Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Tetaplah Disini



Ame yang jatuh lemas di pelukannya membuat Xavier menggertakkan giginya dengan sangat kuat.


"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau yang berkata kalau kau tidak peduli dengan wanita itu?" Frank tampak sangat terkejut saat Xavier datang dan menyelamatkan Ame.


Xavier menatapnya dengan sangat tajam sembari menggendong tubuh Ame.


"Aku akan menganggap hari ini tidak pernah terjadi, tapi sebaiknya kau tidak pernah juga menampakkan wajahmu dihadapan ku maupun dihadapannya. Saat kau masih berani melakukannya, maka kematian sederhana tidak akan aku berikan dengan mudah padamu." Ancam Xavier dengan nada bengis yang menyeramkan.


"Apakah itu artinya kau suka pada wanita itu sekarang?" Tanya Frank sekali lagi memberanikan diri, meski dia juga marah karena dia tertarik pada Ame.


"Apa yang aku anggap sebagai milikku tidak akan pernah aku biarkan orang lain menyentuhnya, termasuk dirimu!" Tegas Xavier berlalu pergi meninggalkan Frank yang langsung menendang meja dengan penuh amarah.


Ricky segera membukakan pintu mobil untuk Xavier. Ame masih tetap berada dalam pelukan dan pangkuan Xavier, karena tak ingin lepas darinya.


"Apakah kita akan kerumah sakit?" Tanya Ricky memastikan arah yang harus mereka tuju terlebih dahulu.


"Tidak perlu, kembali saja ke Hotel." Pinta Xavier untuk kembali ke Penthouse dimana ia tinggal.


Xavier memang lebih memilih untuk merawat Ame di rumahnya sendiri dibandingkan dengan membawanya ke rumah sakit. Dia sama sekali tidak memiliki kepercayaan terhadap rumah sakit, dan hanya akan memanggil Leo saja.


"Xavier… tidak… Aku… waktuku tidak banyak. Kau tidak boleh mati." Gumam Ame dalam keadaan tidak sadar, semakin menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan Xavier.


Xavier hanya bisa memeluk Ame dengan sangat erat seolah wanita itu akan hancur dan remuk serta menghilang jika dia melepaskan pelukannya. Xavier tidak paham apa yang sudah digumamkan oleh Ame, namun dia sangat merasakan takut yang teramat sangat setelah mendengar kata-kata itu.


"Cepat sedikit, sepertinya dia sudah mulai demam." Perintah Xavier kepada Ricky, untuk mempercepat laju mobilnya.


"Uggh… huhh.. huh.. huh…" Ame tampak mendesah lemah diatas kasur dengan Leo, yang masih memeriksa kondisinya.


"Kenapa setiap kali aku bertemu dia, keadaannya harus seperti ini terus? Apa dia pikir dirinya kuncing? Memiliki tujuh nyawa yang bisa dia buang kapan saja." Ketus Leo menggeram kesal karena keadaan Ame.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Xavier dengan nada dingin.


"Apa itu ekpresi yang sedang khawatir?" Tatap Leo pada Xavier, yang menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali.


"Jawab saja!" Bentak Xavier kesal.


"Gasp.." Leo merasakan aura hewan buas yang sudah siap untuk menerkamnya.


"Umm.. Dia baik-baik saja. Obat pelumpuh yang ada ditubuhnya sudah aku nertralkan. Demamnya mungkin akan tinggi saat malam nanti, tapi aku juga sudah memberikannya penurun panas. Biarkan saja dia beristirahat dengan cukup." Pinta Leo bangkit ingin memberikan perawatan pada Ame, namun tangannya segera di hentikan oleh Xavier.


"Pulanglah, biar aku yang melakukannya." Usri Xavier kepada Leo yang sudah menujukkan wajah kecewanya.


"Jahara… ini namanya habis manis, sepah di buang." Leo memperlihatkan ekspresi sedih dengan mata berkaca-kaca.


"Kau ingin lemparkan lewat jendela." Tunjuk Xavier pada jendelanya yang setengah terbuka.


Penthouse milik Xavier berada di lantai paling atas hotel miliknya yang berjumlah seratus lantai. Leo segera membuang wajahnya yang berating sebelumnya dan segera mundur secara perlahan-lahan bagai seorang butler pada tuannya.


