
Pelukan Xavier perlahan-lahan membuatnya menjadi lebih tenang. Cukup lama mereka berdua berpelukan, hingga Ame mulai tersadar kalau saat ini dia sedang berada di pelukan hangat Xavier.
"Ya tuhan… Pelukan ini sangat hangat. Aku harap bisa seperti ini dalam waktu yang lama. Sistem, kau terlalu jahat jika hanya memberika waktu kurang dari dua bulan lagi sekarang." Ame semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan Xavier, membuat Xavier tertawa pelan.
Xavier merasa gemas dengan tingkah Ame yang berada di pelukannya.
"Kalau kamu meraba-raba dadaku seperti itu, aku mungkin saja akan memakanmu sekarang." Ucap Xavier yang langsung menghentikan aktifitas solo Ame.
"Ehemm… Maafkan aku!" Ucap Ame langsung melepaskan diri dari pelukan Xavier.
"Aku masih belum terbiasa dengan kebiasaanmu yang suka datang dan menghilang begitu saja. Aku bahkan berpikir ingin memborgol tanganmu dengan tanganku agar kau tidak bisa menghilang lagi." Ucapan Xavier langsung membuat Ame tersadar ke dalam kenyataan.
Apa yang dikatakan oleh Xavier sebenarnya suatu saat nanti, entah suka atau tidak. Ame tetap akan hilang dari hadapan Xavier. Memikirkan hal itu membuat hati Ame sakit dan pilu.
"Hei… Kenapa sekarang wajahmu kembali muram?" Xavier melihat dengan jelas perubahan ekspresi yang ditunjukkan oleh Ame.
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku tidak sengaja menghilang, karena aku hanya pergi menemui ibuku di rumah sakit." Terang Ame dengan tersenyum hangat.
"Aku tau, tapi karena aku tidak bisa menghubungimu, aku jadi sedikit frustasi karena itu. Pakailah ini, aku harap kau tetap membuatnya aktif selama aku mencarimu." Tegas Xavier yang bukan berarti sebuah permintaan, melainkan perintah.
Xavier yang memberikan handphone kepada Ame membuat dia sedikit bingung menerima barang tersebut. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana, namun dia memilih untuk menerima barang itu setelah melihat tatapan tajam Xavier.
"Tuan, ada yang harus anda temui." Ricky datang menghampiri Xavier dan Ame.
Xavier hanya mengangguk pelan mengiyakan perkataan Ricky.
"Jangan pergi tanpa seizin dariku. Jika kau lakukan itu maka aku tak akan segan untuk menghukummu." Perintah Xavier kepada Ame, dengan tatapan mengancamnya.
"Oh ya ampun… Bahkan jika kau ingin menghukumku, aku tetap rela karena wajah tampanmu itu. Maaf kan anak mu ini Ma.. tapi aku sangat menyukai pria tampan." Ame menangis dalam hati melihat tatapan tajam Xavier yang menusuk masuk kedalam jantungnya.
"Me.. memangnya kau akan menghukumku seperti apa? Jika kau ingin mencekik leherku lagi, sepertinya aku sudah terbiasa dengan perlakuan mu itu. Aku bahkan tidak heran jika kau akan memperlakukan aku dengan kasar." Ame memang sudah tidak takut lagi dengan sikap kasar dan tatapan mengerikan yang selama ini Xavier tunjukkan.
"Hum… Benar juga. Bahkan kau terus menghampiriku meskipun kau hampir mati beberapa kali di tanganku. Jika kau tidak suka cara kasar, bagaimana kalau aku melakukannya dengan cara yang sedikit lebih halus?" Senyuman licik Xavier saat mendekati Ame, membuat Ame kebingungan.
"Ca.. cara halus seperti apa yang kamu maksud?" Ame memundurkan langkahnya karena merasa takut.
"Seperti ini… Tep!" Xavier menarik pinggang Ame dan merangkulnya erat lalu menempelkan bibirnya pada bibir Ame. Ricky hanya bisa membalikkan badannya saat melihat adegan panas itu.
