Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Menjadi Mak Comblang



Ame sudah beberapa kali mencari-cari Xavier, namun dia terus saja menghindar darinya. Sudah hampir seminggu lebih Ame terus berusaha untuk mencari Xavier, namun tanpa sekalipun dia bisa bertemu dengannya.


Waktu Ame tinggal satu bulan lagi, dan hingga kini Ame tidak bisa memberikan perubahan apapun. Xavier kini malah diberitakan sedang tertangkap kamera bersama dengan Sona.


Tak ada yang berubah, karena huhungan keduanya tepat seperti yang tergambar di komik. Semuanya sama persis meski bagian awalnya sedikit mengalami perubahan. Xavier yang awalnya hanya bersaing dengan Ghio, malah jatuh hati pada wanita itu karena kesungguhannya pada Xavier.


Hati Ame yang melihat itu seketika remuk dan hancur. Dia memang sudah memutuskan untuk tidak mengharapkan perasaan Xavier padanya, namun hatinya yang sudah terlanjur mencintai Xavier pun tetap tidak bisa dia bendung.


"Sistem… Skill apa yang aku punya." Tanya Ame mengingat dia harus menyelesaikan tujuannya apapaun yang terjadi. Dia tidak akan bisa kembali dengan sia-sia seperti itu, saat semua yang dia lakukan sudah setengah perjalanan.


"Kamu sudah mengatifkan 2 skill, yaitu kemampuan bertahan dari jenis obat-obatan dan kemampuan bertarung atau beladiri. Sisa satu skill lagi yang masih terkunci. Apakah anda ingin membukanya?" Tanya sistem seusai dengan yang tertulis di depan matanya.


"Skill apa itu? Berapa poin yang aku butuhkan untuk bisa mendapatkan dan membuka Skill itu?" Tanya Ame sekali lagi.


"Pendeteksi. Karena kau menjaga ibu Ame dengan baik, maka kau mendapatkan poin tambahan 100. Tapi itu masih tidak cukup untuk membuka Skill pendeteksi yang membutuhkan poin sebanyak 1000 saat poinmu masih berjumlah 573 poin. Ditambah 100 maka seluruhnya 673 poin." Sistem itu menampilkan tiga sistem didepan mata Ame.


"Kenapa mahal sekali?" Karena penasaran, dia lalu memeriksa keterangan Skill tersebut.


"Kemampuan untuk mendeteksi dimana keberadaan Xavier, selama berada di dalam area peta sistem. Kemampuan pendeteksi ini juga dapat digunakan untuk melacak keberadaanya." Terang sistem tersebut hingga membuat Ame tersenyum senang.


"Bagus… Kalau begitu, yang aku butuhkan hanyalah mencari poin tambahan untuk mengaktifkan poin itu. Sekarang, apa yang harus aku lakuka agar poinku bisa bertambah?" Tanya Ame sekali lagi kepada sistem yang ada di kepalanya tersebut.


"Membuat hubungan Leo dan Veronica membaik." Tulis sistem membuat Ame terlonjak kaget.


"Aa… Apa aku juga harus melakukan hal seperti ini?" Ame tampak tak yakin dengan misinya itu.


"Leo adalah orang yang selalu menyelamatkan mu dan menjadi orang yang selalu membantumu, sedangkan Veronica adalah sahabat terbaik Ame yang selalu membantu Ame dan berada disisinya." Sistem seolah membedakan dua orang itu untuk dirinya. Leo secara personal kepada Hike, sedangkan Veronica kepada Ame.


"Oke-oke… Sepertinya aku tau tujuan dari misi ini. Keduanya memang saling tertarik dan mencintai satu sama lainnya. Mereka bertemu saat Leo menjadi dokter yang memeriksa kondisi Ame yang seharusnya mati ditangan Xavier. Namun karena satu hal, keduanya tidak bisa bersama. Ini tidak dijelaskan dalam komik dan menghilang begitu saja karena konflik karakter utamanya sudah mendominasi." Gumam Ame terus memikirkan tentang komik yang ia baca sebelumnya dalam ingatannya sebagai Hike.