Melihat wajah Ame yang tampak sangat kesakitan, Xavier segera menurunkan suhu Ace-nya dan secara perlahan-lahan naik ke atas ranjang. Dia membuka selimut dan masuk kedalam berbaring di samping Ame dan memeluknya erat.


"Ummhhh.. Aroma Xavier. Hangat sekali." Gumam Ame dengan desahan yang langsung membuat tubuh Xavier menegang seketika saat tiba-tiba Ame, langsung memeluk balik Xavier, dengan sangat erat.


"Kenapa kau selalu bisa membuatku khawatir seperti ini?" Ucap Xavier dengan suara lembut yang belum pernah terlontar dari mulutnya sebelumnya.


"Hummph.." nafas hangat Ame yang masuk ke ceruk leher Xavier membuatnya langsung mengangkat dagu Ame.


Xavier yang tak tahan dengan aroma tubuh Ame yang terpancar kuat karena dia yang berkeringat dingin membuatnya terbuai dan merasakan candu yang sangat kuat.


"Ummm.. hah.. hah.. ha.." Ame hampir kehilangan napasnya karena ciuman Xavier yang sangat intens.


"Aaarggghhh… kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku seperti ini. Aku seperti sedang memperkodok seorang wanita yang masih sakit. Apa sih yang aku pikirkan." Xavier menjambak rambutnya dengan sangat frustasi karena Ame.


Dia yang merasa tidak bisa bertahan jika terus berada di sisi Ame, memilih untuk bangkit dari tempat tidurnya.


"Tidak… tetaplah disini." Ame menahan tangan Xavier untuk tidak beranjak pergi dari sana.


"Sabar..  ini ujian!" Xavier mau tidak mau kembali berbaring kembali dan memeluk Ame erat.


Mereka tertidur hingga pagi hari dengan Xavier yang benar-benar terlelap. Dia yang selama ini tidak bisa tidur dengan baik bisa tertidur seperti anak kecil dipelukan Ame.


Ame yang demamnya sudah agak turun terbangun lebih dahulu. Dia sedikit terkejut saat melihat wajah Xavier ketika pertama kali membuka matanya.


"Tampan sekali. Bagaimana mungkin seorang pembunuh berdarah dingin ini bisa se tampan ini." Batin Hike yang dengan gilanya malah mengagumi wajah Xavier.


Dia yang tahu Xavier seperti apa tidak bisa menyembunyikan kenyataan kalau pria itu memang memiliki pesona yang sangat mematikan untuk dirinya.


"Alisya yang tebal, sudut matanya tajam, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung dan…" Ame perlahan-lahan menyentuh bibir Xavier, karena takut membangunkannya.


"Bibir nya yang seksi." Dia mengelus bibir Xavier dengan ibu jarinya.


"A.. apa yang aku pikirkan? Bagaimana mungkin ada wanita semesum aku sih." Hike tersadar dari lamunan joroknya saat mengingat Xavier menyerangnya dengan sangat garang.


"Triiing…" sebuah peringatan muncul dihadapannya.


"Kemampuan baru dimunculkan. Anda memiliki kemampuan tahan terhadap obat pelumpuh." Tulisan bergambar itu membuat Hike marah dengan menggetarkkan giginya.


"Muncul sekarang apa fungsinya sih…" urat di kepala Ame tampak timbul satu persatu karena kesal.


Melihat peringatan waktu yang tersisa membuat Ame bangkit secara perlahan-lahan. Dia sedikit kesulitan saat melepaskan tangan Xavier, yang memeluknya dengan sangat erat.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ame frustasi karena beberapa adegan yang seharusnya tidak ada malah muncul dengan sendirinya.


"Semuanya jadi sedikit kacau sekarang, apa semua ini karena kehadiran diriku? Aku memang berniat untuk mengubah sedikit jalan ceritanya untuk menyelamatkan Xavier, tapi jika semua terjadi tanpa di duga. Aku akan kesulitan untuk memprediksi kejadian berikutnya." Gumam Ame berjalan ke kiri dan kekanan karena bingung.