Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Terlambat



Mendengar apa yang dikatakan oleh Pria itu, Ame jadi sedikit tersenyum dalam diam. Dia merasa kasihan, namun juga merasa puas karena wanita itu mendapatkan ganjarannya.


“Keluar!!!” Perintahnya sekali lagi dengan nada yang sangat mengancam.


Karena sangat takut, dia akhirnya melangkah dengan terburu-buru keluar dari ruangan itu sembari membetulkan pakainnya yang kacau dan berantakan. Melihat wanita itu sudah keluar, Ame pun melangkahkan kakinya. Belum benar dia membalik badan untuk pergi, tangan Ame sudah di Tarik oleh pria tersebut.


“Grep!!!” bukannya jatuh ke pelukannya, Ame malah bertumpu menggunakan lututnya dengan tangan kanannya sudah mendarat di leher pria itu.


Semula Ame tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu karena tertutup oleh tubuh wanita sebelumnya dan karena cahaya yang cukup remang-remang di dalam ruangan tersebut, namun ketika jarak mereka sudah sangat dekat. Ame bisa melihat dengan jelas siapa pria tersebut.


“Kau???” Ame terkejut bukan main saat menyadari siapa pria itu.


“Jadi kau mengenaliku?” ucapnya dengan suara yang tercekik. “Yah… tentu saja semua perempuan akan mengenali pemilik wajah tampan seperti diriku.”


Pria itu tersenyum dengan sangat licik. Dia tampak santai dengan perlakuan Ame pada dirinya, disaat tak ada seorang pun yang berani meletakkan tangannya pada tubuhnya tanpa se izin darinya. Ame segera melepas cekikannya pada leher pria tersebut dan memandangnya dengan sangat terkejut.


“Sistem, lakukan pemindaian pada pria dihadapanku.” Pinta Ame pada system yang ada di kepalanya.


“Pria itu adalah Giovano Tigris. Pria yang memiliki banyak bisnis illegal di kota H. Semua tempat bisnis illegal berdasarkan pada aturan dari Gio. Polisi, pengadilan, dan Pelabuhan. Semuanya mengikuti aturan hukum dari seorang Ghiovano Tigris.” Terang system tersebut menjelaskan kepada Ame.


“Tidak hanya itu, pria ini adalah pria yang akan bekerja sama dengan Sona untuk membunuh Xavier nantinya. Kenapa bukannya Sona yang bertemu dengan pria ini? Kenapa malah aku yang bertemu dengannya? Itu artinya, Xavier mungkin sudah bertemu dengan Sona saat ini.” Ame langsung berlari keluar untuk menemukan Xavier.


Ghio yang mengira kalau wanita itu mengenalinya dan merasa tertarik pada dirinya, tidak akan menyangka kalau wanita itu malah lari dari hadapannya dengan wajah penuh amarah. Selama ini wanita manapun akan berlari kepelukannya setelah melihat ketampanan dirinya, bukannya melarika diri seperti yang dilakukan oleh pelayan wanita tersebut.


Merasa penasaran dan tak suka dengan dia yang melarikan diri, Ghio segera mengejar wanita itu.


“Tuan?” tanya pengawalnya ketika melihat bos nya keluar dari ruangan.


“Dimana perempuan pelayan itu pergi?” tanya Ghio kepada pengawalnya.


“Ah.. di sebelah sana tuan!” ucap pengawalnya cepat.


Tanpa menunggu lama, dia segera melesat kea rah yang di tunjukkan oleh pengawalnya. Dari sana dia melihat wanita pelayan itu sedang berdiri di sebuh ruang VVIP lainnya. Dia tampak berdiri dengan ragu-ragu untuk masuk atau tidak ke dalam ruangan tersebut.


“Akhhh…” Ame terkejut saat tangannya di tarik dengan kasar.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Ame kesal pada Ghio yang sudah mengurungnya dengan membenturkan tubuhnya kedinding.


“Kenapa kau berdiri di depan pintu ruang itu dengan tatapan ragu-ragu?” tanya Ghio dengan sangat posesif.


“Huhhh?! Apa urusannya denganmu.” Tepis Ame kesal.


“Jawab aku!” Ghio semakin kasar mengurung Ame menggunakan tubuhnya.


