
Setelah kejadian penyerangan di sekolah kemarin, Pihak sekolah memutuskan meliburkan murid-muridnya sampai batas waktu mulai kembali tenang, Polisi dan para wartawan dari berbagai stasiun Tv mulai ramai meliput lokasi, Satu korban pengajar wanita telah tewas akibat kejadian itu, Ke 4 murid yang bersama guru wanita yang tewas mengalami trauma dan di larikan ke rumah sakit setempat termasuk dengan Penjaga Sekolah yang terkena serangan kemarin.
Para pihak media berbagai cara untuk mendapatkan berita penting di kejadian itu, dari sumber video-video siswa yang sempat merekam kejadian di lapangan sampai data Cctv di seputaran sekolah telah mereka tampilkan dalam sebuah berita.
Dalam berita itu menampilkan pertarungan Siswa melawan beberapa pria misterius menggunakan jas hitam dan kemudian sesosok wanita berambut merah muda membawa lari siswa itu. Hal itu menjadi Viral dalam sekejap di dunia berita maupun di sosmed-sosmed populer lainnya.
Dari beberapa rekaman siswa, terdapat satu yang paling heboh di kancah dunia maya maupun berita, video itu berjudul [Video penampakan Sakura Real Ninja] berdurasi 2 menit yang berawal tersebar dari Instagram. dalam sekejap memancing para pengguna internet mulai membanjiri komen-komen yang sebagian percaya itu Sakura dan sebagian lagi menganggap itu hanya settingan atau pengalihan berita penting terhadap politik negeri.
Berita-berita menyebarkan Beberapa gambar orang-orang yang di cari-cari dalam kejadian itu, Yaitu Sakura, Jack, dan beberapa pria berjas hitam yang berhasil lolos. Sedangkan Violet melalui keterangan guru dan murid dibuatkan sketsa wajah yang hampir menyerupainya.
Pihak polisi telah meringkus beberapa yang tergeletak dan berdasarkan penjelasan kepala polisi setempat, Kejadian itu masih perlu penylidikan lebih lanjut dan orang-orang yang tertangkap sudah di mintai keterangan. ''Secepatnya kami akan mengumumkan hasil prosesnya'' Kalimat akhir dari kepala polisi menutup pembahasan di dalam berita itu.
****
Ke esokan harinya, Waktu menunjukan 8.30 pagi, Zain masih terlelap tidur karena Semalam tidak bisa tidur sampai subuh memikirkan kejadian yang dia lakukan di dunia cermin.
"Den...Aden Zain... bangun Den....'' Suara Wanita tua dari luar kamar memanggil Zain untuk bangun.
''Mmmmmh.... Iyaaa Bi.. (Bi Ijah)'' Sahut Zain ke Pembantu rumahnya.
''Aden Buruan Mandi habis itu langsung sarapan ke dapur ya Den... Ada Paman Aden lagi sarapan... buruan ya den'' Teriak pembantunya lagi.
''Iyaaaaa'' Jawab Zain asal. 'Eh tunggu... Sejak kapan aku memiliki paman?' Zain mencoba mengingat. Rambutnya terlihat masih acak-acakan, Dia langsung beranjak keluar karena penasaran.
Sesampainya di dapur Zain melihat Bi ijah tengah sibuk mencuci peralatan masaknya, Dan kemudian melihat di meja makan ada seseorang Pria remaja berambut putih tengah asik menyantap sarapan. 'Siapa dia?' Zain masih heran.
''Yooo... Baru bangun kau pemalas'' Sapanya dengan santai.
''Haaah...?'' Zain sedikit tersinggung dengan sapaan Ichi 'Apa-apaan orang ini'
''Eh Aden... Belum mandi? Mandi dulu gih'' Bi ijah langsung menyapa Zain.
''Emmm sebentar lagi Bi... Siapa orang berambut ubanan ini Bi?'' Zain bertanya sambil mendekati Bi ijah.
