
"Uhukk..." Hike terbatuk pelan karena lehernya yang sakit menahan tangis. Komik yang sangat dia sukai telah membuatnya menangis deras.
Hike yang bahkan tidak pernah menunjukkan kesedihan maupun tangisannya di hadapan kedua orang tuanya, bisa berderai air mata di hadapan sebuah komik oneline dengan sangat mudah.
"ugggh..." Hati dan perasaan yang sakit membuat dadanya terasa sesak dan pilu.
"Pada akhirnya Xavier mati. Dia mati dalam keserakahannya untuk membalas dendam. Dia mati karena kebenciannya yang membuatnya menjadi seorang pembunuh berdarah dingin." Gumam Hike menggenggam ponselnya dengan sangat erat.
"Seandainya saja karakter dia tidak tercipta dengan begitu pilu, dia tidak seharusnya mati. Ini hanyalah sebuah komik, semuanya sudah diatur oleh seorang Author. Dia bisa membuatnya mati atau tidak itu adalah haknya, tapi kenapa aku tidak suka. Aku tidak suka dengan ending komik sepeti ini." Air mata Hike terus jatuh berderai dengan sangat deras.
"Ingin rasanya aku membunuh Auhtornya!" Ucap Hike dengan penuh kebencian. Dia benar-benar kehilangan kewarasannya dan malah ikut terbawa perasaa hanya karena sebuah komik.
Dia seolah sudah kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Komik yang selama ini menjadi penghiburnya dikala dia dalam keadaan terpuruk malah berakhir dengan begitu dramatis membuat hati Hike, jatuh dalam kepahitan yang mendalam.
Dia seolah merasa hidupnya juga sudah berakhir, sama seperti yang terjadi dengan apa yang dialami oleh Xavier.
"Bagaimana bisa perasaanku hancur seperti ini? Kenapa aku begitu bodohnya terbawa begitu dalam hanya karena sebuah komik." Hike menjatuhkan ponselnya dan memeluk kedua lututnya. Menenggelamkan kepalanya dan terus menangis dalam diam.
"Aku begitu bodoh sampai mencintai karakter komik ini. Hahahhaha… Aku yang bahkan tidak bisa membuka hati pada pria nyata malah jatuh cinta pada Karakter komik. Sungguh kebodohan yang hakiki." Hike tertawa dengan air mata yang deras karena kebodohannya sendiri.
"Tring…." Ponselnya yang tiba-tiba berbunyi membuat Hike mengangkat kepalanya.
Dengan malas dia membuka notifikasi itu, dan mendapatkan sebuah pertanyaan yang muncul dari layar ponselnya.
"Apakah kamu ingin merubah jalan ceritanya dan menyelamatkan Xavier dari kematian? Tekan Yes or No" Itulah tulisan yang terlihat dari layar ponselnya.
"Aku bahkan tidak bisa menggambar, bagaimana mungkin aku bisa merubah jalan ceritanya? Ini bahkan bukan sebuah game." Hike kembali menutup ponselnya dengan lemas.
"Tring…" Ponselnya kembali berbunyi dengan nyaring.
"Apakah kamu mencintai Xavier? Tekan Yes or No." Teks itu membuat Hike memicingkan matanya. Secara perlahan, ibu jari Hike bahkan sudah berada tepat pada tombol Yes.
"Dasar bodoh… Jika aku menekan Yes, apakah kehidupan ku akan berubah? Apakah aku akan mendapatkan cinta dan menikah dengannya? Sepertinya aku sudah terlalu larut dalam komik ini." Hike memaki dirinya sendiri yang dengan mudahnya dipermainkan oleh sebuah notifikasi yang entah bagaimana bisa muncul pada ponselnya.
Merasa lelah dan sesak, Hike akhirnya membaringkan tubuhnya dan menutup matanya perlahan-lahan. Air matanya masih mengalir mengantarkannya untuk tertidur.
"Tringgg.." ponselnya kembali berbunyi kencang membuat Hike menjadi sangat marah.
"Brengsek.. Sebaiknya aku matikan saja. Dari tadi kerjaannya menganggu terus!" Hike yang semula ingin mematikan ponselnya tiba-tiba terhenti dan menatap layar ponselnya dengan mata yang terbelalak kaget.
Hike bangkit secara tiba-tiba dari posisi tidurnya dan terduduk.
