
Xavier yang keluar dari kamarnya segera menutup pintu kamar tersebut dengan bantingan yang cukup kuat. Bahkan Ame yang berada di dalam pun kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Ame tak menyangka kalau Xavier, akan meninggalkannya disaat mereka sudah berada dalam gairah yang menggebu-gebu.
“Apa?” Ame bangkit dari ranjang dengan perasaan marah karena Xavier meninggalkannya begitu saja.
“Kenapa dia pergi begitu saja? Apa tubuhku bau? Atau dia menganggap pria sebelumnya sudah menyentuhku? Tapi kan dia lihat sendiri kalau pakaian dalamku masih utuh dan pria itu tidak sempat melakukan apapun selain mencium bibir dan leherku.. Deghhh” Ame seolah sadar apa yang sudah membuat Xavier tampak marah dan pergi meninggalkannya.
“Pufffttt… hahahahaha” Ame langsung merebahkan dirinya setelah mengingat sesuatu yang amat penting yang sudah ia lupakan sebelumnya.
“Dasar bodoh… Bagaimana mungkin aku lupa kalau Xavier adalah tipe orang yang sangat membenci wanita yang sudah pernah disentuh oleh orang lain, bahkan jika itu hanyalah ciuman bibir saja.” gumam Ame mengingat setiap detail karakter Xavier didalam komik.
“Aku yang hanya seorang wanita acak yang baru saja muncul dikehidupannya, mana mungkin akan menjadi sebuah pengecualian? Aku terlalu percaya diri. Sebaiknya aku fokus pada tujuan awalku, bukannya mengharapkan cinta yang takkan mungkin aku miliki.” Ucapnya mulai jatuh tertidur diatas ranjang Xavier.
Satu hal yang sudah ia putuskan sebelum jatuh tertidur ialah menyerah untuk mengharapkan lebih dari apa yang bisa ia dapatkan, namun tujuannya untuk menjauhkan Zavier dari Sona tidak akan berubah. Karena hanya itu satu-satunya jalan keluar agar Xavier tidak terjebak dalam konflik yang akan membuat dirinya tenggelam dalam kegelapan dan mati sia-sia.
“Aku tidak akan pernah biarkan hal itu terjadi.” Ucapnya disela-sela tidurnya.
Xavier yang merasa frustasi segera keluar dari apartementnya. Pikirannya hanya tertuju untuk bagaimana dia harus menyelesaikan semua khayalan tentang Ame dengan cara minum alcohol. Bahkan mandi air dingin sekalipun tidak bisa menyurutkan rasa panas di tubuhnya jika fikirannya masih dalam kondisi normal.
“Cklek!” Xavier menutup pintunya dengan perasaan berat.
“Aku tidak bisa memperlakukanmu seperti wanita lainnya. Kamu terlalu berharga bagiku, aku tak sanggup jika membuatmu menjadi milikku dengan cara yang salah. Meski kau secara suka rela datang kepelukanku, aku tidak bisa membuatmu jadi wanita seperti mereka. Tidak bisa!” Xavier bersadar ke pintu apartementnya memikirkan apa yang baru saja hampir ia lakukan pada Ame.
Meski dia sangat ingin memiliki Ame seutuhnya, namun melihat wajah plos Ame yang masih berumur 19 tahun membuat dia menahan dengan segenap hatinya. Ame masih dalam umur yang belum pantas untuk mengalami hal seperti yang biasanya ia lakukan kepada semua wanita, terlebih karena Ame adalah wanita yang sangat ia hargai dan ia cintai dengan sepenuh hati.
Untuk pertama kalinya, Xavier benar-benar tidak ingin menyentuh wanita bukan karena dia tidak memiliki ketertarikan padanya, namun karena dia sangat mencintai dan menghargai wanita itu. Dia yang selama ini tenggelam dalam gelapnya dunia tidak akan mungkin merusak satu lilin kecil yang rapuh yang sudah hadir mengisi sedikit kehangatan dihatinya. Tidak dengan cara yang salah.
Xavier yang keluar dengan wajah dan tubuh yang acak-acakan tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang memperhatikannya dengan tatapan penuh amarah. Merasa penasaran dengan tatapan tajam tersebut, Xavier menoleh dengan tatapan dingin.