''Eh bocah jaga mulutmu, Sembarangan rambut ini di bilang ubanan, Aku yakin kelak 17 tahun nanti kamu juga berambut sepertiku, ini bukan uban dudul, Ini memang ciri khas keluarga kita, Kamu nggak sadar rambut mamamu juga sama sepertiku huh?''
''I..iya sih.. mama memang rambutnya putih, tapi tunggu... Ciri khas keluarga? apa-apan itu'' Zain makin heran.
''Haaargh susah ngomong sama bocah, nanti saja ku jelaskan, yang penting kamu mandi sana bau ilermu tercium dari sini'' Ichi menyuruhnya dengan sedikit membentak.
''Bi... Siapa dia sih, nggak sopan banget'' Zain menghiraukan ucapan Ichi dan malah bertanya ke Bi ijah.
''Sssst... nggak boleh gitu den, Dia itu Adik mama Aden'' Bi ijah menjelaskan.
''Haaaah? sejak kapan bi? Mama kok nggak cerita kalo punya adik?'' Masih heran dan tidak percaya.
''Huh... Jelaskan Bi'' Ichi terlihat jengkel, ada urat kecil muncul di dahi sebelah kanannya.
''Aden masa lupa? Pamanmu ini pernah sekali kesini sewaktu Aden.... kalau tidak salah berumur 5/6 tahun'' kata Bi ijah.
''Benarkah? Tapi kenapa Zain nggak inget ya Bi?... Ya sudahlah, intinya dia pamanku gtu kn?'' Zain masih kurang yakin.
Bi ijah hanya tersenyum dan mengangguk ''Iya Dia paman Aden, Sekarang dia akan tinggal menemani Aden'' lanjut Bi ijah.
''Oh gitu... Maaf ya paman... Zain mungkin sudah lupa hehe'' Zain menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
''Hmmm ya sudah, Mandi sana'' Walaupun dia sedikit jengkel dengan keponakannya itu, Ichi berusaha bersikap baik kepadanya.
''Siap tuan ubanan haha'' Zain terlihat senang berlari meninggalkan dapur untuk membersihkan diri.
'Hedeh.... Sabar Ichi Sabaaar, namanya juga bocah, harus sabar menghadapinya' batin Ichi
Berusaha menenangkan emosinya, Bagaimanapun juga Zain adalah keponakan satu-satunya dan dia harus mendekatkan dirinya agar bisa akrab dengan keluarganya yang biasanya susah untuk bertemu.
30 menit berlalu, Ichi sedang duduk santai di ruang tengah, kegiatannya untuk hari ini ingin mengakrabkan diri ke keponakannya. untuk pekerjaan dia akan bergerak mulai besok, begitu pikirnya.
"Wuih sudah mandi? Mau kemana?'' Tanya Ichi melihat Zain sudah terlihat rapi tidak seperti barusan sebelum mandi.
''Rencananya mau main ketempat teman, Tapi nanti sajalah kesananya'' Zain langsung duduk di salah satu sofa di dekat ichi.
''Kan Ada paman, oh iya nama paman siapa, mama nggak pernah cerita sih kalo ada adiknya'' Zain bertanya denga polos.
'Sialan kau kak mel, bisa-bisanya kau tidak menceritakan aku ke keponakanku ini'
''Jangan panggil paman lah, berasa kali aku tuanya... aku masih umur 19 tahun lo... Panggil aku Ichi saja'' Kata ichi ramah.
''Ah masa panggil nama aja, kan nggak sopan... Gimana kalo Om Ichi?'' Zain dengan santainya mengusulkan panggilan itu.
'Anak ini benar-benar memancing emosiku kamvret' Ichi menggerutu dalam hati, karena dia sangat mudah terpancing emosi dia berusaha keras menahannya.
''Noooo... jangan Om... berasa kayak apa aja aku kalau di panggil Om Om'' Protesnya.
''Lah jadi panggil apa dong paman?... Mmmmm gimana panggil Uda saja'' Kata Zain yang sempat memikirkan.
''Uda? Apa lagi itu? Aku tidak tau'' Ichi bingung.
