Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Derita Leo



"Bagaimana keadaaanya?" tanya Xavier kepada Leo, yang baru saja selesai memeriksa Ame.


"Dia baik-baik saja. Tubuhnya sangat lemah karena sepertinya beberapa hari terakhir dia habis melakukan latihan yang sangat berat hingga mencapai batas akhir yang dapat di tanggung oleh tubuhnya. Dengan perawatan dan istrahat yang cukup, kondisinya akan kembali pulih." Jawab Leo, berusaha untuk tetap tenang meski sebenarnya dia sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh Xavier, kepada Ame.


"Aku serahkan dia padamu!" ucap Xavier dingin lalu berbalik ingin meninggalkan ruangan itu.


"Sepertinya hatimu kini sudah mulai goyah." pancing Leo yang langsung menghentikan langkah kaki Xavier.


"...." Dia hanya berdiam diri tak tahu harus menjawab apa terhadap perkataan Leo.


"Aku sangat mengenali dirimu Xavier. Kau tak akan pernah membiarkan seorang mangsamu kembali hidup begitu kau sudah menemukannya. Tapi pada Ame, perlakuanmu justru sebaliknya. Kau bahkan bukan hanya tidak membunuhnya, tapi kini kau sangat mengkhawatirkan dirinya." ucap Leo dengan senyuman licik untuk memancing Xavier, agar bisa jujur pada dirinya sendiri.


"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?" Xavier berbalik dan menatap Leo dengan sangat tajam.


"Tidak ada..." ucap Leo menaikkan bahunya dengan tersenyum licik.


"Aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu padanya." Ancam Xavier meninggalkan Leo, yang langsung bermuka masam ketika Xavier, menutup pintu dengan sangat keras.


Leo kembali mengalihkan padangannya kepada Ame, yang kini masih terbaring tak sadarkan diri. Xavier memang tidak mengizinkan Leo, untuk memeriksa seluruh tubuh Ame, namun dari tangan dan kakinya yang tampak memiliki lebam yang membiru, dapat ia pastikan kalau tubuh Ame juga di penuhi oleh lebam yang lainnya.


Leo hanya bisa mengetahui hasil pemerikasaan yang diberikan oleh sang suster mengenai kondisi tubuh Ame. Hal itu sudah bisa ia duga darimana Ame, mendapatkannya. Tapi yang membuat Leo merasa sangat marah adalah lebam yang berada di leher Ame dan juga bekas cinta yang diberikan oleh Xavier.


"Bagaimana mungkin kau bisa mencintai seorang iblis sepertinya?" Gumam Leo, merasa sangat iba melihat wajah sendu Ame.


Xavier yang sudah berjalan segera menuju toilet rumah sakit, lalu dengan penuh amarah dia menghancurkan cermian yang terdapat di dalam toilet tersebut.


"Prangggg...."


"tes.. tess.. tes..." pecahan kaca itu melukai tangan Xavier.


"Tak ku sangka kali ini aku harus mengakui apa yang dikatakan oleh Leo. Tapi, apa pria sepertiku pantas untuk mencintai ataupun mendapatkan cintanya?" Xavier menunduk dalam bertahan di meja wetafel toilet tersebut.


"Aku tidak bisa membiarkan orang seperti dia berada disekitarku. Duniaku terlalu gelap untuk di masuki oleh wanita lemah sepertinya. Tapi perasaan ini... Perasaan ini begitu kuat hingga aku tak dapat mengendalikannya. Aku baru pertama kali memiliki perasaan seperti ini kepada seorang wanita." Zavier menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.


Tak pernah terpikirkan olehnya kalau pada akhirnya hatinya juga bisa mencintai seseorang, namun bagi Xavier. Cinta hanyalah sebuah kelemahan yang akan membuatnya mengalami kehancuran dengan sangat mudah. apa yang dilakukan olehnya hari ini sudah cukup membuktikan kalau bagi dia, Ame telah menjadi sumber kelemahannya.


"Tuan..." Ricky sudah berada di pintu toilet menunggu Xavier.


"Ada apa?" tanya Xavier keluar dari toilet.


"???" Ricky terkejut melihat darah yang menetes di tangan Xavier.


"Katakan!" bentak Xavier tidak sabaran karena Ricky, hanya terdiam saja.


"Kami sudah menangkap orang yang tuan cari sebelumnya. Apakah anda ingin saya membunuhnya langsung, atau..."


"Baik!" ucap Ricky langsung menghubungi anak buahnya.


Begitu Ricky akan memasuki mobil, Xavier segera menghentikannya.


