When Wishes Come True

When Wishes Come True
DI MANAPUN BERBAHAYA



*


Sesampainya di bandara Balikpapan, Haruka langsung mengajak Elena keluar dan mencari angkutan menuju tujuannya.


"Menurut info yang aku dapat dari anak buah Papaku, Untuk menuju ke kota Zain tinggal membutuhkan waktu dua jam lebih dari kota ini" kata Elena.


"Mmm kalau begitu kita perlu mencari tumpangan, Aku akan menggunakan kekuatanku lagi agar bisa kesana dengan gratis," kata haruka dan hendak mengaktivkan kemampuannya tetapi di halang oleh Elena.


"Hedeh... kamu ini... Tidak perlu melakukan seperti itu," Elena menghembuskan napas berat. "Kamu tidak perlu menggunakan itu, biar aku yang urus," Lanjutnya dan melihat sekeliling di pinggir jalan.


Ketika Elena hendak menghampiri taksi angkot itu tiba-tiba saja ada tiga orang yang mengenakan jas hitam menghadangnya.


"Permisi pak..." Kata Elena ramah untuk permisi.


Mereka bertiga saling pandang "Bagaimana? kata salah satu orang itu,"


"Ya tidak salah lagi anak ini dan yang berdiri disana adalah calon...," kata salah satu yang memegang alat.


calon? Batin Haruka dan menggunakan kemampuannya.


"Elenaaaa cepat pergi, kamu menghilang sekaraaaang," teriak Haruka dan kemudian lari menjauh dari ketiga orang itu.


Elena paham akan situasi itu dan segera menghilang, para pria misterius itu kebingungan "Cepat deteksi dimana anak itu, Aku akan mengejar yang satunya," teriak salah satu pria itu dan mengejar Haruka.


"Di mana kamu gadis kecil," Kata orang yang memegang alat pendeteksi, dia kebingungan alat itu tidak dapat menangkap energi keberadaan Elena yang menghilang.


Elena masih berada di sekitaran mereka dan memperhatikan sesaat. huh syukurlah alat itu tidak bisa mendeteksiku, Aldy saja tidak mampu apa lagi sebuah alat huhu, dia terawa bangga. Aku harus menyusul Haruka


Elena dengan santainya mengambil Alat yang di pegang pria itu dan berlalu meninggalkan mereka yang masih kebingungan.


Sedangkan Haruka berlari menghindari tangkapan pria yang mengejarnya, Tidak lupa dia mengaktivkan kemampuannya dan hal itu membuatnya dengan mudah menghindari tangkapan pria itu.


Elena yang mendapati kejadian itu tertawa puas sambil memegang perutnya, Di tengah taman Pria itu sama sekali tidak mampu menyentuh Haruka yang telah mengetahui pergerakannya. Baiklah aku harus membantunya sebelum dua orang itu menyusul kesini.


Haruka telah mengetahui kejadian setelahnya, tiba-tiba saja dia berhenti dan memandang pria itu dengan tersenyum, Pria itu langsung terkapar tidak sadarkan diri.


"Huh seharusnya kau terkejut Haruka," Elena Muncul dan cemberut karena apa yang ia bayangkan tidak sesuai harapannya.


"Haha maafkan aku El, yah seharusnya aku terkejut, tapi itu kan sudah dahulu berlalu sebelum kenyataannya hihi," Haruka melihat tingkah Elena yang kesal.


"sudah lah... kita... ugh.... uhuk," Elena terbatuk mengeluarkan darah dan mendapati ada benda panjang menembus perutnya. "Ha..haruka... pe..pergi...," Elena tidak sempat melanjutkan kata-katanya, kejadian itu sangat cepat membuat Haruka terdiam mematung.


"Eleeeenaaaaaaa...!" Teriak Haruka kencang dan air matanya langsung pecah beruraian dan terduduk di lantai taman.


"Maafkan aku gadis kecil, kalian adalah mangsa kami, Sudah seharusnya seperti itu" Tiba-tiba seseorang pemuda remaja berambut putih muncul, dia mengenakan jas putih berjalan dengan santai sambil tangan kanannya memegang seperti cambuk yang telah menembus perut Elena. Setelah itu dengan Santainya dia menggerakan cambuk yang dia pegang dan membuat Elena terpental ke dinding bangunan di dekat taman itu.


"Elenaaa...," Haruka tidak menghiraukan pria remaja itu dan berlari mendekati Elena yang tengah sekarat.


Merasa di abaikan pria remaja itu marah segera mencambuki Haruka dan hal itu membuat Haruka terlempar...


*


_


Haruka tersadar dengan perasaan yang tidak karuan, kejadian itu sangat mengerikan untuk anak seusianya, perasaan takut yang sangat amat tengah di rasakannya, dia pun menangis dan menutup wajahnya.


"Haruka... Apa kamu tidak apa-apa?" Elena tersadar dan memperhatikan Haruka yang duduk di sampingnya sedang menangis tersedu-sedu.


