When Wishes Come True

When Wishes Come True
PENGUMUMAN PRESIDEN



"Hooorrreeeaaaaaa...'' Terdengar suara wanita berteriak dan terdengar pula suara benturan kencang di kejauhan.


Alvin membuka matanya, dia tersenyum haru dan lega, sosok wanita yang dia kenal tengah berdiri membelakanginya, 'Syukurlah...' Alvin menangis Haru.


Ke Empat pria itu terkejut dan terperangah, melihat seorang wanita remaja berumur kisaran 18 tahun mampu melemparkan rekan mereka yang hanya dengan satu kali pukulan.


Terlihat kondisi rekan mereka berakhir dengan wajah yang tidak karuan, ke Empat pria itu sempat bergidik ngeri dan bersiap dengan senjata tongkat mereka masing-masing menghadapi Sakura.


Sakura bergerak melesat ke arah mereka, dengan cepat melumpuhkan dan melayang kan ke udara tiga dari keempat pria itu.


''Hiiiiiih....hiiiiii'' Pria yang tersisa terduduk bergidik ketakutan, tanpa sadar dia mengeluarkan Air yang membasahi selangkangannya dan berusaha menjauhi Sakura.


Sekali melompat sakura sudah berada di depan pria itu dan menghantamkan kepalan tangannya, Thboooom... tanah di halaman itu sedikit bergetar, pria yang menerima pukulan itu berakhir dengan wajah yang mengenaskan, Sakura merontokan giginya hingga tersisa dua dengan sekali pukulan.


''Avin... Apa kau baik-baik saja?'' Zain memastikan kondisi sahabatnya itu.


''Zain..... Huaaaa Aku takut sekali, Syukurlah kalian datang menyelamatkanku'' Tangis Alvin pecah setelah melihat situasi menjadi aman untuknya.


Sakura melepaskan kawat tali yang mengikat Alvin dengan kunainya, tangis anak itu mulai berhenti. ''Keluargaku.... '' Alvin segera bangkit bergerak cepat masuk kedalam rumahnya, memastikan kondisi ibunya di dalam, Sedangkan Adik dan Ayahnya masih tidak sadarkan diri tergeletak di halaman.


''Sepertinya akan berbahaya kalau membiarkan mereka kak, lebih baik kita bawa semua masuk ke dalam dunia cermin'' Zain berpendapat.


''Iya Zain, Dan mungkin kita bisa mendapatkan informasi penting dari mereka'' Kata sakura sambil mengumpulkan ke lima pria itu.


Alvin tiba membopong ibunya keluar, tubuh ibunya terlihat lemas karena sengatan listrik, Sedangkan Sakura dan Zain memasukan satu persatu kelima pria itu ke pantulan jendela rumah Alvin.


''Kak Sakura... Bisakah kamu menyembuhkan keluargaku?'' Alvin meminta bantuan untuk memeriksa kondisi keluarganya.


''Lebih baik kita masuk ke cermin dahulu Vin, Aku bisa membantu kak sakura menyembuhkan mereka di dalam sana'' Zain menyala permintaan Alvin.


''Baiklah.... Ayo segera kita masuk'' Alvin kembali membopong ibunya mendekati mereka berdua.


Setelah mereka masuk, Dari kejauhan di atas pohon yang rimbun seseorang tengah merekam semua kejadian itu, senyum seringai terlihat di wajahnya.


''Benar-benar di luar dugaan, ternyata feelingku kemarin tidak salah ya Zain, kau sudah menipuku... pertemuan berikutnya aku akan mendapatkanmu adik kecil imutku'' Violet berkata seraya mematikan kamera sorotnya. terlihat dari senyumannya tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Zain.


****


Di sisi lain di waktu yang sama, Haruka tengah duduk di sebuah taman, dia termenung memikirkan bagaimana caranya bisa bertemu dengan orang yang menjadi tujuannya. Sejenak dia menghentikan kemampuannya yang terus dia gunakan sepanjang pencariannya.


'Ya tuhan... berilah jalan untuk cepat bertemu dengannya' Haruka berdo'a dalam hati, bagaimanapun juga dia harus secepatnya bertemu dengan Zain.


Secarik kertas dari elena muncul di samping bangku duduknya, Haruka mengambil dan membaca secsrik kertas itu.


Tulisan: Haruka, aku ada kabar buatmu...


Aku harap kamu jangan panik mendengarnya.


Coba kau buka berita di yo*tube sekarang.


Segera haruka membuka Smartphonenya, Dan membuka App yang Elena maksud. Di tampilkan beberapa berita yang menjadi trending di layar itu, Salah satunya adalah sebuah pengumuman dari presiden mengenai tindakan pengamanan terhadap anak-anak di seluruh indonesia.


_


Berita Pengumuman oleh Presiden


[ "Mengenai kejadian-kejadian yang terjadi di seluruh dunia termasuk negeri kita, bencana-bencana di berbagai daerah telah memakan banyak korban menimpa saudara-saudara kita.


Badan WH* International telah menemukan kesimpulan dari rentetan kejadian yang terjadi di seluruh dunia. Bahwasanya setelah cahaya misterius menyelimuti seluruh dunia, memberikan semacam pengaruh efek terhadap seluruh anak-anak kita dari umur 3 tahun sampai umur 14 tahun yang merupakan generasi penerus kita.