''Sebutan Uda itu kalau orang-orang kutai bilang itu panggilan kepada Adik orang tua si anak'' jelas Zain.
''Oh gtu... Sama aja dong kaya paman juga sebutannya... tapi ya sudah panggil itu aja dari pada kamu panggil paman atau Om'' Ichi menerima panggilan itu.
''Ok deh Uda Ichi'' Zain tersenyum 'Padahal kan sama aja, ribet amat adik mama nih' Zain membatin merasa konyol.
Obrolan seputar perkenalan Paman dan ponakan itu terlihat nyaman dan santai bagi mereka yang sama-sama untuk mengakrabkan diri. Sesaat Ichi sempat merasa ada sesuatu dalam diri Zain, tetapi hal itu sempat membingungkan Ichi, Ada perasaan aneh di hatinya saat melihat Zain. 'Anak ini seperti ada sesuatu, tapi apa ya? perasaan ini kok merasa Zain memiliki bakat calon?'' Batin Ichi.
''Uda, Aku tinggal dulu ya... aku ada janji sama teman mau ngumpul di rumahnya'' Kata Zain Memohon Izin pergi.
''O...oh gitu.... Ya sudah... pergilah... jangan sampai kesorean ya... aku harus laporan ke Mama kamu nanti'' Ichi sempat tergagap, Hal itu dengan jelas terlihat oleh Zain.
Zain menyadari sikap aneh Udanya itu, dan sedikit mencurigakan. ''Baiklah uda, Aku pergi dulu'' Zain berlalu dengan beberapa pertanyaan-pertanyaan di pikirannya.
Saat hendak membuka pintu untuk keluar,
''Zain'' Panggil ichi. dan Zain menghentikan langkahnya, sempat beberapa detik Zain terdiam tidak bergerak.
''Iya uda'' Dia membalikan badan menyembunyikan sikap kewaspadaannya.
''Sebentar ya... Uda pengen memastiin sesuatu'' Ichi beranjak mendekati Zain.
Perasaan Zain tidak karuan, Dia berusaha keras menyembunuikan kepanikannya, Berharap Udanya itu bukan seperti yang dia bayangkan.
'Insting seorang pemburu tidak pernah meleset' Batin Ichi, Matanya seperti sekilas menyala memancarkan aura pembunuh, pandangan tentang keponakannya berubah menjadi pandangan predator ke mangsanya.
Jdeeeerrrr..... Seperti tersambar petir di siang bolong, Ternyata dugaan Zain tidak salah, Ichi meraih tangan kanan Zain dan menempelkan benda itu, Benda yang dilihatnya untuk kedua kali. Zain berusaha tidak terlihat gugup dan berpura-pura tidak tau.
''A..apa itu Uda?'' Berpura-pura tidak tahu.
''Oh ini... Ini Mainan uda.... Uda hanya mencobanya ke kamu'' Wajah Ichi kembali normal setelah mengetahui hasil yang di tampilkan benda itu.
''Boleh aku memilikinya Uda?'' Tanya Zain mencoba
''Hmmm bagaimana ya.... Paman sudah berjanji tidak meminjamkannya ke orang lain... Maaf ya'' Ichi beralasan.
''Oh gitu... ya sudah nggak papa Uda...aku mau pergi dulu ya Uda'' Zain sekai lagi meminta izin.
''Iya pergilah.... Oh iya Zain... kalo kamu mau mainan ini nanti Uda kasi tau syaratnya.. kamu mau?'' Ichi bertanya, dalam hatinya dia berniat untuk mengajari Zain untuk menjadi pemburu.
''Apa itu?'' tanyanya.
''Sudah kamu main saja dulu sana, kasian temanmu, mereka menunggumu kan? Nanti saja Uda kasi tau'' Ichi tersenyum.
''Ok deh... Janji ya'' kata Zain dan berlalu keluar rumah. Di sisi lain Zain penasaran dan berniat mencari tahu siapa sebenarnya mereka.
****
#Karna ada sedikit pekerjaan jadinya agak telat episode ini tayang. Terima kasih masih mengikuti