Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Iblis Kecil Berdada Rata



Leo terdiam memikirkan semua yang sudah di katakan oleh Ame. Sulit baginya untuk percaya apa yang dikatakan oleh Ame, tentang dia yang akan bertemu dengan seorang wanita yang akan menjadi cahaya bagi Xavier. Namun semua hal yang Ame katakakan tentang masa Xavier, semuanya benar dan tak ada satupun hal yang terlewatkan.


Mereka terdiam beberapa saat. Tidak ada di antara mereka berdua yang berani membuka pembicaraan lagi. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


"Sudah aku bilang kau akan sulit mempercayai semua yang aku katakan, tapi didunia ini tak ada lagi orang yang bisa aku percayai selain dirimu." Ame menatap wajah Leo, dengan sangat serius dan tak ada satupun kebohongan dimatanya.


"Sial… meski aku tidak bisa mempercayai semua itu, tapi aku percaya padamu." Tegas Leo berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Wanita itu mungkin akan bertemu dengan Xavier, seberapapun kita berusaha untuk mencegah pertemuan mereka. Tapi kapanpun itu, aku harus terima kenyataan kalau Xavier sangat mencintainya dan melupakan perasaanku padanya." Ada sedikit kepahitan ketika Ame mengatakannya.


"Dibandingkan dengan bertemu dengan wanita itu, aku lebih mengkhawatirkan Xavier bertemu dengan orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya. Apakah kau…" Leo yang masih berbicara dengan sangat serius tiba-tiba berhenti karena suara ponsel dari Ame.


"Brakkkk!!!" Ame bangkit dari kursinya secara tiba-tiba dengan rahang yang mengeras dan wajah yang pucat.


"Ada apa?" Tanya Leo khawatir dengan ekspresi wajah Ame.


"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu terlihat sangat pucat?" Leo bangkit dari tempat duduknya mengguncang lengan Ame yang menggenggam erat ponselnya.


"Maafkan aku, tapi aku harus kembali ke rumah sekarang." Ucap Ame berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu.


"Aku akan mengantarmu!" Ucap Leo memimpin jalan, namun segera dihentikan oleh Ame.


"Tidak, aku tidak bisa membiarkan mu mengikuti ku. Temui aku di rumah sakit, akan aku jelaskan lebih detail setelah sampai disana. Ingat, kau dan aku belum pernah bertemu sebelumnya." Tegas Ame segera mengambil jaketnya sebelum akhirnya berlari keluar dari tempatnya mendapatkan pelatihan.


Meski Leo bingung dengan sikap Ame, namun sepertinya dia tahu apa yang sedang di hadapi oleh Ame saat ini. Leo sudah mencari tahu tentang kehidupan Ame.


Oceana Amelia merupakan seorang putri tunggal dari sepasang suami istri yang selama ini hidup berkecukupan. Namun karena ayahnya adalah seorang yang penuh ambisius, dia menjadikan Ame sebagai barang dagangan yang bisa ia jual ke setiap pria kaya yang memiliki ketertarikan kepada Ame.


Kejadian terakhir membuat Ame tidak ingin kembali kerumahnya tersebut, namun ada satu orang yang membuat Ame tidak bisa benar-benar melepaskan keluarganya, dan itu adalah ibunya.


Ibunya adalah satu-satunya tempat bergantung Ame selama ini. Bagaimanapun besarnya kebencian Ame kepada ayahnya yang sudah menjualnya bahkan menjadikannya sebagai tebusan untuk membayar utang, Ame tetap tidak bisa meninggalkan ibunya sendirian.


"Aku harap semuanya baik-baik saja. Tapi jika dia menyuruh ku untuk ke rumah sakit, itu mungkin saja berhubungan dengan ibunya yang sedang sakit." Leo akhirnya keluar dan menuju ke rumah sakit.


Begitu besar keinginan Leo untuk pergi ke rumah Ame, namun ketika memikirkan saat Ame melarangnya untuk tidak mengikutinya, Leo paham akan maksud dari Ame.


