
Hike meringis sakit saat kekuatan besar Xavier, menekan bahunya di atas ranjang. rasa sakit yang sangat jelas
memberitahukan kepadanya bahwa dia sedang dalam bahaya sekarang. Beruntunglah nyawanya masih dapat diselamatkan, namun sebenarnya nyawanya juga kini sudah berada dalam genggaman tangan Xavier.
"Tidak.. Tidak... Aku masih belum ingin mati ditangannya sekarang." Batin Hike berusaha untuk mencari jalan keluar dari situasinya.
"Siapa kau sebenarnya? Mendengar semua ucapanmu, sepertinya kau memiliki tujuan yang lain denganku." Suara dingin Xavier membuat tubuh kurus miliknya bergetarketakutan. Meski ia sudah tahu betul siapa Xavier, tetap saja aura membunuhyang dikeluarkan oleh pria itu sangat pekat hingga membuatnya sedikit kesulitanuntuk bernapas.
"Le.. lepaskan aku. Kita bisaberbicara baik-baik." Pinta Hike, menahan rasa sakit di dadanya.
"Katakan siapa dirimu jika kauingin aku melepaskanmu!" Xavier semakin marah dan semakin menekan bahu Hike dengan sangat kuat.
"Oh tidak... Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi." Darah segar di dadanya semakin mengalir deras menembus perbannya, namun Xavier tidak peduli dan tetap menekan bahunya dengan kasar.
"Bukankah aku sudah menyelamatkanmu, tidak bisakah kau berlaku sedikit lembut padaku?" Hike masih berusaha membujuk Xavier, meski rasa sakit di dadanya membuatnya mengeluarkan air mata.
"Hehh... Kau jangan salah paham. Aku tidak memintamu untuk menyelamatkanku. Nyawamu tak lebih berharga
dari se ekor serangga bagiku. Jadi sekarang katakan padaku, siapa dirimu atau aku akan membunuhmu?" Ancam Xavier pada Hike dengan tatapan dingin.
“Jika kau menganggapku seperti itu, lalu kenapa kau menyelamatkan aku? Harusnya kau cukup membiarkan aku mati saja di tempat itu.” Suara Hike serak dan lirih karena menahan napas agar ia bisa meredakan rasa sakit di dadanya.
“Jawaban yang salah!” Tangan Xavier kini sudah beralih pada leher Hike.
Cekikan Xavier padanya membuat Hike, perlahan-lahan kehilangan napasnya. Tatapannya tajam dan penuh amarah. Dia tidak suka dengan orang yang berani mempermainkan dirinya, terutama untuk wanita yang masih belum di kenalinya tersebut.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!!!” Leo datang disaaat yang tepat. Dengan segera Leo mendorong keras Xavier dan menyelamatkan Hike.
“Kalau sedari awal kau sudah berniat untuk membunuhnya, buat apa kau menyelamatkan nyawanya hingga dua kali? Kau bahkan tidak pernah membawa wanita lain masuk ke dalam rumahmu. Kali ini kau tidak hanya membawanya masuk ke dalam rumahmu, tapi kau juga bahkan membuatnya terbaring di atas ranjangmu dan kau sampai harus mengobati lukanya untuk menyelamatkan dirinya.” Leo tahu kalau Xavier memiliki sedikit ketertarikan pada Hike, namun tetap saja sifatnya yang kejam itu lebih mendominasi dirinya.
“Cih… Keluarkan dia dari rumahku. Jika aku melihat wajahnya sekali lagi, maka aku tak akan segan untuk meledakkan kepalanya itu.” Xavier lalu keluar dari kamarnya tak peduli dengan apa yang sudah dia lakukan pada Hike.
“ohokkkk… ohok… ohok...” Hike masih terbatuk-batuk kuat dengan leher yang kebas akibat cekikan Xavier yang luar biasa kuat. Air matanya terus mengalir bukan karena rasa sakit hatinya kepada Xavier, namun karena rasa sakit yang harus dia alami pada dada dan lehernya. Xavier benar-benar ingin membunuh Hike.
“Apa kau baik-baik saja?” Leo membantu Hike untuk duduk dengan posisi nyaman agar dirinya bisa mendapatkan
“hmmm…” Hike mengangguk lemah sembari menekan dadanya yang sakit.
