Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Hanya Dalam Mimpimu



Karena merasa tubuh dan wajahnya panas, Ame segera pergi menuju ke toilet untuk membasuh wajahnya. Xavier yang berinisiatif lebih dulu untuk menciumnya membuat Ame tidak bisa memfokuskan pikirannya.


"Bibirnya benar-benar memabukkan." Ucap Ame sembari memegang bibirnya di depan cermin.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku kemari hanya untuk menyelamatkan Xavier, bukan membuatnya jatuh cinta padaku." Ame berperang dengan dirinya sendiri.


"Harus aku akui, setelah melihatnya secara langsung aku semakin jatuh cinta padanya. Tapi waktuku sudah tidak banyak lagi. Xavier juga sudab bertemu dengan Sona, pertemuan singkat yang akan membawa bencana bagi Xavier yang merupakan karakter orang ketiga." Ame terus memikirkan apa yang sudah ia baca selama ini.


"Aku yang seharusnya tidak bertemu dengan Ghio, pada akhirnya terlibat dalam situasi yang tidak menguntungkan. Tapi untungnya Sona ada disana, dan aku yakin sekarang mereka pasti bersama." Pikir Ame sembari terus memikirkan jalan yang harus ia lakukan untuk bisa membuat kedua orang itu tetap sesuai dengan jalan cerita, namun juga tetap mengalihkan perhatian Xavier padanya.


"Sistem, berapa persen rasa suka Xavier pada Sona saat ini?" Tanya Ame ingin memastikan perasaan Xavier, sebelum mencari rencana lain.


"Nol persen!" Jawab sistem di dalam kepala Ame.


"Hahhhh???" Ame terkejut tak menyangka dengan apa yang terjadi. 


"Mereka bukannya sudah bertemu. Tidak ada yang salah dengan jalan ceritanya karena Xavier sudah bertemu dengan Sona. Xavier yang bertemu dengan Sona, jatuh cinta pada pandangan pertama karena kecantikannya. Selain itu, ayah Sona yang memiliki kekuasaan besar membuat Xavier juga memperoleh kekuasaanya." Pikir Ame tak menemukan alasan dari tidak adanya rasa suka Xavier kepada Sona.


"Apa karena…" Ame yang tengah bergumam sendiri tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan beberapa pria yang berbadan besar.


"Hei.. Apa kalian tidak tahu kalau ini ada toilet wanita?" Tatap Ame dengan sangat tajam kepada para pria tersebut.


"Tepat seperti yang dikatakan oleh Brina, wanita ini cukup cantik juga. Tubuhnya seksi dan rasanya akan sangat puas jika kita bisa menikmatinya." Pria itu menjulurkan lidah dan menjilat bibirnya sendiri ketika melihat ke arah Ame.


"Brina? Jadi mereka semua adalah suruhan wanita itu!" Batin Ame kesal saat mengetahui alasan dibalik kedatangan para pria itu.


"Apa yang kamu pikirkan sayang? Kau harusnya bersiap-siap karena kau akan merasakan kenikmatan tiada tara nanti. Hahahahaha" Mereka tertawa terbahak-bahak memikirkan apa yang akan mereka lakukan.


"Hanya dalam mimpi mu!" Ame langsung melayangkan tendangan berputarnya hingga mengenai kepala salah satu pria dan membentur kaca hingga memecahkannya.


"Kucing liar ternyata!" Pria yang lain langsung melayangkan cekikannya pada Ame. 


Ame yang tidak bisa melepaskan diri karena kekuatan tangan pria itu yang lebih besar dan kokoh, membuat Ame harus melompat naik untuk meraih kepala pria itu lalu memelintirnya dengan segenap kekuatannya.


Ame yang masih terkunci langsung mendapatkan serangan dari pria yang lain. Tendagan lurus langsung mengarah ke bagian perutnya. Tubuhnya yang kecil langsung terlempar membentur dinding. 


Masih bisa bertahan, Ame berusaha untuk menedang kaki pria itu dan menjatuhkannya ke lantai. Mereka terlalu kuat bagi Ame, sehingga untuk bisa keluar dari sana Ame harus memikirkan cara lain.


Ame lansung membuka pintu salah satu kamar toilet, lalu membenturkannya pada pria tersebut.


