When Wishes Come True

When Wishes Come True
SERANGAN DI SEKOLAH



"Wah wah wah... Sepertinya di Sekolah ini memiliki anak-anak yang berbakat," Seorang Pria besar mengenakan kemeja putih dengan lengan di gulung ke atas, memperlihatkan otot-ototnya, dia melihat layar di dalam mobil van hitam.


"Ya... aku merasakan energi besar di sana, mungkin ada beberapa tingkat B atau A, atau hmmm seorang SS? aku tidak sabar memastikannya," dan seorang wanita sexy mengenakan mantel berbulu silver ikut berkomentar.


"Fiuuuuu (siulan) jika seorang SS.... berarti kita mendapat tangkapan besar nih hahaaa... Jika benar ada Seorang SS di sana, maka kita berdua bisa naik peringkat bintang tiga," laki-laki itu berkata sambil memainkan semacam tongkat.


"Tenang Jack... kita lihat seperti apa kemampuannya, biarkan anak-anak yang bermain," Wanita itu berkata dengan santai.


"Haha... Baiklah baiklah, mari kita pantau dulu," pria itu berkata sambil memperhatikan layar.


Situasi di luar area sekolah, beberapa pria yang mengenakan jas hitam masih berdiri di posisi mereka masing-masing sambil menunggu intruksi dari jack melalui alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka.


Tidak berapa lama ada seorang anak laki-laki tengah berdiri sendiri di tengah lapangan, badannya terlihat cukup besar untuk seukuran anak-anak SMP lainnya. Kemungkinan dia sedang di sangsi oleh gurunya berdiri di sana.


"Bos... target muncul berdiri di lapangan," seorang pria berjas hitam itu melaporkan kepada jack.


"Apa kamu yakin? coba pastikan apakah dia target atau bukan."


"Sudah di pastikan Bos, Energinya besar, Target tingkat A," Jawab pria itu sambil memegang alat semacam deteksi dan menunjukan hasilnya.


"Bagus... Tangkap anak itu... amankan dulu petugas penjaga di pos sana," Perintah Jack dengan santai.


"Baik... Laksanakan," Mendapatkan perintah, pria itu mengisaratkan ke timnya untuk bergerak.


Dengan cepat mereka bergerak langsung menyerang Petugas penjaga sekolah.


"Hey ada apa ini...," tidak sempat Penjaga itu mengelak, sebuah Benda kecil bulat di tembakan ke arahnya setelah mengenainya benda itu langsung menyebar menjadi lima bagian yang tersambung dengan semacam kawat. Hal itu membuat Petugas Penjaga langsung terkapar terikat, Salah satu pria mendekatinya dan menyentuhkan ujung tongkat itu dan membuat dia menggelepar akibat sengatan listrik, Kejadian itu membuat anak laki-laki di lapangan menoleh dan melihat semua kejadian.


Bagas pov


Hari ini benar-benar hari apes buatku, pagi-pagi aku sudah mendapat hukuman dari pak seno (guru olah raga). Hanya karna masalah aku tidak memakai sepatu hitam aku berdiri di lapangan benar-benar siaaaaal.


Dua hari yang lalu aku tidak sengaja membakar sepatu hitam itu, Aku pun heran, saat itu aku sangat kesal dan berpikir seandainya aku bisa membakar kalian (Preman di depan gang) yang selalu saja menggangguku hanya karna badanku lebih besar dari anak seumuranku.


Aku tidak menyadari cahaya aneh itu, aku begitu kesal sekali mengingat kelakuan mereka. tiba-tiba sepatu hitamku yang berceceran di lantai itu terbakar saat aku sibuk dengan lamunanku.


_


Aku melihat Bapak penjaga itu menggelepar karna tongkat listrik itu di tempelkan ke tubuhnya. Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka menyerang pak Pur (si petugas penjaga).


Setelah itu, Mereka melihat kearahku dan masing-masing dari mereka mengeluarkan tongkat yang sama. Sepertinya mereka juga ingin menyerangku Tiba-tiba salah satu dari mereka menembakan sesuatu ke arahku, Sontak secara repleks aku menepis dengan tangan ku, Ada semacam Api di tanganku, membuat benda yang di tembakan itu meleleh tidak sampai mengenaiku, pria-pria itu juga ikut terlempar dan beberapa mengalami sedikit terbakar.


