
Haruka... Setelah ini kau naik di bus berwarna orange itu... bus itu mengarah kota tujuan kita... Tetap Semangat temanku
Secarik kertas tiba-tiba muncul di telapak tangan Haruka, Dia membacanya dan tersenyum, rupanya tulisan di kertas itu memberikan arahan kemana langkah Haruka selanjutnya.Memang sebelumnya Haruka sedikit kebingungan memilih bus rute mana yang akan dia naiki setelah turun di pertengahan sebuah daerah yang masih separuh perjalan lagi menuju kota Zain berada, mungkin Elena menyadari bahwa Aku sedikit kebingungan pikirnya.
Haruka melangkah kembali menuju bus berikutnya, Di sisi bangku kosong tidak jauh dari Haruka, tidak ada seorangpun yang menyadari Elena, dengan santai dia membuka ponselnya agar memudahkan mencari informasi yang di butuhkan mereka dalam perjalanan itu.
Untung saja saat ini tidak ada lagi orang-orang itu, Haruka terus menggunakan kemampuannya untuk memastikan kedepan tidak terjadi pertemuan dengan mereka. Dia tersenyum Setelah mengetahui sesampainya di kota itu nanti tidak terjadi apa-apa, Dengan lega terlihat di wajah gadis berusia 11 tahun itu dan memutuskan untuk istirahat karena menggunakan kemampuannya setiap saat itu membuat Haruka semakin kelelahan.
'Semoga tidak terjadi apa-apa pada dirimu kawanku' Kata Elena dalam hati, Dia tersenyum memandang temannya itu, Air matanya tak terasa menetes, perasaan senang, sedih, khawatir juga di rasakan Elena, Dia juga akan berusaha menjaga Haruka, karena Haruka adaah teman yang berarti bagi Elena.
****
Di sisi lain setelah mengantarkan Alvin, Rudi dan Sakura, Zain memutuskan kembali kecermin.
''Kau tidak pulang Zain?'' tanya bagas.
''Mmm nanti saja gas, Ada yang ingin aku lakukan di sini'' kata Zain
''Apa itu? Boleh kah aku tau?'' Bagas penasaran.
''Aku mau latihan gas, ada beberapa hal yang ingin ku coba lagi, mau ikut?... Ayo'' Zain memegang bagas dan terbang mencari Area yang luas.
''Gila... ini keren Zain..'' Kata bagas yang merasakan sensasi terbang.
''Ahaha... Biasa aja lah gas... hehe'' Zain terlihat malu mendengar pujian dari bagas.
''Kita mau kemana Zain?'' Bagas tidak sabar.
''Aku mencari area yang luas dan lapang, Kau juga harus melatih kemampuanmu kan? ayo kita berlatih'' Kata Zain
''Oh begitu.. ya aku juga ingin lebih menguasai kemampuan api ini'' Kata bagas bersemangat dan mengepalkan satu tangannya kedepan.
''Aha... sepertinya tempat itu cocok'' kata Zain, dan kemudian dalam sekejap mereka berada di tempat Zain maksud.
''Eeeh apa yang terjadi'' Bagas kebingungan, tiba-tiba saja mereka berpindah tempat.
''haha... jangan terkejut gas, aku barusan melakukan skil teleport, yah bisa di bilang aku bisa melakukan apa saja di dunia cermin ini, jadi aku harus mencoba beberapa yang ingin aku coba untuk melatih dan memperkuat kemampuanku ini''
''Ya itu ada benarnya kawan... tapi... hal ini terlalu OP ****'' Bagas tidak bisa membayangkan sebatas mana kemampuan anak yang membuatnya terbang ini.
"Baiklah sekarang aku akan mencoba sekuat apa seranganku dan sebatas mana batasan energi yang bisa aku gunakan'' kata Zain dan mengarahkan tangan kanannya kedepan dan kemudian munculah cahaya putih membesar sebesar gedung, seperti bola yang sangat terang, dalam sekejap Zain menembakan bola cahaya itu, tiba-tiba saja melesat lurus dengan kecepatan di luar nalar dan di kejauhan sebuah ledakan sangat besar menghancurkan area itu.
