
"Pada akhirnya aku harus menenangkan diri dengan air dingin karena wanita sialan, itu." Maki Xavier, meninju dinding kamar mandinya karena perbuatan Ame yang sudah berhasil menggodanya hingga membuat sang junior belum juga mau menyerah untuk terus tegak.
Setelah merasa sudah cukup tenang, diapun akhirnya keluar dari kamar mandi dan menghubungi Ricky.
"Bagaimana dia bisa bekerja di Bar?" Tanya Xavier dengan nada suara yang sangat dingin.
"Dia mengambil kerja part time yang dibuka oleh Bar kemarin. Sepertinya anda tidak sengaja menerimanya masuk begitu saja. Dan sekarang dia sedalam dalam masa percobaan selama sebulan." Jelas Ricky sembari melihat berkas yang diberikan oleh Ame.
"Keluarkan saja dia dari pekerjaan itu. Jangan biarkan dia kembali datang bekerjad di Bar." Ucap Xavier langsung menutup panggilanya tanpa memperdulikan Ricky yang masih ingin menjelaskan sesuatu.
Dengan menarik napas dalam, Ricky datang menghampiri Ame yang baru saja selesai menyediakan minuman untuk pelanggan lain.
"Anda memanggil saya?" Tanya Ame dengan sopan kepada Ricky.
"Benar." Angguk Ricky dengan tatapan dinginnya.
"Ada yang harus saya lakukan?" Ame tidak yakin kalau dia telah melakukan kesalahan hingga harus di panggil oleh Ricky.
"Kau bisa berhenti untuk bekerja disini. Kami tidak akan menerima mu lagi bekerja di tempat ini." Tegas Ricky meminta name tag yang dipakai oleh Ame.
"Atas dasar apa anda memecat saya?" Tanya Ame masih berusaha mempertahankan diri.
"Atasan saya yang tidak menginginkan anda untuk bekerja di Bar kami lagi. Selain itu, anda sudah melakukan hal yang senonoh pada atasan saya itu." Ricky sengaja menekankan Xavier, agar Ame tahu akan kesalahan yang sudah dia buat sebelumnya.
"Pufffttt.. hahahahha.. biar saya beritahu. Saya disini sebagai pekerja part time yang akan bekerja selama sebulan dalam masa percobaan. Dalam masa itu dijelaskan kalau saya bisa bekerja hingga selesai dan akan di evaluasi setelah selesai. Jika cara kerja saya bagus, maka saya akan tetap melanjutkan pekerjaan disini. Namun jika tidak kalian bisa memecat saya." Terang Ame dengan sangat berani tanpa ada rasa takut.
"Jadi, saya akan tetap bekerja disini hingga sebulan. Anda bisa memecat setelah itu selesai. Kalau masih ingin memecat saya lagi, katakan pada atasan anda untuk berbicara dengan saya langsung." Tegas Ame tak menyerahkan name tag miliknya kepada Ricky.
Ricky hanya bisa terdiam membelalakkan matanya. Setelah selesai Ame berbicara, dia hanya mendengar suara kambing dan burung gagak bersahut-sahutan mengejek dirinya.
"Ehhemm. Kamu…"
"Kalau tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, saya permisi dulu." Ame memotong kata-kata Ricky, dan berlalu pergi meninggalkan Ricky, yang kembali tertegun dengan otak yang kosong.
Krikk krikk kriikkk..
"Brakk…" Ricky memukul meja dengan kesal.
"Bagaimana mungkin aku bisa dibuat terbungkam oleh wanita yang masih muda sepertinya. Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan satu katapun untuk membantahnya." Ucap Ricky dengan frustasi.
Sekarang yang harus ia pikirkan adalah memberitahukan tentang Ame yang tidak ingin dikeluarkan dari pekerjaannya kepada Xavier.
Setelah menunggu beberapa lama dengan banyak pertimbangan, Ricky akhirnya kembali menghubungi Xavier untuk melapor.
"Tuan… Dia menolak untuk dipecat. Dia berkata jika anda ingin memecatnya, sebaiknya anda sendiri yang memecatnya secara langsung." Jelas Ricky sembari dengan sangat gugup.