Ame tidak ingin Leo, terlihat bersama dengan dirinya. Ame tidak ingin Xavier mengetahui kalau Leo, sudah bersama dengan dirinya selama ini, sehingga dia menyuruh mereka untuk bertemu di rumah sakit saja.


"Triiinngg.. bzzztt!" Sebuah pesan masuk ke ponsel Leo.


"Oke baiklah. Kamu ber hati-hatilah" tulis Leo pada pesanannya.


Belum sempat Ame membalasnya, sebuah nama di layar ponselnya tampak melakukan panggilan masuk.


"Veronica?" Ucap Ame langsung menjawab panggilan telepon tersebut.


"Kamu dimana sekarang? Cepatlah, tante terus saja muntah-muntah dari tadi begitu aku sampai." Suara Veronica yang terdengar panik membuat Ame meminta kepada pak supit untuk mempercepat laju kendaraannya.


"Aku akan segera sampai, berikan pijatan pada bagian tengah belakang kepalanya. Itu akan mengurangi rasa mualnya." Pinta Ame dengan nada suara tenang. 


"Ame… aku lupa mengambil obat ibumu. Dia sangat membutuhkan obat itu, sebaiknya kau kerumahmu dulu untuk mengambilnya. Jangan khawatir, Ayahmu tidak berada dirumahmu saat ini." Ucap Veronica sebelum mengakhiri percakapan mereka.


"Aku tau.. Terimakasih banyak Vero." Ucap Ame tulus, lalu mematikan ponselnya dengan segera lalu kembali meminta supir untuk kembali mempercepat laju kendaraannya.


Ibunya saat ini sedang bersama Veronica, sahabat satu-satunya Ame sejak kecil. Hanya Veronica yang mengetahui semua hal yang berhubungan dengan Ame, sehingga ketika Ame di jual oleh ayahnya, Ame meminta kepada Veronica, untuk menjemput ibunya agar dia tidak tahu kejadian tentang dirinya.


Meski selama sebulan penuh ini dia terus bertanya tentang Ame, untunglah dengan ibunya berada dirumah Veronica. Ame jadi bisa mengunjungi ibunya, sedang ayahnya mengira kalau Ame sudah meninggal karena pembantaian yang dilakukan oleh Xavier.


Hike menggenggam ponselnya dengan sangat erat karena sangat khawatir. Dia takut terjadi sesuatu kepada ibu Ame.


"Aku tau dia bukan ibuku, tapi aku tau kalau kau sangat menyayangi ibumu bahkan berusaha melindunginya dengan nyawamu." Batin Hike merasa bersalah karena jika Ame yang mengetahui hal ini, mungkin saja dia tidak bisa berdiri dengan baik.


"Aku sudah mengambil kehidupanmu karena ke egoisanku untuk bertemu dengan Xavier, untuk itu biarkan aku membalas budi dengan melindungi ibumu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya." Hike hanya ingin melakukan satu hal yang berharga bagi Ame, setidaknya dengan membiarkan ibunya bisa hidup dengan nyaman.


"Tunggu sebentar yah pak… saya hanya sebentar saja." Pinta Ame yang di jawab anggukan oleh pak supir tersebut.


Ame dengan segera berlari menuju ke rumahnya. Begitu sampai di depan rumah, dia menjadi sedikit ragu untuk masuk di dalam rumahnya.


Meskipun Veronica berkata kalau ayahnya berada di luar, tapi dia sangat berharap kalau pria itu berada di dalam rumah itu.


"Jika dia berada di dalam rumah, aku ingin sekali melayangkan tendangan berputar ke wajahnya. Toh dia juga bukan ayahku, jadi aku bisa memberikan dia pelajaran berharga. Anggap saja aku membantu Ame melampiaskan amarahnya." Gumam Hike dengan ekspresi kesalnya, namun kemudian dia mengatur napas lalu membuka pintu rumahnya.


"Buggghhhh" sebuah tangan yang sangat kesar segera membuat tubuh Ame melayang ke udara dengan leher yang sudah tercekik.


"Akhirnya kau pulang juga iblis kecil berdada rata!" Xavier sedang tersenyum menakutkan dihadapan Ame.