
Xavier yang baru saja kembali dari suatu tempat segera membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati. Dia masih mengira kalau wanita gila itu akan ada di atas ranjangnya karena Leo, mungkin tak akan membiarkan seorang pasien bergerak dari kasurnya.
"Apa yang aku pikirkan, bagaimana mungkin wanita gila itu masih ada disini." Xavier marah tak jelas ketika melihat kamarnya kosong bahkah Leo, pun tak ada disana.
Dia segera ke kamar mandinya untuk menghangatkan diri lalu bersiap-siap untuk tidur. Begitu tubuhnya menyentuh bantal, ada bau wangi yang belum pernah dirasa begitu nyaman bagi Xavier.
"Sial…!" Makinya bangkit dari tempat tidurnya karena terus membayangkan wajah wanita yang sudah mengecup bibirnya tersebut. Dia masih sangat ingat dengan jelas bagaimana tubuh dan wangi dari wanita itu.
"Naik dan bersihkan kamarku dalam waktu 10 menit. Aku ingin semua barang yang ada di dalam kamarku di ganti dengan yang baru." Perintah Xavier pada pelayan kamarnya.
Xavier tinggal di lantai paling atas hotel miliknya. Satu-satunya lantai yang hanya di tempati oleh dirinya sendiri sebagai pemilik hotel sekaligus bar dibagian paling dasar dari hotel tersebut.
Merasa tidak bisa tidur, Xavier segera turun ke bawah menuju ruang khusus untuk dirinya di dalam bar tersebut.
"Ohok.. ohok.. ohokk…" Leo yang datang untuk melepas penatnya segera terkejut begitu melihat ruangan itu dipenuhi oleh asap yang cukup tebal.
Leo bahkan tidak bisa melihat dengan baik siapa yang berada di dalam ruangan tersebut, ditambah juga dengan bau alkohol yang sangat menyengat.
"Xavier… apakah kau di dalam? Apa kau sedang membakar sesuatu sampai asap mengepul dengan begitu tebalnya. Kau ingin bunuh diri?" Leo membuka pintu ruangan itu dengan sangat lebar, agar asap yang berada dalamnya segera berhembus keluar dan menambah suhu Ace dalam ruangan tersebut agar udaranya kembali bersih.
"Kau benar-benar ingin membuat satu bar ini panik mengira ada kebakaran karena asap yang kau hembuskan? Apa yang kau lakukan sebenarnya?" Tanya Leo ketika sudah bisa melihat keberadaan Xavier yang terdudung setengah berbaring menengadah ke langit.
Hotel dan bar milik Xavier sudah dilengkapi dengan sistem pencegah kebakaran yang cukup tinggi. Tidak hanya ada smoker detector, tetapi juga dilengkapi dengan water sprinkle.
Smoker detector biasanya dipakai sebagai alarm pemberitahuan. Sedang Water Sprinkle untuk pemadam kebakaran. Didalam water sprinkle terdapat air raksa yang ketika terkena panas, akan langsung memecahkan silinder di dalam sprinklernya. Sehingga ketika pecah, air akan terpompa keluar dan membasahi ruangan tersebut.
Untunglah, di dalam ruang Xavier tidak ada smoker detector, dan hanya ada water sprinkle yang tidak akan terpengaruh jika suhu panasnya tidak cukup tinggi.
Diatas meja Xavier, bukan hanya ada puluhan botol alkohol saja yang sudah tak berisi, namun bagian sudut meja terdapat sebuah asbak dengan banyak sekali puntung rokok. Leo menebak kalau jumlah puntung rokok itu setara dengan lima bungkus rokok.
"Dimana wanita itu?" Tanya Xavier dengan nada dingin begitu sadar kalau Leo, yang berdiri di hadapannya.
"Kau sudah meminum alkohol sebanyak ini, tapi sepertinya kamu masih cukup sadar yah." Tatap Leo dengan menggelengkan kepalanya takjub.
"Leo… Dimana wanita gila itu?" Tanya Xavier sekali lagi menatap dengan tajam ke arah Leo.
