When Wishes Come True

When Wishes Come True
TAMU YANG MENGANCAM



Zain lagi-lagi dengan mudah menciptakan dua buah kapal perahu terbang raksasa, dia menciptakn kapal itu agar nantinya bisa membawa anak-anak yang berhasil mereka selamatkan di suatu daerah nantinya. di dalamnya terdapat banyak bilik-bilik berkasur tingkat yang nyaman, memiliki sebuah Aula yang cukup luas untuk dua ribu orang, dan sebuah ruangan yang terdapat bola kristal sihir sebagai alat utama penggerak kapal raksasa tersebut.


Setelah menunjuk Kinos untuk mengendalikan kapal satunya, Zain memberitahukan cara kerja kapal itu, yaitu dengan menempelkan kedua telapak tangan ke Bola kristal sihir, tidak memerlukan energi mana atau semacamnya melainkan dengan cara di bayangkan melalui pikiran.


"Zain, kekuatanmu ini sungguh-sungguh mengerikan, dengan mudahnya kamu menciptakan sesuatu dengan hanya membayangkan, ini terlalu Over Power", Bagas berkomentar bahwa Zain sangat-sangat di luar batas manusia.


"Iya mohon maaf tuan Zain, Jujur saja... Saya tidak bisa membayangkan berapa takaran peringkat anda kalau kami mengukur dengan alat pendeteksi" Kinos juga berkomentar.


"Haha tidak usah di pikirkan, semua yang kita miliki pasti ada maksud tersendiri dari tuhan, lagian kalau kamu mengukurku di dunia nyata alat kalian hanya mengira aku anak normal biasa, Dunia ini bagaikan di alam mimpiku semua yang ku ingin akan dengan mudah terwujud, jadi cukup bayangkan saja kalian berada di dalam alam mimpiku" Jelasnya.


"Iya mimpi yang begitu nyata hingga aku hampir mati jantungan" Timpal bagas dengan wajah datar.


"Aku juga..." kata Elena yang memang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Zain ternyata terlalu hebat untuk anak seukurannya.


"Haha iya iya, maaf... memang seperti ini adanya di dunia cermin ku yang Aku sebagai penguasanya, wajarkan kalo seorang penguasa harus serba bisa haha"


"haha, temanku ini memang agak gila kalo urusan menghayal, jadi harap di maklumin aja, Kami yang sudah berteman dengannya sudah sangat mengerti pola pikir anak ini" Rudi tertawa mengomentari Zain kepada yang lainnya.


"Betul betul betul" Alvin Ikut menimpali.


"Sudahlah, nanti saja kita lanjutkan komentar kalian itu, yang terpenting sekarang kita jalankan rencana misi penyelamatan kita yang pertama dulu" Zain kembali mengingatkan.


"Betul, Semakin cepat semakin baik, karena bahaya sudah semakin dekat untuk anak-anak di luar sana" Haruka juga ikut mengingatkan.


"Baiklah, sesuai rencana... Aku,Haruka, Elena dan Kak Sakura akan menuju ke jakarta, Sedangkan Kinos dan rekannya akan menyelamatkan beberapa di kota tenggarong dan keluarga mereka" Zain memberi intruksi.


Semua yang ada di situ mengangguk setuju, tidak lupa Zain memberikan skill mantra Fly untuk Rudi,Alvin dan bagas yang berlaku digunakan di dunia cerminnya.


"yuuhuuuuu asiiiik.... aku bisa terbang" Rudi dengan sangat riang terbang kesana kemari setelah mengucapkan kata Fly dan langsung melayang.


"Huh dasar bocah, Hey Rudi... tujuan kita sekarang membawa keluarga kita kemari, jangan keasikan bermain kamu... Fly..." Alvin mengingatkan Rudi dan kemudian ikut terbang juga.


"Baiklah sepertinya aku harus mengikuti kedua bocah itu, Terima kasih Zain... Sampai jumpa lagi" Bagas berlalu meninggalkan.


"Ya sepertinya kita juga harus buru-buru berangkat, Ayo... semoga hari ini kita bisa menyelamatkan anak-anak di rumah sakit itu dan keluarga Haruka dan Elena" kata Zain.


"Siap Tuan..." Ucap Kinos dan menuju ke kapal satunya lagi.


'Ayah, Adiku dan Aldy ... Kami datang' , Haruka berkata dalam hati, tanpa terasa Air matanya mengalir, ada rasa terharu dan sebuah harapan bagi Haruka agar bisa mengubah alur dari bancana yang akan datang nanti.


Sakura yang pertama melihat haruka meneteskan air mata dengan segera dia memeluk dan mengusap-usap punggung gadis kecil itu, "Bersabarlah Haruka, Semua ada hikmahnya, Semoga misi kita ini berhasil dan kembali dengan selamat".


"Iya kak, Aku takut sekali, tapi ini demi keselamatan Ayah dan Adikku, Aku harus kuat menghadapi semua" ucap Haruka yang masih meneteskan Air matanya.


Elena juga mendekati mereka berdua dan ikut memeluk ke duanya, dia juga menahan amukan emosinya yang selama ini dia tahan dan akhirnya pecah ikut larut dalam tangisan, seperti anak-anak normal lainnya, Haruka dan Elena sudah melalui berbagai rintangan dalam perjalanan jauh mereka hingga sampai ke tempat Zain, Berkat keteguhan dan ambisi merekalah mampu mmeberanikan diri melalui semuanya.


****


Pemerintah mulai mengambil sikap secara paksa keluarga maupun anak itu sendiri yang menolak untuk di karantina, dengan mudah para pasukan gabungan melumpuhkan beberapa yang bertindak memberontak, semua di tangani dengan sangat cepat.


