Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Tak Tahu Malu



"Ricky… dimana Xavier." Tanya Ame kepada Ricky yang terkejut dengan kedatangan Ame.


"Hahh?" Ricky tidak terbiasa dengan panggilan akrab yang tiba-tiba diucapkan oleh Ame.


"Cepat katakan padaku dimana Xavier sekarang?" Tanya Ame sekali lagi dengan sangat panik.


"Dia baru saja naik menuju ke Penthouse miliknya." Terang Ricky menjawab dengan patuhnya.


"Terima kasih banyak. Sekarang belum jadwal kerjaku, tapi akan aku pastikan untuk datang tepat waktu." Ucap Ame segera berlari menuju ke lift khusus yang menghubungkan antara lantai bawah tempat Bar itu berada, hotel dan juga Penthouse milik Xavier.


Karena lift itu tak kunjung terbuka, Ame terpaksa berlari keluar dari bar menuju ke lobi hotel. Dia memilih untuk memakai lift hotel agar bisa sampai ke atas.


"Bughhh…" seorang wanita tiba-tiba saja masuk ke dalam lift khusus milik Xavier dan langsung memeluknya.


"Sial.. kenapa wanita ini malah menekan lift khusus dan bukannya memakai lift pelanggan yang di sebelah." Gumam Xavier menjauhkan tubuh wanita itu dari sisinya.


"Ma.. Maafkan aku. Aku tak sengaja." Ucap wanita itu, juga langsung mundur beberapa langkah. Tepat sebelum pintu lift itu tertutup, seseorang sudah memegang tangannya.


"Sona… dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya padamu." Pria yang sedang mengejar Sona saat ini hanya memakai celana pendek saja yang menutupi bagian bawah tubuhnya.


Xavier bisa menebak kalau pria dihadapannya itu baru saja selesai bercinta dan dipergoki oleh wanita cantik tersebut.


"Menjelaskan? Hahahaha.. apa yang bisa kau jelaskan saat mataku jelas-jelas melihat mu sedang mendesah di atas tubuh wanita lain? Penjelasan logis apa yang bisa kau berikan padaku?" Tatap Sona dengan tajam sembari menepis kuat tangan pria itu, namun tidak juga bisa terlepas karena genggamannya cukup kuat.


"Tidak, ini semua tidak seperti yang kau bayangkan. Percayalah padaku. A.. aku bisa menjelaskan semuanya." Tegasnya terus menahan pintu lift agar tidak tertutup.


"Kau ingin bilang kalau ini semua salahku karena tidak pernah membiarkan mu menyentuhku? Salahku karena aku tidak memuaskan dirimu sehingga kau bisa bersama dengan sahabatku. Tidak kah kau terlihat seperti seorang ******** sekarang?" Sona menatap jijik kepada pria dihadapannya tersebut.


"Kalian berdua memang sangat serasi, seorang ******* bersama dengan seorang pecundang. Ayahku terus berusaha mengingatkan aku untuk tidak mencintai pria brengsek tak tahu malu seperti mu, tapi aku dengan bodohnya jatuh cinta dengan semua kepalsuan mu itu." Tambahnya lagi dengan suara serak menahan tangisnya.


"Ini.. ini semua memang karenamu. Kamu selalu saja meragukan aku. Kamu bahkan tak pernah menghargaiku sebagai seorang pria, bahkan ketika kita akan menikah seminggu lagi, kau masih saja menjaga jarak dengan ku dan hanya membiarkan aku menyentuh tanganmu saja. Kau bahkan tidak bisa membuatku mendapatkan posisi yang baik di perusahaan ayahmu." Ucap pria itu tanpa ada rasa malu.


"Jefry.. kau sungguh tak tahu malu. Aku begitu karena ingin menghargai pernikahan kita. Setidaknya kau bisa bersabar sampai kita benar-benar resmi menjadi suami istri, agar anggapan ayahku padamu yang seorang brengsek itu bisa hilang. Aku juga sudah meminta kepada ayah untuk menyediakan posisi untukmu sebagai hadiah pernikahan kita nanti. Tapi kau memang serakah Jef…" Sona tertawa dengan semua perjuangan yang sudah dia berikan.