"Brengsek! Kau tau pasti siapa yang aku maksud.. Jangan bermain-main denganku dan katakan dimana wanita itu?" Ucap Xavier setelah menghempaskan semua botol yang ada di atas mejanya.
"Namanya Oceana Amelia. Ame bukanlah wanita gila yang kau sebutkan. Lagi pula bukankah kau yang memintaku untuk mengusirnya? Aku melakukan sesuai dengan apa yang kau pinta." Jawab Leo dengan tersenyum licik lalu duduk tak jauh dihadapan Xavier.
"Jadi kalau aku menyuruhmu untuk membunuhnya kau juga akan melakukannya?" Xavier tak menyangka kalau Leo, akan se penurut itu dengan apa yang sudah ia perintahkan.
"Tentu saja. Bukankah cara kerja kita selama ini seperti itu?" Apa yang dikatakan Leo, memang benar. Selama ini mereka tidak pernah memandang nyawa orang lain sebagai hal yang berharga. Bahkan wanita bagi mereka hanyalah barang murahan.
Xavier terdiam dan tak berbiacara apapun lagi. Dia akhirnya ingat kalau dialah yang sudah menyebabkan wanita itu tidak pernah berani menampakkan wajahnya di hadapannya lagi.
"Cihh… Berani sekali dia mengatakan cinta tapi malah menghilang hanya karena ancaman kecil itu." Gumam Xavier mengutuk Ame.
"Apa kau mengurung dirimu di ruang ini selama 3 hari hanya karena Ame? Apa kau sudah terpengaruh oleh wanita muda itu? Aku pikir kau tidak peduli pada wanita manapun termasuk Ame." Leo segera mengambil minuman yang baru saja dibawakan oleh seorang pelayan yang masuk dengan sangat ragu-ragu.
"Aku juga tak tahu mengapa, tapi kata-katanya terus saja terngiang-ngiang ditelinga ku. Tatapan matanya dan ekpresi nya tidak bisa hilang dari ingatanku meski aku sudah berusaha menutupinya dengan wanita lain." Gumam Xavier kembali bersandar pada kursi sofanya menutup matanya dengan satu lengannya.
"Aku tak menyangka kau akan sampai seperti ini. Sepertinya Ame sudah memberikan kesan yang sangat mendalam bagimu." Ucap Leo masih terus memancing Xavier.
"Hari itu, apakah kau mengantarnya ke suatu tempat?" Tanya Xavier segera bangkit dari tempat duduknya menatap tajam ke arah Leo.
"Apa maksudnya kau ingin menemui dia? Sayang sekali, aku memang mengantarnya. Tapi dia hanya membiarkan aku mengantarnya sampai di stasiun bus saja. Dia tidak membiarkan aku mengantarnya hingga sampai rumahnya." Leo sengaja menyembunyikan keberadaan Ame, sesuai dengan janjinya pada wanita itu.
"Apa??? Apa kau lupa dia adalah wanita yang sedang terluka. Bagaimana kau tega bisa meninggalkan wanita itu pulang sendirian saja?" Xavier menggebrak meja dengan sangat kuat mendengar ucapan Leo.
"Pufftttt… hahahahahha!"
"Lihat dirimu sendiri, bukankah kau sendiri yang mengusirnya? Ame bahkan sampai mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan mu, tapi apa yang kau lakukan? Kau hampir saja membunuhnya dan mengeluarkannya disaat dia berjalanpun sangat sulit. Jangan salahkan dia jika dia melarikan diri karena ancamanmu itu." Ucapan tajam dengan nada dingin yang dilontarkan oleh Leo, benar-benar menampar keras Xavier.
"Ricky… temukan seorang wanita bernama Oceana Amelia secepatnya. Bawa dia dihadapan ku dan biar aku yang akan langsung membunuhnya dengan tanganku sendiri." Leo terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Xavier.
Dia tidak pernah menduga kalau pria itu akan sampai berbuat sejauh itu.
"Aku beri kalian waktu sampai satu minggu, jika kalian tidak bisa menemukannya. Maka aku yang akan membunuh kalian satu persatu." Ricky yang tidak tahu apa-apa tak punya pilihan selain bergegas keluar melakukan apa yang diperintahkan.