
Ame yang segera keluar dengan sangat buru-buru karena ingin segera pergi menemui ibunya menunggu taksi dengan sangat khawatir.
"Apapun yang terjadi, aku tak akan membiarkan ibu mu dalam masalah Ame. Apapun akan aku lakukan, karena berkatmu aku bisa berada disini." Batin Hike dengan penuh tekad terus berdiri menantikan taksi yang lewat.
"Sial… Sepertinya tak akan ada taksi kosong yang akan lewat disini." Ame yang sudah ingin melangkah pergi tiba-tiba dikejutkan oleh bunyi klakson mobil.
"...?" Ame terdiam ketika melihat kaca mobil bagian belakang itu turun.
"Kau mau kemana? Ikutlah bersamaku." Pinta Frank kepadanya.
"Pria itu lagi. Aku ingat kalau dia adalah salah satu dari anggota organisasi yang bekerja sama dengan organisasi yang kini Xavier berada. Tapi dia terlalu berbahaya untuk aku ikuti." Batin Hike mengingat setiap detail para karakter dari komik yang ia baca.
"Terima kasih atas tawarannya, tapi saya bisa naik taksi." Tolak Ame, masih berusaha untuk bersikap sopan padanya.
"Naiklah, aku akan mengantarmu. Lagi pula kau akan susah mendapatkan taksi disekitar sini." Ucap Frank sekali lagi membuka lebar pintunya agar Ame bisa masuk dan ikut dengannya.
"Maaf.. tapi saya tidak bisa menerima kebaikan dari orang yang belum saya kenali. Sekali lagi terima kasih, tapi saya bisa pergi sendiri." Suara Ame menjadi semakin tegas saat menolak permintaan Frank.
Frank menjadi kehilangan kesabarannya karena sikap Ame. Banyak wanita yang bahkan rela bersujud agar bisa naik ke dalam mobilnya, namun Ame malah terus saja menolak dirinya.
"Cih… masukkan dia." Perintah Frank dengan marah.
Merasakan adanya bahaya, Ame segera berlari untuk menyelamatkan dirinya, namun anak buah Frank sedari awal sudah berada di belakang Ame untuk memastikannya tidak melarikan diri.
"Lepaskan! Umppph…" mulut Ame sudah dibekap dan perlahan-lahan kehilangan kesadarannya. Dia di bius lalu segera dimasukkan kedalam mobil.
Mobil itu berlalu pergi dari sana, namun seorang pelayan bar milik Xavier, yang sedang membuang sampah melihat kejadian tersebut segera berlari masuk.
"Uggghh…" Ame masih merasa sedikit pening akibat obat bius yang diberikan kepadanya.
Dia melihat ke sekelilingnya, namun tempat itu tidak di kenalinya. Dia berada disebuah kasur empuk dengan pakaian yang sudah berganti dengan gaun malam yang seksi.
"Ahhhkkkk…" Ame berteriak kencang karena melihat bajunya yang sudah berganti. Dia memeriksa setiap sudut tubuhnya dengan sangat panik, namun tubuhnya tidak bisa digerakkan dengan mudah.
"Oh.. kau sudah bangun? Tenang saja, meskipun aku sangat tertarik dengan dirimu. Aku tetap tidak suka bermain dengan wanita yang tidak sadarkan diri. Bagiku itu tidak menantang dan tidak menyenangkan sama sekali." Ucap Frank yang baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya.
Meski dia terlihat sudah sedikit berumur, namun tubuhnya terlihat begitu kekar dan terawat dengan sangat baik. Sangat terlihat jelas kalau tubuhnya terbiasa dalam pertempuran.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya? Bukankah kau tahu kalau aku adalah wanita Xavier? Lagi pula aku sudah memenangkan taruhan itu." Ame sengaja memasang nama Xavier sebagai tamengnya agar bisa lolos dari Frank.
"Wanita Xavier? Hahahaha.." Frank tertawa keras dan datang menghampiri Ame lalu memegang pipinya dengan kuat.
Pengaruh obat masih terasa di tubuh Ame, sehingga dia masih belum bisa menggerakkan tangan dan kakinya dengan baik.
