When Wishes Come True

When Wishes Come True
PENYELAMATAN 1



"Apa yang kalian lakukan di rumahku."


"Pa..papaaa..."


"haha...Dapat umpan baru kita bro." kata pria berkaca mata hitam, terlihat senyum seringai di keduanya.


"Kurang ajar kalian berani menyakiti istriku" Papa Aldy emosi dan menyerang kedua orang itu.


Bzzzzzzt.... Suara sengatan listrik terdengar dari dalam kamar Aldy, dia yakin suara ambruk itu adalah papanya yang sudah di lumpuhkan.


"Aldy.... keluarlah sekarang... Ayahmu sudah kami lumpuhkan haha" ucapnya lagi.


"Aldy... jangan keluar nak.. apapun terjadi jangan kau buka pintu kamarmu." seru mamanya lemah.


"Diam kau..... Aldy keluar sekarang, atau tidak kedua orang tuamu ini akan kami bunuh."


Bzzzzz.... "aaaaaaargh...." sengatan listrik kembali di terima mamanya.


"Maaaaa... aku mohon jangan sentuh mama papaku" Tangis Aldy memohon.


"Cepat kau buka sekaraaaang... kami tidak ada waktu menunggumu huh..."


Aldy menangis ketakutan, dia bingung apa yang harus dia lakukan.


"Baiklah jika itu maumu, ucapkan selamat tinggal kepada kedua orang tuamu ini haha"


"Jangaaaaaan... Baik... Baiklah.... Aku keluar"


_


"Nah begitu donk anak baik, coba dari tadi kau menurut, tidak akan begini jadinya haha" pria itu menyeringai pintu kamar itu terbuka.


Pria itu mengelus kepala Aldy yang masih sesenggukan, badannya bergetar tidak terkontrol karena ketakutan, Aldy memandang kedua orang tuanya yang terkapar saat kedua orang itu membawanya menjauh dari sana.


Dia melihat papanya menjulurkan tangannya berusaha bangkit untuk menggapai dirinya yang sudah menjauh bersama kedua pria itu, "Aldy....." kemudian papanya tergeletak pingsan.


'Papa..., tuhan lingdungilah mereka.' Aldy memalingkan pandangannya ke depan dengan pasrah mengikuti kedua orang itu dan berlalu pergi.


****


Zain, Sakura, Haruka dan Elena tiba di jakarta dalam waktu singkat pada siang itu, haruka memberitahukan bahwa kejadian di penglihatannya itu terjadi saat malam, menyarankan untuk datang lebih awal agar bisa bertindak lebih awal.


Sekarang mereka sudah berada di replika rumah sakit tempat dimana adiknya di rawat dan mencari pantulan atau cermin yang tidak terlalu ramai.


"El... Perasaanku tidak enak, Aku khawatir ternyata orang-orang itu sudah bertindak sebelum kita menemukan Zain." Entah kenapa Haruka merasa ada perasaan yang tidak enak, dia tidak tahu kenapa, yang pasti dia harus segera menyelamatkan papa dan adiknya.


"Berdo'alah kepada tuhan, semoga itu hanya perasaanmu saja, Aku yakin kita bisa menyelamatkan keluargamu dan teman kita Aldy." Kata Elena berusaha menyemangati.


"Sepertinya ruangan toilet ini bisa, mumpung tidak ada orang, ayo kita keluar." Kata Zain


Dengan berpegangan tangan, Zain membawa keluar dari cermin besar itu, tidak ada orang di sekitar sana dan kemudian melanjutkan menuju tempat dimana Adiknya di rawat.


"Haruka...." Ayahnya memeluk erat putrinya itu, ada tetesan air mata di pipi karena khawatir akan putrinya yang hilang selama 4 hari.


"Maafkan Haruka Ayah, Haruka sudah membuat Ayah khawatir" tangis haruka akhirnya pecah di pelukan ayahnya.


"Yah tidak apa-apa, Yang penting kamu sudah kembali, Ayah merasa lega sekarang... Terima kasih sudah mengantarkan putri saya" Ayahnya berkata ke Sakura.


"Ah tidak, Kami datang karena permintaan putri bapak" kata sakura sambil tersenyum.


