Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Seratus Hari



"Bagaimana keadaannya?" Xavier keluar dari kamar mandi melihat temannya yang merupakan dokter pribadinya sudah selesai mengganti perban wanita yang masih belum di kenalinya.


"Bisakah kau melakukan perempuan dengan lembut? Apa yang kau pikirkan sebenarnya sampai ingin melakukan hal itu pada wanita yang sedang terluka? Apakah kejantananmu itu tidak bisa diam kalau sudah melihat wanita?" Tatap Leo kepada Xavier dengan penuh amarah. 


Dia tahu betul apa yang sudah dilakukan oleh Xavier, hingga wanita yang sudah menyelamatkannya itu lukanya kembali terbuka.


"Huh… aku juga tidak tau. Dada rata itu seperti sudah melakukan sesuatu padaku." Jawab Xavier menuduh Hike, sudah berbuat sesuatu yang dapat membuatnya kehilangan kendali diri.


"Kau mau menuduh seorang pasien? Apa yang bisa dilakukan oleh wanita ringkih dan lemah Sepertinya?" Leo tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh Xavier.


Baginya wanita dihadapannya ini terlalu lemah untuk bisa melakukan sesuatu kepada sang iblis malam itu. Tapi dia juga tidak menyangka kalau wanita itu memiliki daya tarik yang luar biasa hingga Xavier, kehilangan kendali dirinya.


"Terserah lah… Aku masih cukup marah padanya. Dia mengatakan banyak hal aneh tentang diriku, bahkan dia tahu tentang luka-luka yang ada tubuhku." Jelas Xavier mengeringkan rambutnya dengan kasar.


"Apa maksudmu?" Leo sedikit merasa tidak mungkin dengan apa yang dikatakan oleh Xavier, mengingat hanya dirinya dan leo saja yang tahu jelas tentang kehidupan Xavier. Begitu pula mengenai alasan dibalik luka-lukanya tersebut.


"Entahlah.. karena banyak hal aneh yang dia katakan, aku jadi tidak menghiraukannya. Tapi melihat ekspresinya setiap kali berbicara denganku, dia seolah sangat tahu betul siapa diriku. Ucap Xavier menatap lurus pada Hike, yang masih belum sadarkan diri.


"Kalau begitu, kita akan tahu begitu dia sudah sadarkan diri. Berhubung aku sudah disini, biarkan aku tidur sejenak dulu sebelum pulang. Aku sangat mengantuk sekali." Leo yang ingin merebahkan diri disamping Hike segera mendapatkan tendangan dari Xavier.


"Pergilah tidur di tempat lain." Ancam Xavier dengan tegas.


"Dasar… hanya demi seorang wanita kau bahkan mengkhianati sahabat mu sendiri." Leo keluar dengan mata yang sedang menangisi nasibnya.


Xavier yang sudah berganti baju, segera kembali duduk di hadapan Hike dengan tatapan penuh selidik. Dia ingin menunggu sampai Hike terbangun dan akan melakukan interogasi padanya.


"Hmmm…?" Hike kembali tersadar setelah beberapa jam kemudian. Xavier yang duduk menunggu dirinya tanpa sadar jatuh tertidur dengan terduduk setelah lama memandangi dan menilik Hike.


"Aku masih ada disini lagi? Itu artinya semua ini bukanlah mimpi. Ini juga bukan game virtual karena rasa sakit yang ada di dadaku ini benar-benar terasa." Batin Hike tersadar ketika dia melihat ruangan asing yang masih dia lihat semalam tetap sama.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Apa aku benar-benar masuk ke dunia Xavier untuk menyelamatkannya sesuai dengan permintaan dari layar ponselku itu?" Dengan sangat hati-hati, sembari menahan sakit yang tidak terasa sebelumnya. Hike berjalan mencari sebuah cermin.


"Huuu???!" Hike langsung menutup mulutnya dengan sangat erat.