"Haruka, Sebentar lagi pesawat ini akan sampai, Cobalah untuk menenangkan dirimu ya," Kata Elena sambil mengusap-usap rambut Haruka.


"Maafkan aku El, Setelah ini akan ada banyak bahaya yang menanti kita, Aku mohon.. Berjanjilah... Apapun yang terjadi jangan kau tunjukan dirimu sampai kita bertemu Zain," Haruka menatap Elena dengan penuh harap.


Melihat hal itu Elena sedikit terkejut Apakah seberbahaya itu? Dia menerka-nerka apa yang ada di pikiran Haruka


"Baiklah, Aku akan bersembunyi sampai kita bertemu Zain, Aku akan melindungimu tanpa memperlihatkan diriku, ku harap kamu tenang ya, Aku yakin kamu bisa Haruka, kamu harus kuat," kata Elena yang masih menenangkan Haruka.


Aku harus kuat, aku harus mengerahkan seluruh kemampuanku, Siapapun tidak akan bisa menangkapku, Haruka memeluk erat Elena.


Sesampainya di bandara Balikpapan, Di dalam pesawat para penumpang mulai meninggalkan tempat duduknya, Haruka dan Elena menunggu para penumpang itu pergi barulah mereka beranjak.


"Haruka... Aku yakin kamu bisa melalui ini semua... Jangan khawatirkan Aku ya... Aku akan membantumu tanpa terlihat."


"Terima kasih El, Mulai saat ini aku minta kau gunakan kemampuanmu, Aku tau Mereka di sana memegang semacam alat deteksi, tetapi itu tidak akan bekerja untukmu dan jangan lupa, kita jangan terlalu berdekatan, Aku takut kau akan terkena serangan mereka," Haruka kembali mengingatkan.


"Baiklah, Aku akan berhati-hati, mari kita menuju tempat Zain itu," Kata Elena dan langsung menghilang.


"Yah kalau begitu aku juga akan mulai," Haruka berdiri dan mengaktivkan kemampuannya dalam setiap langkah, Ada Sedikit Cahaya berwarna merah muda berkilau di matanya.


Haruka melangkah dengan pasti menghindari titik dimana para pria misterius itu berada, sedangkan Elena mengawasi Haruka di kejauhan tanpa ada yang menyadari keberadaannya. Sampai akhirnya Haruka berhasil keluar dari bandara itu, Sempat dia berlalu melewati pria berambut putih itu, Sepertinya orang ini tidak membawa alat deteksi, lebih baik aku segera menghindarinya sejauh mungkin Terlihat dia tidak menyadari Haruka dan berjalan Angkuh layaknya Seorang yang penting.


Elena yang memperhatikan Haruka sedikit Heran, dia bertanya dalam hati siapa orang itu apakah ada sangkut pautnya dengan penglihatnnya di dalam pesawat? Elena semakin penasaran dan mengawasi lebih dekat pria itu, ternyata di balik jas putihnya Ada semacam benda seperti cambuk yang berbentuk aneh berwarna silver. Hmmm apakah ini senjatanya?


Pria berambut putih itu di hampiri oleh ketiga orang berjas hitam "Apa kalian menemukan sesuatu?" tanyanya.


"Mohon maaf tuan Ichi, Tadi kami sempat mendapatkan energi yang tertangkap oleh alat deteksi... tetapi kami tidak bisa menemukan sumbernya sampai-sampai energi itu terlepas dari jangkauan alat ini," kata salah seorang yang memegang alat itu.


"Hmmm apa mungkin terget yang terdeteksi mengetahuinya?... Sudahlah, jadi bagaimana sekarang?" pria itu bertanya lagi.


"Hari ini kita gagal tuan... Alat ini sudah tidak dapat menangkap keberadaannya lagi."


"Baiklah, lakukan tugas kalian... hubungi aku jika mendapatkan target buruan."


"Siap laksanakan," serempak ketiganya menunduk.


Ichi hendak berbalik dan kemudian tersadar bahwa...


"Kemana Heirloomku?" Senjata yang dia gantung di balik jas putihnya tiba-tiba hilang.


"Eeeeh Alat pendeteksinya hilang," Kata seorang yang sedari tadi memegang alat itu di tangannya.


"Apa katamu? bukannya dari tadi alat itu kamu yang pegang?" kata salah satu pria berjas hitam.


Sedangkan Ichi hanya terdiam menahan Amarah kesal di wajahnya, Dia menyadari bahwa senjatanya di curi seseorang calon buruannya.


Aku akan membunuhmu... b*ng*aaaaaaa*, Siapapun dia aku bersumpah akan membunuh dengan tanganku sendiri, Ichi membatin marah.


Di sisi lain Elena sudah berjalan mengikuti Haruka sambil tertawa senang Huhu bodoh sekali, Dia sedang menenteng alat pendeteksi dan cambuk milik pemburu itu di ksitkan di antara tas kecilnya.


****


#Uhuhuhu... bagaimana kawan? jangan lupa komen and suportnya 🤗