"Tetaplah disini dan pastikan mereka mendapatkan semua perawatannya. Jangan buat dirimu terlihat dan laporkan padaku apapun yang terjadi" tegas Xavier memberi perintah.


"Tapi Tuan..." Ricky ingin menolak karena baginya tetap berada di samping Xavier, merupakan priorotas utamanya.


"Aku tak akan mengulang ucapanku dua kali." suara dingin Xavier terdengar sangat tegas dan tidak menyukai adanya penolakan lagi dari Ricky.


"Baik, akan saya lakukan dengan baik." Ricky menunduk hormat dan menutup pintu mobil Xavier dengan sedikit lembut.


Ricky masih terus berdiri di tempatnya saat mobil milik Xavier, perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.


"Semoga wanita ini tidak memperngaruhimu dan menjadi kelemahanmu, karena jika itu terjadi aku akan membunuhnya meskipun kau harus membenciku. Bagiku tidak ada yang lebih utama dibandingkan dengan nyawamu." gumam Ricky melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan ekpresi yang sangat menyeramkan karena tidak menyukai kehadiran Ame, di dalam hidup Xavier.


Beberapa jam kemudian, Leo melihat kening Ame yang tampak mulai mengkerut. Karena merasa khawatir, Leo mendekatkan wajahnya dan menekan bagian tengah kening Ame agar dia bisa kembali meluruskan keningnya tersebut, namun apa yang ia lakukan sebenarnya membuat Ame secara perlahan-lahan mulai mendapatkan kesadarannya.


"I... Bu..!"


"Bugghhh" Ame yang mendadak sadarkan diri segera menghantam kepala Leo dengan sangat keras, bahkan Leo sampai terjungkal ke belakang karenanya.


"Ayyyy... iii.... sshhhh" Ame segera berguling-guling di atas kasurnya karena rasa sakit yang amat dahsyat di kepalanya, sedangkan Leo pingsan dan tak sadarkan diri.


"Kau sudah bangun? Apa yang terjadi?" Veronica yang mendengar suara teriakan Ame, segera terburu-buru masuk dengan sangat khwatir.


"Ah... Vero, bagaimana dengan keadaan Ibu? Apa Ibu baik-baik saja? sudah berapa lama aku berada disini?" Ame yang tiba-tiba bangkit dari kasurnya langsung oleng dan hampir terjatuh. Untunglah Veronica, dengan cepat menangkap tubuh sahabatnya tersebut.


"Duduklah... Kondisimu sangat lemah. Kau tidak perlu memaksakan dirimu. Ibu baik-baik saja, sekarang dia berada di kamar yang lain dan sedang menjalani berbagai macam pemeriksaan untuk mengetahui penyakitnya. Pria yang mengantarmu ke rumah sakitlah yang mengurus semuanya. Aku datang karena mengkhawatirkanmu dan ibumu sedang berada di dalam lab sekarang." jelas Veronica, sembari kembali mendudukkan Ame, di kasurnya.


"Pria? apa yang kau maksud dia?" tunjuk Ame pada Leo yang masih tegeletak di lantai dengan posisi yang sedikit aneh bagi Veronica.


"Huhhh??? Apa yang sudah kau lakukan pada pria itu? kenapa dia bisa berada di bawah sana?" Veronica terkejut melihat pria itu tergeletak tak bernyawa di lantai. Saat ia masuk, Veronica memang sempat tidak melihat Leo, karena matanya lebih tertuju pada Ame.


"Ummmm.. Dia adalah Leo. Pria yang membantuku selama ini. Bantu aku untuk memindahkannya." Pinta Ame kepada Veronica dengan sedikit tertawa lemah, merasa lucu dengan pertemuan mereka yang sedikit berbeda dari adegan yang berada di dalam komik.


"Jadi, pria ini yang sering kau ceritakan itu?" ucap Veronica berusaha mengangkat tubuh Leo, dari lantai.


"Tephh..." Veronica tiba-tiba berhenti ketika sebuah tangan berada pada tempat yang tidak seharusnya.


"Humm.. Habis gelap terbitlah terang. Ini empuk sekali." ucap Leo masih setengah sadar setelah sebelumnya mendapatkan tabrakan kepada Ame yang sangat keras, lalu sekarang sedang memegang dada Veronica dengan remasan kecil.


"Dasar Mesummmm! Plakkkkkk" Sebuah tamparan langsung membuat Leo kembali pingsan dengan dahi dan pipi yang mengeluarkan asap.~~~~