
Brina yang merasa sangat puas setelah melihat wajah dan tubuh Ame yang tampak kacau balau segera kembali dan bertemu dengan teman-temannya.
"Apa yang sudah kau lakukan pada wanita itu?" Tanya seseorang sembari mengangkat gelas minumannya.
"Seperti biasa, bukankah hal ini sering kita lakukan?" Ucap Brina membuang diri ke atas sofa dengan perasaan sangat puas.
"Hahahahha… Kau memang selalu saja kejam. Tak ku sangka kali ini kau bahkan sampai menyewa orang lain untuk memperkosanya." Terang yang lainnya lagi dengan tertawa jahat.
"Wanita itu… Aku benar-benar sangat ingin menghancurkannya. Aku harus menunjukkan pada dia, dengan siapa dia berurusan sebenarnya." Tegas Brina meminum alkoholnya dengan sekali teguk.
Tepat saat mereka sedang berbicara dengan asiknya, tiba-tiba Xavier tampak berjalan kesana kemari mencari Ame. Brina yang melihat Xavier, segera menghampirinya.
"Tu.. Tuan. Apa aku bisa menemanimu malam ini?" Tawar Brina dengan memajukan buah dadanya dihadapan Xavier. Meski dia sangat takut pada Xavier, namun dia sudah tidak bisa menahan hasrat dalam dirinya, terlebih karena sudah ditolak oleh Ghio sebelumnya.
"Pergilah… Kau tau kalau aku tidak akan menyentuh gadis yang sama untuk kedua kalinya." Tolak Xavier dengan sangat kasar.
"Ta.. Tapi bukankah waktu itu kita belum melakukan apa-apa? Kau hanya mencumbuiku saja, dan kita belum sampai ke tahap melakukannya. Malam ini aku akan melayani tuan dengan sebaik mungkin." Brina memainkan jarinya di dada Xavier dengan begitu berani.
"Brakkk!" Xavier mendorong Brina dengan tatapan membunuh.
"Sebaiknya jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi dihadapanku." Ancam Xavier kepada Brina dengan aura yang sangat mengerikan, hingga beberapa wanita yang menyaksikan hal tersebut ikut merasakan takut yang sangat mendalam.
"Apa karena wanita itu?" Brina yang sudah mendapatkan penolakan dari Xavier, sudah tidak lagi peduli. Amarahnya mengalahkan rasa takutnya, karena ingin tahu kebenaran dari sikap Xavier.
"Bukan urusanmu!" Tegas Xavier segera beranjak pergi dari hadapan Brina.
"Sayang sekali…" ucapnya sembari tertawa jahat. "Kau juga tidak suka pada wanita yang sudah disentuh orang."
Xavier kembali berbalik saat mendengar apa yang sudah dikatakan oleh Brina.
"Apa maksudmu?" Tatap Xavier tajam pada Brina.
"Kenapa? Bukankah kau tak peduli pada wanita itu. Apapun yang aku lakukan pada setiap perempuan yang berusaha mendekatimu selama ini juga kau tak peduli. Kau juga tak melakukan apapun padaku karena aku selalu bisa menjauhkan para wanita-wanita itu untukmu. Bahkan wanita yang pernah tidur denganmu pun juga sudah aku buat untuk tak pernah kembali lagi. Semuanya tak pernah kau pedulikan, kenapa sekarang kau tampak sangat gusar?" Brina melangkah mendekati Xavier. Dia tidak tahu kalau apa yang sedang dia katakan saat ini sudah membangkitkan jiwa iblis yang berada dalam diri Xavier.
"Aku akan katakan dimana wanita itu, jika kau memberikan aku kesempatan yang sama. Bukankah hal ini juga tidak akan merugikanmu?" Bisik Brina dengan sangat sensual di telinga Xavier.
"Heeekkkhhh!" Xavier langsung mencekik kuat leher Brina. Sungguh berani Brina memancing emosi pria mengerikan dengan segala kejatahan tanpa rasa takut untuk membunuh.
"Sepertinya kau sudah salah paham padaku. Aku membiarkanmu berada disekitar ku karena kau sudah memberikan banyak keuntungan bagiku. Tapi kau sudah salah mengira kalau aku tertarik padamu, dan sekarang kau berani menyentuh wanita milikku?!" Suara dingin Xavier berhasil membuat seluruh tubuh Brina merinding hebat.
