
"Hmmm…" Xavier meraba-raba kasurnya, namun tak menemukan siapapun disana. Dia segera bangkit dan melihat ke sekitar. Xavier tidak melihat Ame di atas kasurnya.
"Kemana dia?" Ucap Xavier berjalan ke ruang tengah, kamar mandi dan dapur, namun dia tidak menemukan Ame sama sekali disana.
"Oceana Amelia… kau benar-benar wanita yang penuh kejutan. Berani sekali kau meninggalkan aku tanpa se izin dariku." Geram Cavier dengan tersenyum sinis karena kesal.
Xavier tidak tahu kalau Amelia saat ini sudah berada di rumah sakit untuk menemui ibunya. Ame hanya sempat membuatkan sarapan pagi untuk Xavier, namun sepengetahuan dia. Semua yang menyediakan itu adalah pembantunya yang hanya akan datang ketika dia sudah tidak berada di dalam Penthouse miliknya.
"Kenapa kamu terlihat semakin kurus sayang… apakah pekerjaan mu berjalan dengan lancar? Kau tampak sangat kelelahan." Ibu Ame memegang tangan anaknya dengan penuh perhatian.
"Aku baik-baik saja kok Ma.. Mama tidak perlu khawatir, tempat kerja Ame sangat menyenangkan dan Bos tempat Ame bekerja juga sangat baik padaku." Jelas Ame memukul-mukul pelan punggung tangan ibunya.
"Maaf… kau jadi mengalami banyak kesulitan karena Mama. Mama tidak bisa memberikan kamu kebahagiaan, tapi Mama harap suatu saat nanti ada yang membahagiakan kamu meski Mama tidak akan lagi berada disisi mu lagi." Ibu Ame membelai lembut rambut anaknya.
Sudah cukup lama sampai mereka bisa berkomunikasi dengan lancar seperti ini, karena Hike masih belum yakin untuk bertemu dengan ibu Ame, saat dia sedang mengambil alih tubuhnya.
Mereka yang sebelumnya hanya terlihat sekali saja dalam satu adegan komik membuat Hike tak tahu harus bersikap seperti apa pada ibu Ame, dan juga Vero.
"Mama berbicara apa sih.. Mama akan secepatnya sembuh. Mama tidak perlu memikirkan hal lain, selain semangat untuk sembuh. Ame ingin memakan masakan Mama lagi, berbelanja bersama dengan Mama, dan menghabiskan banyak waktu bersama Mama." Tatap Ame lembut pada kedua mata ibunya.
"Mama tau, kau pasti sangat merindukan ibumu sekarang. Kau sudah berjalan cukup jauh hingga sampai disini, dan melakukan segalanya untuk Mama. Mama semakin termotivasi untuk sembuh selama Mama, bisa bersama denganmu. Terimakasih karena sudah kembali dengan selamat." Kata-kata ambigu ibunya membuat Ame mengernyitkan keningnya.
"A.. apa maksud Mama?" Tanya Ame hati-hati merasa ada sesuatu yang salah dengan tatapan ibunya saat ini.
"Meski aku tau kalau kau bukanlah Ame, tapi aku sangat bersyukur karena kamu menjaganya dengan baik. Ibu mana sih yang tidak bisa mengenali anaknya sendiri?" Pancing ibu Ame dengan senyuman nakal yang langsung membuat Ame kaget tak percaya.
"Ja.. Jadi ibu tau tentang saya?" Hike bertanya dengan sangat penasaran. Ibu Ame menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku tidak tau apa sebenarnya yang terjadi, tapi waktu itu saat kau datang mengunjungiku, perlakuanmu padaku sangat berbeda sekali. Kau seolah tahu banyak hal, sedang selama ini kau hidup dengan manja. Ame yang ibu tau adalah anak yang akan menangis dengan keras ketika aku sakit, dan tidak akan diam-diam merawatku seperti dirimu." Terang ibu Ame menjelaskan sifat anaknya.