“Apa yang kau lakukan dengan berada di depan apartement ku ini?” Tanya Xavier tidak suka dengan pria yang saat ini berdiri di hadapanya.
“Apa yang kau butuhkan dari seorang pelayan sampai kau mencariku untuk menemuinya?” Xavier tampak tidak perduli padanya dan berjalan melewatinya.
“Aku tau wanita pelayan sepertinya bukanlah tipemu, untuk itu berikan dia padaku.” Ucap Ghio dengan sangat tegas.
Tidak pernah disangka oleh Xavier, kalau Ghio akan tertarik pada Ame. Terlebih dia sampai menjatuhkan harga dirinya untuk menemui dirinya. Xavier dan Ghio memang selalu saja bersaing dalam segala hal, baik bisnis, wilayah kekuasaan hingga wanita. Meski begitu, mereka tidak akan pernah tertarik pada satu hal yang sudah dimiliki oleh orang lain. Selama belum dimiliki oleh salah satu diantara mereka berdua, maka siapa saja berhak untuk mendapatkannya.
“Dia tipe ku ataupun bukan, itu bukanlah urusanmu. Lagi pula aku pikir kau tidak akan tertarik pada wanita yang sudah menjadi bekas milikku. Atau sekarang minatmu sudah mulai berubah?” Xavier tersenyum licik ke arahnya merasakan kemenangan yang sangat membuatnya puas.
“Yah… Tidak masalah jika kau mengiginkan bekasku. Aku baru saja menyelesaikan beberapa ronde dengannya. Dia mungkin sedang terbaring lemaas di ranjang saat ini. Jika kau masih mengiginkan dia, kenapa kau tidak masuk dan bawa dia pergi dari sini. Hahahahaha” Xavier yang sengaja mengatakan hal itu untuk membuat Ghio merasa kesal dengan penuh semangat tertawa lepas.
Tidak hanya itu, Xavier bahkan sengaja membukakan pintu apartementnya untuk membiarkan Ghio masuk dan melihat secara langsung wanita yang sudah menjadi milik Xavier.
Ghio tak pernah menduga kalau wanita yang sudah berani menolaknya dengan mentah-mentah itu malah memberikan dirinya pada Xavier. Untuk beberapa alasan tertentu, Ghio merasa marah karena kalah terhadap Xavier sekali lagi. Dia tidak terima seorang pelayan seperti Ame bisa menolak dirinya, namun malah menerima Xavier. Bagi Ghio, dia jauh lebih baik dan lebih lembut dibadingkan dengan Xavier.
“Sial…!” Ghio melangkah ke depan pintu apartment Xavier berharap untuk membuka pintu itu dan mengeluarkan Ame dari sana, namun dia berhenti sejenak di depan pintu itu.
“Aku akan membunuhmu di tempat ini sekarang juga jika kau berani melangkahkan kakimu di dalam rumahku. Ame adalah milikku, dan tidak akan aku biarkan orang lain memilikinya terutama pria brengsek sepertimu.” Batin Xavier menatap wajah Ghio dengan sangat tajam.
“Cih… Aku tak sudi dengan wanita yang sudah kau pakai.” Ucap Ghio berbalik pergi dan menutup pintu penthouse Xavier, karena tak sanggup membayangkan kalau dia malah tertarik pada wanita yang sudah ditiduri oleh Xavier.
“Heh… Kau masih punya harga diri juga rupanya. Selain itu, aku tak menyangka kau bahkan dengan bodohnya melepaskan wanita yang tak sengaja lepas dari tanganku tadi. Apa kau tidak menyukainya? Karena aku akan mendapatkan wanita itu sesegera mungkin.” Terang Xavier berjalan menuju ke liftnya.
“A… Apa?” Ghio terkejut mendegar kenyataan tersebut. Bagaimana mungkin dia dengan cerobohnya membiarkan wanita itu lepas dari tangannya dan kini malah menjadi mangsa Xavier selanjutnya?
“Tidak… Tidak akan aku biarkan kamu menang lagi.” Ucapnya langsung melakukan panggilan untuk menghubungi asistennya.