Tidak tahu bagaimana notifikasi itu bisa terus muncul dan menganggunya, namun keraguannya perlahan menghilang. Jika benar kalau itu bisa membuatnya melupakan kesedihannya, maka Hike tentu takkan ragu untuk menekan Yes.
Setidaknya itu yang memang sedang dicari olehnya. Melarikan diri dari kesedihan adalah salah satu cara dia bisa terus bertahan dan menghadapi hari esok dengan lebih ceria. Menghilangkan rasa sedihnya bisa membuat fikirannya lebih jernih sehingga dia bisa membuat keputusan atau mencari cara untuk menyelesaikan masalahnya.
"Baiklah.. mari kita lihat. Apa yang bisa dilakukan oleh benda ini untuk menghilangkan kesedihan ku." Hike segera menekan Yes tanpa ragu sedikitpun.
Tiba-tiba saja sesutau yang aneh terjadi. Cahaya menyilaukan keluar dari ponselnya. Matanya sampai sakit karena terlalu silau. Dia yang terkejut merasakan sakit pada kepalanya karena terus menangis dalam diam. Dia bahkan lupa untuk mengambil nafas karena terkejut hingga secara perlahan-lahan dia kehilangan kesadarannya.
"Brukkkk…." Hike ambruk di atas kasurnya sendiri.
Entah sudah berapa lama sejak Hike pingsan, namun dia segera tersadar ketika sebuah air membasahi wajah dan tubuhnya.
"Bangun… sampai kapan kamu mau terus pingsan hah.. wanita sialan!!!" Suara bengis seorang pria tedengar membentaknya dengan kasar.
"Pyasshhhhhh…" sebuah tamparan air yang di siramkan ke wajahnya membuat Hike, langsung membuka matanya dengan sangat lebar.
Dia berusaha menghilangkan air dari pelupuk matanya menggunakan bahunya karena kedua tangannya terikat oleh sebuah borgol.
"Akhirnya kau sadar juga heh…? Aku membiarkan utang kedua orang tuamu lunas dengan tubuhmu sebagai gantinya. Tapi tak ku sangka kau bahkan berani menggigitku hanya karena aku ingin menyentuhmu. Kau pikir siapa dirimu? Plakkk…" sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Hike.
Hike belum bisa melihat dengan jelas karena air di matanya. Dia bahkan sedang kebingungan dengan situasi yang saat ini dihadapinya.
"Utang? Apa maksudnya? Kenapa Bapak sama Mama berutang? Dan sejak kapan aku membiarkan diriku menjadi pelunas utang? Bukannya Bapak hanya melakukan kredit di bank yah…" Batin Hike terus bertanya-tanya tak paham dengan apa yang sedang terjadi.
"Tunggu.. ini bukan ingatanku. Mereka itu bukan orang tuaku. Ughh.. apa ini, kenapa semua ingatan itu ada di dalam kepala ku?" Kepala Hike tiba-tiba berdenyut dengan sangat kuat karena reaksi terhadap semua informasi yang masuk ke otaknya.
"Oceana Amelia… Jika kalau bukan karena karena wajah cantik dan tubuh molekmu, aku tidak akan mungkin melunasi utang kedua oramg tuamu. Jadi Ame… kau harusnya melayani ku dengan baik dan menjadi budakku. Berhentilah bersikap liar jika kau tidak ingin kedua orang tuamu aku bunuh." Suara bengis pria itu langsung membuat Hike sadar sepenuhnya.
Tubuhnya bergetar dipenuhi dengan amarah. Namun ketika dia sudah ingin mengamuk, sebuah suara tembakan terdengar dengan sangat jelas hingga membuat pria itu ketakutan.
Dia dengan segera menyeret Hike masuk ke dalam sebuah ruangan setelah sebelumnya mematikan lampu ruangan tempat sebelumnya mereka berada.
Diruangan itu, Hike bisa melihat dengan jelas siapa yang sudah membawanya dan menyeretnya.
"Edward Halland?" Ucap Hike setengah berteriak. Dia sangat terkejut begitu melihat pria yang merupakan salah satu karakter dari komik yang dibacanya berada dihadapannya.
"Sussttt… tutup mulutmu jika kau tidak ingin mati." Bungkam Edward, pada mulut kecil Hike, dengan sangat kasar.