Lagi-lagi aku mampu mengeluarkan api dengan mengibaskan tanganku.


Aku tidak mengerti kenapa orang-orang ini ingin menyerangku?.


End pov


"Luar biasa... anak itu kuat haha..." Jack semakin tegang melihat layar.


"Ok... Aku keluar," Wanita berjaket Silver bersiap keluar dari mobil.


"Tunggu Vi (violet)... Aku yang menghadapi anak itu, Bawa tiga orang lagi menemani mu mencari Target lainnya di dalam, Aku yakin di sana masih ada lagi," ucap Jack


Zain pov


Anak-anak di seluruh kelas Terkejut mendengar sebuah ledakan yang cukup kencang, semuanya berlarian melihat ke Arah jendela kelas yang mengarah lapangan.


"Hey lihat itu, itu Bagas..." Salah satu murid menyeru dan menunjuk ke arah lapangan.


"Iya itu bagas... eh itu lihat ada orang-orang mengenakan baju jas hitam, apa yang mereka lakukan?" Anak lain juga ikut berkomentar


"Eh orang-orang itu mau memukul bagas... Bagaaaas lariiiii...," Anak lainnya berteriak.


Suara anak-anak di kelas benar-benar sangat Ribut meneriaki bagas untuk lari dari sana.


Bagas tidak bisa bergerak sama sekali, bahkan untuk melarikan diri sepertinya tidak mungkin, dia telah di kepung 7 orang, Ketujuh orang itu berusaha menyerang bagas, tetapi upaya mereka gagal dan berakhir terlempar jauh akibat sapuan tangan bagas tunggu... ada Api di tangan bagas?... apakah dia juga..


End pov


"Zain....!" Sebuah teriakan yang dia kenal telah memanggilnya, Rudi berlari menghampiri Zain dan menariknya "Ayo ikuti aku...," Rudi menyeret Zain meninggalkan ruangan kelas,


Anak-anak lain masih terlihat ramai berteriak.


"Dimana Alvin?" Zain bertanya.


"Dia menunggu kita di Ruang lab," jawab Rudi.


Mereka berdua bergegas menuju Ruang Lab yang terletak di lantai tiga.


Di sisi lain Beberapa guru yang mencoba menghentikan Violet berakhir terkapar pingsan. tiga orang pria di depannya, Dua memegang alat pendeteksi dan alat semacam pistol besar, satunya lagi memegang tongkat listrik, Sedangkan Violet berjalan santai di belakang mereka dengan membawa Tongkat yang bentuknya terlihat berbeda dari tongkat yang di pegang pria-pria berjas hitam.


Di balik meja, Bersembunyi seorang guru wanita dan 3 orang murid tengah ketakutan di ruang guru, Wanita itu mencoba menghubungi Polisi "Pak... tolong pak, sekolah kami 'Harapan Bangsa' telah di serang o...," belum sempat wanita itu melapor, tiba-tiba saja sebuah tongkat tertancap di kepalanya.


"Kyaaaaaaa...," Ketiga anak itu berteriak melihat kondisi wanita itu.


"Cih... Dasar pengganggu, Cepat temukan target, waktu kita tidak banyak," Menyuruh ketiga pria itu bergerak cepat.


*


"Alvin...," Teriak Zain yang Melihat Alvin berjalan mondar-mandir di ruang itu.


"Ah lama kali kalian.... ayo cepat!" Alvin Segera meraih tangan Zain dan membawanya di hadapan sebuah cermin besar di ruangan itu.


"Tunggu... Maksudnya apa ini?" Zain Heran.


"Sudah cepat masuk saja, biar Aku dan Rudi yang mengurus disini, Kau harus cepat menjemput kak Sakura," Alvin dan Rudi terlihat yakin.


"Baiklah, kalian bertahan lah sebelum aku datang" ucap Zain bersiap masuk kedalam cermin besar itu.


"Serahkan kepada kami," kata Alvin dengan yakin.


****