"I.. ini bukan wajahku. Tunggu… A.. aku ingat, ada dua ingatan yang ada dalam otakku. Apakah ini ingatan dari pemilik tubuh ini? Kenapa aku malah masuk ke tubuh gadis yang bernama Oceana Amelia? Bukannya harusnya dia mati di tangan Xavier?" Hike terus memikirkan bagaimana dia bisa berada ditempat itu.


"Tring…" Sebuah tulisan tiba-tiba mengambang di udara.


"Apa ini?" Hike mencoba untuk menghapus tulisan itu, namun dia tidak hilang dan menembus tangannya. Tidak ada cahaya yang bisa membuat itu di perkirakan sebagai hologram.


"Kamu hanya memiliki waktu selama seratus hari untuk bisa menyelamatkan Xavier. Waktumu akan di mulai dari… Sekarang!" Tulisan itu tiba-tiba saja sudah memulai hitungan mundur tanpa menjelaskan terlebih dahulu apa dan bagaimana serta mengapa dia bisa berada disana.


Hike mengepalkan kedua tangannya dengan urat kepala serta tangan yang langsung timbul keluar serta dipenuhi dengan amarah. 


"Aku mengutuk orang yang sudah membuat aplikasi ini menjadi Impoten tujuhhhh TURUNNAAAN!!!" teriak Hike di dalam hati karena sangat kesal.


Dia marah karena semuanya harus di kerjakannya sendiri tanpa ada penjelasan lebih lanjut, namun dia juga tidak bisa berbuat banyak karena tak tahu harus bertanya pada siapa.


Dia yang ingin berteriak kencang terpkasa harus berteriak dalam hati melakukan gerakan salto dan guling-guling serta terus mengamuk dalam diam. 


"Ughh… Kampret sialan! Aku lupa lagi kalau dadaku belum sembuh." Lagi-lagi dadanya kembali mengeluarkan darah segar karena terbuka.


Hike kembali berjalan ke sisi ranjang dan berusaha mengatur napasnya sembari menahan rasa sakit yang sangat besar di dadanya. Setelah cukup tenang, Hike menatap ke arah Xavier yang masih tertidur lelap.


"Aku tak tahu bagaimana aku berada disini, tapi aku benar-benar bersyukur bisa diberikan kesempatan seperti ini. Waktuku tidak banyak, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan mu." Gumam Hike dengan suara yang sangat pelan, tak ingin membangunkan Xavier.


Hike memperhatikan wajah Xavier dalam-dalam. Wajah tampan itu benar-benar semakin membuat jantungnya berdebar sangat kencang. Tanpa sadar Hike langsung menyentuh pipi Xavier.


"Aku tau kalau kau sangat membenci duniamu, semua hal yang ada di dunia ini sama sekali tak berharga bagimu, tapi kamu sudah menyelamatkan aku yang sama sekali tak kamu kenali. Itu artinya, kamu masih memiliki hati yang baik Xavier." Tangan dingin Hike yang memegang pipi Xavier, membuatnya terbangun. Xavier tidak langsung membuka matanya karena penasaran dengan apa yang sedang dikatakan oleh Hike.


"Janganlah terlalu membenci duniamu, meski kau tidak bisa mencintai duniamu juga. Aku harap aku bisa memberikan sedikit warna di duniamu dengan kesempatan yang diberikan kepadaku untuk bertemu denganmu." Lanjutnya lagi dan Xavier masih mencoba untuk tidak membuka matanya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu mati Xavier. Apapun itu, dan bagaimanapun caranya aku akan menyelamatkanmu." Hike melepaskan tangannya dan tertunduk lemah.


"Waktuku memang tidak banyak. Aku juga tidak tahu akan bertahan sampai berapa lama untuk tidak mati ditanganmu. Tapi akan aku pastikan kalau aku bisa menyelamatkan mu sebelum aku kehabisan waktuku, karena aku sangat mencintaimu Zaydan Xavier." Hike secara perlahan mendekati Xavier dan mencium bibir Xavier dengan lembut.


Xavier langsung membuka matanya dengan apa yang dilakukan oleh Hike padanya.


"Brakkk… Akhhhh!" Xavier kembali merebahkan Hike ke atas kasur dengan tatapan yang sangat tajam.