
Melihat punggung Leo yang terkena tumpahan kopi karena berusaha untuk melindunginya, membuat Veronica jadi merasa sangat bersalah. Dia sangat takut kalau punggung pria mahal yang merupakan seorang dokter muda berprestasi itu akan terkelupas dan luka.
“Kalian baik-baik saja?” Ucap Ame bersikap khawatir pada mereka sembari membantu mereka untuk bangkit dari posisi mereka di lantai.
“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Aku harus ke toilet dulu sekarang untuk membersihkan tumpahannya.” Leo segera berjalan menuju ke toilet dengan sedikit meringis sakit pada pergelangan tangannya.
Leo yang meringin sakit itu membuat Veronica semakin khawatir. Tidak hanya punggungnya saja, namun juga tangannya ikut terkilir karena tadi berusaha agar tubuh Veronica tidak terbentur ke lantai dengan sangat keras. Dia yang semula sangat membenci Leo karena mengetahui sikap brengseknya, kini merasa sangat bersalah karena sudah salah paham padanya.
“Ame… Apa yang harus aku lakukan? Dia terluka karena berusaha untuk melindungiku tadi.” Tatap Veronica kepada Ame dengan sangat khawatir.
“Jangan menatapku seperti itu, aku jadi merasa semakin bersalah karena sudah merencanakan ini semua. Yah… Meski sekarang kau sudah terlihat simpatik padanya, tapi aku tak menyangka rencanaku bisa membuat Leo jadi celaka seperti itu.” Ame jadi merasa sangat bersalah pada Leo.
“Apa lagi? Tentu saja kau harus mengobatinya. Buat apa menatapku khawatir seperti itu. Kau taukan dia tidak akan mungkin bisa mengobati punggungnya sendirian. Jika tidak segera di oleskan salep, lukanya bisa menjadi semakin parah. Selain itu, tangannya juga ikut terluka. Pergilah, biar aku yang membereskan kekacauan ini.” Ame dengan cepat mendorong tubuh Veronica, agar ia bisa menyusul Leo dan membantunya mengobati punggungnya.
Meskipun sempat merasa ragu, namun setelah memikirkan bahwa semua itu memang karena kesalahannya yang tidak hati-hati membuatnya dengan segera berlari menyusul Leo. Ame hanya bisa tersenyum melihat kepanikan Veronica, sembari melangkah pada sang manager dan menjelaskan semuanya.
“Le… Leo? Apa kau masih di dalam?” Tanya Veronica dengan sangat hati-hati. Dia juga sudah berada di depan toilet dengan tangan yang memegang sebotol salep luka bakar.
“Huh?! Ve.. Veronica! Apa yang kau lakukan disitu?” Leo seketika terkejut saat mendengar suara Veronica di depan toilet pria. Dia yang sudah setengah telanjang semakin gugup bahkan tampak menutupi tubuhnya, takut kalau Veronica masuk dan mendapati tubuh telanjangnya.
Entah kenapa dia tidak ingin Veronica melihatnya dalam keadaan seperti itu, takut Veronica akan mengiran dirinya adalah pria mesum karena bertelanjang dada di hadapannya. Dia sangat mengkhawatirkan penilaian veroniva terhadap dirinya, sedang dia malah tidak memperdulikan penilaian orang lain padanya seburuk apapun itu.
“Apa kau sedang sendiri di dalam? Aku membawakan salep untuk mengobati punggungmu.” Ucap Veronica sembari menatap salep yang ada ditangannya.
“Oh… Ya aku sendiri saja di dalam sini. Terimakasih karena sudah membawakan salep itu, tapi aku baik-baik saja jadi tidak perlu khawatir.” Jawab Leo menatap punggungnya yang tampak memerah di balik cermin.
“Tidak… Aku tidak akan bisa tenang jika kau belum mengobatinya. Aku tau kalau kau adalah seorang dokter, tapi tetap saja kau harus mengoleskan salep ini untuk bisa meredakan rasa nyeri di punggungmu. Jika kau tidak melakukannya, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.” Tegas Veronica tidak bisa membiarkan Leo mengabaikan punggungnya yang terkena siraman kopi panas begitu saja.
