
"Ughhh…" Ame tidak bisa menemukan napasnya. Cekikan Xavier dan amarahnya yang terlihat jelas dimatanya membuat Ame menitikkan air mata.
"Apa Ame, akan kembali jika aku mati? Tapi bagaimana bisa aku pergi dan menyerah disini?" Hike berusaha untuk melepas genggaman tangan Xavier, namun tenaga pria itu begitu besar.
"Aku tau kalau suatu saat nanti aku akan mati ditanganmu. Tapi apakah aku harus pergi dengan cara seperti ini tanpa menyelesaikan keinginanku sama sekali?" Batin Hike terus berkecamuk di dalam tubuh Ame, ingin melepaskan diri dari cengkraman Xavier.
"Xa.. Xavier…" ucap Ame lirih dengan wajah yang meringis sakit.
"Kau tau kalau kau sudah membuatku marah? Kau adalah wanita pertama yang membuatku terus memikirkan dirimu. Apa yang sudah kau lakukan padaku sampai aku tidak pernah melepaskan bayangan dirimu huh?" Cekikan Xavier bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Kesadaran Hike sudah mulai menipis akibat cengkraman tangan Xavier, sehingga air matanya kembali mengalir. Ia pasrah karena tidak bisa melakukan apa-apa lagi baginya.
"Sepertinya kehadiran ku bukanlah sesuatu yang berharga bagimu. Aku memang bukan pemeran utama, tapi taukah kau Xavier. Meski kau hanyalah karakter dari sebuah komik, namun perasaan ini nyata untukmu." Mata Ame yang terlihat berkaca-kaca dengan senyuman pasrah di akhir kesadarannya membuat Xavier, langsung menghempaskan Ame ke lantai.
"Huuhhh… ohookkk ohooook ohookkk…" Ame terbatuk-batuk hebat karena rasa sakit pada lehernya.
"Brengsekkk… lagi-lagi ekspresi seperti itu yang ia tunjukkan padaku. Kenapa? Kenapa aku ti.. tidak bisa membunuh wanita ini?" Xavier mengenggam pergelangan tangan kanannya dengan erat dan marah.
Dia marah pada tangan kananya yang sudah mencekik leher Ame. Dia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menafsirkan perasaanya kepada Ame. Dia benci, tapi dia juga tidak bisa melakukan hal yang lebih padanya.
"Tu.. Tuan Xavier…" suara Ayah Ame yang bergetar sedikit takut tampak sedang menginginkan sebuah permintaan pada Xavier.
"Keluar!!!" Bentak Xavier dengan sangat mengerikan.
"Ta.. tapi…" dia masih mencoba memberanikan diri.
"Apa kau ingin membuatku mengatakannya dua kali?" Tatap Xavier kepada Ayah Ame, yang langsung membuat pria tua itu memundurkan langkahnya karena takut.
"Tuan Baron… Sebaiknya anda ikuti saya. Anda bisa berbicara dengan saya, mengenai apa yang sudah disepakati sebelumnya." Ricky segera mengajak ayah Ame keluar dari sana untuk melakukan negoisasi, sesuai dengan kesepakatan yang sudah mereka lakukan.
Mereka akhirnya keluar dari rumah itu, begitu pula dengan pengawal lainnya sebelum mendapatkan pengusiran dari Xavier lagi.
"Karena kau sudah membuatku seperti ini, sekarang mari kita perjelas. Siapa kamu bagiku dan apa kedudukan mu di dalam hatiku ini." Gumam Xavier, dengan senyuman mengerikan.
Dia menggulung lengan bajunya, lalu mengangkat tubuh Ame dengan gaya ala bridal style menuju ke sebuah kamar king size milik Ame.
"Buggghhhh… Akhhh" Ame terpekik pelan karena tubuhnya yang dihempaskan dengan kasar oleh Xavier.
Tanpa basa basi, dia segera meraih dagu Ame lalu mengarahkan bibirnya ke bibir Ame secara paksa.
"Ughh… Tckk.." Ame mengigit bibir Xavier dengan kuat.
"Apa kau tahu berapa banyak wanita yang mengemis-ngemis untuk bisa naik ke atas tubuhku? Aku sudah memberikan mu kesempatan tapi kau berani menolakku?" Xavier mencengkram wajah mungil Ame dengan begitu kuat dan kasar.
