
"Taakkk!" Sona meletakkan gelasnya dengan rasa putus asa.
"Hikkk…" Dia cegukan karena minuman beralkohol yang sudah menguasai kesadarannya.
"Kau mau kemana? Temani aku minum. Kau tidak boleh kemana-mana karena kau harus minum bersamaku." Sona terus saja melarang Xavier agar ia tidak pergi jauh darinya.
"Maaf Nona.. Kau sudah minum terlalu banyak. Aku juga tidak memiliki niat untuk ikut minum bersamamu, sebaiknya anda pulang saja sekarang." Xavier masih berusaha menahan diri karena Ricky, yang mengingatkan dirinya bahwa wanita itu adalah pelanggan setia mereka.
Meski Xavier tak peduli dengan siapa sebenarnya wanita itu, rasa penasarannya membuatnya memilih untuk menyelidiki wanita itu lebih lanjut. Xavier merasakan getaran asing yang terjadi padanya saat melihat Sona.
"Ah.. Ricky, aku tak menemukan Xavier di atas. Apa dia sudah kembali ke sini?" Tanya Ame ketika tak sengaja kembali bertemu dengan Ricky.
Ame yang semula sudah berlari hingga ke lantai paling atas dimana Penthouse milik Xavier berada, namun dia tidak menemukan Xavier meskipun sudah menerobos kedalam Penthouse-nya.
"Wanita ini lagi… Aku tidak bisa membiarkan dia melihat tuan bersama dengan Sona. Sona adalah pelanggan setia kami dan putri dari seorang pemilik perusahaan tersukses di wilayah H ini. Jika tuan Xavier bisa bersama dengan Sona, maka kekuasaan tuan Xavier akan semakin berkembang dan kokoh. Aku harus mencegah wanita tak jelas ini menganggu tuan Xavier dan Sona." Pikir Ricky tidak ingin membuat Ame, mengganggu pertemuan antara Xavier dan Sona.
Ricky yang sedari awal memang tak menyukai kehadiran Ame, karena dia sudah membuat Xavier bersikap tidak biasanya dan terus-menerus menjadi orang yang lemah karena Ame. Ricky berharap jika dengan bersama Sona, Xavier bisa menjadi lebih kuat untuk melaksanakan rencananya.
"Tuan memiliki pertemuan penting dengan seseorang. Kau seharusnya masuk bekerja sekarang, karena ada orang penting yang harus kamu layani." Ucap Ricky langsung mencari cara untuk mengalihkan perhatian Ame.
"Tidak, aku harus menemukan Xavier secepatnya. Jika tidak, dia pasti akan bertemu dengan perempuan itu. Ricky, dia tidak boleh bertemu dengan perempuan itu." Ucap Ame mendesak Ricky agar ia bisa bertemu dengan Ricky.
"Cukup! Ingat, kau bukanlah apa-apa bagi tuan Xavier. Kehadiran mu hanya akan membuat kesulitan. Kau hanya terus membebani dia. Jika kau masih ingin terus berada disini, sebaiknya lakukan tugas mu dengan baik." Tegas Ricky agar Ame, berhenti mencari Xavier.
Ame sangat paham akan apa yang dimaksudkan oleh Ricky, namun dia tidak bisa membiarkan Xavier bertemu dengan Sona. Ketika Xavier bertemu dengan Sona, dia akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Xavier yang terbutakan oleh cintanya pada Sona, tidak menyadari bahwa karena cintanya tersebut dia akhirnya merenggang nyawa di tangan ayah Sona. Ayah yang sudah merebut semua yang dimiliki oleh Xavier, mulai dari kedua orangtuanya hingga perusahaan miliknya.
"Bawalah ini ke ruangan VVIP. Ingat, jangan lakukan kesalahan apapun." Ricky sama sekali tak membiarkan Ame untuk mendekati meja Bar.
Begitu Ame keluar dari ruang ganti, Ricky sudah langsung memberikannya pekerjaan. Dengan pasrah, Ame mau tidak mau harus melaksanakan perintah Ricky sembari menunggu kedatangan Xavier.
