
Dengan bermodal nekat Haruka mempertaruhkan diri melakukan percobaan masuk ke dunia yang hanya Zain yang bisa memasukinya, ternyata dengan menyentuh atau memegang Zain mereka berhasil masuk. Sempat tiga kali dia mencoba mencari langkah di dalam kemampuan prediksinya, Sampai percobaan ke tiga yang hampir saja gagal, haruka berhasil meloloskan dirinya dan kedua anak itu dengan selamat.
Percobaan pertama dan ke dua di dalam prediksinya berujung tewas di tangan pria berambut putih itu, karena sebelum perempuan berjaket bulu berwarna silver muncul, haruka mencoba membawa Zain dan ketahuan memasukan Zain ke kaca bangunan terdekat situ.
"Huh syukurlah kita selamat dari orang berambut putih itu" Haruka tampak lega mereka bertiga telah berhasil memasuki dunia cermin dengan selamat.
"Ya syukurlah kita selamat Haruka" Elena tampak senang akan keberhasilan yang mereka capai selama perjalanan.
"Maaf Zain, kami....'' Haruka yang hendak berkata tercekat melihat Zain yang jauh berbeda dari sebelumnya, Ada Aura bertuliskan mantra yang tidak dimengerti melingkari sekitaran Zain. Mata Haruka kembali berkilau, Dia memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku melarang kalian menggunakan kekuatan kalian" Ucap Zain.
Dan seketika kemampuan Haruka tidak bisa di gunakan lagi, Elena tertunduk dan jatuh ke tanah, 'Apa yang terjadi, Astaga kenapa aku tidak bisa menghilang'
Sesaat Haruka memejamkan mata dan kemudian kemampuannya kembali lagi dengan upaya dorongan keras.
'Zain benar-benar berbeda di sini, Salah ucap kami akan lenyap' batinnya yang melihat situasi kedepan Zain melenyapkan mereka karena berkata terlalu membingungkan.
"hmm? Luar biasa, kau bisa menekan laranganku ya, Langsung saja, aku ingin tau kalian siapa, bagaimana bisa kalian tau namaku"
"Maaf Zain, Kami tidak bermaksud jahat terhadapmu, Aku mengetahuimu karena aku bisa memprediksi dan melihat masa depan" Haruka sangat berhati-hati dalam berkata.
"Hmm? Semacam peramal?" Zain bertanya.
"Ya Semacam itulah, Maafkan aku atas kejadian sebelumnya, tetapi kami jauh-jauh datang kesini menemuimu untuk meminta bantuanmu Zain" Kata Haruka seraya menempelkan kepalan tangan kanannya ke dada.
"Memangnya kalian berasal darimana?"
"Sebelumnya perkenalkan namaku Haruka, dan ini temanku Elena, tolong hentikan tekananmu ini Zain, Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, dan Elena sudah susah bernafas, Aku mohon"
"O..oh baiklah, Maafkan Aku" Zain menghilangkan tekanan auranya, Elena yang hampir pingsan dan sedikit terkena damage dari tekanan itu segera Zain sembuhkan termasuk Haruka.
"Terima kasih, Kami..." Haruka menceritakan semua dari awal tentang kemampuannya, tentang pertemanannya dengan Elena dan Satu orang lagi bernama Aldy, Tentang penglihatannya dalam perjalanan. Dan lebih mengejutkan lagi Haruka menceritakan dalam prediksinya di perjalanan itu mereka berdua tewas di bunuh oleh Udanya.
"Jadi begitu... Aku tidak menyangka perjalanan kalian semengerikan itu... Maafkan Atas sikapku barusan ya" Zain merasa bersalah atas sikapnya tadi.
"Tidak papa Zain, Itu juga resiko kami yang berbuat nekat, Apakah kamu mempercayaiku Zain?" Haruka bertanya memastikan.
"Iya aku percaya, lagian kalau kalian berbohong kalian akan lenyap menjadi debu, karena aku telah memasang mantra kepada kalian" Perkataan Zain membuat Haruka tersentak.
'Jadi seperti itu masalahnya, Astaga anak ini benar-benar...'
Di samping haruka, Elena yang baru saja berdiri mendengar ucapan Zain langsung terjatuh lagi tidak sadarkan diri.
"Elenaaaaa" Haruka terkejut mendapati sahabatnya pingsan.
Zain hanya menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal 'Ahahaha.... maafkan aku' .