Saat ini yang terlihat dimatanya bukanlah Xavier yang tampan dan seksi, namun seorang pembunuh berdarah dingin dengan malaikat pencabut nyawa yang berada dibelakangnya tertawa dengan seringai mengerikan karena akan mengambil nyawa Brina.
"Katakan padaku dimana wanita itu sekarang!" Perintah Xavier, namun wanita itu sudah tidak punya kekuatan dan keberanian untuk membuka mulutnya.
"Krekkkk!!!" Suara tulang yang patah membuat tubuh Brina berhenti memberontak. Dia mati ditangan Xavier dengan sangat mudah.
"Kyaaaa!" Teriak mereka dengan sangat heboh saat melihat wajah Brina yang tampak membelalakkan matanya.
"Sebaiknya kalian memberikan aku jawaban yang bagus, jika kalian ingin hidup dan tidak berakhir seperti dirinya." Ucap Xavier pada mereka sembari menginjak kepala Brina dan menghancurkannya karena merasa belum cukup puas, sekaligus sebagai peringatan pada mereka.
Xavier tidak akan memberikan pengampunan pada mereka yang tidak menjawabnya ataupun yang berbohong padanya.
"B.. Bri.. Brina menyuruh se.. seorang untuk mem.. memperkosa seorang wanita di.. di toilet. Mungkin wanita itu yang tu tuan cari." Jawab salah seorang diantara mereka dengan suara yang tercekat dan bergetar karena sangat ketakutan.
Mendengar keributan yang sedang terjadi membuat Ricky dengan cepat menghampiri sumber suara.
"Tuan…" Panggil Ricky begitu sampai didekat Xavier.
"Bunuh mereka semua!" Perintah Xavier dengan sangat dingin.
"Baik!" Ucap Ricky cepat tak berani membantah saat melihat aura hitam yang menyelimuti tubuh Xavier.
Xavier segera berlalu pergi menuju ke tempat yang sudah di katakan oleh wanita sebelumnya. Kakinya yang melangkah dipenuhi dengan amarah yang sangat meluap-luap.
Didepan pintu toilet wanita terlihat
"Ah.. Ma.. Maaf Tuan. Toiletnya sedang kami perbaiki." Terang salah seorang yang menjaga pintu toilet. Meski tidak tahu siapa pria yang sedang berjalan menuju ke toilet wanita tersebut, namun dia segera menghadangnya agar tidak mengganggu bosnya yang sedang bersenang-senang di dalam dengan dia yang menunggu giliran.
"Creeerssshhh!" Lehernya seketika menyemburkan darah yang sangat banyak.
"Hai.. apa yang sudah kau lakukan? Teriak seseorang yang melihat Xavier telah membunuh salah seorang teman mereka.
"Brengsekkkk…" teriak yang lainnya lagi langsung melayangkan hujaman pisaunya kearah Xavier, namun pisau itu berhasil diraihnya dengan sangat mudah, lalu dia tancapkan ke mata pria itu.
Pria yang lainnya juga tak ketinggalan ingin memberikan pukulannya pada Xavier, namun yang dia dapatkan malah leher yang diputar dengan sangat mudah oleh Xavier dan dibenturkan ke dinding.
Xavier melakukan semua itu dengan ekspresi yang datar, seolah semuanya bukan apa-apa. Setelah membunuh tiga orang tersebut, Xavier langsung menendang keras pintu toilet dan mendapatkan seorang pria sedang merobek-robek pakaian Ame.
"Siapa kau?!" Bentaknya marah karena merasa terganggu dengan kehadiran Xavier.
"Ame!!!" Teriak Xavier kaget.
"Brakkk!!!" Pria itu langsung terlempar jauh membentur bilik toilet hingga menghancurkannya.
Melihat tubuh Ame yang kacau balau membuat mata Xavier menggelap seketika. Dia segera mengangkat tangan pria itu dan mematahkan kedua tangannya, setelah sebelumnya menginjak dengan kuat jari-jarinya. Dia juga mematahkan kaki pria tersebut tanpa ampun.
Teriakan pria itu terdengar sangat keras. Namun Xavier langsung menutup mulutnya dengan tisu toilet yang ada, lalu menenggelamkan kepalanya kedalam toilet sembari menyiramkan air kedalam toilet tersebut.
"Huu.. Ugh!" Tubuhnya berhenti memberontak.