"Grep!!!" Ame yang baru saja ingin melangkah keluar langsung terjatuh kembali ketika kakinya di pegang oleh seorang pria yang lain.


"Lepa… kan! Jlebbb…" Sepatu heelsnya menancap dalam ke mata pria tersebut.


"Akkkkhhhhh…!" Teriaknya kesakitan.


"Ah… Sial!!" Maki Ame mendesis pelan.


"Dasar tidak berguna. Bahkan hanya wanita lemah seperti ini saja tidak bisa kalian atasi?" Pria yang memegang benda tumpul itu memarahi ketiga anggotanya.


"Dia sangat licin sekali. Lincah sepeti belut Bos." Ucap pria yang kepalanya terus meluncurkan darah segar karena kepalanya yang terbentur di kaca.


"Keluar dari sini dan tutup pintunya." Perintah pria itu dengan tatapan tajam.


Mereka bertiga dengan sangat ketakutan langsung keluar dari toilet itu. Menyisakan bosnya dan juga Ame.


"Brakkkk!!!" Brina masuk ke dalam toilet dengan memangku kedua tangannya di dadanya dengan angkuh.


"Hahahaha… Pada akhirnya dia bukan apa-apa." Ucapnya tertawa melihat Ame yang sedang terbaring lemah di lantai.


"Ini adalah balasan bagimu karena sudah mempermalukan aku sebanyak dua kali. Jangan harap tuan Xavier akan menyelamatkanmu, karena baginya semua perempuan hanyalah mainan saja. Tidak terkecuali dirimu!" Ucap Brina sembari memegang kedua pipi Ame dengan sangat kasar.


"Apa yang ingin kau lakukan padanya?" Tanya pria itu kepada Brina.


"Apa kau baru pertama kali melakukan ini? Bukankah kau sudah biasa menyingkirkan wanita yang ingin merebut tuan Xavier dariku?" Tatapnya pada pria itu dengan senyuman licik.


"Buat dia tidak bisa menunjukkan wajahnya lagi dihadapan Xavier. Soal apa yang ingin kalian lakukan, nikmati saja sesuka kalian dan jangan biarkan dia mati. Mati terlalu bagus untuk wanita seperti dia." Ucap Brina sinis lalu pergi dari toilet itu meninggalkan Ame yang mulai kehilangan kesadarannya.


Brina yang merasa puas dengan apa yang sudah dialami oleh Ame, keluar sembari tertawa dengan begitu mengerikan. Sedang pria yang ada di dalam toilet kini sudah tak tahan ingin segera merasakan Ame.


"Hummm… Belut ini sangat cantik sekali. Sekarang, bagaimana kalau aku merasakan tubuhmu ini?" Pria itu menatap Ame dengan liur yang menetes deras.


"Tidak… Aku tidak boleh membiarkan tubuh Ame di gerayangi oleh pria busuk seperti dia." Ame yang sudah lemah bersusah payah untuk mundur secara perlahan-lahan dari pria itu.


"Mau kemana sayang? Kau sudah tidak bisa kemana-mana lagi, jadi lebih baik kau diam dan nikmati saja semuanya. Aku janji, aku akan memperlakukan kamu dengan lembut." Tatapan tajam dan mengerikan pria itu membuat Ame sangat ketakutan.


Meski sudah sering berhadapan dengan situasi seperti itu, tubuhnya tetap saja bereaksi dengan sangat hebat terhadap rasa takut yang ia alami.


"Plakkkk!" Ame bisa melayangkan satu tamparan begitu pria itu dengan ganasnya meraba pada Ame.


"Perempuan sialan! Aku sudah berbaik hati padamu, tapi sepertinya kau lebih suka jika bermain kasar." Pria itu langsung menampar Ame dengan keras.


"Akhhh… hikzzz.. Tidak!" Tamparan itu membuat Ame kembali merasa linglung.


"Se.. Selamatkan aku Xa.. Xavier!" Teriak Ame dalam hati dengan kesadaran yang perlahan-lahan hilang sedang pria itu sudah merobek habis baju Ame.


"Brakkkk!!!" Samar-samar Ame mendengar teriakan seseorang memanggil namanya.