“Berbaringlah… Aku harus mengobati lukamu. Kau sudah dua kali mengalami pendarahan seperti ini.” Leo akhirnya
membaringkan Hike dan mulai mengobati luka Hike serta membalutnya kembali.
“Aku tak tahu siapa dirimu, tapi sepertinya kau memiliki kesan bagi Xavier. Dia tentu tak akan peduli padamu
meski kau sudah menyelamatkan nyawanya jika dia tidak tertarik padamu. Kau mungkin akan takut padanya dan membencinya karena sudah berniat membunuhmu, tapi kau….” Leo yang telah selesai membalut luka di tubuh Hike dan memberikan salep pada leher Hike, berniat untuk meluruskan salah paham yang terjadi di antara mereka.
“Aku tau!” potong Hike cepat, yang langsung membuat Leo terkejut.
“Terimakasih Leo. Untunglah kau datang menyelamatkan aku. Kau sahabat satu-satunya yang sangat baik. Kau tidak perlu khawatir soal Xavier, jika dia tidak membunuhku maka aku akan mengira ada yang salah dengan dirinya.” Ucap Hike dengan tersenyum lemah, sedang Leo sudah mengalami double shock karena tak menyangka kalau wanita yang tak dikenalinya itu malah mengenal Xavier dan dirinya dengan sangat baik.
“Siapa sebenarnya dirimu?” tanya Leo memasang jarak karena sedikit curiga pada wanita tersebut.
“Namaku adalah Hi… Aku tidak mungkin menyebut namaku di kehidupanku sebelumnya." batin Hike.
"Oceana Amelia, kau bisa memanggilku, Ame. Aku tak bisa menjelaskan secara pasti kenapa aku bisa mengenal kalian, tapi kehadiranku di kehidupan Xavier adalah aku ingin menyelamatkannya. Aku ingin membuat Xavier terbebas dari dendam dan kegelapan masa lalu yang terus menyelimuti dirinya.” Jelas Hike menatap ke arah dimana Xavier telah menghilang.
“Apa maksudmu? Apa tujuanmu menyelamatkan dia? Apa kau tahu dia orang yang seperti apa? Dengan kemampuan apa kau bisa menyelamatkan Xavier saat kau bahkan tidak bisa menyelamatkan dirimu?” Leo sedikit tertawa karena melihat seorang wanita muda yang lemah memiliki keinginan untuk menyelamatkan seorang iblis malam yang sangat kejam.
“Hummm.. Benar juga. Aku seharusnya membuat sebuah rencana sebelumnya. Tapi karena aku mencintai Xavier, aku akan melakukan apapun untuknya. Saat ini yang harus aku pikirkan adalah cepat sembuh, setelah itu biarkan aku pikirkan Kembali.” Wajah ceria Ame, yang terlihat sangat ceria, polos serta bersinar langsung saja membuat Leo, tertawa terpingkal-pingkal.
“Meskipun aku merasa kau tidak bisa dipercaya kau kau menyembunyikan sesuatu, tapi sepertinya ini akan sedikit
menarik. Baiklah… Aku akan membantumu, jika kau benar-benar serius untuk melakukannya.” Ucap Leo tersenyum senang melihat semangat Ame.
“Aku serius!” Tegas Ame dengan tatapan membara pada Leo.
“Pufttt… hahahaha… baiklah-baiklah. Aku akan percaya padamu kali ini. Kalau begitu, sebagai Langkah awal, aku harus mencarikan kamu tempat tinggal. Jika kau masih berada disini saat Xavier, kembali. Semua keinginanmu mungkin tidak akan terlaksana.” Leo membelai kepala Ame dengan lembut untuk menenangkannya.
“Kau sangat beruntung Xavier, bisa menemukan gadis muda yang penuh semangat seperti dia. Dia terlihat sangat
bersungguh-sungguh saat mengatakan kalau dia mencintai dirimu. Sifat kalian sungguh sangat bertolak belakang, tapi aku sepertinya merasa kalau Ame akan menjadi cahayamu.” Batin Leo menatap Ame yang menatap bingung ke arahnya.
“Kau memang sangat tampan Leo, kau juga seorang dokter yang berbakat. Tapi sifatmu yang suka main perempuan menjadi nilai negatifmu. Kalau kau berhenti sekarang, kau akan bertemu dengan seorang wanita yang baik nanti.” Ame yang berkata dengan ekspresi polosnya langsung membuat Leo batuk darah.