Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Game Virtual atau Mimpi



Tatapan bengis dari Edward kepada Hike, membuatnya sangat ketakutan. Tubuhnya mengenali bahaya yang sedang dia hadapi, sehingga dia gemetar kuat dan napasnya berat serta sesak.


Pikirannya kalut dan terus berusaha untuk memahami situasinya. Dia memundurkan langkahnya, namun di tarik oleh Edward dan dijatuhkan ke lantai. Dia sengaja menaikkan jari telunjuk pada mulutnya agar Hike, tetap diam dan tak bersuara.


Hike mengangguk cepat dan Adeward melepas genggamannya kepada Hike, lalu kembali bersikap waspada. Dia memasang telinga dengan sangat baik pada pintu ruang rahasianya.


"Tunggu sebentar, bagaimana bisa aku mengatakan kalau dia adalah Edward Halland? Apa karena ini ingatan dari pemilik tubuh ini? Tapi dimana aku sebenarnya, bukankah tadi aku masih berada dikamarku?" Hike masih tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi pada dirinya.


"Apa ini semua karena aku memainkan game yang muncul pada layar handphoneku itu? Tapi kan aku sedang tidak memakai alat apapun dikepalaku saat ini untuk membuatku dapat memaikan game ini secara firtual. Ah tidak mungkin…" Hike menertawakan dirinya dalam hati.


"Aku sangat yakin kalau dia adalah Edward Halland. Sosoknya hampir sama persis dengan penggambaran yang ada pada komik yang aku baca, meski ketika melihat secara langsung seperti ini aku bisa tahu kalau dia benar-benar pria brengsek yang menakutkan." Batin Hike sembari terus memperhatikan Edward, dengan saksama.


Hike terus mencari tahu situasi yang sedang dihadapinya, namun dia tidak bisa menemukan apapun hingga sebuah suara dingin dan mengerikan terdengar dari balik ruangan tersebut.


Semua perkataannya terdengar jelas oleh Hike. Dia sangat ingat jelas kalau semua yang dikatakan olehnya sama persis dengan perkataan Xavier yang ada pada komik yang dibacanya.


"Aku.. aku masuk di dunia komik? Hahahaha… mana mungkin, sepertinya aku sudah berhalusinasi. Apakah ini karena efek terlalu lama menjomblo sampai aku mengharapkan kehadiran Xavier!" Hike menggeleng cepat karena logikanya menolak kenyataan yang sangat mustahil untuk terjadi tersebut.


"Tapi kalau ini tidak benar, kenapa semua yang dikatakannya benar-benar sama persis dengan yang ada di komik? Adegan ini memang benar terjadi ketika Xavier akan membunuh Edward. Namun dia akan mengalami luka yang parah karena tembakan yang persis hampir mengenai jantungnya." Gumam Hike mengingat semua adegan di komik yang dibacanya tersebut.


"Ssssshh… Ternyata sakit juga. Apa mimpi bisa se sakit ini yah? Sepertinya aku sudah benar-benar gila. Mungkin sebaiknya aku mulai ikut saran Mama, untuk pergi ke kencan buta lain kali." Batin Hike memegang pipinya yang kebas karena dia mecubitnya cukup kuat untuk membuktikan kalau semua itu hanyalah hayalannya saja.


Baru saja dia mengangkat wajahnya, Edward sudah menarik rambutnya dengan kasar. Dia menyeret Hike, lalu melemparnya ke hadapan Xavier sebagai bentuk pertukaran dengan anaknya.


"Ah.. aku hampir lupa dengan adegan ini. Gadis ini akan mati di tangan Xavier, karena sudah menjadi saksi dari semua pembunuhan yang dilakukan olehnya. Meski Xavier sempat terkena tembakan, dia tetap bisa membunuh Mae untuk menghilangkan jejaknya." Batin Hike, yang meringis sakit karena terjerembab ke lantai akibat lemparan Edward.


Hike secara perlahan-lahan mengangkat kepalanya untuk dapat melihat wajah Xavier. Namun karena tempat itu sedikit gelap, Hike jadi sedikit kesulitan untuk melihat wajahnya.