Perdebatan di berbagai media oleh beberapa perwakilan mulai memperlihatkan sudut pandang antar pro dan kontra mengenai sikap tindakan pemerintahan ini, upaya lembaga perlindungan anak seakan tidak berdampak apa-apa menyuarakan pendapat mereka, semua telah di genggam oleh pemerintah dan akhirnya terjadilah berbagai konflik di beberapa kota. Para mahasiswa dan berabagai lembaga relawan melakukan demo besar-besaran untuk menolak sikap pemerintah, tidak terelakan suasana mulai memanas, bentrokan mahasiswa demo dan aparat keamanan terjadi.


Aldy terdiam melihat kejadian itu melalui berita yang di saksikannya, dia khawatir untuk dirinya akan di bawa paksa seperti yang di saksikan di berita. 'Tuhan, tolong jauhkan aku dari orang-orang yang membawa anak-anak itu'.


Aldy keluar dari kamarnya dan hendak turun mengambil air minum untuk mengurangi ketakutannya, di pertengahan tangga dia terdiam mendapati ibunya di depan pintu tengah berbicara dengan dua orang mengenakan jas hitam, satu berkaca mata hitam dan satu lagi tidak.


Kedua orang itu menoleh ke arah Aldy, "Apakah anak ibu yang itu?" tanya salah satu yang tidak menggunakan kaca mata.


"Oh iya, dia anakku pak, aku sudah membujuknya untuk periksa, tapi dia selalu saja menolak ajakanku itu.... Aldy, sini nak... ini ada petugas dari kesehatan datang kemari untuk memeriksa kamu" Ibunya tersenyum seperti biasanya, dia tidak menyadari dua orang itu telah tersenyum seringai di belakangnya. "Maaf pak, sebentar ya... saya akan membujuknya sekali lagi, silahkan masuk pak, duduk dulu di sana ya" lanjut ibunya ramah kepada kedua orang asing itu.


Aldy melihat seringaian jahat itu dan berlari kembali ke atas menuju kamarnya dan mengunci rapat-rapat.


"Aldy...", teriak mamanya, "maaf pak, tunggu sebentar ya". mamanya hendak beranjak mendatangi.


"Maaf ibu, bolehkah kami ikut membujuk anaknya juga". Kata pria berkaca mata.


_


"Aldy....Ini mama nak, buka pintunya" mamanya mulai mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.


Aldy mundur beberapa langkah, menjauhi pintu itu, degupan jantungnya sangar tidak beraturan karena takut dengan dua orang itu, dengan segera aldy menjatuhkan lemari di samping itu sebagai penghalang agar tidak terbuka.


BRUAAAAAK.....


"Aldy... suara apa itu nak, mama mohon bukalah pintu untuk mama nak" Mamanya khawatir.


Aldy hanya mendengarkan suara mamanya itu dari dalam kamarnya, kemudian terdengar suara pria tadi berbicara di luar sana.


"Maaf bu, Kami akan memeriksa dari sini saja" ucapnya.


"Eh benarkah? bagaimana bisa pak?"


Kemudian pria berkaca mata hitam mengeluarkan alat pendeteksi dan mengarahkan ke depan pintu tertutup itu.


"Tidak salah lagi bu, anak ibu sudah terjangkit" Ucapnya.


"Apa.... Ya tuhan... Aldy ayo nak buka pintunya," mamanya menangis sambil menggedor-gedor pintu itu.


"Berapa hasilnya?" tanya pria yang satunya.


"Peringkat D" Ucap pria berkaca mata hitam itu.


Mamanya menangis memohon agar Aldy mau membuka pintu itu, di belakangnya dia tidak menyadari bahwa lagi-lagi kedua pria itu menyeringai seakan mendapati buruan berharganya.


"Aldy...." Kata pria itu, "Ayo keluar anak baik, Kamu akan baik-baik saja kalau menurut". Suara pria itu terdengar Aldy dengan jelas di balik kamarnya, Rasa takutnya kian menjadi mendengar ucapan itu.


"Aldy, Kamu tidak sayang sama mama kamu?" lanjut pria itu.


Aldy masih terdiam ketakutan, dia menutup mulutnya agar tidak bersuara, tanpa terasa Aldy meneteskan air matanya.


"Aldy... keluar sekarang, jika tidak... " pria itu menghentikan kata-katanya.


"kyaaaaaa...." bzzzzzzzz... Teriakan mama Aldy dan terdengar suara ambruk dari luar kamarnya.


"Ma... mamaaaa" Teriak Aldy khawatir.


"Mama kamu hanya pingsan Aldy... Ayo keluar anak baik, kalau tidak kami akan membunuh ibumu haha" pria itu mengancam dan tertawa sangat menakutkan terdengar oleh Aldy.


"Ma.. mama.... Jangan sakiti mamaku" Aldy menangis dan berteriak mendengar ancaman pria itu.


"Makanya kamu keluar anak sialan... Jangan coba-coba kabur kau, atau mama kamu akan kami cincang" ancam lagi.


"tidaaaaaak, aku mohon jangan bunuh mamaku"


"aldy... Jangan buka pintunya nak... maafkan mama" , suara lemah dari mamanya terdengar dari dalam.


"Maaaaa... maafkan aldy maaa" Aldy menangis kencang di dalam kamar itu.


"Hahaha, kuat juga ibumu ini bocah... Ayo keluar kamu"


"Hey.... Apa yang kalian lakukan di rumahku?" terdengar dari dalam kamar suara papa Aldy di luar kamarnya.


"Pa... Papaaaaa" teriak Aldy di dalam kamar.


"Haha... Dapet umpan baru kita bro" Ucap pria berlaca mata hitam, dan keduanya memandang ke arah papanya yang baru saja naik tangga.


****