
Pengawal Frank segera mengejar Ame yang mencoba untuk melarikan diri. Dengan tubuhnya yang masih dalam pengaruh obat, Ame kesulitan untuk bisa bergerak dengan bebas meski perlahan-lahan ia sudah bisa mengendalikan tubuhnya dengan baik.
"Berani sekali kau melarikan diri." Seorang pria berhasil meraih rambut Ame dan menariknya dengan kasar.
"Ughh.. Sial. Padahal aku sudah berusaha untuk keluar." Batin Ame merasakan sakit yang sangat luar biasa di kulit kepalanya.
"Kau pikir bisa melarikan diri dari sini? Tidak ada seorangpun yang bisa meloloskan diri dari sini." Pria itu langsung menyeret Ame dan mengunci tubuhnya agar tidak bisa bergerak leluasa.
Berkat rasa sakit yang dia terima, kesadarannya berangsur-angsur pulih sehingga Ame bisa melayangkan kepalan tangannya dari bawah mengenai bagian bawah rahangnya yang mencoba melakukan sesuatu pada tubuh Ame.
"Kalau begitu, biar aku yang membuat sejarah sebagai orang yang pertama kali lolos dari tempat ini." Tegas Ame langsung mendorong tubuh orang itu.
"Dasar wanita brengsekkkk!" Dia sangat marah meski dengan tubuh yang oleh karena pukulan tersebut.
Karena tidak bisa menyakitinya, pria itu kembali ingin meraih tangan Ame, namun berhasil ditepisnya. Ame memutar tubuhnya lalu menaikkan sikunya dan menghantam keras pelipis pria itu yang langsung membuat beberapa orang lainnya terkejut.
Mereka tak menduga wanita lemah dan tak berdaya yang mereka lihat sebelumnya, ternyata memiliki sedikit kemampuan bela diri. Baru saja seorang lain ingin melangkah maju, Ame segera mengarahkan tendangan berputarnya langsung ke bagian telinga pria tersebut dan membenturkannya ke tembok.
"Brengsekkkk!" Pria yang lain juga melayangkan pukulan ke arah Ame, namun berhasil dia hindari. Akan tetapi dia tidak bisa mengimbangi pergerakan seorang lainnya yang berhasil melayangkan tandangan pada punggungnya dengan keras.
"Akhhh!" Ame seketika terjatuh namun kembali mengait kaki pria itu hingga dia terbanting dan langsung menendang lehernya hingga patah.
Ame berusaha untuk sekali lagi melarikan diri, namun begitu akan turun dan berbelok melewati tangga, sebuah tembakan melesat ke arahnya membuat Ame menghidar dengan membentur dinding.
Kakinya yang masih belum bisa menapak dengan baik membuatnya terkilir jatuh terguling hingga ke bawah. Tembakan berikutnya kembali di arahkan padanya membuat Ame harus berusaha menghidari setiap hujaman peluru yang ingin mengenainya.
"Plakkkkk… Buggghhhh… Dapatkan dia hidup-hidup!" Ucap Frank dengan penuh amarah karena anak buahnya melayangkan tembakan pada Ame.
Ame yang berusaha untuk bersembunyi di balik tembok tiba-tiba kembali berhadapan dengan pria lain yang melayangkan pukulan dan tendangan yang masih bisa di terima oleh Ame.
Ame membenturkan tangan pria yang akan melayangkan pukulannya sekali lagi ke arah tembok dan mematahkannya lalu mengarahkan tendangannya yang ia buat seolah berpijak pada bagian betisnya hingga tulang itu patah.
Tidak berhenti di situ saja, dia juga sekaligus bisa melayangkan tendangan dengan melompat ke arah dinding dan mengarahkan lutunya ke leher pria yang datang di lanjutkan dengan menghindari pukulan dua pria lain yang harus ia lawan dengan menusuk biji mata pria sebelah kanannya, dan memberikan serangan mendadak dari arah bawah pria sebelah kirinya yang menghancurkan benda pusakanya.
Ame juga menambahkan dengan mengambil sebuah bingkai foto yang terdapat di dinding rumah itu lalu membantingnya ke arah kepala pria yang lainnya.
"Akhhhh…" Ame mendapatkan pukulan yang sangat keras dari Frank dan satu tendangan kuat yang mendarat di perutnya saat ia menoleh dan melarikan diri.
