Villains, I'M Yours Psychopath Love

Villains, I'M Yours Psychopath Love
Menjadi Pelayan Bar



"Tak ku sangka kau bertahan lebih lama dari dugaan ku. Sudah tiga hari tapi kau masih tidak ingin mengatakannya." Xavier berkata dengan dingin setelah menjambak rambut seorang pria yang sudah dia sekap selama tiga hari.


"Sudah aku katakanh.. huhh.. huh… Kau tak akan mendapatkan apapun dariku." Ucapnya mendesah dengan napas yang sesak.


"Bughh.." Xavier mendang wajah pria itu dengan penuh amarah. Dia benar-benar tidak bisa menahan kesabarannya lebih dari yang bisa ia tahan selama tiga hari.


"Sepertinya kau sudah salah menganggapku, aku membiarkan kau hidup selama tiga hari hanya agar bisa menjadi samsak hidupku. Tapi sekarang aku sudah mulai bosan." Terang Xavier menarik sebuah pedang panjang.


"Huh… pada akhirnya pria seperti dirimu pantas untuk menderita se umur hidupmu. Hahahaha… kau akan terus mendapatkan kutukan dari semua orang yang sudah kau bunuh. Kebencianmu dan keinginan mu untuk balas dendam tak akan pernah membuat rasa hausmu akan darah berhenti. Selamanya.. ueekkkhhhh." Pria itu tidak menyelesaikan kata-katanya karena lehernya telah Xavier tebas dengan satu kali ayunan pedang.


"Tranggg.." Xavier membuang pedang tersebut dengan santai lalu membersihkan tangannya dan berlalu pergi.


"Kita masih belum mendapatkan banyak informasi dari dia karena dia terus saja menutup mulut. Sedangkan orang yang kita tangkap bersamanya sudah di bunuh tepat sebelum kami memasukkannya ke dalam mobil." Jelas Rocky menerima sapu tangan penuh darah yang diberikan oleh Xavier.


"Terus saja lakukan penyelidikan. Bagaimanapun juga, suatu hari nanti aku akan menemukannya. Tidak akan pernah aku biarkan dia bisa bernafas dengan baik di dunia ini." Ucap Xavier memasuki lift yang hanya boleh di masuki oleh Xavier menuju ke lantai paling atas dimana rumahnya berada.


Xavier langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia selalu saja mandi dengan tujuan untuk membuang semua bekas darah yang menempel padanya, meski ia tahu kalau hal itu tidak akan mengubah apapun.


"Hahahaha… kalian semua pasti sedang mengutukku sekarang. Bagaimanapun juga semua nyawa yang sudah aku bunuh seolah sedang memantau dibelakang ku memberikan tekakan sebagai bentuk penderitaan ku. Tapi aku takkan pernah kalah." Xavier yang merasakan aura hitam dibelakangnya yang berasal dari semua nyawa yang pernah dia habisi sedang menariknya masuk ke dalam kegelapan.


"Aku sudah tidak bisa kembali lagi dan memperbaiki semuanya, jadi biar kita bersama-sama di neraka ini saja." Gumam Xavier lagi tertawa mengerikan.


Setelah selesai mandi, karena merasa bosan. Xavier segera turun hingga ke lantai paling bawah dimana terdapat Bar disana.


Suasana Bar cukup ramai dengan berbagai macam orang yang hadir untuk mencari kesenangan. Semuanya menjadi satu di dalam bar tersebut, dimana pria dan wanita saling melengkapi untuk saling memberikan kebahagiaan sesaat.


"Aku pikir malam ini kau tak akan datang ke sini." Ucap seorang pria yang tampak sedikit tua dengan dua orang wanita disampingnya.


"Mendengar kau ada disini, bukankah sudah seharusnya aku memberikan sedikit sambutan?" Ucap Xavier menaikkan tangganya sebagai tanda meminta seorang pelayan membawakan minuman untuknya.


"Hahahahha… ini yang aku sukai darimu. Meskipun kau sangat dingin dan kejam, tapi kau selalu tau apa yang ingin kau lakukan." Pria itu tertawa dengan sangat keras sembari memberikan pelukan mesra kepada wanita-wanita nya.