"Sebaiknya kalian berdua berkumpul bersama teman-temanku, kita akan memikirkan bagaimana langkah-langkah menyelamatkan adik dan ayahmu"
_
"Ma... maaf tuan, Aku hanya bertemu Zain waktu misi di sekolah, aku hanya suka melihatnya itu saja" Violet berusaha menerangkan pertemuannya.
"Kamu jangan coba-coba menipuku ya, aku bisa mencabut lisensimu kalau aku mau"
Ichi kembali mengancam.
"Astaga tuan, Untuk apa aku berbohong kepada orang yang selama ini menjadi panutanku dalam berburu, yang jelas seperti itulah aku bisa kenal dengan keponakan anda"
"Keponakanku adalah anak biasa, aku sudah memastikannya, tetapi dua anak perempuan itu sudah pasti adalah calon target, karena salah satu anak itu yang mencuri Hairloomku" Seraya mengepalkan tangannya.
"Ya begitu juga dengan saya tuan, saya sudah memeriksanya dengan alat deteksi" Kata Violet. 'Uhuhuhu... Rahasiamu masih aman Zain'.
"Ini merupakan penghinaan besar dalam hidupku, Dua kali bocah-bocah itu mencuri sesuatu yang barharga bagiku, Semoga keponakanku tidak di cuci otaknya oleh mereka" Ichi mengepalkan tangan, terlihat kobaran amarah dimatanya.
"....." Violet hanya memandang datar ke pria panutannya itu, secara kesimpulan Violet sudah menerka-nerka skenario seperti apa yang akan terjadi kedepan.
Wajah Violet kembali terlihat aneh, dia tersenyum sendiri seperti wanita yang bernafsu. Ichi memperhatikan tingkah wanita berperingkat bintang dua itu 'Dasar wanita mesum, awas saja kamu berani macam-macam terhadap keponakanku'.
"Heh mesum, apa yang kau pikirkan huh?" tanya ichi menyelidik.
"Ah... ti..tidak ada tuan ahahaha" Violet tersadar dan berusaha menyembunyikan sifat aslinya.
"Kau, mulai sekarang kamu jangan dekat-dekat dengan keponakanku, Sekarang ikut aku ke kantor cabang, kita harus melaporkan ini"
"Sesuai perintah anda tuan" Violet menundukan badannya, 'Dasar bodoh kau, kau tidak tau sebenarnya seperti apa' Violet berkata dalam hati dan mengikuti Ichi menuju ke kantor cabang.
****
"Aldy, kamu harus di periksa, kamu tidak dengar apa yang dikatakan pemerintah lewat berita-berita itu?" Mama Aldy membujuk anaknya itu untuk ikut memeriksakan diri.
"Ma.... aku nggak kenapa-kenapa ma, buat apa periksa hal nggak jelas semacam itu, aku tidak mau" Aldy terus saja mengelak.
"Mama khawatir denganmu nak, di luar sana banyak anak-anak yang sudah membahayakan orang lain, mama takut kamu juga sudah terkena penyakit aneh itu"
"Ma, Andai kata aku terkena seperti itu... aku tidak bakal membuat orang lain terluka, lagian juga aku nggak merasa ada perubahan kok" Aldy semakin beralasan menolak ajakan mamanya.
"Sudah pokoknya kamu harus periksa Aldy, Mama takut ternyata kamu terjangkit dan membahayakan nyawa kamu, mama nggak mau itu" Mama Aldy mulai meneteskan air matanya yang sedari tadi dia tahan karena khawatir.
"Ma... percaya sama Aldy ma... Aldy baik-baik saja sekarang, Aldy janji kalo merasa ada yang aneh Aldy langsung meminta mama untuk mengantarku kesana" Aldy berusaha menenangkan ibunya.
"Mama akan telepon Papamu untuk pulang sekarang, Setelah itu kamu harus ikut periksa" mama Aldy berlalu meninggalkan Aldy sendiri di kamarnya tanpa menoleh sedikitpun.
Aldy hanya terdiam sejenak, memikirkan situasi yang akan dia hadapi, dia sangat yakin dengan perkataan Haruka dan mungkin ada hubungannya dengan kebijakan pemerintahan saat ini, dia berfikir akan berbahaya kalau dirinya di bawa untuk periksa.
"Haruka, Kapan kamu kembali membawa anak itu" ratapnya sedih, Dia percaya apa yang dikatakan Haruka, dan berharap anak yang di bawanya mampu menyelamatkan mereka semua.
****
#Jangan lupa tinggalkan jejak komen and likenya 🙏