"Kucing liar memang harus diberikan beberapa pukulan kuat agar dia bisa di jinakkan." Ucap Fran yang langsung kembali melayangkan tamparannya dengan kuat ke wajah Ame.
"Nnggiiiiiiiinnnngggg" telinga Ame berdengung hebat dan dunianya seolah berputar karena tamparan tersebut.
"Kau wanita yang benar-benar membuatku sangat bergairah. Belum pernah ada wanita yang menolak untuk tidur denganku dan membuat rumahku kacau balau seperti ini." Frank memegang pipi Ame dengan tekanan yang sangat kuat hingga bibir Ame, tampak monyong ke depan.
"Puihhh…" Ame mengeluarkan ludahnya dan meludahkannya ke wajah Frank.
"Aku tak sudi berbagi kasur dengan pria berbatang lemah sepertimu." Maki Ame dengan suaranya yang serak karena hampir ke habisan napas.
"Hummm… kau memang sangat nikmat." Frank bukannya merasa jijik, dia malah menjilat ludah yang berada di wajahnya dengan seringai yang mengerikan.
"Srakkk…" suara gaun Ame yang ia sobek dengan sangat kasar hingga menampilkan sebagin anggota tubuhnya bagian kanan.
"Indah.. sangat indah. Kau benar-benar memberikan sensasi yang sangat jauh berbeda. Aroma tubuhmu itu benar-benar sangat wangi. Ayo kita bermain-main dulu sampai kau benar-benar menyerah padaku." Ucap Frank mundur beberapa langkah untuk memberikan kesempatan kepada Ame, melarikan diri.
"Aku tak akan pernah menyerah padamu." Kata Ame berusaha bangkit dengan tubuh lemahnya.
Dia berusaha untuk terus berjalan, menggapai sebuah guci keramik yang cukup besar di sudut ruang dan ingin melemparkannya ke arah Frank, namun dia berhasil menghancurkannya dengan satu tendangan kuat hingga Ame terjatuh.
Tubuhnya mengenai pecahan keramik tersebut. Frank yang melihat Ame jatuh dengan memperlihatkan bagian belahan pahanya menbuatnya kembali menyobek gaun tersebut.
"Menyerahlah.. aku tidak suka melihatmu bersikeras seperti ini. Tidak akan ada yang akan menyelamatkanmu disini. Xavier pun tidak perduli padamu, karena dia tidak pernah peduli pada wanita manapun." Ucap Frank mulai membujuk Ame dengan suara yang rendah.
"Jadilah wanitaku, aku akan memperlakukan mu dengan baik. Aku akan menjadikanmu satu-satunya wanita yang mendampingiku, karena aku benar-benar tertarik padamu sekarang." Tambah Frank lagi memegang tangan Ame, namun dia masih ditepis oleh Ame dengan lemah.
"Kau tau, apapun yang ingin kau lakukan dan kau berikan padaku saat ini. Aku hanya akan memilih Xavier. Meski pada akhirnya aku akan mati di tangannya pun, aku tidak perduli." Ucap Ame dengan kesadarannya yang semakin menipis.
"Dor.. dor.. dor…" tiga orang anak buah Frank berjatuhan karena tembakan yang mengenai mereka dari belakang Ame.
Melihat Xavier yang melayangkan tembakan itu, Ame berusaha bangkit dan menyinggungkan senyum yang lemah. Ame memang sangat yakin kalau Xavier akan datang, sehingga hal utama yang ia harus lakukan adalah bertahan.
"Aku tau kamu pasti datang. Lihat, aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku bisa mengulur waktu hingga kau benar-benar datang kepadaku." Xavier tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Ame.
Bagaimana mungkin dia bisa seyakin itu kalau dia akan datang untuk menyelamatkannya hingga dia berusaha untuk terus bertahan.
Rahang Xavier mengeras melihat kondisi Ame yang terlihat sangat mengenaskan. Hatinya benar-benar sangat sakit melihat dia seperti itu.
"Kenapa kau seperti ini?" Tanya Xavier marah kepada Ame yang terus bertahan.
"Aku hanya untukmu bagaimanapun kau menolakku. Dan aku akan memilih mati jika bukan dirimu." Ame jatuh ke pelukan Xavier usai mengatakan hal tersebut.