Bagas yang melihat hal itu sangat terkejut dan hampir mau pingsan dibuatnya, 'ya Tuhan... dia mungkin bisa menghancurkan sebuah negara besar dalam sekali serang?' Mulut bagas terkunci tidak bisa mengeluarkan kata-katanya.
''Astagaaaa mengerikan sekali'' Zain juga terkejut dan bergidik ngeri melihat hasil dari perbuatannya itu.
''Ahaha.... Serius kawan aku juga nggak nyangka hasilnya sangat mengerikan seperti itu'' Kata Zain menggaruk kepala.
''Untung saja ini di dunia Cerminmu... Astaga'' Bagas tersadar dan merinding membayangkan kalau kemampuan anak ini bisa di gunakan di dunia nyata. 'Ya tuhaaaan kenapa aku membayangkannya, itu sungguh mengerikan.
Hasil ledakan yang terjadi cukup lama untuk di pandang, Sangat luas ledakan itu, Bagaikan dinding Api sejauh mata memandang menutupi tepat di depan mereka yang terletak jauh ribuan kilometer dari tempat mereka berada.
''Sudah... sudah... Jangan di pikirkan gas, lagian ini bukan dunia nyata... Hal ini bagaikan di dalam dunia mimpi bagiku, jadi jangan membayangkan yang tidak-tidak''.
''Yah kau benar kawan... tapi aku mau pingsan rasanya membayangkan hal itu''Kata bagas yang masih pucat dan lututnya terasa lemas.
''Maafkan aku gas, Jadi gini deh hasilnya'' Sambil menggaruk kepalanya. ''Sekarang percobaan kedua'' lanjutnya.
''Percobaan kedua? A..apa itu... Apa kau ingin membunuhku hah... jangan buat aku mati jantungan vangke'' Protesnya yang masih ketakutan.
''Haha...Tenang saja gas, Aku mau mencoba recovery'' katanya dengan santai.
''Recovery seperti apa yang kau inginkan'' Bagas kembali bertanya, dia lega anak itu tidak mencoba hal-hal lain seperti tadi.
''Recovery apapun'' Jawabnya dengan wajah terlihat polos.
''Hah?'' bagas tercengang. 'Semoga saja dia tidak mencoba hal yang lebih gila lagi' batinnya.
''Aku mencoba memperbaiki kerusakan yang terjadi karna ledakan tadi, Ayo kita coba dari Atas'' Tanpa menunggu jawaban bagas Zain memegang Anak berbadan besar itu dan berteleport ke atas langit yang lebih tinggi.
''Apa kita di luar angkasa?'' tanya bagas keheranan sudah berada di ketinggian yang mampu melihat bentuk bumi. kemudian tidak sengaja dia melihat kebawah, dia melihat lokasi yang di tembakan Zain ''Ya Tuuu....'' Bagas pingsan.
''He Hey gas... kau kenapa hey'' Zain heran bagas pingsan.
'Oh... ' . Zain mengerti kenapa Bagas pingsan, Terlihat hasil dari ledakan itu menyisakan setengah bentuk bumi.
''... -.- ... Maafkan aku kawan.'' Zain menatap datar.
Dengan segera dia mencoba kemampuan recovery, mengarahkan tangannya ke area kerusakan besar itu, dalam hitungan detik cahaya hijau mulai membungkus menutupi kerusakan yang terjadi, kemudian cahaya hijau itu meredup dan terlihat penampakan bumi secara utuh seperti tidak terjadi apa-apa.
''... -.-...'' 'Sepertinya aku jangan terlalu berlebihan, hal ini juga tidak baik untuk jantungku' Batinya, Entah mengapa dia tidak merasa takut dan lelah saat berada di dunia cermin, hal itu juga ikut terpikirkan olehnya.
Zain membawa bagas yang tidak sadarkan diri, dengan sekejap mata mereka sudah berada di ruang UKS yang sebelumnya mereka berkumpul.
'Kalau saja ada musuh seperti mereka di luarsana berada disini dan mendeteksiku, seperti apa ya hasilnya' Zain kembali mengingat alat yang di letakan Violet ketangannya saat itu.
****