Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Wanita Gila



"Zrassshhhh.." deru air yang terus mengalir membasahi tubuh Xavier. Dia mandi untuk membersihkan dirinya dari darah membasahi seluruh tubuhnya.


"Ah… Sial. Kenapa aku terus memikirkan wanita ini? Siapa sebenarnya dia. Kenapa tatapannya seperti itu ketika melihatku. Selain itu, dia seolah sudah mengenalku dalam waktu lama di saat aku baru pertama kali melihatnya." Gumam Xavier, frustasi di bawah pancuran air hangat yang terus mengguyurnya.


"Dia juga sangat bodoh dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Dia pikir aku tidak bisa menghindari tembakan itu. Bukkk..." Xavier kesal memukul dinding karena ada seorang wanita yang menganggapnya remeh.


"Huhhh… aku bahkan lebih bodoh lagi karena membawa dia ke tempat ku dan membiarkan dia berbaring di atas ranjangku sekarang." Xavier mematikan showernya, memakai handuknya lalu melangkah keluar.


Tanpa sepengetahuan Xavier, Hike sudah mulai sadarkan diri. Dia perlahan-lahan membuka matanya yang terasa sedikit berat. Rasa kantuk yang cukup hebat menyerangnya, namun rasa sakit di bahu kanannya jauh lebih terasa sehingga dia perlahan-lahan duduk.


"Dimana ini? Ini… sepertinya bukan kasurku." Gumam Hike berusaha untuk mengenali daerah sekitarnya.


Dia berada di kamar yang sangat luas dan begitu mewah. Kamar yang begitu terang dengan wangi lembut yang membuat Hike, merasa tenang.


"Oh Iya.. aku ingat kalau.. aku bermimpi bertemu dengan Xavier. Aku belum bisa melihat wajahnya dengan benar. Andai saja mimpiku belum berakhir." Pikirannya malah kembali pada Xavier, bukannya mengkhawatirkan dimana keadaannya serta keberadaannya dirinya saat itu.


"Ceklek…" Xavier keluar dari kamar mandi menatap Hike yang sudah sadarkan diri.


"Kamu ternyata kuat juga. Bisa sadarkan diri lebih cepat dan sudah terduduk seperti itu." Ucap Xavier kepada Hike, dengan suara beratnya yang dingin dan tatapannya yang cuek.


Hike tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Xavier, karena saat ini dia sedang terfokus dengan tubuh kokoh dan bersinar karena pantulan cahaya pada titik-titik air di roti sobeknya.


"Bodo amat… mau ini game virtual atau mimpi, aku sebaiknya memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya." Hike berusaha bangkit dari ranjang.


"Hei.. apa kau gila? Tubuhmu masih lemah karena banyak kehilangan darah. Lukamu bisa terbuka jika kau bergerak. Meski kau ingin mati, sebaiknya kau lakukan itu di tempat lain saja." Xavier segera marah dengan Hike yang begitu ceroboh bangkit dan berjalan menghampirinya.


Pikiran Hike kosong. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Xavier. Baginya bisa melihat secara langsung adegan dan gambaran yang hanya ada di komik bukanlah hal yang bisa dilewatkan begitu saja.


"Apa kau tuli? Kenapa kau tidak mendengar kata-kata…" Xavier tiba-tiba berhenti berbicara saat tangan hangat Hike, sudah menyentuh dadanya yang bidang.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Xavier menepis tangan Hike dengan kesal.


Hike malah tidak peduli dan menatap tajam ke arah Xavier. Dia bahkan terlihat penuh amarah sehingga membuat Xavier, kebingungan dengan ekspresi yang di tunjukan oleh Hike.


"Kenapa karakter game virtual di buat sekasar ini sih? Bagaimana cara membuatnya untuk berdiam sejenak yah? Aku ingin membuatnya tak bergerak dan diam agar aku bisa menatapnya sepuasku." Xavier mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang sedang dikatakan oleh Hike.


"Kita coba saja!" Ucapnya sekali agi lalu menatap Xavier tegas.


"Jangan bergerak dan diamlah." Tegasnya memberi perintah.