“Baiklah kalau begitu… Tunggu sebentar, aku akan mengambil salep itu.” Leo akhirnya pasrah karena tak ingin Veronica merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi.
“Cklek!” Suara pintu terbuka membuat Veronica dengan gugup menjauhkan tubuhnya. Pintu itu hanya terbuka Sebagian, sehingga Veronica hanya bisa melihat tangan Leo saja yang menjulur kepadanya.
“Berikan padaku salepnya!” ucap Leo dari balik pintu.
“A… Apa yang kau lakukan? Berikan saja padaku salep itu. Aku masih bisa menggunakan tanganku yang sebelahnya lagi.” Leo lalu menyodorkan tangannya yang lain kepada Veronica, untuk meminta salep yang sudah dibawanya.
“Tck… Dasar pria keras kepala.” Veronica mendorong dengan keras pintu toilet itu hingga ia berhasil masuk kedalam. Leo sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Veronica, sehingga dia berbalik badan dengan cepat karena malu dan Veronica juga memalingkan wajahnya ketika melihat tubuh telanjang Leo.
“Got damn… Tubuhnya seksi banget!” Batin Veronica dengan wajah yang memerah malu.
“Apa yang kamu pikirkan sebenarnya dengan menerobos masuk ke dalam toilet pria? Jika kau hanya merasa bersalah karena kejadian tadi, kau tidak perlu melakukan itu karena aku baik-baik saja.” Ucap Leo dengan kepala sedikit menoleh ke belakang untuk melihat Veronica.
“Huh??? Apa kau pikir dengan punggungmu yang hampir memerah semua itu bisa di bilang baik-baik saja?” Veronica sengaja menyentuh kulit punggung Leo untuk memastikan kondisinya, namun Leo seketika meringis pedih karena sentuhan Veronica sedikit kasar.
“A… Aku akan baik-baik saja setelah mengobatinya.” Ucap Leo langsung menarik salep di tangan Veronica lalu menuju ke depan cermin untuk mengolesi punggungnya.
“Berhentilah bersikap keras kepala dan biarkan aku yang membantumu mengolesinya.” Veronica juga tak mau kalah dan langsung merebut salep itu dari tangan Leo.
“Kau…” Baru saja Leo akan melakukan protes pada Veronica, terdengar derap langkah kaki mendekati pintu toilet. Veronica yang kaget dengan segera menarik tangan Leo masuk ke sebuah ruang loker paling ujung, dimana ruang itu digunakan sebagai menyimpan alat-alat pembersih toilet.
“Apa yang.. Umphhh!” Leo tidak sempat berbicara apapun.
Keduanya saling berhimpitan satu sama lainnya di dalam loker itu, bahkan Veronica sudah membungkam mulut Leo agar dia tidak mengatakan apapun.
“Suusssttt” Veronica memperingatkan Leo, sehingga Leo hanya bisa mengangguk pasrah.
“Hei kemeja siapa ini?” tanya salah seorang pria ketika melihat kemeja Leo yang dipenuhi noda kopi.
“Entahlah… Mungkin seseorang sedang mencoba membersihkan bajunya karena terkena tumpahan kopi.” Jawab pria yang lain dengan cuek. Mereka lalu melanjutkan obrolan mereka, tanpa memperdulikan lagi siapa pemilik kemeja tersebut.
“SShhhh…” Leo mendesis pelan saat bagian punggungnya menyentuh dinding karena berusaha mempertahakan jarak diantara mereka. Melihat Leo yang tampak kesakitan, Veronica langsung menarik pinggang Leo hingga menempel pada tubuhnya.
“Mendekatlah padaku agar punggungmu tidak terkena dinding.” Bisiknya hangat di telinga Leo, hingga sekali lagi aliran listrik maha dasyat menjalar keseluruh tubuhnya.
“Lepaskan aku Veronica… Kau sudah melakukan kesalahan fatal sekarang!” Leo segera mendorong pelan tubuh Veronica dan menjauhkan dirinya. Dia memegang kepalanya yang sedikit pening dengan apa yang dilakukan oleh Veronica saat itu.