“Kenapa? Apa kau juga tertarik pada Xavier?” tanyanya sekali lagi dengan nada suara dingin dan tatapan yang tajam.


“Kepada siapa aku tertarik, itu bukan urusanmu. Jadi lepaskan aku.” Ame dengan sigap memelintir tangan Ghio agar bisa terlepas dari kurungannya, namun Ghio tak akan membiarkannya begitu saja.


Ghio membalikkan keadaan dengan memutar tangan Ame lalu mengurungnya dari belakang menggunakan tangannya. Ame tak tinggal diam, dia segera melayangkan kakinya dan memijak dengan cukup kuat pada kaki Ghio lalu membenturkan kepalanya ke wajah Ghio, namun dia bisa menahannya dengan mudah.


“Cklek….” Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, memperlihatkan Sona yang berada dalam pelukan Xavier. Sona tampak sangat mabuk dengan wajah yang memerah dan tubuh yang berjalan dengan gontai.


“Aku belum mabuk! Mari kita lanjutkan lagi dengan botol berikutnyaaa!” ucap Sona dengan setengah berteriak.


Dia yang sedang mabuk, tidak menyadari aura membunuh yang kini sedang di tebarkan oleh Xavier saat melihat Ame sedang berada dalam kurungan seorang pria yang sangat tidak di sukainya. Meski mereka tidak begitu memperlihatkan permusuhan diantara mereka, namun sangat terlihat jelas kalau mereka juga tak ingin terlibat jauh satu sama lainnya.


Akan tetapi, saat melihat Ame sedang berada dalam kurungannya saat ini. Wajah Xavier langsung memerah padam karena marah. Dia sangat tidak suka jika pria lain menyentuh wanita miliknya.


“Lepaskan tanganmu dari tubuhnya!” ucap Xavier dengan nada mengancam.


Ghio hanya terdiam dengan tersenyum penuh arti.


“Ah… Sial! Jadi kau sudah bertemu dengannya? Kali ini aku sudah terlambat satu langkah.” Sungut Ame kesal ketika melihat Xavier bersama seorang wanita.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ame membuat Ghio sedikit marah, sedang Xavier tersenyum senang.


“Apa maksudmu dengan berkata kalau kau terlambat satu langkah?” tanya Ghio dengan tatapan kesal pada Xavier. Ghio tak mengira kalau seorang pelayan seperti dia bisa berbicara dengan sangat santai kepada Xavier.


“Bukan urusanmu dan lepaskan aku!!!” Ame langsung membanting tubuh Ghio kedinding dan melepaskan dirinya dari kurungan Ghio.


“Bawa wanita ini bersamamu, terserah mau kau apakan dirinya. Toh pada akhirnya juga kalian akan bersama nanti.” Ame segera mendorong tubuh Sona ke pelukan Ghio dan menarik Xavier pergi dari sana.


“Hei… Apa yang kau lakukan! Siapa wanita ini?” teriak Ghio kesal saat melihat Xavier dan Ame pergi meninggalkan mereka berdua.


Ame terus menyeret pergi Xavier, dengan semua bayangan mengenai Xavier yang akan mati di tangan ayah Sona karena pengkhianatan yang dia lakukan bersama dengan Ghio. Ame merasa sangat marah dan kesal karena tidak bisa mencegah Xavier untuk bertemu dengan Sona.


“Cukup. Berhentilah!” Xavier segera menghentikan langkah kaki Ame. “Mau sampai mana kau mau membawaku? Apa kau sedang cemburu sekarang hum?” Xavier tersenyum nakal pada Ame karena sikap Ame, yang menurutnya sangat menggemaskan.


Ame hanya terdiam dan menarik nafas dalam. Air matanya perlahan mengalir karena rasa sesalnya yang amat dalam.


“Hei… kau yang meninggalkan aku setelah apa yang sudah aku lakukan padamu. Sekarang kau kembali, menarikku pergi tapi malah menangis dihadapanku. Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Xavier mengusap air mata Ame dengan sangat lembut.


“Aku sangat kesal… Aku sangat kesal sekali karena tidak bisa mencegahmu untuk bertemu dengan Sona.” Apa yang dikatakan Ame sebenarnya membuat bingung Xavier, namun untuk menenangkannya dia segera memeluk Ame dengan erat.