"Tidak.. tidak mungkin. Rika bilang kalau.." pegangan Jefri perlahan-lahan mulai renggang.


"Jefry… bukankah kau yang bilang kalau kau mencintaiku? Ingat.. aku yang sudah berjuang banyak untukmu dibading dia yang hanya bersikap manja kepada ayahnya. Aku yang sudah mendapatkan posisi yang penting untukmu di perusahaan ayahku, dan aku juga yang sudah memberikan kamu kepuasan." Ucap Rika dibelakang Jefry, yang muncul dengan gaun malamnya yang sangat seksi.


"Yah… pria ini cukup bodoh karena sudah melepas wanita secantik, Sona ini. Sangat terlihat jelas kalau wanita ini tulus padanya, namun pria ini terbutakan oleh keserakahan dirinya." Batin Xavier terus memperhatikan mereka dengan senyuman sinisnya.


"Lepaskan tanganku. Semua yang sudah terjadi di antara kita berakhir disini. Aku tidak sudi melihat wajah kalian lagi." Tepis Sona sekali lagi yang langsung membuat tangannya terlepas dari genggaman Jefry.


"Tidak… aku tidak bisa melepaskan mu begitu saja. Aku akan menjauhi Rika dan kita bisa memulai kembali semuanya dari awal." Pinta Jefry kembali meraih tangan Sona dan menggenggamnya lebih erat dari sebelumnya.


"Lepaskan Jefry… kau membuatku sakit." Sona mulai meringis sakit, namun Jefry tidak ingin melepaskan tangan Sona.


"Aku.. aku akan memperbaiki semuanya. Aku minta maaf Sona. Aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa kehilangan dirimu." Ucap Jefry dengan nada suara yang lebih lembut.


"Jefry… kau jangan lupa kalau aku sudah hamil anakmu." Ancam Rika yang semakin membuat Sona terpuruk.


"Hamil? Itu artinya kalian sudah bermain di belakang ku sejak lama. Kau memang brengsek Jefry.. Plakkkk!" Sona akhirnya melepaskan emosinya, menampar Jefry dengan sangat keras.


"Pukul aku.. tampar sampai kau puas, tapi aku tak akan pernah melepaskanmu." Jefry malah menarik Sona dengan kasar keluar dari lift, namun Sona tetap bertahan.


"Lepaskan dia, kau sudah membuatnya tersakiti." Ucap Xavier dingin memegang tangan Jefry dengan sangat kuat.


"Siapa kau? Jangan mengurus urusan orang lain. Tetaplah di sudut sana dan diam seperti yang kau lakukan sejak tadi." Perintah Jefry dengan sangat tajam.


"Tu.. tuan Xavier?" Rika terkejut melihat Xavier berada di dalam lift tersebut. Dia yang semula tak sadar kalau lift itu adalah lift khusus yang hanya akan di gunakan olehnya seketika membelalakkan mata ketika Xavier menampakkan dirinya.


"Oh.. hai Rika. Kau sepertinya tidak berubah. Berganti-ganti pria setiap kali datang ke hotelku. Aku senang karena berkat dirimu, aku mendapatkan pelanggan yang cukup banyak. Sama seperti saat ini." Senyum Xavier dengan sangat sinis ke arah Rika yang langsung mundur secara perlahan-lahan.


"Kau.. jadi kau sengaja menjebakku? Kau bilang hanya aku satu-satunya untukmu." Jefry sudah berbalik ke arah Rika dengan penuh amarah.


"Puhahahahaha… kalian berdua memang sangat serasi. Sama-sama brengsek dan tak tahu malu." Ucap Sona berhasil melepaskan tangannya Jefry berkat bantuan dari Xavier.


Jefry segera menangkap Rika untuk memberikannya pelajaran sedang Sona dengan segera menutup pintu lift agar bisa lepas dari keduanya.


"Terima kasih banyak karena anda sudah membantu saya." Ucap Sona memegang tangan kananya yang tampak memerah karena genggaman kuat dari Jefry.


Xavier tak menjawab perkataan Sona, dan hanya menghubungi Ricky.


"Usir Rika dari hotel ini. Jangan pernah biarkan dua orang itu lagi menginjakkan kakinya di tempat ku." Tegas Xavier dengan suara dingin.