua orang tua Aldy, seraya memberi mantra agar tidak panik.
Zain langsung meneleport ke lokasi replika Aula rumah sakit yang sudah banyak orang yang bekumpul di sana, dan syukurlah orang-orang yang berada di sana juga memberi semangat ke pada orang tua Aldy.
Haruka yang sudah mengetahui situasi beberapa menit kedepan segera memberi tahukan Zain dan Elena untuk keluar dan membantu Sakura.
"Zain, Kamu focus membawa masuk orang-orang, aku akan membantu kak sakura" Kata haruka yang melihat situasi pertarungan Sakura menghadapi banyak pasukan gabungan pemburu.
"Baiklah, Kamu harus berhati-hati ya... Aku percaya kepadamu haruka" kata Zain dan langsung memandu orang-orang yang sudah tiba di Aula untuk masuk ke cermin.
"Aku juga akan membantu kak sakura" Elena barkata seraya menggunakan cambuk yang di kaitkan di tas kecilnya.
Sakura dengan lincah menghindari dan menyerang barisan pasukan pemburu itu, dengam sekali pukulannya mampu melemparkan barisan-barisan pasukan itu ke udara.
"Siapa kamu? jangan menghalangi tugas kami untuk membawa anak-anak itu" ucap salah satu pemburu itu.
"Siapa Aku?" Sakura tersenyum dan langsung menghantam wajahnya dengan sekali pukulan, orang itu terlempar kebarisan belakang, "Kamu hanya perlu mengingat pukulan itu".
"Wel wel wel... aku tidak menyangka ternyata ada gadis cantik sekuat ini" Seseorang muncul di balik barisan pasukan berseragam militer, tidak berapa lama muncul dua orang perempuan berpenampilan mencolok maju ke depan barisan.
"Cih, Kenapa kalian juga kesini huh" kata salah satu wanita itu mengomentari keduanya.
"Mungkin ini jodoh say ahaha" wanita yang lain juga berkata sambil bercanda, "Hai gadis cantik... Mau bermain-main dengan kami?" Lanjutnya.
"Huh bermain? aku lebih suka melemparkan wajah menormu itu" sakura memanasi.
"Sombongnya.... Baiklah kami layani" Wajahnya berubah serius. "Aku Linda, Kesatria pemburu bintang tiga"
"Aku Susan, kesatria pemburu bintang tiga"
"Aku Arjun, Kesatria pemburu bintang tiga, Bisa kita mulai?"
Sakura tersenyum, "Aku Sakura, Orang yang akan menghajar kaliam" sakura mengaktivkan kemampuannya, munculah titik berbentuk wajik di dahinya.
Sesaat suasana hening saat Sakura dan ketiga orang itu saling pandang, mereka mengeluarkan Hairloom mereka masing-masing, getaran tercipta saat aura mereka saling berbenturan, orang-orang yang hadir menyaksikan mereka mundur menjauh agar tidak terkena serangan.
"Ayo..." Kata sakura dan ketiga orang itu dengan cepat bergerak ke arah sakura.
"Hooreeeeaaaa" Sakura menghantam tanah lapang itu, ketiganya melompat mundur, terciptalah sebuahcekungan dan retakan besar di lapangan rumah sakit itu.
"Cih... Ini pasti akan sulit" Gerutu Susan.
"Yah kita tidak tau seperti apa hasilnya, Aku dengan senang hati melayaninya" Kata arjun menghantupkan kedua tangannya di lapisi sepasang hairloom berbentuk sarung tangan besi yang mulai bercahaya biru terang.
Arjun menerjang ke arah sakura dari atas, sakura tidak menghindar melainkan tangan mereka saling membentur dan menciptakan getaran kuat dan gelombang energi memecahkan seluruh kaca gedung rumah sakit itu.
****
sory telat up, beberapa hari kemarin aku lagi ad kegiatan jadi maaf keterlambatanya 🙏