
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ame, wanita yang berada di pangkuan Xavier bangkit dan tertawa terbahak-bahak.
"Kau pikir siapa dirimu? Apa yang membuat begitu percaya diri sampai mengira kalau Xavier, akan tertarik pada wanita seperti mu?" Tatap Wanita itu dengan pandangan menghina pada Ame.
Ame mungkin tidak memiliki tubuh yang seksi seperti wanita itu, tapi sayang sekali. Hike memiliki kepercayaan diri yang mungkin tidak akan di miliki oleh Ame yang asli. Setidaknya untuk pengalaman hidup dan soal pria dia sedikit lebih banyak tahu.
"Kau bahkan terlihat tak pantas untuk dirinya. Seorang pelayan berani memanjat naik ke atas kasur tuannya. Jangan harap kau bisa menggoda tuan Xavier. Dia tidak akan pernah tergoda oleh wanita sepertimu." Ucapnya dengan sangat berapi api.
Ame hanya tertawa sinis mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu. Dia segera melepaskan tangan pria tua itu dengan sangat santai.
"Ini menarik. Aku sangat suka dengan rasa percaya dirimu yang sangat tinggi. Tak pernah aku mengira kalau akan ada wanita seberani dirimu terhadap Xavier." Ucap pria itu sembari melemaskan tangannya.
"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan, jika kau bisa membuat Xavier sedikit saja tertarik padamu, maka aku tidak akan mengejarmu lagi dan memberikanmu sebuah hadiah. Tapi jika kau tidak bisa membuatnya tertarik, maka kau harus menjadi milikku." Pria itu seolah membuat sebuah kesepakatan yang tidak bisa di tolak oleh Ame.
"Aku dengar, sudah sebulan lebih dia kehilangan minat terhadap wanita. Tidak ada satupun wanita lagi yang berhasil naik ke ranjangnya dan memuaskan dia." Senyum licik mengembang di wajah pria tersebut.
Xavier hanya memasang ekspresi dingin dan datar tak peduli dengan apa yang sedang mereka katakan.
"Puhahahahaha… Tuan, tidak kah kau lihat kalau tuan Xavier masih tertarik padaku? Itu artinya hanya aku yang berhak untuk menyentuhnya." Wanita itu tertawa sombong dan angkuh. Dia tidak terima dengan apa yang di katakan oleh pria itu.
"Sepertinya kau sudah salah paham. Dia mencumbu mu bukan karena suka, tapi ingin melepaskan rasa stresnya. Hanya saja kau masih tetap tidak membuatnya bergairah sedikitpun." Ucap Ame dengan penuh percaya diri hingga membuat Xavier, sedikit tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Ame.
"A.. apa maksudmu?" Wanita itu merasa diremehkan. Terlebih karena dia berhasil membuat Xavier tertawa.
"Hennnggg …" pria itu melipat kedua tangannya dan bersandar ke sofa terkejut dengan eskpresi yang di tunjukkan oleh Xavier.
"Kau benar-benar terlalu percaya diri. Wanita berdada rata seperti mu bagaimana mungkin bisa membuat ku bergairah. Kau setidaknya harus memiliki dada seperti ini untuk dapat membuat ku puas." Xavier segera menarik wanita itu dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Akhh.. Ummphhhh.. Tu.. Tuan!" Wanita itu mendesah nikmat saat Xavier meremas kuat payudaranya memprovokasi sekaligus menghina Ame.
Ame hanya melihat mereka dengan tatapan datar tanpa ekpresi meski Xavier sudah mengulum bibir wanita itu dan menjulurkan lidahnya kedalam mulut wanita itu.
"Apa kau benar-benar ingin melihat kami bermain?" Tatap Xavier pada Ame yang masih berdiri disana melihat apa yang mereka lakukan dengan tenang.
Wanita itu sudah setengah terbuka dan tak berbusana. Wajahnya memerah sempurna karena rangsangan hebat yang diberikan oleh Xavier.
"Wanita ini, bagaimana dia masih bisa bersikap tenang melihat Xavier, melakukan semu itu dihadapannya? Bahkan dengan mendengar desahan wanita itu saja sudah cukup membuatku bergairah." Batin pria yang menyaksikan semua kejadian tersebut.