"Sepertinya memang tidak ada cara lain, aku memang harus melakukan sesuatu. Tidak peduli ini game atau apapun itu, selama aku bisa menghasilkan koin dan membuat orang terdekat ku bahagia, itu sudah cukup." Ucapnya lagi dengan ekspresi yang sangat senang.


Ame langsung mengirimkan pesan teks kepada Veronica, untuk menanyakan dimana keberadaannya. Setelah tahu dimana dia berada, Ame dengan segera meluncur ke tempat Veronica.


"Halo kak Leo…" Ame sengaja bermanis-manis pada Leo, agar dia mau menuruti keinginannya saat ini.


"Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Leo panik karena Ame sangat jarang menghubungi dirinya.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama, karena kita sudah lama tidak bersama." Ajak Ame kepada Leo.


Ame yang tampak senang segera mematikan panggilannya dan mengirimkan lokasi dimana mereka akan bertemu. Setelah memastikan ibunya tertidur dengan lelap, Ame keluar perlahan-lahan dari ruang perawatan ibunya.


"Tumben kau kesini… Ada apa?" Veronica terkejut melihat sahabatnya datang ke Cafe dimana dia berkerja paruh waktu.


"Aku hanya ingin datang makan siang bersama dengan kak Leo." Ucap Ame tersenyum hangat kepada Veronica sahabatnya.


"Dokter mesum itu? Kau sangat dekat sekali dengan dia yah…" Veronica tak mengerti kenapa sahabat kesayangannya itu malah dekat dengan dokter yang meseum seperti Leo.


"Aku kan sudah bilang padamu, kalau dia sangat membantuku selama ini. Kalau bukan karena dia, aku mungkin sudah mati sebanyak dua kali." Ame memang sengaja memuji Leo dihadapan sahabatnya tersebut, karena image Leo pada Veronica sudah kurang baik sejak awal.


"Hummm… Soal itu, harus aku akui kalau itu memang benar." Ucapnya membenarkan apa yang dikatakan oleh Aame, karena sudah sering melihatnya.


"Ah… Itu dia datang!" Ame segera melambai kepada Leo yang baru saja masuk ke dalam cafe.


Veronica segera menoleh ke arah yang Leo, yang kini sudah berjalan mendekati mereka.


"Hai…" Sapa Leo pada Veronica, yang hanya dibalas anggukan pelan darinya.


"Kalau begitu aku pergi dulu, masih banyak yang harus aku lakukan." Terang Veronica langsung meninggalkan mereka berdua.


Ame dan Leo tampak bercanda satu sama lainnya dengan begitu akrabnya. Veronica memang tidak begitu nyaman dengan keberadaan Leo disekitar Ame, karena takut pria mesum yang sudah sangat ia ketahui siapa itu akan mempermainkan sahabatnya.


"Sepertinya kau terlihat baik-baik saja. Apa kau tidak masalah dengan berita mengenai Xavier dengan wanita itu?" Tatap Leo pada Ame yang terlihat tenang meski sekarang berita mengenai Xavier sedang disiarkan pada televisi yang ada di cafe tersebut.


"Biarkan saja… Itu memang sudah takdir mereka untuk bertemu. Toh sebentar lagi, aku akan menemukan cara untuk mengubah semuanya dan tidak membiarkan Xavier jatuh ke pelukan wanita penghianat itu." Ucap Ame dengan santai membuat Leo mengerutkan keningnya.


Perkataan Ame selalu saja membuat dia susah untuk memahaminya. Seolah dia sudah tahu segala hal yang akan terjadi pada Ame nantinya.


Melihat Veronica yang sudah berjalan menuju ke mejanya mereka untuk membawa penasanan keduanya, membuat Ame segera memikirkan cara untuk membuat Leo dan Veronica bisa berbicara satu sama lain.


"Akhhh…" Veronica oleng karena sepatu haknya menginjak sumpit yang dilempar oleh Ame secara diam-diam.


"Kau baik-baik saja?" Tatap Leo yang berhasil menangkap tubuh Veronica.


"Ah… Belakangmu!" Veronica langsung bangkit saat melihat kopi panas yang tertumpah di punggung Leo karena melindunginya tumpahan kopi tersebut.