"Ku mohon… jangan seperti ini." Ucap Ame tidak bisa menahan tingkah Xavier saat ini.
"Hehhh… Ayahmu sudah menjualmu padaku, sekarang tubuhmu adalah milikku. Jika kau masih ingin kedua orangtuamu baik-baik saja dan tidak mati ditanganku, sebaiknya kau harus melayani ku dengan baik." Ancam Xavier membuang wajah Ame dengan kasar.
"Tidak… Setidaknya jangan ibu Ame." Batin Hike memikirkan ibu Ame.
Dia tak peduli dengan tangisan Ame dan rasa sakit yang di derita olehnya. Xavier langsung mengigit telinga Ame lalu turun berbisik lirih di telinga Ame.
"Kau harusnya tahu kalau aku tidak sekedar mengancammu saja." Nafas hangat Xavier membuat tubuh Ame bereaksi.
Tubuhnya bagaikan di aliri oleh listrik yang membuat darahnya mengalir deras dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat hingga Xavier bisa mendengar detakkan jatung Ame.
"Aku mohon Xavier… jangan seperti ini. Setidaknya sampai aku mengobati ibuku." Pinta Ame dengan suara yang serak dan napas yang tertahan karena Xavier sudah memberikan banyak tanda kepemilikan pada leher Ame.
"Kau pikir kau masih punya kesempatan untuk melakukan negoisasi denganku?" Ucap Xavier dengan suara sedingin hembusan angin di kutub utara.
"Aku akan melakukan apapun untukmu, tapi untuk saat ini aku harus membawakan obat untuk ibuku. Aku harus mengobati ibuku. Xavier… aku harap kau mau mendengarkan permintaanku." Ame berusaha menepis apa yang dilakukan oleh Xavier.
Xavier sangat marah karena perlakuan Ame tersebut, sehingga dia dengan kasar merobek baju Ame lalu menutup bibir ame menggunakan bibirnya.
Dia tidak membiarkan Ame, menolaknya seperti tadi lagi, sehingga dia lebih dahulu menggigit bibir Ame, sampai dia bisa memasukkan lidahnya dan memonopoli semua yang ada pada diri Ame.
Hike yang sudah kehilangan energi karena berlatih dengan keras selama hampir sebulan ini tanpa benar-benar mengatur pola makannya serta kelelahan karena terus melakukan perlawanan karena tidak ingin menodai tubuh Ame, pada akhirnya mulai kehilangan kesadarannya.
Xavier begitu ganas dan menyeramkan. Dia benar-benar tampak seperti sedang melakukan pelecehan kepada Ame saat ini, namun kesadaran Hike masih berusaha untuk menolak hingga tepat setelah Xavier melepaskan ciumannya, dia berusaha mendorong Xavier dengan sisa kekuatannya.
"Kenapa kau masih terus tenggelam dalam kegelapanmu? Apa sebenarnya yang kau inginkan dengan menodaiku seperti ini? Memuaskan amarahmu? Melampiaskan kebencian mu? Bukankah aku pernah bilang kalau aku akan menyelamatkanmu bagaimanapun caranya! Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku, aku akan tetap menyelamatkan mu. Untuk itu jangan pernah tenggelam!!!" Ame membentak Xavier dengan sangat keras untuk menyadarkannya.
Suaranya sangat menggelegar hingga membuat Xavier tertegun menatap Ame yang sudah setengah telanjang mengepalkan tangannya dengan wajah penuh amarah namun tatapannya sangat jelas dipenuhi dengan kelembutan yang belum pernah ia lihat selama ini.
"Kau… Ke… kenapa tubuhmu bisa seperti itu?" Tanya Xavier pada tubuh Ame yang tampak memar disana sini, hasil dari latihan kerasnya.
"Ku mohon, dengarkan lah aku kali ini saja. Aku harus menyelamatkan ibu Ame, jika tidak aku akan merasa bersalah seumur hidupku. Menyelamatkan kalian berdua adalah hal paling utama da… lam hidup… ku hhh" tubuh Ame ambruk.
Dia kehilangan kesadaran diri, namun Xavier masih sempat menangkap kepala Ame sebelum terbentur dinding.
"Brengsekkkk… tidak akan aku biarkan terjadi sesuatu padamu." Ucap Xavier melepas jaketnya dan memakaikannya kepada Ame.