"Ahh… tuan Xavier. Aku sudah lama menunggu mu disini." Seorang wanita seksi dan sangat cantik datang menghampiri Xavier, dengan memperlihatkan tubuh seksinya.


"Akhhh.." wanita itu terlonjak kaget saat Xavier menariknya dengan begitu ganas.


"Aku sedang ada sedikit urusan tadi. Kenapa kita tidak bersenang-senang sedikit, heh?" Tangan Xavier mulai menjalar bebas hingga membuat wanita itu langsung terbakar gairah.


"Brakkk… Ini minumannya." Ame yang membanting botol minuman milik Xavier, langsung mengejutkan mereka semua.


Xavier bahkan langsung menghentikan aksinya dan menatap siapa yang telah berani menantangnya tersebut.


"Kau… apa yang kau lakukan disini?" Tanya Xavier bingung melihat Ame berpakaian baju pelayan.


Xavier tidak menyangka kalau Ame akan berada di tempat itu, mengingat apa yang sudah ia lakukan pada wanita itu seharusnya sudah cukup untuk membuatnya tak akan berani menampakkan wajahnya di hadapan Xavier. Terlebih sampai harus bekerja di Bar miliknya.


"Apa kau kenal dengan wanita ini?" Tanya wanita yang menggoda Xavier.


"Tidak, tapi aku baru melihatnya bekerja disini." Ame tertawa pelan mendengar jawaban dari Xavier tentang dirinya, tapi dia tak peduli.


"Seperti yang anda lihat tuan, saya adalah pelayan di Bar ini." Jawab Ame dengan nada dingin. Pakaian seksi yang dikenakan Ame, membuat dirinya kesal dan marah. 


"Jika tidak ada yang di butuhkan lagi, saya permisi dulu. Ada bisa panggil saya jika minuman anda habis." Tegas Ame tanpa ada rasa takut dan menatap lurus ke wajah Xavier.


"Dasar kurang ajar. Apa kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi saat ini?" Tanya wanita yang masih berada di pangkuan Xavier.


"Oh.. tentu saja tahu. Aku sedang berhadapan dengan seorang pria yang sedang haus belaian seorang wanita ******." Apa yang dikatakan oleh Ame, langsung membuat pria tua di sebelahnya tertawa dengan lebar.


"Kau sangat berani. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani berbicara seperti itu dihadapan iblis malam. Tapi, aku suka seorang kucing liar. Semakin liar semakin menggairahkan untuk di taklukkan." Ucapnya dengan menjulurkan lidahnya menghentikan langkah kaki Ame, dengan meraih tangannya.


Apa yang dilakukan oleh pria tua itu kepada Ame, membuat Xavier tampak marah. Pakaian seksi yang dikenakan Ame, entah kenapa membuat dia tak nyaman jika orang lain melihatnya seperti itu.


"Hehh.." Ame tersenyum licik dan menepis tangan pria tua itu.


"Takut? Aku tak pernah taku pada siapapun di dunia ini. Karena aku sudah pernah menghadapi semua hal yang lebih menakutkan dibandingkan dengan dirinya." Lirik Ame pada Xavier yang rahangnya mengeras menahan amarah.


"Puhahahahaha.. aku suka. Aku suka sekali pada dirimu. Jadilah wanita ku, aku akan memberikan apapun yang kamu mau dan tentunya aku akan memuaskanmu!" Pria itu semakin menjadi jadi dengan dengan memegang pantat Ame.


"Akhhh…" Ame sudah memelintir tangan pria tua itu dengan sangat mudah tepat sebelum Xavier bergerak ingin mematahkan tangannya.


"Takkk!" Ame meletakkan kakinya tepat di antara kedua ************ milik pria tua itu yang sangat dekat dengan barang kebanggaannya tersebut.


"Hanya aku yang berhak memilih siapa yang akan memuaskan aku dan pria itu adalah Xavier. Jika kau tak ingin tanganmu dan barangmu putus, sebaiknya kau berhati-hati mulai dari sekarang." Senyuman Ame yang sangat menakutkan langsung membuat pria tua semakin merasa tertantang.