"Mohon maaf pak, kita semua sudah tidak punya waktu lagi, lebih baik nanti saja kita bahas tanya jawabnya, yang terpenting sekarang kami harus mengamankan kalian" Ucap Zain memotong dan ingin secepatnya mengamankan Ayah dan Adik haruka.


"Maksud kamu?" Ayah haruka heran.


"Nanti saja kami jelaskan, akan ada bahaya nantinya di sini... kak sakura.." Zain memberi perintah ke sakura untuk melepas semua alat-alat yang terpasang di tubuh anak kecil itu.


"He..Hey... Apa yang kalian lakukaaan" Ayah haruka terkejut melihat tindakan sakura itu.


"Tenang pak, lebih baik bapak ikut saja dulu bersama kami" kata Zain.


"Tidak... ini tidak benar... Apa-apaan kalian huh, Taruh kembali putra saya" Bentak ayahnya.


Mereka mengabaikan Ayah haruka yang emosi, kemudian Ayah haruka menghentikan Sakura dan langsung menampar wajah gadis remaja cantik itu. Zain dan lainnya terkejut dengan tindakan Ayah Haruka, Sedangkan Sakura hanya memandang Ayah Haruka dengan tersenyum.


Ada perasaan bersalah setelah Ayahnya dengan repleks menampar wajah mulus Sakura, Dia Hanya memandang tangannya dengan rasa tidak percaya kenapa bisa melakukan tindakan itu.


"Lebih baik bapak ikut kami saja dulu, nanti kami jelaskan" Ucap Sakura tersenyum yang tidak menghiraukan tindakan Ayah haruka.


"Iya Ayah... Percaya dengan Haruka" kata sakura dan meraih tangan ayahnya untuk mengikuti mereka.


_


Keterkejutan Ayahnya tidak berhenti di situ saja, melainkan dia mendapati dirinya bersama anak-anak itu sudah memasuki sebuah ruangan melalui cermin toilet di rumah sakit itu. Sakura membaringkan anak laki-laki itu, Bersama dengan Zain dia meninggalkan Ayah haruka di ruang replika di dunia cermin itu dalam keadaan kebingungan.


"Nanti kami jelaskan, Kami harus menyelamatkan yang lainnya juga" Uzap Zain dan berlalu meninggalkan ruangan itu.


Satu persatu orang-orang di rumah sakit itu mereka bawa masuk ke dunia cermin, Tidak hanya pasien, tetapi beberapa dokter,perawat, dan termasuk orang-orang di sekitar yang berada di rumah sakit di bawa masuk ke dunia cermin. Zain dan yang lainnya berusaha meyakinkan mereka, ada juga beberapa dari orang-orang sana tidak percaya, mereka hanya membawa masuk orang-orang yang percaya, itulah tujuan utama misi mereka yang sudah di sepakati dalam pembahasan di dunia cermin.


Dalam penglihatan haruka, Kejadian yang terjadi malam itu menjadi patokan utama penyelamatan, sebisa mungkin menghindari hal itu terjadi dengan upaya penyelamatan lebih awal. Zain dan yang lannya telah berhasil membawa banyak orang masuk ke dunia cermin dalam waktu cepat, hari sudah menunjukan jam 17.30 dan itu sudah cukup untuk misi mereka.


_


Orang-orang yang mereka bawa di dunia cermin tengah berkumpul di sebuah Aula replika rumah sakit, mereka masih belum mengerti secara keseluruhan mengenai informasi penting kebenarannya.


Zain berpikir bagamana menjelaskan situasi ini dan akan datang, secara untuk anak seumurannya tidak mungkin bisa menjelaskan semua itu secara terperinci, Zain berinisiatif menggunakan mantra penyalur informasi, dengan mudah cahaya-cahay kecil berterbangan memasuki lewat kening semua orang yang berada di stu.


Segala informasi tanpa ada kebohongan masuk begitu saja memberitahukan lewat pikiran mereka masing-masing, Setelah itu Zain meminta beberapa perwakilan dari orang-orang itu untuk memimpin beberapa kelompok yang telah di bagi oleh kesepakatan mereka.


"Baiklah, Aku rasa kalian sudah tahu semua bukan?... aku minta dua puluh orang untuk menjadi perwakilan untuk mewakili suara pendapat kelompoknya."


****