"Apa??? Bahkan hal seperti inipun tidak bisa kau selesaikan dengan mudah?" Bentak Xavier dengan penuh amarah hingga menghancurkan botol wine yang berada tak jauh di mejanya.
"Sial… dia mau berhadapan dengaku langsung? Oke… mari kita lihat sampai kapan dia bisa berhadapan denganku. Dia benar-benar sudah meremehkan aku hanya karena beberapa kali membiarkannya hidup." Ucap Xavier mengakhiri panggilannya.
Dia segera memakai pakaian coat tebal panjang dan turun ke lantai dasar dimana Bar itu terletak.
"Tck.. kenapa wanita ini bisa membuatku naik turun untuk menemui dirinya. Dia yang seolah mengenalku sejak lama membuatku semakin penasaran, tapi sikapnya ini sangat menjengkelkan." Xavier terus saja mengomel di dalam liftnya, seperti bukan dirinya saja yang diam, dingin dan memiliki aura yang sangat kuat.
"Dimana dia?" Tatap Xavier kepada Ricky dengan penuh amarah.
"Dia baru saja keluar Tuan. Aku tidak bisa mencegahnya karena dia keluar dengan sangat terburu-buru tadi." Ucap Ricky gugup sembari menundukkan pandangannya meski tubuhnya tetap tegap.
"Bugghhh…." Xavier melayangkan tinjunya dengan sangat marah karena kebodohan Ricky.
"Kenapa cara kerjamu semakin kacau seperti itu!" Xavier menodongkan senjata ke pelipis Ricky yang menjadi orang kepercayaannya dengan tatapan bengis.
"Maaf Tuan!" Ucap Ricky tanpa melakukan perlawanan dan penjelasan lebih lanjut.
"Kau tahu kan, aku tak akan membiarkan orang yang tak berguna untuk terus berada di dekatku. Jadi seharusnya kau membuat dirimu berguna jika kau tidak ingin aku buang." Ancam Xavier dengan suaranya yang sangat dingin.
"Akan aku lakukan apapun untukmu." Tegas Ricky tak ingin pergi dari sisi Xavier.
Dia kembali teringat akan Xavier yang pernah menyelamatkannya dari kelaparan dan kematian yang membuatnya harus hidup dalam ketakutan dan kesengsaraan. Dia terus saja mencuri dan menjadi bulan-bulanan pemukulan karena hidupnya yang miskin.
Xavier lah orang yang pertama kali memberikan uluran tangan kepadanya dan menjadi cahaya baginya, sehingga dia tentu takkan mau pergi dari sisinya bagaimana pun caranya.
"Temukan dia bagaimanapun caranya dan bawa dia kehadapanku sekarang juga." Tegas Xavier sembari menendang jatuh Ricky.
Meskipun perlakuan Xavier kadang sedikit kasar padanya, namun Ricky tahu kalau semua itu karena kesalahan yang dia lakukan sendiri, sehingga tak pernah terlintas dalam benaknya untuk membenci Xavier.
"Tu… tuan, tadi saya mendengar percakapan mereka sewaktu dia mengangkat telponnya. Sepertinya sakit ibunya kambuh dan membutuhkan perawatan secepatnya sehingga Ame segera berlari keluar ketika pekerjaannya selesai." Seorang pelayan Bar lain segera memberitahu hal tersebut kepada Xavier.
"Sejak kapan dia menerima panggilan itu?" Tanya Xavier sedikit merasa bersalah pada Ame.
"Saat dia selesai membawakan minuman pada Anda tadi." Terangnya yang langsung membuat Xavier terkejut.
"Jadi dia masih tetap menyelesaikan pekerjaannya meski sudah mendengar ibunya kambuh? Dan aku juga malah memecatnya tadi?" Batin Xavier jadi merasa semakin bersalah.
Seseorang tampak panik datang menghampiri Ricky dan membisiknya.
"Ada apa?" Tanya Xavier dengan tatapan curiga.
"Tuan Frank menculik Ame di depan jalan saat dia akan menaiki taksi." Jawab Ricky cepat.
"Brengsekkkk… sepertinya kejadian tadi membuat dia ingin mendapatkan Ame." Xavier menendang meja hingga terbalik dan hancur.