Garis rahang Xavier yang terlihat kokoh meski dalam kegelapan membuat Hike, yakin kalau dia benar-benar tampan seperti apa yang digambarkan pada komik.


"Meski ini hanya mimpi, rasanya aku sangat senang sekali karena bisa bertemu denganmu saat ini. Mendengar suaramu yang berat sudah membuat jantungku ingin lepas dari sarangnya. Jika saja aku bisa memeluk mu dan mendekapmu erat, mungkin aku akan lebih bahagia lagi." Batin Hike, sembari menyunggingkan senyum getir dan pahit.


Hike sangat yakin kalau semua yang terjadi saat ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Bagaimanapun dia berpikir, logiknya tetap menolak semua kemustahilan yang sedang terjadi padanya. Akan tetapi, disudut hatinya yang paling dalam. Dia berharap kalau semua ini adalah sebuah kenyataan.


"Lagi-lagi aku memikirkan yang tidak-tidak." Hike menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kau ternyata takut mati juga yah? Bukankah selama ini kau sangat senang bermain-main dengan kematian huh…" ucap Xavier pada wanita yang dibekapnya.


"Oh tidak… Xavier dalam bahaya. Apa yang harus aku lakukan? Setelah ini Edward akan berteriak dan melesatkan tembakannya kepada Xavier." Hike panik saat mendengar ucapan Xavier, tepat sebelum Xavier, mendapatkan tembakan dari Edward karena mengira dia tidak memiliki senjata.


"Toh juga aku akan mati, jadi sebaiknya aku menyelamatkan Xavier. Jika ini benar-benar mimpi, maka aku akan baik-baik saja. Mari kita lihat apakah game itu benar kalau aku bisa merubah jalan ceritanya. Oh iya.. ini kan mimpi. Bodo amatlah…" Hike berusaha bangkit dan segera melindungi Xavier, dari tembakan Edward.


"Ah… sakit sekali… kenapa bisa sampai se sakit ini? Bukannya ini hanyalah mimpi?" Batin Hike ketika tembakan itu menembus dadanya yang sebelah kanan.


"Apa game firtual ini dapat menghantarkan rasa sakit juga? Kalau benar, sepertinya aku harus mengajukan protes pada perusahaan yang sudah membuatnya. Ini bisa sangat berbahaya bagi yang menggunakannya." Batin Hike, memikirkan alasan lain dibalik rasa sakit yang dirasakan olehnya.


"Apa aku benar-benar akan mati seperti ini? Rasanya sesak sekali. Lucu sekali, aku mati dengan judul seorang wanita ditemukan tewas dikamarnya karena memainkan game firtual. Atau Seorang wanita tewas karena bermimpi bertemu dengan kekasih komiknya." Dia tersenyum lirih seiring dengan kesadarannya yang perlahan mulai menghilang.


"Sepertinya kematian ku dapat dijadikan sebagai judul FTV. Sekarang Bapak sama Mama tidak akan merasa malu dan terbebani lagi, karena anaknya yang belum nikah-nikah sudah meninggal." Hike yang di ambang kematian semakin berpikiran yang negatif.


"Ah… Wajahmu sangat tampan sekali rupaya. Aku sangat bahagia bisa mati dipelukan penjahat tampan sepertimu." Gumam Hike ketika Xavier wajah tampannya tersinari oleh bilan, sehingga dia bisa melihat dengan jelas.


Xavier mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh Hike, saat dia sudah mengarahkan senjatanya ke kepala Hike karena melihatnya mengalami kesakitan saat ajal menjemputnya.


"Xavier… Hiduplah dengan baik. Kau pasti bisa melakukannya tanpa harus terus menjadi seorang pembunuh. Kau juga bisa menemukan seseorang yang kau cintai, jika kau mau membuka hati untuknya." Ucap Hike dengan suara lirih.


"Ohok… ohok… ohok… Aku.. Aku Mencintaimu Xavier!" Hike langsung terjatuh dan kehilangan kesadaran tepat setelah terbatuk hebat mengeluarkan darah dan mengatakan isi hatinya.