Berdasarkan penelitian Badan internasional tersebut secara data maupun riset yang di kembangkan, Sebagian Anak-anak mengalami penyakit perubahan yang unik. hal itu demi masa depan anak-anak bangsa, saya selaku pemimpin negeri ini menyediakan tempat dan sarana untuk mengkarantina calon-calon masa depan kita semua.


Untuk itu kepada seluruh rakyat Indonesia, di wajibkan untuk memeriksakan anak-anaknya ke badan pengurus yang telah kami dirikan di berbagai daerah seluruh negeri'' ].


Setelah pengumuman dari presiden di tampilkanlah daftar beberapa alamat tempat yang di maksud oleh presiden untuk mengkarantina seluruh anak-anak yang memiliki kemampuan.


Seorang Reporter wanita tengah menjelaskan dengan senyum ceria meliput Area di salah satu tempat penampungan itu, di perlihatkan tim medis yang menangani, beberapa pasilitas karantina, dan mencontohkan seorang anak yang di periksa dengan tenang. tampilan-tampilan itu di tunjukan agar seluruh masyarakat berkenan memeriksakan anak-anaknya di sana.


_


''Bagaimana menurutmu Haruka?... Apakah benar kemampuan kita ini semacam penyakit?'' Tanya Elena di tulisan kertas itu.


''Entahlah El... Sepertinya aku ragu kalau itu baik untuk kita... mengingat orang-orang misterius itu berkeliaran memburu kita, Aku takut pemerintahan telah mendukung mereka'' Haruka menjelaskan pendapatnya dengan khawatir.


''Jika seperti itu, Akan sangat berbahaya... Apa langkah kita berikutnya kalau terjadi perburuan yang di dukung pemerintah negeri kita''


''Aku tidak tau El... Aku tidak mau berakhir di tangkap mereka, kamu tau El... Di penglihatanku waktu di bandara kemarin adalah... Mereka tidak segan-segan membunuh kita'' Haruka menerangkan kejadian itu, wajahnya terlihat tegang dan takut.


Mendengar hal itu Elena sangat terkejut, Dan menjadi khawatir 'Jadi seperti itu kah kejadiannya? Pantas saja kau melarangku untuk muncul kecuali kitasudah bertemu Zain' Pandangannya nanar tanpa di ketahui Haruka dan orang-orang sekitarnya. Pencarian mereka memang tidak mudah, salah langkah maka kematian bagi mereka berdua.


****


Di rumah Zain, Ichi menerima panggilan lagi dari ketua Holy knight borneo yang tidak lain adalah kakeknya.


"hmmm Apa info?'' Tanya ichi datar.


''Tidak Ada... Aku hanya ingin menanyakan perkembanganmu di sana seperti apa''


''Tidak ada, Aku hanya libur hari ini di rumah kakak'' Jawabnya santai.


''Oh begitu... Bagaimana kabar Amelia sekarang?'' Tanya kakek itu.


''Kak Amelia sudah dua tahun di belanda melakukan penelitian bersama suaminya''


''Oh iya aku baru ingat... Aku memang merekomendasikan dia untuk membantu tenaga peneliti di sana'' jawabnya.


''Yah begitulah kalo sudah sama gilanya kalian, sampai-sampai anaknya sendiri di tinggal'' Ichi mengomentari.


''Jaga mulutmu bocah tengik, tunggu.... apa kau bilang barusan? kenapa Amelia tidak mengajak cicitku?'' Balik bertanya.


''Ya.. begitulah... Tapi tenang saja kek... Aku yang akan mengurusnya, Bagaimana kalau Zain menjadi pemburu kek?''


'Itu berita bagus Ichi... Aku yakin dia juga akan menjadi kuat dan naik peringkat dengan pesat'' Kata kakek itu terdengar senang.


''Ya ya ya... Kalau aku yang melatihnya, sudah pasti dia akan hebat nantinya haha''


''Haha... Sudah sepantasnya darah kesatria di benamkan menjadi kesatria''


''Mmm kek.... Aku mau bertanya'' Kata Ichi dengan ragu.


Seperti mengetahui keraguan Ichi, ''Apa itu...''


''Kalau di keluarga kita terdapat bakat calon, bagaimana pendapatmu kek''


''Apaaaa... Tidak mungkin keluarga kita memiliki bakat calon..'' terdengar kakeknya memukul mejanya dengan emosi.


''Haha... kenapa kau marah kakek tua? aku kan hanya bertanya haha'' Ichi tertawa.


''Kamu jangan main-main bodoh, Kalau benar ada di keluarga kita, maka aku yang turun tangan menghilangkannya''.


''Haha... Baiklah baiklah... lagian itu hal yang tidak mungkin terjadi''


''Dasar bocah tengik... lanjutkan tugasmu'' Kemudian mematikan kontak komunikasi itu.


Di sisi lain setelah perbincangan itu, Ichi masih merasa ragu di dalam hatinya, Walaupun dia sendiri sudah memastikan dengan alat deteksi sihir, tapi entah kenapa perasaannya mengatakan lain.


'Huh.. mungkin aku terlalu banyak berburu, sepertinya aku harus cuti beberapa hari lagi' Seraya memijat keningnya.


****


#minta dukungan vote, like and komennya ya 🙏🙏