"Ahhh.." satu desahan kecil lolos dari mulut Ame, ketika Xavier mengigit lembut bibir bawahnya. Xavier benar-benar membuat Ame berada di awang-awang karena kemampuannya yang sangat hebat.
"Aku akan membuatmu mendesah dengan lebih keras lagi jika kau tak mau mendengarkan apa yang aku katakan." Bisik Xavier ke telinga Ame.
"Ummmhhh…" Ame berusaha untuk menahan desahannya sewaktu Xavier menggigit lembut telinga Ame.
"Itu peringatan untukmu." Xavier tersenyum puas lalu meninggalkan Ame, pergi bersama dengan Ricky.
Ame terhuyung bersandar di dinding karena kakinya tak sanggup untuk menopang tubuhnya yang lemas karena gairah besar yang disalurkan oleh Xavier.
"Tuan…" Ricky membuka suara ketika mereka sedang berjalan menuju ke ruang kantor milik Xavier.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan Ricky, tapi aku peringatkan kamu untuk tidak berbuat sesuatu kepada Ame. Dia milikku dan aku ingin kamu menjaganya mulai dari sekarang." Suara dingin Xavier yang terdengar sangat memerintah membuat Ricky terkejut bukan main.
"Apa kali ini tuan sudah benar-benar jatuh cinta pada wanita itu? Tapi tidak… Tuan harus bersama Sona, jika ingin memperkuat kekuasaannya." Batin Ricky menolak keputusan Xavier.
"Saya harap anda dapat memikirkan kembali perkataan anda tadi. Tuan yang paling tahu, kalau tuan tidak boleh jatuh cinta kepada seorang wanita. Itu akan menjadi kelemahan tuan suatu saat nanti." Terang Ricky mencoba mencari alasan untuk membujuk tuannya.
"Ini tentu juga akan berbahaya bagi nona Ame, seperti terakhir kali dia di culik oleh Frank. Mereka tentu akan memanfaatkan nona itu untuk menjatuhkanmu. Jika nona Ame menjadi kelemahan anda, bukan hanya anda saja yang hancur. Tetapi nona Ame juga mungkin akan berada dalam bahaya besar." Jelasnya sekali lagi memperingatkan Xavier, agar tidak jatuh cinta kepada Ame.
"Ricky… kau bekerja denganku sudah cukup lama. Tapi sepertinya kau masih belum memahamiku dengan baik." Suara dingin Xavier yang terdengar sangat mengancam membuat Ricky gemetar ketakutan.
"Ma.. Maafkan saya tuan. Saya hanya ingin mengingatkan tuan saja demi keselamatan nona Ame." Terang Ricky dengan gagap dan tubuh yang bergetar hebat karena merasakan aura membunuh Xavier yang sangat tajam dan kental.
"Aku tak peduli jika kekuasaanku hancur, tapi jika mereka berani menyentuh wanita milikku. Aku akan membuat mereka mati dengan sangat sulit di tanganku. Aku tak akan membiarkan mereka hidup jika berani meletakkan jarinya di tubuh Ame." Tegas Xavier dengan penuh ancaman.
"Dan kali ini aku akan memaafkanmu. Aku juga akan melupakan semua yang sudah kau katakan tadi, tapi sebagai gantinya. Kau harus melindungi Ame dari siapapun." Perintah Xavier menjadi hal mutlak yang sudah tidak bisa lagi di bantah oleh Ricky.
"Akan saya laksanakan dengan nyawa saya sebagai taruhannya." Rikcy segera menunduk dan memberi hormat sebagai bentuk persetujuan terhadap perintah Xavier.
Xavier kembali berjalan menuju ke kantornya setelah memastikan kesungguhan Ricky dalam mematuhi dirinya.
"Meskipun awalnya aku membenci kehadiranmu di kehidupanku, tapi saat ini aku tak akan ragu lagi. Bagiku kau adalah segalanya, dan aku akan melindungimu dengan cara sendiri." Batin Xavier meneguhkan hatinya.
"Kau mungkin akan mengalami banyak hal ketika bersamaku nanti, tapi akan aku pastikan kalau aku akan melindungimu meski harus nyawaku juga sebagai taruhannya." Sorot mata tajam Xavier benar-benar menandakan kesungguhannya tentang Ame.