"Meski pada akhirnya anak yang sangat aku cintai itu harus di jual oleh orang tua yang tak bertanggung jawab untuk melunasi hutang-hutangnya, anak yang terus meratap saat terkahir aku melihatnya terlihat cekatan dan mandiri serta tegar seperti mu membuat ku berpikir bahwa kau bukanlah Ame." Lanjutnya sekali lagi yang langsung membuat Hike tertunduk lemah.
"Tidak usah khawatir, siapapun kamu. Bagi Mama, kamu adalah anak Mama satu-satunya yang paling Mama cintai. Dan itu tak akan pernah berubah bagaimana pun situasi yang kita hadapi." Tegas ibu Ame mengelus lembut rambut Ame.
Hike merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang ibu yang teramat besar. Meski ibunya tidak memiliki pengertian yang sama seperti ibu Ame, tapi bagaimanapun juga dia tetaplah ibunya.
"Waktuku tidak banyak, aku mungkin hanya bisa berada disini dalam dua bulan lagi. Tapi sebelum saya benar-benar pergi, saya akan pastikan saat Ame kembali. Semuanya akan baik-baik saja sebagai bentuk rasa terimakasih saya kepadanya karena sudah memberikan saya tubuhnya." Ucap Hike tersenyum manis dengan menggunakan wajah Ame.
"Saya tidak bisa menjelaskan dari mana saya dan siapa saya kepada tante, tapi saya akan berusaha yang terbaik untuk tidak mengacaukan semuanya. Sampai saya bisa menyelamatkan orang yang saya cintai itu." Lanjut Hike lagi berbicara dengan kata-kata sopan.
"Meskipun saya tidak tahu siapa pria itu, tapi sepertinya dia sangat beruntung mendapatkan orang seperti mu yang mencintainya. Terimakasih banyak karena sudah hadir di kehidupan kami dan aku harapkan semua yang sedang kamu perjuangkan bisa secepatnya kau dapatkan." Ibu Ame kembali menggenggam tangan Ame dengan sangat erat.
"Maaf, kami akan melakukan pemeriksaan rutin kepada pasien. Anda bisa menunggu diluar sejenak." Ucap sang suster dengan membawa troli yang berisi banyak peralatan untuk pengobatan.
"Saya keluar dulu yah tante…" ibu Ame langsung memegang tangan Ame untuk menghentikannya.
"Tetaplah menjadi Ame, setidaknya sampai dia benar-benar kembali." Pintanya sebelum wajah itu menghilang dari hadapannya.
"Tentu saja. Aku akan sering-sering berkunjung. Mama jangan khawatir dan cepatlah sembuh." Ame memeluk ibunya dengan hangat yang juga di balas oleh ibu Ame, dengan sangat erat.
"Silahkan suster…" ucap Ame kepada suster yang akan memberikan pemeriksaan rutin kepada ibunya tersebut.
Mendapatkan motivasi dan semangat dari ibu Ame, dia menjadi semakin termotivasi untuk bisa menyelesaikan keinginannya dan segera menuju ke tempat Xavier.
"Triiinggg…." Sebuah tulisan kembali muncul di hadapan Ame.
"Hari ini tokoh utama wanita akan muncul dan tidak sengaja bertemu dengan tokoh utama pria dan juga… Xavier. Pilihanmu akan menentukan kehidupan Xavier selanjutnya." Tulisan yang tampak itu langsung membuat Hike terkejut bukan main.
"Aku ingat... Adegan yang selama ini aku coba agar tidak terjadi, pada akhirnya akan terjadi juga sebagai bagian dari cerita. Tapi kali ini tidak hanya Xavier yang bertemu dengan Sona saja, tapi juga akan bertemu dengan Gio? Bagaimana bisa semua terjadi seperti inu?" Ame dengan segera menghentikan taksi agar bisa melakukan sesuatu pada mereka.
"Tidak, aku harus membuat Xavier tidak bertemu dengan Sona dan membuat Sona tetap bertemu dengan Gio. Dari awal keduanya memang akan tetap bersama, tapi dengan begitu Xavier tidak akan menjadi orang yang terkhianati dan semakin tenggelam dalam kegelapannya." Batin Hike terus memikirkan cara agar dia bisa membuat Sona tidak bertemu dengan Xavier, melainkan bertemu saja dengan Gio.