"Hufffttt… Apa kau masih belum puas juga memprovokasi ku? Silahkan lanjutkan, aku akan terus menonton sampai kau benar-benar puas." Ame merebahkan dirinya pada Sofa yang berada pada bagian tengah sembari melipat kedua tangannya.
"Sepertinya kau sudah kalah sayang… Jadilah milikku. Aku akan memperlakukan mu dengan baik." Pria itu terlihat begitu semangat saat menghampiri Ame, namun Ame segera bangkit dan melempar wanita itu ke pangkuan pria yang menghampirinya.
"Akhh… Sialan, apa yang kau lakukan?" Wanita itu bangkit ingin memukul Ame.
"Diam kau!!!" Tatapan tajam Ame, yang penuh amarah seketika membuat wanita itu menciut.
Dia baru kali itu melihat tatapan seorang waniya yang terlihat begitu mengerikan sama seperti dengan yang dilakukan oleh Xavier ketika akan mengintimidasi seseorang.
"Kau bilang kalau kau tak akan tertarik padaku bukan? Kalai begitu bagaimana kau bisa menjelaskan pusakamu yang tampak tak bereaksi meski kau hampir menghabisi wanita itu?" Tunjuk Ame pada bagian bawah Xavier.
Mereka semua langsung memperhatikan arah yang di tunjukkan oleh Ame, dan benar saja. Pusaka Xavier sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apapun dan masih dalam keadaan normal.
"Ja.. jadi…" Wanita itu merasa direndahkan. Bagaimana mungkin Xavier tidak tertarik meski dia sudah hampir memberikan segalanya kepada Xavier.
"Sial… bagaimana caraku untuk mengusir wanita ini dari sini? Kenapa dia sangat bersikeras untuk tetap berada disisiku dan menarik perhatianku? Huh… sejak hari itu, aku memang hanya memikirkan dirinya saja." Xavier hanya bisa mengepalkan erat tangannya.
Xavier sudah berusaha mengusir Ame, dengan menggunakan wanita lain. Namun dia malah tetap terlihat tenang dan semakin ingin menantangnya.
"Meskipun begitu, bukankah kau akan sama saja denganku? Ba.. bahkan dengan ku saja dia sudah tidak tertarik, apa lagi dengan dirimu." Wanita itu segera mencari cara untuk menyelamatkan harga dirinya.
"Benarkah? Kalau begitu aku semakin penasaran. Apakah tadi dia benar-benar berniat untuk mengusir ku sampai dia harus memanfaatkan mu, atau dia memang tidak ingin mengakui kebenarannya." Senyum licik Ame membuat Xavier semakin kesal dan marah.
"Cih… kau tidak lebih dari sekedar wanita murahan bagiku. Aku bisa mendapatkan puluhan wanita yang bisa memuaskan aku. Bukan wanita sepertimu." Tegas Xavier yang membuat Ame kehilangan kesabarannya.
"Mari kita buktikan!" Ame secara perlahan mendekati Xavier dan langsung duduk mengunci Xavier di antara kedua pahanya.
Dia melepaskan dasi milik Xavier, lalu mengikat kedua tangannya ke atas agar Xavier tidak melakukan apapun padanya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Xavier bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Ame.
"Jika kau benar tak tertarik padaku, diam di tempat dan biarkan aku membuktikannya." Bisik Ame pada telinga Xavier.
"Kau hanya takut kalau aku mencintaimu karena kau merasa kehidupan mu terlalu kotor bukan? Kau salah Zayn Xavier, karena aku sudah terlanjur mencintaimu dengan semua kehidupan mu itu." Suara lembut dan pengakuan tak terduga Ame membuat tubuh Xavier teraliri listrik, terlebih saat Ame, menggigit pelan telinganya.
"Aku menang!!!" Ame berlalu pergi meninggalkan Xavier yang sudah terengah-engah dengan wajah panas. Terlihat sangat jelas kalau dia berekasi berbeda dari wanita itu, bahkan pusakanya terlihat sesak dibawah sana.