"Kamu hanya bisa membuatnya bergairah, tapi bagi dia kau bukanlah apa-apa. Bahkan Xavier mengaku tidak pernah mengenali dirimu. Kau terlalu menganggap dirimu terlalu tinggi tau nggak!" Frank melempar wajah Ame, dengan sangat kasar dan menindih tubuh Ame.
Tubuh Ame yang belum benar-benar bisa digerakkan, hanya bisa terkunci dibawah kendali Frank.
"Hahahaha… aku sangat suka kucing liar seperti mu. Semakin menantang untuk dijinakkan. Kalau kamu mau dengan mudah itu jadi tidak menyenangkan. Itu adalah obat pelumpuh, tapi tenang saja. Itu tidak akan lama, karena begitu kau sudah merasakan kenikmatan. Obat itu akan secara perlahan-lahan menghilang dan kau bisa merasakan nikmatnya dunia yang sebentar lagi akan kau rasakan." Frank langsung mengarahkan wajahnya untuk mencium bibir Ame, namun Ame sempat berpaling.
Frak tak peduli dan malah mengincar telinga dan Leher Ame dengan sangat rakus.
"Tubuhmu sangat wangi sekali. Hanya dengan wangi tubuhmu aku bisa menjadi sangat bergairah. Pantas saja Xavier juga seperti ini padamu." Ucap Frank mulai menggit pelan telinga Ame, untuk memberikannya rangsangan.
Berkat apa yang dilakukan oleh Frank, Ame mulai bisa merasakan tubuhnya secara perlahan mulai dapat bergerak dengan bebas.
"Brakkkk!!!" Ame berhasil mendorong tubuh Frank hingga dia terjatuh ke lantai.
Ame bangkit dengan terburu-buru menjauhi Frank. Dia berusaha mencari benda yang bisa dia gunakan untuk melindungi dirinya.
Meskipun sudah berlatih cukup kuat untuk bisa bertahan dan melindungi diri dari situasi seperti itu, namun Ame tetap kesulitan dengab pengaruh obat yang membuatnya masih susah untuk berdiri dengan baik.
"Jangan mendekat!" Ame segera menodongkan senjata yang ia dapatkan dari dalam laci meja kamar Frank.
"Wooww.. sebentar. Aku ingatkan agar kau tidak berbuat gegabah. Kemarilah… aku bisa memberikan mu apa saja yang kau inginkan. Xavier tidak akan pernah tertarik dengan wanita yang sudah di ambil oleh orang lain." Frank mendekat secara perlahan-lahan pada Ame.
"Sudah aku katakan jangan mendekat. Satu langkah lagi kau melangkah, aku akan menembakmu." Tegas Ame dengan suaranya yang bergetar. Meski dia sudah belajar bela diri, ketika memegang senjata pun tetap membuatnya takut. Apa lagi ketika dia mengarahkannya kepada orang lain.
"Ayolah.. bukankah aku jauh lebih baik dibandingkan dengan Xavier yang jelas-jelas menolakmu?" Frank tetap melangkah dan mendekat.
"Aku bilang jangan mendekat! Cklekkk.. Eh?" Ame bingung karena pistol itu tidak menembakkan pelurunya.
"Kau harusnya tahu, kalau kau ingin menembak maka kau marus mematikan pengamannya dulu." Fran segera menangkap pistol yang berada di tangan Ame.
"Oh Iya, aku lupa!" Ucap Ame polos.
"Apa?" Tanya Frank bingung dengan tatapan Ame.
"Itu…!" Tunjuk Ame ke bawah.
"Kenapa dengan lututmu?" Tanya nya lagi masih bingung.
"Aku lupa bilang kalau…" Ame memperlihatkan ekspresi manjanya yang manis.
"Lututku tidak memiliki pengaman!" Ucap Ame dengan ekspresnya yang sangat garang.
"Kraaakkkkkkkk (Suara Telor Pecah)" Ame sudah mendaratkan lututnya dengan sangat kuat di area ************ Frank.
"Siap goreng… permisi bang!!!" Ame dengan segera berlari keluar.
"Bos… Anda baik-baik saja?" Tanya sang pengawal kaget saat melihat Ame keluar.
"Kenapa kalian hanya melihatnya? Kejar dia!" Teriak Frank masih bersimpuh dilantai karena derita kehidupan yang sangat luar biasa ia alami.