"Huuuhhh.. sepertinya aku sudah salah membawa orang ke dalam rumahku. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan diriku terpengaruh oleh wanita gila sepertinya." Xavier larut dalam pikirannya menyesali perbuatannya yang membawa Hike ke apartemennya dan mengobatinya.


"Yah.. setidaknya aku hanya ingin membalas apa yang sudah dia lakukan. Setelah dia sudah sembuh dan lukanya menutup, kami tidak akan ada hubungan apa-apa lagi." Dia yang terus terdiam membuat Hike, tersenyum senang.


"Akhirnya dia diam juga. Sekarang kita lanjutkan menikmati pemandangan indah ini." Hike yang kembali menyentuh tubuh Xavier dengan begitu liar membuat Xavier tertegun. Wajah dan tubuhnya seketika memanas oleh sentuhan lembut wanita itu.


"Apa yang sedang dipikirkan oleh wanita ini sebenarnya?" Batin Xavier yang dengan patuhnya tetap berdiam diri dan membiarkan semua yang dilakukan Hike padanya.


"Tubuhmu dipenuhi oleh banyak luka-luka. Meski semua sudah tertutup dan sembuh, tapi bekas ini takkan pernah hilang sampai kapanpun. Meski begitu, tubuhmu ini benar-benar sangat seksi." Xavier bingung dengan perubahan ekspresinya yang sangat cepat. Semula dia terlihat sangat sedih, namun detik berikutnya dia tersenyum seperti seorang psikotpat.


"Semua luka yang ada ditubuh mu masih aku ingat dengan jelas dari mana saja kau mendapatkannya. Sebagian besar dari mereka kau dapatkan dari ibu tirimu dan sebagian lagi dari pertarungan mu ketika membunuh." Gumam Hike terus menelusuri luka-luka ditubuh Xavier.


Xavier tak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Hike, namun dia masih tidak ingin bersaksi dengan semua perkataannya karena ingin tahu lebih lanjut. Dia tidak mau jika dia bereaksi, maka bisa jadi wanita itu mungkin tidak akan berkata apa-apa lagi.


"Bagaimana bisa wanita ini begitu cerobohnya berbuat seperti ini tanpa merasakan aura seorang pembunuh yang tidak pernah bisa aku hilangkan ini?" Batin Xavier menatap Hike yang masih tertunduk sedih memikirkan semua luka-lukanya.


"Semua luka di tubuhmu memang tidak berarti, karena luka utamamu ada disini." Hike menaruh telapak tangannya di dada Xavier, tepat dimana organ yang bernama hati terletak.


"Tapi jangan khawatir, selama aku bermain game ini. Aku akan menjadi orang yang bisa kau anggap sebagai rumah. Kau bisa melampiaskan semuanya kepadaku. Saat kau kehilangan arah, merasa sedih, marah dan tak punya tempat untuk bersanda. Aku akan ada untukmu." Ucapnya dengan lantang yang langsung membuat Xavier, membelalakkan matanya tak percaya.


"Tapi… apa game bisa melakukan itu? Ah.. kita lihat saja nanti. Sekarang kita lanjutkan menjelajahnya." Dia kembali tersenyum membuat Xavier tidak tahan lagi dengan semua yang dilakukan olehnya.


"Pantas saja aku mencintaimu, wajahmu tampan, tubuhmu juga sangat seksi. Penggambaran mu di komik itu benar-benar sama persis. Terlebih aku sangat menyukai rambutmu. Tatapan matamu yang tajam ini saja sangat mempesona bagiku." Xavier yang semula sudah siap membuka mulutnya dan menaikkan tangannya tiba-tiba terhenti.


"Hmmm.. menarik!" Batinnya ingin tahu lebih lanjut tentang penilaian wanita itu. Selama ini setiap wanita yang jatuh ke dalam pelukannya tidak berani menatapnya langsung seperti yang Hike lakukan saat ini.


"Tapi ada satu hal yang membuatku penasaran, apa game virtual akan membuatnya terlihat sangat detail nggak yah.. aku benar-benar ingin melihatnya." Mata Hike kini sudah tertuju pada bagian bawah Xavier, yang masih tertutupi oleh handuk pendeknya.