Ame juga terus saja mencari cara bagaimana menemukan keberadaan Xavier. Dia tidak akan menyerah begitu saja sampai bisa membuat hari ini berlalu begitu saja tanpa memastikan Xavier tidak bertemu dengan Sona.
Tanpa sepengetahuan Ame, Xavier yang pada adegan semula akan bertemu di sebuah pertemuan makan malam, telah bertemu dengan situasi yang berbeda di hotel miliknya.
"Aku harap aku belum terlambat!" Pikir Hike dalam diri Ame, yang terus berjalan menuju ke ruang VVIP seperti yang ditunjukkan oleh Ricky.
Setelah melewati pemeriksaan ketat dari pengawal yang berada didepan pintu, Ame akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan yang tampak remang-remang.
"Ah.. Ah.. Shhh…" desahan kenikmatan seorang wanita segera terdengar ketika Ame sudah berada di dalam ruang VVIP tersebut.
Ame berusaha untuk tetap menundukkan pandangannya, sehingga dia tak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Namun mendengar desahan yang tertahan itu, Ame yakin kalau mereka sedang berbuat sesuatu yang mesum.
"Hei.. mau kemana kamu? Kau seharusnya menuangkan minuman itu dulu sebelum pergi." Ucap pria yang sedang di tindih oleh wanita yang sedang memunggungi Ame.
Ame yang semula ingin memberikan mereka privasi agar tidak terganggu dengan kehadirannya dan bisa menikmati apa yang mereka lakukan berencana untuk melarikan diri, namun pria itu tampaknya tak suka dengan pelayanan setengah hati dari Ame.
"Maafkan saya Tuan… Akan saya tuangkan minuman anda." Ucap Ame tetap menunduk dan segera melakukan pekerjaannya.
Dengan cekatan dia segera menuangkan minuman itu dan menyediakannya di dekat pria tersebut.
"Oh… Ternyata pelayan sombong waktu itu." Ucap Wanita yang itu dengan tak tahu malu.
Ame segera mengangkat wajahnya dan melihat ke arah wanita yang mengatainya tersebut.
"Kau kenal dia sayang?!" Pria itu meremas bagian dada wanita itu dengan sensual.
"Ahhh… Sayang, dia adalah pelayan wanita sombong yang berkata kalau dia adalah milik dari tuan Xavier, tapi tuan Xavier sama sekali tak mengakuinya. Sepertinya dia berniat untuk menjual tubuhnya pada tuan Xavier, tapi sayang sekali tuan Xavier tak berminat padanya." Jawab wanita itu setelah sebelumnya mendesah dengan tubuh yang bergetar.
"Kamu… Siapa?" Tanya Ame dingin karena tak mengingat siapa wanita itu.
"Tck… berpura-pura lupa setelah mengganggu ku dan mengambil kesempatan ku untuk mendapatkan tuan Xavier." Wanita itu kesal karena Ame tak mengenali dirinya.
"Oh.. wanita murahan muka tembok yang tidak bisa membuat barang tuan Xavier berdiri itu yah? Pantas saja aku lupa, make up mu hari ini lebih tebal dari pada tembok Cina." Ucap Ame dengan sangat lancar dan ceria.
"Pufftttt.. hahahahaha.. menarik sekali. Aku tak tahu kalau Xavier memiliki pelayan semenarik kamu." Pria itu tertawa dengan begitu lepasnya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Ame.
"Sayang… Kenapa kamu berkata seperti itu?" Wanita itu tidak suka dengan pria itu yang merasa tertarik pada Ame.
"Turun!" Perintah Pria itu dengan tegas.
"Sayang… Kamu kenapa sih? Kenapa tiba-tiba.."
"Turun!!!" Bentaknya sekali lagi sebelum wanita itu selesai berbicara.
Dengan tubuh yang gemetar takut, dia akhirnya turun dari pangkuan pria tersebut.
"Ke… Kenapa?" Tanya nya sekali lagi dengan suara bergetar.
"Aku tak sudi dengan wanita yang sudah disentuh oleh Xavier. Harus aku yang lebih dahulu menyentuh wanita itu jika dia menginginkan wanitaku." Jelasnya dengan tatapan dingin dan aura yang menakutkan.